Devi Devira

Devi Devira
Bab. 37. Hukuman dari guru



Sang guru mengerutkan keningnya saat melihat kelakuan Devan dan juga Devira. Dengan sengaja beliau memanggil keduanya untuk maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal.


"Devan ! Devira silakan kalian berdua maju ke depan !." ucap sang guru.


Devan dan juga Devira segera maju kedepan sesuai perintah sang guru.


"Devan coba kau kerjakan sopan nomor dua di buku halaman dua puluh satu dan kau Devi silakan kerjakan soal nomor empat dihalaman dua puluh dua !." ucap sang guru.


"Baik Bu." jawab keduanya dengan kompak.


"Cie cie yang kompakan ! "


"Jelas kompak lah, saling pandang berdua, maju berdua dan mengerjakan hukuman juga berdua."


"Cie cie !." ucap para siswa dan siswi yang lainnya.


Devan hanya tersenyum mendengarnya, sementara Devira sok cuek meskipun sebenarnya mukanya merah merona karena malu, malu karena perbuatannya diketahui oleh teman-temannya dan juga sang guru.


Devan dan juga Devira segera mengerjakan soal yang diberikan dengan sangat mudah dan cepat. Devan memanglah salah satu anak yang berprestasi di sekolah itu.


Sementara Devira, ia telah menyelesaikan pendidikan S3 diusia yang seharusnya masih duduk di bangku SMP.


"Dev nanti kita ke kantin ya, tenang aku yang traktir. Anggap aja sebagai perayaan atas hukuman yang kita jalani saat ini." ucap Devan di sela-sela mengerjakan tugasnya.


Devira menatap kearah arah Devan, seandainya ia bukan pembunuh Devi, pasti Devira akan dengan senang hati menerima tawaran dari Devan.


Tapi sayangnya Devan adalah musuh yang akan ia hukum atas perbuatannya terhadap Devi. Tapi mengapa Devan tidak merasa aneh jika saat ini Devi masih ada ?.


Bukankah seharusnya ia merasa heran saat melihat Devi muncul kembali di SMA Persada ini ? atau bukan Devan yang telah membunuh Devi ?.


Karena Devan hanya melampiaskan nafsunya kepada Devi tetapi ia tidak pernah membunuhnya. Dan ajakan Devan untuk mentraktir makan dan juga ajakan pulang bareng hanya akal-akalan Devan saja.


Agar ia bisa melakukan hal bejat itu kepada Devi ? memikirkan hal itu Devira menatap tajam kearah Devan. Tentu saja hal itu tak lepas dari perhatian seluruh penghuni kelas.


"Cie yang saling pandang." ucap seluruh teman-teman yang ada dikelas itu dengan kompak seperti panduan suara.


Devan dengan senang hati menatap kearah Devira yang semakin merah merona wajahnya karena menahan malu.


Devan tersenyum simpul dan hatinya semakin berbunga-bunga melihat betapa cantiknya gadis disampingnya itu saat menahan malu.


"Kau memang cantik Queen." ucap Devan.


Devira menatap Devan dengan sangat terkejut, bagaimana bisa Devan mengetahui nama itu ? atau Devan sebenarnya telah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya ?.


"Apa maksudmu ?." tanya Devira dengan penasaran.


"Kerena kau hanya akan menjadi ratu dalam hidup ku, mendampingi ku menjalani kehidupan ini hingga ajal akan memisahkan kita." jawab Devan tanpa dosa.


Ia tak perduli dengan semua yang ada didalam kelas itu, yang ia tau bahwa apa yang ia ucapkan adalah tulis dari dalam hatinya yang terdalam.


"Cie Cie, mulai mengeluarkan jurus andalan biaya darat."


"Rayuan gombalnya Devan bisa membuat ciwi-ciwi klepek-klepek."


"Langsung tembak aja kenapa gak perlu gombalin Mulu."


Begitulah reaksi teman-temannya didalam kelas. Mereka berargumen masing-masing ketika melihat dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.


