
Ibu Jihan perlahan membukakan pintu. Dan seorang Polisi telah berdiri didepan pintu dengan membawa sebuah tas milik Devi.
"Selamat pagi ibu, ini kami menemukan sebuah tas milik saudara Devi..Silakan dicek siapa tau masih ada barang berharga milik korban yang tidak hilang." ucap Polisi tersebut.
"Baik pak, akan saya periksa terlebih dahulu. Dan kalau boleh tau dimana tas anak saya ini ditemukan ?."
"Dan apakah baju milik anak saya juga sudah ditemukan pak ? karena itu bisa dijadikan sebagai barang bukti, karena pasti ada sidik jari pelaku disana." tanya ibu Jihan.
"Tidak Bu, kami tidak menemukan apapun lagi. Dan tas itu kami temukan disebuah gudang kosong yang tak jauh dari Sekolah korban." jawab Polisi.
Setelah menjelaskan beberapa hal, akhirnya Polisi tersebut segera pamit undur diri meninggalkan ibu Jihan yang masih diam membisu seperti sebuah patung.
Beliau tidak pernah menyangka, Jika Devi sempat disekap di sebuah gudang beberapa hari dan tidak ada seorangpun yang mencurigai hal itu.
"Moms, hari ini juga aku akan menyelidiki gudang tersebut. Mungkin ada sesuatu yang bisa menunjukkan siapa pelaku pembunuhan itu."
"Semuanya pasti berawal dari Sekolah dan pastinya ada diantara teman-teman Devi yang terlibat akan hal itu." ucap Devira.
"Devira sebaiknya mommy bertanya kepada Arin, siapa tau Arin bisa membantu." ucap ibu Jihan yang bersiap untuk menghubungi Arin.
Namun hal itu dicegah oleh Devira. Devira menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak setuju dengan rencana sang mommy.
"Moms, jangan pernah memberitahu siapapun jika aku bukanlah Devi, termasuk kepada Arin. Begitu juga dengan kejadian yang dialami oleh Devi."
"Karena semua yang ada disekolah tersebut bisa jadi pelaku pembunuhan itu. Kita tidak pernah tau apa yang ada didalam hati setiap orang, termasuk Arin." jelas Devira.
"Tapi Arian adalah sahabat dekat Devi." ucap ibu Jihan mencoba menjelaskan kepada Devira.
"Jika Arin tulus bersahabat dengan Devi, mengapa Arin hanya diam saja saat Devi dibully oleh anak pejabat itu ?." tanya Devira dengan suara yang tertahan.
Ibu Jihan menghela nafasnya kemudian menghembuskan kembali dengan perlahan, setelah itu dengan lembut beliau menggenggam tangan putrinya dengan penuh kasih.
"Sayang dengarkan mommy, Arin pasti punya alasan sehingga ia bisa melakukan hal itu. Dan asal kau tau teman Devi adalah anak seorang pejabat yang sangat ditakuti di kota ini."
"Jadi kau jangan berfikir negatif dahulu terhadap Arin, jangan sampai itu akan berdampak buruk nantinya." jelas ibu Jihan.
Devira hanya mengangguk meskipun ucapan Mommy Jihan benar, tapi Devira yakin bahwa Arin bukan sahabat sejati untuk Devi.
Setelah itu, ibu Jihan memeriksa tas milik Devi. Semuanya masih utuh termasuk ponsel milik Devi. Hanya saja ponsel tersebut tidak aktif karena kehabisan daya.
"Mom apa ini ?." tanya Devira saat melihat sebuah pin scorpio hitam dan juga sebuah pin bunga melati.
"Sepertinya itu bukan milik Devi, selama ini Devi tidak pernah memakai pin dalam bentuk apapun." jelas ibu Jihan.
"Iya mom, ini Memeng bukan milik Devi tapi ini milik anak-anak brengsek itu." jawab Devira.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah pin scorpio dari dalam tasnya. Dan membandingkan dengan pin tersebut. Hasilnya sama persis hanya ada sebuah logo tambahan sebagai ciri khasnya.
