Devi Devira

Devi Devira
Bab. 36. Curi-Ciri pandang



Terkadang susah untuk membedakan sebuah kebenaran diantara kebohongan yang dianggap oleh sebagian besar orang sebagai sebuah kebenaran. Sehingga kebenaran yang sesungguhnya dianggap hal yang aneh dan tidak wajar.


Seperti saat ini di SMA Persada milik Devira, geng yang bisanya dipimpin oleh Melani dan selalu menjadi sebuah kebenaran akan semua tindakan yang mereka lakukan meskipun jelas sekali bahwa itu adalah salah.


Kini disaat Polisi datang menangkap mereka semua, hampir seluruh siswa dan siswi di SMA Persada tidak mempercayai kenyataan bahwa mereka telah melakukan sebuah kejahatan.


"Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan kejahatan ? bukankah mereka adalah anggota Melani anak pejabat negara itu ?."


"Iya benar ! apakah Polisi itu tidak mengenal bagaimana ayah Melani ?."


"Ah kalian ini ketinggalan informasi. Melani dan juga ayahnya saat ini menjadi buronan polisi karena ayah Melani telah terbukti menyalahgunakan jabatannya."


"Syukurlah jika mereka ditangkap agar mereka tidak mencoreng nama sekolah kita."


"Tangkap saja mereka ! mereka memang pantas m mendapatkan semua itu.'


"Coba lihat video yang di unggah akun media sosial mereka !."


Terlihat banyak siswa dan siswi yang berbincang membicarakan mereka. Yang biasanya paling populer di sekolah kini menjadi tahanan Polisi. Banyak komentar dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing dalam menilai seseorang.


Sementara mereka sendiri tak mampu berkata apa-apa selain pasrah menerima kenyataan pahit yang mereka alami saat ini.


Menyesal bagi mereka sudah tidak ada gunanya lagi. Karena bukti kejahatan yang mereka lakukan telah berada di tangan Polisi.


Mereka digelandang polisi dan dibawa ke kantor polisi untuk mendapatkan hukuman atas kejahatan yang mereka lakukan.


"Pak, tolong hubungi keluarga mereka dan katakan semuanya dengan benar tanpa ada yang ditutup-tutupi."


"Dan sebentar lagi akan ada banyak wartawan yang akan meliput berita mereka dari sekolah ini. Silakan siapkan jawaban yang tepat dan jangan pernah mengkambing hitamkan orang lain." ucap Devira setelah berada di dalam ruang kepala sekolah.


"Baiklah akan saya lakukan. Dan percayakan sekolah ini kepada saya, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan dengan baik. Anda jangan khawatir." jawab sang kepala sekolah dengan sangat yakin.


"Baiklah, terimakasih atas kerjasamanya." ucap Melani sambil mengulurkan tangannya.


Dan kepala sekolah segera menyambutnya dengan suka cita. Setelah itu Devira keluar dari SMA Persada. Dan meminta orang-orangnya untuk mengundang wartawan.


Devira ingin kejahatan yang dilakukan oleh seluruh orang yang telah menyakiti Devi diketahui oleh publik. Ia ingin semuanya mengetahui bahwa Devi sebagai korban dan sama sekali tidak mendapatkan perhatian khusus dari banyak pihak.


Devira ingin seluruh penjahat-penjahat itu dikenal publik sebagai seorang yang seharusnya mendapatkan hukuman atas kejahatannya bukan malah hukum yang melindungi mereka.


Dan benar saja, penangkapan terhadap teman-teman Melani menjadi berita paling panas di seluruh media.


"Devi tunggu !." ucap Devan setelah berteriak.


Devira berhenti dan menatap kearah Devan yang sangat tergesa-gesa mendekatinya.


"Devi benarkah apa yang disampaikan oleh berita ini ?." tanya Devan setelah berada dihadapan Devira.


"Menurut mu ?." tanya Devira.


"Maksud ku adalah apakah benar yang dikatakan didalam berita ini bahwa mereka telah melakukan hal itu kepada mu ?." tanya Devan sambil mengangkat tangannya sebagai tanda kutip.


