Devi Devira

Devi Devira
Bab. 34. Pengakuan



Devira duduk tak jauh dari gadis yang kini menjadi seorang pesakitan itu. Ia dengan sangat apik merekam pengakuan gadis itu dan menyiarkannya secara live dengan aku media sosial gadis itu sendiri.


"Mulailah, dan berkata lah dengan jujur jika kau dan keluarga mu ingin selamat !." ucap Devira dengan tersenyum penuh arti.


"Sebenarnya aku tidak ada masalah apapun dengan Devi, aku melakukan semuanya selama ini karena mengikuti perintah Melani saja."


"Bahkan bukan hanya bullying disekolah saja yang kami lakukan terhadap Devi. Kami juga telah menyekap Devi disebuah gedung kosong di belakang SMA Persada."


"Di sana, kami melakukan pelecehan terhadap Devi. Kami menyiksa dan menganiaya Devi hingga menelanjangi gadis cupu itu."


"Semua kami lakukan karena perintah dari Melani. Melani sangat sakit hati dengan Devi, yang dengan sengaja telah merebut perhatian Devan dengan tubuhnya itu."


"Kemarahan Melani semakin memuncak saat melihat Devi tidur dengan Devan. Pantas saja jika Devan selalu memperhatikan Devi, ternyata Devi telah memberikan kesuciannya kepada Devan."


"Sementara Devi yang kami kenal adalah gadis miskin yang sangat lugu. Kami tidak pernah menyangka bahwa Devi adalah gadis murahan yang dengan suka rela tidur dengan seorang lelaki."


"Bahkan semenjak tidur dengan Devi, Devan semakin tidak perduli dengan Melani, meskipun Melani menawarkan hal yang sama seperti yang Devi lakukan."


"Devan malah mengatakan bahwa Melani telah memfitnah Devi dan juga dirinya. Meskipun Melani telah melakukan segala cara tetap saja Devan tidak pernah menganggapnya ada."


"Hal itu yang membuat kami berencana untuk menyingkirkan Devi dari kehidupan Devan. Dengan membiarkan Devi jauh dari Devan mungkin Devan mau melihat Melani."


"Dengan kami menyekap Devi digudang kosong itu dengan kondisi yang tanpa busana kami berharap ada seseorang yang akan memuaskan nafsunya dengan tubuh kotor Devi yang sudah pernah dijamah oleh Devan."


"Sehingga Devan tak akan Sudi lagi bersama dengan Devi yang mungkin pernah ditiduri oleh pria lain. Karena kami tau gudang kosong itu sering disinggahi oleh orang yang bersembunyi dari kejaran polisi."


"Rata-rata mereka yang mengetahui tempat itu bukan orang baik-baik. Jika bukan pemakai narkoba pasti mereka penikmat alkohol."


"Setelah melakukan hal keji itu, kami pergi meninggalkan Devi dan tak lupa kami menyiapkan dua botol minuman keras sebagai hadiah untuk seseorang yang masuk ke gudang kosong itu."


Gadis itu kemudian menghapus air matanya yang tak bisa ia bendung lagi. Kemudian ia menarik nafas panjang.


"Aku merekam semua kejadian digudang kosong itu, dan kemudian mengirimkan video itu untuk Devi, sebagai ancaman agar ia tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan dirinya sendiri."


"Hanya itu saja yang kami lakukan, setelah itu kami tidak pernah melihat Devi hingga beberapa hari. Karena dari keterangan sang ibu Devi tengah sakit sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya."


"Setelah mendengar kabar itu, kami kembali ke gudang kosong itu dan benar saja Devi sudah tidak ada di tempatnya lagi."


"Setelah itu tak lama kemudian Devi bisa kembali ke sekolah seperti biasanya, hanya saja ia tidak lagi seperti biasanya."


