Devi Devira

Devi Devira
Bab. 43. Hukuman Melani



Setelah memikirkan hal itu, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hingga mobilnya seperti angin yang berhembus kencang.


Menyapu jalanan yang ia lalui. Ia harus segera bertemu dengan Boby karena hanya Boby yang bisa menjelaskan siapa wanita yang bersamanya saat itu.


Sehingga Melani terbakar oleh amarah hingga melakukan penyekapan terhadap Devi. Dan untuk mencari tau siapa Devi sebenarnya biarlah ia lakukan nanti setelah masalahnya dengan Boby selesai.


Setelah beberapa waktu akhirnya Devan memasuki kota kelahirannya. Terbayang setiap kejadian yang ia alami.


Kenangan indah bersama seluruh keluarganya hingga kejadian pahit yang memisahkan dirinya dengan seluruh keluarganya termasuk sang kakak yang saat itu bertaruh nyawa untuk melindunginya.


Tak terasa air matanya menetes, saat mengingat kejadian pahit itu. Dengan sekuat tenaga Devan menguatkan dirinya untuk melihat kembali tempat dimana sang kakak yang rela mengorbankan dirinya untuk nyawanya.


Devan tengah dilanda dilema, apakah ia menemui Boby terlebih dahulu atau ia harus mengenang masa-masa bersama keluarganya. Mungkin ditempat itu ia bisa menemukan petunjuk sang kakak saat ini.


Sementara Devira saat ini telah berhasil membawa Melani dan keluarganya ke tempat dimana keluarga Devan tinggal saat itu.


Rian sedang mengenang masa-masa bersama keluarganya dan teringat bagaimana ia melindungi sang adik saat itu.


Sementara Devira telah bersama dengan Melani untuk menyelesaikan tujuannya, yaitu menghukum Melani atas apa yang telah ia lakukan terhadap Devi.


"Devi, apa yang akan kau lakukan ?." tanya Melani yang ketakutan saat melihat Devira yang sebenarnya.


"Aku hanya ingin mengulang apa yang telah kau lakukan terhadap Devi." jawab Devira.


"Apa maksudmu ?." tanya Melani semakin ketakutan.


Tanpa menjawab pertanyaan Melani, Devira melangkah selangkah demi selangkah mendekati Melani. Terbayang bagaimana Devi diperlakukan saat itu.


"Aku ingin menghukum mu !." ucap Devira sambil menarik kerah baju Melani.


Melani menatap wajah Devira, ia tertegun sejenak saat melihat mata Devira. Mata itu sangat tajam dan penuh dengan amarah yang membara. Dan seolah ada yang aneh dengan mata itu, seperti bukan mata Devi jika dilihat dari warna matanya.


Apakah Devi menggunakan softlens atau ia bukan Devi yang sebenarnya ? sehingga wanita yang saat ini dihadapannya bisa melakukan hal seperti ini.


"Si si siapa kau sebenarnya ?." tanya Melani dengan gemetar.


"Aku adalah malaikat pencabut nyawa untuk mu." jawab Devira dengan penuh penekanan.


Setelah mengatakan hal itu, Devira menghempaskan tubuh Melani hingga terjatuh di tanah dengan sangat kuat.


"Kau harus membayar setiap perlakuan yang telah kau lakukan terhadap Devi. Seandainya gedung kosong itu masih utuh maka aku akan menghukum mu di tempat yang sama."


"Dan asalkan kau tau, aku menyelamatkan mu dari Polisi hanya untuk membalas dendam atas kejahatan mu terhadap Devi."


"Kau adalah mangsaku dan tak akan aku biarkan siapapun yang akan menyentuh mu. Hanya aku yang berhak atas nyawamu." Devira mengatakan hal itu dengan penuh penekanan.


Melani berusaha untuk melarikan diri, ia tidak ingin menjadi seperti Devi saat itu. Siapapun gadis yang menyerupai Devi saat ini ia tidak perduli. Ia hanya ingin lari sejauh mungkin dari hadapannya.