Mereka dihukum karena tidak mendengarkan disaat guru sedang menjelaskan, namun bukannya merasa malu tapi tetap saja melanjutkan aksinya. Itulah devinisi dunia berasa milik berdua yang sesungguhnya.


"Devan, Devi silakan kalian duduk kembali. Dan ingat meskipun kalian adalah siswa yang berprestasi di sekolah ini, tapi tidak seharusnya kalian mengabaikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan."


"Dan ingat jangan ulangi lagi kesalahan kalian dimasa yang akan datang." ucap sang guru.


"Apakah jatuh cinta sebuah kesalahan Bu ?." tanya Devan seolah tanpa dosa.


"Jatuh cinta memang bukan sebuah kesalahan tapi cara kalian menempatkan diri yang salah." jawab sang guru.


Devan hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu ia duduk kembali ke tempatnya. Dan sebelum itu ia sempat melemparkan sebuah ciuman kepada Devira. Sementara Devira tak menanggapi aksinya itu.


Devira kembali duduk dan kali ini ia tak perduli dengan Devan. Ia sibuk dengan rencananya untuk memberikan hukuman kepada para pembunuh Devi atau lebih tepatnya fokus pada balas dendamnya.


Devira mengirimkan pesan singkat kepada Rian, ia menanyakan bagaimana persiapan untuk aksinya sepulang sekolah nanti.


Sepulang sekolah ? bukankah Devan mengajaknya untuk pulang bersama ? lalu bagaimana caranya Devira untuk menolaknya ?.


Atau bukan kah itu sebuah kesempatan yang sangat bagus, Devira dengan mudah membunuh Devan disaat mereka pulang nanti ? sehingga ia tidak perlu repot-repot mencari Devan.


Tinggal tembak, bunuh, saat mereka berada didalam mobil bukankah itu sangat mudah bagi Devira untuk dilakukan. Tak perlu banyak rencana ini dan itu.


Tapi mengapa Devira tidak bisa melakukan hal itu ? apa jangan-jangan sebenarnya Devira memang tidak bisa melakukan hal itu karena hati kecilnya bertentangan dengan pikirannya ?.


Dalam pikirannya ia harus membunuh Devan tetapi dalam hati kecilnya ia harus bisa memiliki Devan ? Ayo readers tolong author untuk menulis kisah kelanjutan pembalasan Devira.


Sementara disisi lain Rian sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk rencana pembalasan dendam mereka. Baik itu dendam pribadi Rian dan juga dendam Devira sebagai pemimpin mereka.


Tiba-tiba muncul orang kepercayaannya yang selama ini berprofesi sebagai sopir taksi online itu. Dan Rian segera menghampirinya karena tidak biasanya ia muncul dan menemuinya di markas jika bukan karena keperluan yang mendesak.


"Apa yang membuatmu datang ke tempat ini ?." tanya Rian sambil menjabat tangan anak buahnya itu.


"Tuan, saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya adik kandung anda masih hidup dan saat ini ia dalam keadaan baik-baik saja."


"Dan anda pasti tidak akan pernah menyangka bahwa sebenarnya anda juga sangat mengenal dirinya dan anda pernah bertemu dengannya secara langsung." ucap anak buahnya itu.


"Apa maksudmu ? jika kau memang telah mengetahui semuanya katakan saja jangan berbelit-belit." ucap Rian.


"Tapi saya harap anda jangan kaget setelah mengetahui semua kebenaran ini." jawab anak buah Rian.


Hal itu membuat Rian menatap serius wajah orang yang selama ini sangat ia percaya itu. Terlihat tidak ada kebohongan dari tatapan matanya.


"Katakan saja semuanya. Jika kau memang benar mengetahuinya, apapun itu aku siap menerima segala konsekwensinya." ucap Rian serius.


Anak buahnya menghela nafas panjang, seolah sedang mempersiapkan bagaimana caranya ia mengatakan semuanya kepada Rian.


Rian yakin jika anak buahnya itu sangat bingung bagaimana caranya mengatakan yang sebenarnya. Dan ia juga yakin jika hal itu pasti akan membuat Rian sangat terkejut dengan kenyataan yang akan ia hadapi.