
Boby tersenyum melihat wanita-wanita yang ada di ruangan itu. Namun ia sama sekali tidak tertarik dengan mereka, hanya saja untuk menghormati yang lainnya ia memilih salah satu dari mereka untuk menemaninya minum.
Seluruh penghuni markas scorpio tengah menikmati pesta ditemani minuman keras dan juga wanita-wanita cantik.
Disisi lain, Devan yang baru saja terlelap tiba-tiba terbangun. Ia merasakan firasat yang sangat buruk. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Devan segera keluar dari rumah tempat dimana ia beristirahat. Devan menatap ke atas langit yang begitu cerah, malam yang sangat indah berhiaskan cahaya bintang dan bertahtakan cahaya rembulan.
Namun keinginannya tak mampu menenangkan hati Devan. Ia kemudian menghela nafasnya seakan menenangkan hatinya.
"Apa yang membuat mu terbangun ditengah malam begini ?." tanya tuan L yang sudah berada di samping Devan.
"Entahlah, hanya saja hatiku terasa tidak tenang. Seolah-olah akan ada sesuatu yang membuat ku hancur dan sakit."
"Tapi sejauh ini aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Entahlah tapi apa yang harus aku lakukan sekarang ?." ucap Devan.
"Sebaiknya kau cepatlah kembali, akan ada sesuatu yang terjadi kepada scorpio hitam. Sebelum semuanya berkahir dengan fatal."
"Dan aku merasa pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kepercayaan mu adalah awal dari bencana yang akan kau alami." jelas tuan L.
"Apa maksud kakek ?." tanya Devan.
"Kita sama-sama tidak tau apa saja yang telah ia lakukan dibelakang mu selama ini. Jika ia sudah berani menghilangkan nyawamu pasti ia juga berani melakukan hal-hal negatif atau tindak kejahatan lainnya dibelakang mu." jelas tuan L.
"Baiklah kek, Devan pamit dahulu. Devan ingin memastikan bahwa semuanya dalam keadaan baik-baik saja." ucap Devan.
Setelah mengatakan hal itu, Devan segera pergi meninggalkan tuan L yang masih setia ditempatnya berdiri.
"Semoga firasat ku tidak benar." ucap tuan L sambil menatap Devan.
Devan melangkahkan kakinya dengan cepat, terkadang ia juga berlari agar bisa segera bertemu dengan kendaraan yang bisa mengantarkannya sampai tujuan dengan cepat.
Devan berlari seperti orang kesetanan, ia sangat gelisah dan pikirannya tidak menentu. Disaat Devan hampir putus asa ia melihat taksi yang mengantarkannya masih ada ditempat itu.
Devan segera mengetuk pintu agar pengemudi taksi online itu segera bangun. Setelah beberapa kali Devan mengetuk pintu akhirnya sang sopir terbangun dari tidurnya.
"Tolong antara saya, dan saya mohon melajulah dengan cepat." ucap Devan sambil segera masuk ke dalam taksi itu.
"Siap bos, tapi kalau boleh saya tau apa gerangan yang terjadi sehingga anda terlihat sangat buru-buru sekali." tanya sopir taksi itu.
"Dan maaf tidak bisa melaju sekencang yang anda inginkan, soalnya saya hanya sopir taksi bukan seorang pembalap." ucapnya lagi.
"Entahlah, hanya saja saya mempunyai firasat buruk. Dan jikapun bukan seorang pembalap tapi bukan juga anak kecil yang baru saja belajar mengemudi bukan ?." jawab Devan sambil mengatur nafasnya.
Sopir taksi itu hanya tersenyum mendengar jawaban dari Devan. Devan yang sangat disegani oleh kalangan mafia, bisa-bisanya dia ngambek gara-gara ucapan sang sopir.
Perlahan taksi itu melaju dan membelah gelapnya malam. Disaat Devan tengah tenggelam dalam pikirannya, sopir taksi itu mengirimkan pesan kepada Rian bahwa Devan akan segera kembali.