Namun baru saja ia berlari, sebuah pisau kecil telah menusuk kakinya. Ia terjatuh kesakitan, Melani berusaha untuk bangkit dan berlari lagi namun Devira telah menarik rambutnya.


"Jangan berharap kau bisa lari dari ku !." ucap Devira.


Devira dengan cepat merobek pakaian Melani, hingga pakaian itu menjadi compang-camping.


"Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa mengembalikan Devi kedunia ini." jawab Devira dengan penuh amarah.


"Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan. Aku tidak pernah membunuh Devi jadi mana mungkin Devi tidak bisa kembali." ucap Melani.


"Apakah kau yakin ?." tanya Devira sambil mengusap wajah cantik Melani dengan sebuah pisau kecil.


"Aku, aku." Melani tak mampu mengatakan semuanya.


Ia sangat ketakutan saat ini. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal ini. Meskipun ia tidak diperlakukan seperti Devi tapi tidak ada yang bisa menjamin keselamatannya.


Tanpa ragu, Devira menggores wajah Melani, sehingga ada cairan berwarna merah menetes dari wajah cantiknya.


"AW sakit, aku mohon ampuni aku. Aku akan mengatakan yang sebenarnya tapi aku mohon jangan sakiti aku."


"Aku, aku tidak pernah membunuh Devi. Jika ia mati itu bukan aku yang melakukannya. Aku hanya mendengar kabar kematiannya dan meminta ayahku untuk menutup kasus itu."


"Dan saat aku mengetahui bahwa kau masih hidup, aku tidak mengerti dengan semuanya. Dan apapun yang aku lakukan selama ini demi Devan."


"Aku tidak terima jika Devan lebih memilih dirimu dari pada aku. Bahkan kalian telah melakukan hal menjijikan itu di depan mata ku."


"Bahkan aku telah menawarkan tubuhku ini dihadapkan Devan, namun ia sama sekali tidak perduli, ia hanya perduli dengan dirimu saja."


"Aku benci, aku sangat membencimu ! bahkan hingga kau hidup kembali aku masih sangat membencimu !." teriak Melani.


Devira semakin menekan tubuh Melani hingga Melani tak mampu bergerak lagi. Dengan kuat Devira menindih tubuh Melani di atas tanah.


Dan di detik berikutnya Devira menampar wajah Melani hingga sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah yang kental.


Tak puas sampai disitu, Devira memukul tanah yang berada tepat disamping wajah Melani hingga berlubang.


"Kau harus menebus semua yang telah kau lakukan terhadap Devi. Meskipun kau bukan pembunuh Devi tapi kau adalah awal dari kejadian pahit itu." ucap Devira dengan melemparkan tubuh Melani.


Tubuh lemah itu terpental hingga menabrak dinding rumah milik keluarga Rian, Kemarahan Devira sudah tidak dapat dibendung lagi.


Dengan cepat ia berjalan mendekati tubuh Melani yang terkulai lemah di lantai. Dengan cepat Devira melancarkan tendangannya terhadap Melani.


Namun seseorang dengan gesit menangkis tendangan itu. Devira menatap tajam kearah orang yang telah menyelamatkan Melani dari tendangannya.


Devan muncul diwaktu yang tepat, jika tidak bisa dipastikan Melani akan menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga. Seandainya saja Devan tidak datang ke tempat itu dan l nih memilih untuk menemui Boby.


"Jangan ikut campur dengan urusan ku ! ada gilirannya untuk mu menerima hukuman atas kematian Devi." ucap Devira dengan tegas.


"Kematian Devi ? apa maksudmu aku tidak mengerti ?." tanya Devan.


"Devan tolong selamatkan aku, aku mohon selamatkan aku dari gadis itu." ucap Melani sambil memohon kepada Devan dengan berlinang air mata.


Devan menatap Melani dengan iba, namun ia tidak ingin mendekati Melani. Ia hanya menatap kearah gadis cantik dihadapannya yang selama ini ia anggap Devi dan yang telah memiliki hatinya.