Devi Devira

Devi Devira
Bab. 40. Kehilangan



Setelah berhasil menghadang musuh yang ingin menyerang Zona C, Devira kembali ke sekolah. Dengan taksi yang siap siaga ia kembali ke Sekolah dengan cepat.


Setelah berpenampilan seperti Devi, Devira berjalan dan duduk tak jauh dari Devan yang sedang berbincang dengan Mr. X, Devira tersenyum penuh arti sambil menatap Devan.


Sedangkan Devan yang menyadari ada sepasang mata yang sedang menatapnya segera mengalihkan pandangannya terhadap Devira.


Tatapan keduanya kembali bertemu. Keduanya tersenyum, dan Devan tidak membuang kesempatan itu ia segera mendekati Devira. Ia segera duduk di samping Devira yang tengah tersenyum terhadapnya.


"Apakah kau menungguku ?." tanya Devan.


"Tentu saja, aku menunggumu sudah lama sekali. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menuntaskan semua cerita ini." jawab Devira.


"Mengapa kau buru-buru, akankah lebih baik jika kita mengukir cerita indah yang akan selalu terkenang hingga kita menua Queen ?." jawab Devan.


"Mengapa kau menyebutku Queen ?." tanya Devira.


Ia penasaran apakah sebenarnya Devan telah mengetahui siapa dirinya sebenarnya atau Devan hanya kebetulan saja menyebutkan kata itu.


Sementara Devan semakin melebarkan senyumnya. Ia sangat menyukai mata indah itu, mata yang begitu tajam dan menusuk tepat ke jantung hatinya.


"Karena kau adalah ratu dalam hidupku, dan kita akan menjalin kisah ini hingga kita menua bersama." jawab Devan tanpa melepaskan tatapannya.


Sementara Devira tidak mengerti, mengapa jantungnya berdetak lebih kencang saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata elang milik Devan.


Meskipun ia berusaha untuk menekan rasa itu, namun hati kecilnya tidak bisa berbohong bahwa sebenarnya ia sangat menyukai mata elang itu.


Devira memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin terus tenggelam dalam tatapan itu. Ia harus segera menyelesaikan dendamnya. Ia harus segera membunuh Devan.


"Aku harus pergi." ucap Devira.


Namun sebelum Devira sempat melangkahkan kakinya, Devan l nih dahulu menariknya hingga ia berada di pangkuan Devan.


Tatapan keduanya kembali bertemu, Dan tanpa di duga Devan mendaratkan ciuman mesra pada bibir ranum milik Devira.


Dan anehnya Devira tidak menolaknya, ada sebuah sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa mengatakan tidak untuk menolaknya.


"Mulai saat ini kau adalah milikku Queen." ucap Devan dengan lembut.


Devira segera tersadar, ia segera bangkit dan berlalu meninggalkan Devan yang masih berada di posisinya. Devan tersenyum menatap kepergian Divira.


Ia sungguh tidak percaya bahwa ia bisa melakukan hal itu. Sungguh cinta memang bisa membuat orang melakukan hal yang tidak mungkin.


Devan tersenyum membayangkan kembali ciuman singkat yang penuh makna itu. Ya itu adalah ciuman pertama Devan.


"Kau benar-benar telah mencuri hatiku cantik, dan ingatlah mulai saat ini kau adalah milikku." ucap Devan.


Kemudian ia bangkit dan segera berjalan menuju mobilnya. Ia ingin mengantarkan Devira pulang seperti yang telah ia katakan sejak pagi.


Namun dari kejauhan ia melihat Devira telah masuk kedalam sebuah taksi dan segera berlalu meninggalkan SMA Persada.


Dengan cepat Devan segera menyusul taksi tersebut, dengan keahliannya mengemudikan mobil, Devan hampir menyusul mereka, namun tiba-tiba taksi itu berputar arah.


Taksi itu kembali ke SMA Persada, hal itu Devira lakukan untuk menghindari kecurangan Devan terhadap taksi itu.