Sambil mencoba menyakitkan suasana sopir taksi itu meminta ijin untuk membeli sebuah minuman kaleng, karena sejak mengantarkan Devan di pinggiran kota itu ia sama sekali belum minum dan makan.
Sebenarnya Devan tidak ingin menunda lagi, tapi sebagai manusia yang mempunyai hati nurani Devan akhirnya mengijinkan sopir taksi itu untuk membeli minuman bahkan ia juga ikut untuk sekedar membeli air mineral.
Sementara Devira tengah bersiap-siap untuk melakukan penyerangan terhadap mafia scorpio hitam. Hingga saat yang telah di tentukan tiba, anggota yang dipimpin oleh Devira telah sampai dan sudah mengepung markas itu.
Tak ada yang mengetahui pergerakan yang dipimpin oleh Devira, anggota scorpio hitam tengah berada di awang-awang karena alkohol dan juga wanita.
Sehingga mereka tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti, hal itu sangat memudahkan Devira dan kelompoknya untuk meratakan markas itu dengan sekali serangan.
Bahkan semua barang-barang haram yang menjadi kekayaan utama kelompok itu mereka bakar tanpa tersisa.
"Kita telah dikepung !." ucap salah satu dari anak buah Boby.
"Cepat lakukan perlawanan, jangan sampai ada yang mengetahui bahwa Devan tidak ada didalam markas ini. Jika tidak kita tidak akan bisa selamat." ucap Boby.
Hal itu membuat anak buah Boby saling pandang, bagaimana bisa sang pemimpin yang baru saja mereka angkat mengatakan hal semacam itu.
Dan bukankah semua kelompok mafia telah mengetahui bahwa Devan telah meninggal dalam kecelakaan saat mengikuti ajang balap motor ?.
Bahkan saat itu, mereka semua mengetahui bahwa motor yang dikendarai oleh Devan hangus terbakar dan masuk kedalam jurang.
Sebenarnya Boby tidak mempunyai kemampuan untuk melawan kelompok mafia manapun. Bahkan ia sama sekali tidak mempunyai kualifikasi untuk menjadi pemimpin kelompok mafia.
Selama ini ia selalu berlindung di bawah Devan dan hal itu tidak ada yang mengetahuinya kecuali Devan sendiri.
Disaat yang lain berusaha untuk melawan dan mempertahankan markas itu, Boby berjalan mengendap-endap untuk melarikan diri.
Ia tidak perduli dengan keselamatan anggota dan juga teman-temannya, yang ia perduli kan hanya keselamatan diri sendiri.
Namun sebelum sempat keluar dari markas, ada sebuah anak panah yang mengenai kaki kirinya. untung saja ada pin scorpio yang menjadi bukti keanggotaannya yang melindungi kaki itu.
Sehingga ia bisa selamat meskipun kakinya terluka. Dengan terseok-seok, Boby berusaha untuk meninggalkan tempat itu dengan kaki terseok-seok.
"AW sakit sekali." ucap Boby.
Ia berusaha mencabut panah yang tertancap di kakinya. Darah mengucur dari kakaknya. Sehingga ia meninggalkan jejak.
Dengan mudah Rian bisa mengetahui dimana Boby berada, Boby saat ini tengah bersembunyi dibalik semak-semak belukar.
Namun seperti pesan Devira, mereka tidak boleh membunuh lawan mereka saat sudah tidak berdaya. Oleh sebab itu Rian hanya mengambil panah yang telah melukai kaki Boby. Hal itu agar tidak ada jejak yang bisa mengarahkan perbuatan itu dari kelompok mereka.
"Bersihkan tempat ini dan jangan sampai ada jejak yang tertinggal !." perintah Rian.
Setelah itu mereka semua bahu membahu membersihkan markas scorpio hitam yang telah rata dengan tanah.
"Apakah Boby selamat ?." tanya Devira.
"Boby berhasil lolos dan saat ini ia terluka dan sedang bersembunyi dibalik semak belukar. Dan masih ada beberapa anggota mafia scorpio hitam yang selamat." jawab Rian.