
Sebelum Devira menjawab pertanyaan Arin, Melani mendatangi Devira dan juga Arin menggunakan kursi roda. Tak lama kemudian datang pula kepala sekolah dan juga ayah Melani.
"Biar kepala sekolah yang akan menjelaskan semuanya disini agar semua tau ada keperluan apa kepada sekolah dengan mu." ucap Melani dengan angkuh.
Devira hanya tersenyum miring mendengar ucapan Melani. Sementara Arin dan juga para siswa dan siswi yang kebetulan mendengar hal itu langsung berhenti ingin mendengarkan penjelasan kepala sekolah.
"Biar aku yang akan menjelaskan semuanya !." ucap ayah Melani dengan sombong.
Setelah itu Melani tersenyum penuh kemenangan. Melani menatap kearah Devan dan teman-temannya dan yang lainnya satu persatu, yang kebetulan juga berada di tempat itu.
"Untuk kalian semua ! dengarkan apa yang akan aku umumkan. Mulai saat ini Devi bukan lagi siswa di SMA Persada ini !."
"Mulai hari ini aku mencabut beasiswa yang telah aku berikan untuk Devi. Dan satu hal lagi Devi harus menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan Melani."
"Hal itu aku putuskan karena Devi dengan sengaja telah membuat Melani terluka parah. Jadi ini adalah hukuman yang aku berikan untuk Devi yang merupakan bentuk toleransi kami kepada dirinya." ucap ayah Melani dengan lantang.
Semua yang ada ditempat itu saling pandang satu sama lainnya. Arin tak berani mengatakan apapun bahkan ia sama sekali tidak memberikan dukungan terhadap Devi.
Meskipun sekedar menenangkan dengan genggaman tangannya, apalagi sampai mengucapkan kalimat yang menguatkannya.
Devan berjalan mendekati ayah Melani dan juga kepala sekolah. Tanpa menatap kearah Melani, Devan berjalan begitu saja didepan Melani.
"Anda tidak perlu khawatir akan semua biaya pengobatan Melani dan juga semua biaya sekolah Devi."
"Aku akan menanggung semuanya bahkan aku sanggup menanggung semua biaya kehidupan Devi dan juga keluarganya." ucap Devan tanpa ada keraguan sedikitpun.
Semua mata menatap kearah Devan. Mereka tidak menyangka bahwa Devan yang selama ini mereka kenal tidak pernah dekat dengan seorang wanita mampu mengatakan hal itu demi membantu Devi.
"Devan ! apa maksud mu ?." tanya Melani seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Benar Devan, apa maksud mu dengan mengatasnamakan hal itu ?." tanya kepala sekolah.
"Saya rasa kalian semua bukanlah orang bodoh sehingga harus aku jelaskan apa maksud perkataan ku tadi." jawab Devan.
"Kau !." ucap ayah Melani sambil mengangkat tangannya hendak menampar Devan.
Namun dengan cepat Devan menangkap tangan itu,dan menahannya di depan wajah mereka. Devan tersenyum menatap wajah lelaki yang lebih tua dari dirinya.
"Selama saya masih mempunyai rasa hormat saya kepada om, saya harap om bisa menjaganya jangan sampai rasa hormat saya hilang karena perbuatan om sendiri." ucap Devan dengan menahan amarahnya.
"Devan lebih baik kita kembali, tidak ada keuntungan yang kita dapatkan dari hal ini." ucap teman Devan sambil menarik tangan Devan agar menjauh dari ayah Melani.
Namun Devan sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Bagi Devan ayah Melani tak lebih orang tua yang hanya berlindung dibalik jabatannya.
Bahkan dengan jabatannya itu beliau mengambil keuntungan untuk kepentingan pribadi semata. Semua kartu AS keluarga Melani ada ditangan Devan.
Dan selama ini Devan tidak ingin mengusiknya selama mereka tidak mengusik Devan. Namun kali ini Devan sangat marah karena ayah Melani ingin menampar wajahnya hanya karena ia ingin menolong Devi.
Semua pertanyaan itu berada di benak semua teman-temannya termasuk Devan sendiri. Hanya saja Devan tidak tau apa alasannya.
Satu hal yang pasti ia tidak tega dan merasa sakit hati saat melihat gadis cupu itu diperlakukan tidak baik oleh mereka terutama keluarga Melani.
Devan menatap kearah Devira yang kebetulan juga menatap ke arah Devan. Pandang keduanya saling bertemu. Dan ada getaran aneh yang Devan rasakan saat pandang mereka bertemu.
"Cukup Devan ! apakah kau lupa siapa beliau ?" tanya kepala sekolah.
"Tidak ! saya ingat dan sangat tau sekali siapa yang saat ini berada di hadapan saya." jawab Devan tanpa melihat wajah ayah Melani dan tetap menahan tangan beliau.
"Devan, kau sangat keterlaluan ! apa yang membuatmu membela gadis cupu itu ? apa kurangnya aku selama ini ?."
"Apa yang si cupu itu punya dan aku tidak punya ? bahkan aku lebih modis aku, lebih cantik dan juga lebih kaya dari gadis cupu itu." ucap Melani dengan mata yang berkaca-kaca.
Melani langsung memutar kursi rodanya, ia mendekati Devira yang hanya diam membisu melihat adegan yang ada di hadapannya.
"Apa kau puas sekarang ? apa belum cukup hukuman yang aku berikan kepadamu selama ini ?."
"Apakah kau ingin aku sekap lagi seperti saat itu ?. Dan harus kau ingat kali ini kau tidak akan bisa selamat !." ucap Melani sambil setengah berbisik agar hanya Devira yang bisa mendengarnya.
Devira langsung menatap tajam kearah Melani. Dengan ucapannya itu secara tidak langsung Melani mengatakan bahwa ia yang telah menyekap Devi di gudang kosong yang tak jauh dari sekolah ini.
"Apa maksud mu ?." tanya Devira dengan penuh penekanan.
"Apa harus aku ingatkan kembali bagaimana rasanya kau tinggal di gudang kosong itu ?." jawab Melani.
Setelah mengatakan hal itu, Melani pergi meninggalkan Devira dan mendekati sang ayah. Ia sudah tak mampu menyembunyikan air matanya.
Melihat hal itu, sang ayah langsung meminta anak buahnya untuk membawa Melani masuk kedalam mobil. Sementara beliau mendekati Devan.
"Kau harus bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi hari ini." ucap ayah Melani sambil menunjuk ke arah Devan.
"Dan Kau gadis cupu ! jangan senang dulu karena kau mendapat pembelaan dari Devan. Ingat, urusan kita belum selesai !." ucap Ayah Melani sambil menunjuk ke arah Devira.
Namun Devira sama sekali tidak berpengaruh dengan apa yang diucapkan oleh ayah Melani. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia teringat bahwa tadi pagi Polisi mengatakan bahwa tas Devi ditemukan di sebuah gudang kosong dibelakang sekolah.
Dan Melani sendiri yang mengatakan bahwa ia telah menghukum Devi di dalam gudang kosong itu. Artinya sangat jelas bahwa Melani terlibat dalam kasus pembunuhan Devi.
Hanya saja siapa yang menjadi eksekutornya ? sehingga Melani mengatakan akan menghukumnya agar tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya lagi ?.
Sebuah teka teki yang perlahan akan Devira ungkap agar ia bisa menghukum seluruh pelaku kejahatan itu. Dan hal itu akan ia awali dari Melani.
Karena Melani yang memang mengawali kejadian itu. Dan satu hal yang sudah pasti. Devan yang menjadi alasan Melani melakukan semua kejahatan itu.