Karena Devan pasti sangat mengenal taksi yang sering mengantarkan dirinya itu. Devan yang melihat taksi itu berputar arah segera menyusulnya.


"Dimana Devi ?." tanya Devan setelah mengetahui bahwa orang yang ia cari tidak berada di dalam taksi tersebut.


"Siapa yang tuan cari ?." tanya sang sopir.


"Gadis yang baru saja kau antar." jawab Devan.


Kemudian sang sopi menunjuk ke sebuah tempat dimana Devira sedang berjalan terburu ke arah kelas mereka.


"Baiklah terimakasih, dan maaf telah mengganggu perjalanan mu." ucap Devan dengan sopan.


Ia segera mengemudikan mobilnya kembali ke SMA Persada. Setelah memarkirkan mobilnya Devan segera menyusul Devira.


Sayangnya Devira telah meninggal SMA Persada dengan cara meloncati pagar sekolah layaknya seekor tupai.


Sementara sang taksi sudah siap menunggunya di balik tembok. Setelah itu Devira meninggalkan tempat itu dan segera menuju ke markasnya.


Dimana Rian dan juga anak buahnya telah bersiap untuk pergi menuju ke sebuah tempat yang tak jauh dari persembunyian Melani dan yang lainnya.


Sementara Devan masih sibuk mencari keberadaan Devira. Ia berjalan kesana-kemari namun tak jua menemukan sang pujaan hati.


"Dimana kau Queen ?." tanya Devan yang hampir putus asa karena kehilangan jejak sang pemilik hatinya.


Setelah puas mencari dan tidak membuahkan hasil, Devan kembali menuju mobilnya. Ia ingin menunggu sampai Devira keluar dan ia ingin bersama kembali sebelum ia pergi untuk menyelamatkan Melani.


Namun setelah lama Devira tak muncul di hadapannya. Hal itu membuat Devan uring-uringan sendiri. Seperti anak kecil yang kehilangan benda kesayangannya.


"Dimana kau sebenarnya Devi ? apakah kau sengaja menghindari aku ? apakah kau sengaja meninggalkan SMA Persada ini dengan cara meloncati pagar sekolah ?" tanya Devan seperti orang gila.


Devan keluar dari dalam mobil sambil mengacak-acak rambutnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap bisa menemukan sang pujaan hati.


"Siapa yang sedang kau tunggu Devan ?." tanya sang kepala sekolah yang kebetulan sedang menuju ke mobilnya.


"Saya sedang menunggu Devi pak." jawab Devan dengan sedikit malu.


"Bukankah Devi telah meninggalkan SMA ini sejak tadi ? untuk memastikannya kau bisa bertanya kepada scurity." ucap sang kepala sekolah.


Mendengar hal itu Devan segera berlari menuju scurity yang tengah menjalankan tugasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk berpamitan atau berterima kasih kepada sang kepala sekolah.


"Pak apakah bapak melihat Devi ?." tanya Devan langsung pada intinya.


"Sekitar lima belas menit yang lalu ia baru saja keluar dan kalau tidak salah ia naik taksi menuju ke arah sana." jawab sang scurity dengan sangat yakin.


"Baiklah pak, terimakasih." ucap Devan.


Dengan langkah yang lemah, Devan kembali menuju mobilnya. Baru kali ini ia kehilangan orang yang ia incar. Padahal selama ini, siapapun yang ia incar pasti ia dapatkan meskipun itu adalah orang yang paling ditakuti oleh mafia lainnya.


Namun kali ini, ia tak mampu mendapatkan gadis incarannya. Mata elangnya tak mampu menemukan keberadaan mangsanya yang ia cari.


"Kau sangat luar biasa Queen. Kau bahkan bisa dengan mudah mencuri hatiku dan dengan mudah kau menghilang dari pandangan ku."


"Kau benar-benar telah merubah aku menjadi orang lain, seolah-olah aku bukan King sang mata elang. Tunggulah sebentar saja, setelah semuanya selesai kau tak akan aku biarkan pergi meninggalkan ku meskipun hanya satu menit saja." ucap Devan.