Devi Devira

Devi Devira
Bab. 47. Kampung halaman



Sama halnya dengan apa yang dipikirkan oleh Boby, Arin juga sedang berfikir keras untuk mencari tempat persembunyian dari masalah yang ia hadapi saat ini.


Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis yang berperan sebagai Devi adalah gadis yang sangat kuat dan sangat berbahaya.


Seandainya ia tau sejak awal, pasti ia bisa menyingkirkan gadis itu dengan menggunakan cara liciknya. Setidaknya ia bisa mengantisipasi kejadian buruk terhadap dirinya.


"Boby, kita harus bagaimana sekarang ? Seandainya aku tidak membantu mu saat itu, aku bisa meminta perlindungan dari Devan."


"Tapi saat ini semua itu akan sia-sia belaka karena Devan pasti sudah mengetahui bahwa aku bersama dengan mu saat ini." ucap Arin dengan putus asa.


"Semua atas kecerobohan mu sendiri. Seandainya kau tidak usil terhadap Melani. Tidak akan ada yang tau keberadaan kita di kota itu." jawab Boby dengan kesal.


Saat ini ia adalah orang yang paling takut terhadap Devan dan juga gadis itu. Karena kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Devi dan juga pengkhianatan terhadap Devan.


Tiba-tiba Boby mempunyai sebuah ide, untuk melimpahkan semuanya kepada Arin si gadis bodoh itu jika ia sampai tertangkap oleh gadis yang sangat mirip dengan Devi itu dan juga tertangkap oleh Devan.


Boby tersenyum saat memikirkan hal itu. Tapi saat ini ia harus bersembunyi bersama dengan Arin agar ia bisa menggunakan Arin sebagai tameng.


"Arin, bagaimana jika kita bersembunyi di kampung halaman kita. Bukankah selama ini tidak ada yang mengetahui asal-usul kita." ucap Boby.


Arin menatap Boby dan memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Boby. Dan benar jika tidak ada yang mengetahui asal-usul mereka selama ini.


"Kau benar Boby, kita harus segera kesana sebelum gadis itu atau pun Devan menemukan kita berdua. Di Sana kita pasti akan aman." jawab Arin.


Arin tersenyum karena ia berfikir lain. Di kampung halamannya nanti ia akan mengatakan bahwa ia hanya kebetulan pulang kampung dan tidak sengaja bertemu dengan Boby.


Jika keadaan mendesak ia bisa mengkambing hitamkan Boby sebagai pemerkosa dan juga pembunuh Devi sebenarnya.


Dan ia terpaksa mengikuti semua perintah Boby karena ia diancam oleh Boby. Jika ia tidak menuruti perintah Boby maka video panas yang mereka lakukan di markas scorpio hitam saat itu akan Boby sebarkan.


Keduanya sama-sama saling berfikir untuk mengkambing hitamkan teman sendiri demi kepentingan dan juga keselamatan diri sendiri.


Keduanya tersenyum seolah-olah telah menemukan sebuah solusi yang tepat untuk masalah yang mereka hadapi saat ini.


Yang tidak mereka sadari adalah taksi yang mengantarkan mereka menuju ke kampung halamannya adalah orang kepercayaan Devira.


Kerena sebenarnya Arin dan juga Boby menjadi orang yang diawasi oleh Devira. Devira tidak akan membiarkan siapapun yang terlibat dalam pembunuhan Devi bisa menghirup udara segar dengan tenang.


Cepat atau lambat mereka pasti akan mendapatkan hukuman atas perbuatan yang pernah mereka lakukan terhadap Devi selama ini.


Perjalanan Boby dan Arin berjalan sesuai dengan perkiraan mereka, baik Boby, Arin dan juga Devira. Setelah waktu yang cukup lama akhirnya mereka sampai di sebuah Desa yang sangat terpencil.


Sebuah Desa yang hampir seluruh penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Desa yang sangat gersang.