"Benar ! dan bukankah mereka sudah mengakuinya ?." tanya Devira.


Ia tidak ingin jika sering bersama Devan akan membuat harinya ragu untuk menghukum pembunuhan Devi.


"Devi, lalu mengapa kau tidak pernah bercerita atau mengadukan hal ini ? Seandainya kau mengadukan semuanya pasti mereka akan mendapatkan hukuman sejak awal." ucap Devan.


"Kepada siapa aku harus mengadu ? dan apakah kejujuran dari si miskin ini di dengar oleh kalian semua ?."


"Dan adakah hukum yang bisa menghukum para pemilik kekuasaan ? Dan adakah yang memihak kebenaran meskipun itu dari si miskin ?." tanya Devira.


Tak terasa air matanya menetes, ia sangat sakit sekali ketika mengetahui bahwa Devi mendapatkan perlakuan yang tidak adil hanya karena ia miskin.


Bahkan kematiannya seolah-olah tak ada harganya sehingga hukum seolah-olah tak mengetahui kejahatan yang telah menimpanya.


Perlahan tangan Devan terulur, ia menghapus kristal bening yang jatuh dari mata indah yang selama ini menghantuinya.


Hal itu membuat keduanya saling pandang satu sama lainnya. Tatapan keduanya bertemu dengan pemikiran mereka masing-masing.


'Devi ijinkan aku untuk menjagamu dan tak akan aku biarkan kristal-kristal bening ini jatuh dari mata indah mu.' batin Devan.


'Devira kau harus ingat bahwa Devan adalah musuhmu, ia adalah pembunuh adikmu,.dan kau harus menghukumnya.'


'Devira sadar ! jangan biarkan hatimu berkelana tak tentu arah yang akan membuatmu lemah di hadapan musuh yang sebenarnya.' batin Devi bergejolak.


Hatinya mulai kehilangan arah, apakah ia menyukai Devan atau sebaliknya sangat membencinya. Karena antara benci dan cinta hanya tipis sekali perbedaannya.


"Hem ! yang lagi falling in love." ucap salah satu siswa yang kebetulan melewati keduanya.


Reflek tangan Devira menepis tangan Devan yang dengan lembut menghapus air matanya. Dan hal itu membuat Devan salah tingkah.


Keduanya saling membuang muka dan saling menutupi kebenaran yang ada didalam hatinya. Sama-sama sok jual mahal padahal saling membutuhkan.


"Devan permisi aku harus kembali ke kelas." ucap Devira.


Setelah itu ia segera melangkah dengan cepat meninggalkan Devan yang masih tersenyum-senyum sendiri.


Sementara pipi Devira seperti kepiting rebus karena perlakuan Devan barusan. Hati kecilnya berbunga-bunga hanya saja ia menutupinya dengan dendam atas kematian Devi.


Saat menyadari Devira menjauh, Devan mencoba berlari mengikuti Devira menuju ke kelas mereka. Keduanya kemudian berjalan beriringan namun tanpa kata. Hanya hati mereka yang berbicara.


"Devi, nanti pulangnya bareng ya. Dan aku tidak suka ada penolakan." ucap Devan sebelum masuk kedalam kelas.


Devira tentu saja tak menyangka bahwa Devan akan mengatakan hal itu. Dan belum sempat Devira menjawab, Devan telah lebih dulu masuk ke dalam kelas dan ia segera duduk bersama teman-temannya yang lain.


Devira terpaksa diam tanpa menjawab ucapan Devan. Sebenarnya ia ingin menolaknya mentah-mentah, namun lain halnya dengan hati kecilnya yang semakin berbunga-bunga.


Setelah berada di dalam kelas Devan mencuri-curi pandang terhadap Devira, begitu juga sebaliknya. Sehingga kelas yang begitu sibuk dengan segala aktifitasnya seolah-olah sepi tak berpenghuni.


Hanya Devan dan Devira yang ada di dalam pikiran dua insan yang mulai jatuh cinta itu. Bagaikan dunia milik mereka berdua.


Hal itu tak lepas dari perhatian sang guru bidang studi yang tengah menjelaskan materi pelajaran di depan kelas.