
Belum sempat anak buah Rian mengatakan semuanya, datang lagi salah seorang informan yang ia kirim untuk menyelidiki bagaimana kondisi anggota mafia lain yang telah kalah dalam merebutkan Zona C.
"Tuan, anggota mafia yang dipimpin oleh Mr. X sedang menuju ke zona C untuk merebut wilayah tersebut." ucap informan itu dengan jelas.
"Apa kau yakin dengan berita yang kau terima ?." tanya Rian.
"Saya yakin tuan, karena saya sendiri yang melihat hal itu. Mr. X berhasil dihasut oleh anggota scorpio hitam, sehingga ia ingin merebut zona C dari kekuasaan kita." jawab informan tersebut.
"Kalau begitu segera hadang pasukan itu sebelum mereka sampai di Zona C. Dan kau segera jemput Queen agar beliau bisa segera mengambil langkah secepatnya." ucap Rian.
"Baik tuan." jawab kedua informan itu dengan kompak.
Setelah mengatakan hal itu mereka segera melaksanakan tugasnya masing-masing. Termasuk Rian, ia segera menyampaikan berita penyerangan yang dilakukan oleh Mr. X.
Hal itu ia lakukan agar Devira bisa mengambil keputusan apakah yang akan ia kerjakan terlebih dahulu. Menghadang musuh yang akan menyerang Zona C atau melaksanakan pembalasan dendam seperti yang sudah ia rencanakan.
Ketika Devira membaca pesan dari Rian, ia segera pamit dan ijin untuk pergi ke toilet. Setelah meminta ijin ia segera keluar meninggalkan SMA Persada dan juga Devan.
Ia segera masuk ke taksi yang dikemudikan oleh orangnya yang ternyata sudah menunggu seperti yang diperintahkan oleh Rian.
"Rian, kau tetap melakukan seperti apa yang kita rencanakan sebelumnya. Untuk Mr. X biarlah aku yang akan menyelesaikan sendiri." ucap Devira melalui panggilan telepon.
"Tapi Queen, bukankah itu sangat berbahaya ? bukankah lebih baik jika kita membagi kelompok menjadi dua bagian."
"Kelompok pertama akan bersama saya untuk melakukan rencana kita di awal dan kelompok berikutnya membantu anda untuk menumpas anggota yang dipimpin oleh Mr. X." ucap Rian.
"Tidak Rian, jika kita mengubah rencana kita, maka hal ini akan membuat anggota kita kehilangan konsentrasi."
"Percayalah padaku bahwa aku akan baik-baik saja, dan sebaliknya anggota musuh akan kocar-kacir dan mereka akan lari terbirit-birit meninggalkan zona C sebelum mereka sampai." jawab Devira.
"Queen tetap saja saya akan mengirimkan beberapa anggota ninja untuk melindungi anda. Dan mereka bisa membantu anda juga." ucap Rian.
Ia tidak ingin melihat Devira berperang seorang diri, meskipun ia tau kemampuan Devira tetap saja ia tidak tega.
Terlebih jika ayah Devira mengetahui hal itu, apa yang bisa ia jelaskan sehingga Devira yang langsung menghadang musuh seorang diri.
"Baiklah terserah kau saja." jawab Devira.
Ia bukanlah seorang pemimpin yang tidak mau mendengar saran dari anggotanya. Ia juga tau bagaimana sikap Rian selama ini.
Rian tidak akan bisa membiarkan sahabat atau rekannya menghadapi masalah seorang diri. Apapun caranya pasti Rian akan membantu meskipun sebenarnya mereka tidak memerlukan bantuannya.
Setelah mengatakan hal itu, Devira segera memerintahkan sopir taksi itu untuk menuju sisi barat Zona C.
Dan Devira segera mengenakan penutup wajahnya agar wajah aslinya tidak bisa dikenali oleh orang lain. Selama ini ia telah menyembunyikan identitasnya demi Devi.