Sangat sulit untuk menemukan sebuah sumber air bersih. Sehingga air di desa itu sangat mahal seperti harga emas dan logam mulia lainnya.


"Boby bagaimana cara kita berkomunikasi jika tidak ada sinyal seperti ini ?." tanya Arin saat menuju ke rumah mereka masing-masing.


Ia tidak ingin jauh dari Arin agar semua rencananya bisa berjalan sesuai dengan rencana, demikian halnya dengan Arin.


"Kita akan tinggal di rumah mu saja, aku akan beralasan karena hanya aku yang bisa merawat luka di kaki mu dan luka itu harus mendapatkan perawatan yang insentif." jawab Arin.


"Baiklah jika begitu, akan lebih baik jika kita selalu bersama. Agar kita bisa menyusun rencana berikutnya dengan lebih baik lagi." jawab Boby.


Setelah mereka sepakat, mereka meminta sang sopir untuk mengantarkan mereka ke rumah Boby. Sebuah rumah yang sangat mirip dengan sebuah kandang hewan.


Namun dengan kondisi rumah yang seperti itu, tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa mereka bersembunyi di tempat itu.


Kebetulan Boby sudah tidak mempunyai orang tua, hanya kedua adiknya yang tinggal di rumah itu sejak ia memutuskan untuk pergi ke kota dan mencari pekerjaan yang layak.


Setelah ia bertemu dengan Devan, ia bahkan bukan hanya bisa mendapatkan sebuah pekerjaan tetapi ia bisa melanjutkan pendidikan hingga ke bangku SMA.


Sayangnya semua pertolongan yang Devan berikan, tidak ia gunakan sebagai mana mestinya. Ia terjerumus ke dalam lembah dosa karena tergiur dengan kehidupan kota.


Sehingga ia melupakan tujuan awal ia pergi ke kota itu. Dan ia melupakan kedua adiknya yang selalu berharap keberhasilannya dan berharap bisa meringankan beban hidup mereka.


Di saat melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mereka. Kedua bocah kecil itu segera keluar untuk melihat siapa sebenarnya yang datang ke rumah mereka.


Alangkah terkejutnya mereka saat melihat Boby turun dari mobil itu. Seseorang yang selama ini mereka tunggu-tunggu akhirnya datang untuk menjemput mereka berdua.


Mereka segera berlari menghambur kedalam pelukan sang kakak. Boby terenyuh melihat kondisi kedua adiknya.


Keduanya terlihat sangat kurus dan tidak terawat, sangat jauh berbeda saat terakhir kalinya ia tinggalkan saat itu.


Tak terasa air matanya menetes saat memeluk tubuh kecil yang sangat kurus itu. Seandainya ia tidak melupakan keduanya pasti mereka akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Setidaknya mereka tidak harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup dalam penampilan mereka untuk menunggu kedatangan sang kakak.


"Kakak akhirnya kakak pulang juga, kami sangat merindukan kakak." ucap salah satu adiknya.


"Apakah kalian baik-baik saja ? maafkan kakak yang terlalu lama pergi meninggalkan kalian berdua." ucap Boby.


Tiba-tiba hatinya bagaikan teriris pisau yang sangat tajam, terasa sangat perih menyayat hati sanubarinya yang paling dalam.


Janji yang pernah ia ucapkan dihadapan kedua orang tuanya untuk menjaga kedua adiknya itu, terbayang kembali.


"Sekarang kakak sudah kembali, kami tidak akan lagi melepaskan kakak. Kemanapun kakak pergi kami juga akan ikut."


"Kami tidak ingin berpisah lagi dengan kakak. Kami takut dan kami sangat menderita selama ini." ucap sang adik dengan berlinang air mata.


Seperti air garam yang menyiram lukanya saat Boby mendengar ucapan yang begitu tulus yang keluar dari lubuk hati terdalam sang adik.


Yang menggambarkan bagaimana perjuangan yang harus mereka lalui selama ini saat ia tinggalkan.