"Sehingga aku tidak perlu merasa bersalah telah melakukan semua itu kepada Devi. Karena tidak berdampak buruk kepada Devi. Terlihat dari penampilannya saat ini."


"Meskipun kami pernah mendengar bahwa Devi telah tiada tapi nyatanya kabar itu adalah kabar burung semata." jelas gadis itu.


Devira berdiri dan mendekati gadis itu yang menundukkan kepalanya dengan berlinang air mata. Devira mengangkat wajah gadis itu.


Terlihat sebuah kejujuran terpancar dari sorot matanya. Devira kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Disaat kami sedang mengunjungi markas scorpio hitam, kami langsung ke ruang kerja Devan tapi Devan tidak ada ditempat."


"Dan tanpa sengaja kami melihat sebuah adegan panas disebuah kamar yang sedikit terbuka. Dari pakaian yang digunakan oleh gadis itu kami yakin jika pelaku wanitanya adalah Devi."


"Hal itu karena pakaian seragam SMA Persada yang digunakan adalah milik Devi. Dan terlihat jelas nama.Devi di seragam itu."


"Jika kau tidak percaya aku masih mempunyai video panas itu, yang membuktikan bahwa Devi dan juga Devan yang ada dalam adegan panas itu." jelas gadis itu.


Kemudian ia bangkit dan mengambil ponselnya, perlahan ia mencari sesuatu dan setelah menemukannya ia menunjukkan sebuah video kepada Devira.


Sepintas Devira melihat adegan panas yang tak perlu dilihat itu, dan benar saja bahwa seragam itu milik Devi dan juga Devan. Jika dilihat dari nama yang tertulis pada seragam itu.


Sejenak Devira berfikir, kemudian ia membandingkan tubuh wanita itu dengan tubuh milik Devi yang direkam oleh gadis dihadapannya.


Meskipun pemeran adegan panas itu tidak terlihat seluruh tubuhnya, tapi terlihat perbedaan yang sangat jelas dengan tubuh Devi.


Dari warna kulitnya saja sangat jelas jika itu bukan Devi, Devi mempunyai kulit yang putih bersih dan sangat mulus.


Sementara pemeran adegan panas itu memiliki kulit sawo matang dan ada tato bunga melati di atas area intinya.


Dari situ Devira mengetahui maksud kalimat yang ditulis oleh Devi dibuku hariannya itu. Dan apa maksud bunga melati itu.


"Apakah kau bisa membedakannya ?." tanya Devira dengan nada yang sedikit lembut.


Gadis itu memperhatikan dengan seksama kedua video yang ada dihadapannya. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Devira.


Keduanya adalah orang yang Berbeda. Hal itu jelas di akui oleh gadis itu, karena ia sendiri yang telah merekam kedua video itu dan dengan ponsel yang sama.


"Artinya gadis yang telah tidur dengan Devan itu bukan Devi ?." tanya gadis itu sambil menutup mulut dengan tangannya.


Ia lalu menjatuhkan tubuhnya kelantai, ia sangat menyesal karena telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal terhadap Devi.


Devi ternyata tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang mereka tuduhkan selama ini. Bahkan Devi tidak pernah melakukan kesalahan secuil pun terhadap mereka.


Tapi karena pemikiran mereka sendiri yang salah membuat Devi selalu mereka bully selama ini. Bahkan sampai hati mereka melakukan hal yang sangat terhadap Devi.


"Jadi, jadi kami salah selama ini ? kami telah salah menilai Devi ? lalu apa yang terjadi setelah Devi kami tinggalkan saat itu ?." tanya gadis itu.


"Itu yang harus kau cari tau, tapi yang pasti kalian semua akan mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah kalian lakukan terhadap Devi."


"Percikan air bersih ke wajah keluarga mu sepuluh menit dari sekarang, agar mereka semua segera sadar kembali." ucap Devira.


Setelah mengatakan hal itu Devira kembali melakukan motornya dan menghilang bak disapu hembusan angin.