Karena ia tidak ingin mengambil resiko, jika Devi akan dianggap sebagai dirinya. Ia takut akan ada hal buruk menimpa dirinya.
"Queen kita sudah sampai, berdasarkan perkiraan pasukan Mr. X berada satu kilo meter dari tempat ini." jelas sang sopir.
"Baik Queen, berhati-hatilah. Jangan sampai anda meremehkan mereka, meskipun mereka seperti orang yang lemah."
"Karena kita tidak pernah tau, apa yang ada di dalam hati orang tersebut. Jadi berhati-hatilah, dan jangan sungkan untuk segera menghubungi saya.". ucap sang sopir sebelum Devira keluar dari mobil yang ia kemudikan.
"Terimakasih karena telah mengingatkan saya." jawab Devira.
Setelah mengatakan hal itu, Devira segera keluar dari berloncatan diantara gedung-gedung yang mencakar langit.
Layaknya seekor tupai yang begitu lincah, loncat dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Sehingga tak butuh waktu lama ia bisa melihat rombongan orang asing yang di pimpin oleh Mr. X.
Devira menghitung kekuatan lawan, agar ia bisa melakukan perlawanan tanpa perlu melawan mereka satu persatu.
Setelah itu ia segera memeriksa senjata yang telah ia siapkan dibalik pakaian yang ia gunakan. Setelah semua persiapannya cukup dan meyakinkan, Devira segera mendekati pasukan musuh.
Seperti sedang mengusir rombongan semut merah, agar ia segera pergi meninggalkan tempat itu dan segera pergi ke kampung halaman Rian untuk melaksanakan rencananya kemarin.
Seperti seorang elang, mata tajam Devira membuatnya dengan mudah mengincar musuhnya agar segera tumbang.
Dengan gerakan yang sangat lincah, Devira memainkan pisau kecil yang ia tempatkan kedua siku tangannya.
Tak lupa ia juga dengan lincah mengayunkan pisau panjang di tangan kirinya, dan tangan kanannya mengarahkan pistolnya ke arah lawan yang berada jauh dari jangkauannya.
Cras cras bunyi sayatan senjata Devira, dan peluru yang melesat dari pistol yang ada ditangannya membuat para musuh kalang kabut karena hal itu dilakukan oleh satu orang saja.
"Berhenti !." teriak Mr. X.
Ia sangat terkejut melihat anak buahnya yang sudah menjadi mayat dan bergelimpangan di atas tanah. Setelah Devira menghentikan serangannya, Mr X segera mendekatinya.
"Ternyata kau seorang perempuan. Bukankah lebih baik jika kita bersenang-senang saja dari pada harus meneteskan darah ke tanah." ucap Mr. X.
"Aku lebih menikmati alunan musik dari jeritan anak buah mu Mr. X yang terhormat." jawab Devira.
"Rupanya kau telah mengenal diriku. Hal itu jauh lebih baik karena kau pasti tau bagaimana sepak terjang Ki di dunia hitam." ucap Mr. X dengan bangga.
"Anda benar, aku sangat mengenal sepak terjang anda yang hanya menghancurkan generasi muda dengan minuman haram itu."
"Dan bagaimana anda menghabiskan waktu bersama wanita-wanita yang membutuhkan uang dengan cara yang salah itu." jawab Devira.
Hahahaha
Suara tawa Mr. X menggelar mendengar ucapan dari Devira. Ia tidak menyangkal akan hal itu. Karena semuanya benar adanya.
"Rupanya kau sangat mengenalku. Kalau begitu bukankah kau lebih baik menyerah saja dan mari kita habiskan waktu bersama dengan merenggut kenikmatan." ucap Mr. X dengan pandangan penuh nafsu.
Namun hal itu justru membuat Devira tak segan-segan lagi untuk segera menghentikan semua aktivitas yang dipimpin oleh Mr. X.
Dengan sekali tembak paha Mr. X tertembus peluru dan detik itu juga ia menjerit kesakitan di iringi cairan merah menetes dari kakinya.