"Kau dapat benda ini dari mana Devira ?." tanya ibu Jihan dengan khawatir.
"Sayang, dengarkan mommy, kau harus lebih berhati-hati, mommy tidak ingin kehilangan kamu lagi. Cukup Devi yang menjadi korban."
"Atau lebih baik kita ikhlaskan saja apa yang terjadi pada Devi." ucap ibu Jihan.
Beliau sangat takut akan kehilangan Devira, seperti Devi yang kini telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Tidak mom, Devira harus membalas mereka !. Dan Devira harus mencari tau pin melati ini milik siapa ? dengan begitu Devi bisa segera membalas kematian Devi."
"Jika Polisi tidak bisa berbuat banyak kepada mereka, tapi Devira bisa melakukannya tanpa terikat ataupun takut kepada mereka dan juga keluarganya." ucap Devi dengan penuh keyakinan.
"Baiklah jika itu yang sudah menjadi keputusan mu. Tapi ingatlah selalu kau harus berhati-hati karena kau berada di tempat baru dan orang-orang baru yang sama sekali belum kau kenali karakter dari mereka." jawab ibu Jihan.
Devira tersenyum kemudian ia memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai dan ia rindukan selama bertahun-tahun itu.
Setelah itu Devira segera berpamitan untuk menuju ke sekolah. Ia menggunakan taksi yang berbeda tetapi tetap sebuah taksi miliknya yang sudah ia modifikasi.
Hal itu agar ia bisa pergi kemanapun dengan menggunakan mobil yang berbeda-beda. Sehingga tidak akan mudah dikenali oleh musuhnya.
Dengan cepat Devira sampai disekolah. Ia dengan semangat yang menggebu-gebu melangkah menuju ke ruang kelasnya.
"Pagi Devi." sapa Arin.
"Selamat pagi." balas Devira dengan tersenyum manis.
Kemudian keduanya masuk kedalam kelas secara bersamaan. Dan duduk dengan rapi seperti biasanya.
Semuanya tiba-tiba diam seperti ada sesuatu yang sangat mengerikan datang ke arah mereka. Ternyata Devan dan teman-temannya datang tetapi kali ini Wajah Devan sangat mengerikan.
Arin tersenyum saat melihat Devan menatap ke arah mereka. Sementara Devira hanya diam tak peduli dengan kedatangan mereka.
Tak lama kemudian Melani menyusul bersama teman-temannya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Devira menjentikkan sebuah pensil di depan mereka.
Hal itu membuat Melani terpeleset dan jatuh tersungkur ke lantai. Wajah Melani merah padam menahan malu dan juga sakit tentunya.
"Siapa yang berani melakukan hal ini ?. Siapa yang berani mencari gara-gara dengan kami." tanya Melani setelah berhasil bangkit.
Namun tak satupun dari mereka yang menjawab. Semua hanya diam dan menundukkan kepalanya. Hanya Devan dan teman-temannya yang masih tertawa melihat hal yang terjadi.
"Devan lihatlah ada yang berani menjahili aku." ucap Melani sambil mendekati Devan dengan wajah memelas agar mendapat perhatian dari Devan.
"Lain kali jika berjalan lihat-lihat agar tidak jatuh lagi. Bisa-bisanya kau jatuh saat berjalan diatas lantai yang begitu bersih dan rata." jawab Devan dengan cuek.
Melani berjalan dengan menghentakkan kakinya, sungguh sangat menyebalkan karena Devan tetap saja tidak perduli dengan dirinya meskipun sudah terjatuh.
Melani kemudian duduk di bangkunya dan di ikuti oleh teman-temannya yang lain. Sementara Arin sesekali menatap kearah Devira dan Melani secara bergantian.
Arin sangat heran karena Devi begitu tenang tidak terlihat takut sedikitpun. Padahal biasanya ia sudah ketakutan karena Melani pasti akan melampiaskan kemarahannya terhadap Devi.