Devi Devira

Devi Devira
Bab. 50. Lawan yang tangguh



Dengan cepat Devan segera mendekati taksi tersebut. Dan ia kemudian mengetuk pintu agar sang sopir bersedia berbincang dengan dirinya.


"Maaf bolehkah aku mengetahui kemana kau mengantarkan pelanggan mu yang ini ?." tanya Devan dengan menunjukkan foto Boby.


"Apa yang tuan inginkan ?." tanya sang sopir tanpa menjawab pertanyaan Devan.


"Aku harus membuktikan sebuah kebenaran, bukankah kau juga akan melakukan hal yang sama jika mengetahui sebuah kebenaran tetapi belum bisa membuktikannya ?." tanya Devan.


Sang sopir terdiam, ia menunggu perintah dari Rian. Karena ia belum mengetahui apa rencana Rian dan yang lainnya.


Setelah mendapatkan perintah dari Rian agar ia mengatakan yang sejujurnya berulah sang sopir tersenyum dan menatap Devan.


"Bos jika kau mengetahuinya kebenaran yang sesungguhnya pasti kau akan menyesal telah melakukan semua ini."


"Lelaki yang anda maksud saat ini sedang berada disebuah kampung yang sangat terpencil. Ia berada di kampung P bersama dengan seorang gadis."


"Mereka mengunjungi adik kandung sang lelaki yang sangat luar biasa sekali. Di usianya yang masih sangat kecil mereka berjuang untuk bertahan hidup tanpa siapapun yang mendampinginya." jelas sang sopir.


"Baiklah terimakasih atas informasinya. Aku akan berusaha untuk menghindari hal-hal yang bisa merugikan orang lain, khususnya kedua adik Boby." jawab Devan dengan tulus.


Setelah itu Devan mempersilakan taksi tersebut berlalu meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Devan kembali menemui tuan L yang sangat tidak suka dengan ucapan sopir taksi itu.


"Kek Boby dan Arin saat ini berada di kampung P. Untuk bisa mencapai tempat itu kita harus menggunakan kendaraan yang bisa menempuh Medan kampung itu." ucap Devan.


"Jika benar yang ia katakan, bagaimana bisa taksi seperti itu mengantarkan Boby sampai ke kampung itu ?." tanya tuan L.


"Taksi tersebut telah dimodifikasi sedemikian rupa kek, wajar saja jika ia bisa menembus Medan sulit menuju ke kampung P." jawab Devan.


"Artinya ada sesuatu di balik taksi online itu." ucap tuan L.


Setelah mengatakan hal itu beliau memperhatikan sekeliling tempat itu. Bahkan Rian dan juga yang anak buahnya terlihat santai tidak sedang mengawasi dirinya dan juga Devan.


"Devan sebaiknya kita segera pergi sebelum semuanya terlambat." ucap tuan L sambil berjalan dihadapan Devan.


"Baik kek." jawab Devan.


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan tempat itu. Meskipun tanpa sebuah kendaraan keduanya tetap berjalan menuju kampung P.


Dengan sebuah harapan tak jauh dari tempat itu mereka akan mendapatkan sebuah tumpangan atau sebuah kendaraan komersil yang bisa mengantarkan mereka sampai ke kampung P.


Dengan gerakan yang sangat cepat Rian menghadang Devan. Rian tiba-tiba saja sudah berada tepat dihadapan Devan.


"Sebaiknya kau tetap disini !." ucap Rian tanpa basa-basi.


"Apa urusan mu sehingga kau menghalangi jalan kami ?." tanya Devan dengan penuh kewaspadaan.


"Sederhana saja, urusan kita belum selesai." jawab Rian.


Setelah mengatakan hal itu Rian tersenyum menatap wajah Devan. Entah apa yang terjadi tetapi Rian begitu damai saat melihat wajah Devan.


"Siapa sebenarnya Devan ? mengapa aku seperti sudah mengenalnya sangat lama dan terasa begitu dekat dengannya." batin Rian.


Seperti mereka telah saling mengenal satu sama lainnya. Dan seperti mereka telah berpisah sekian lama sehingga rasa rindu di hati bertalu-talu.


"Siapa sebenarnya pria ini ?. Mengapa aku merasa sangat damai saat menatap wajahnya ?. Mengapa rasa rindu ini seperti telah terobati ?." batin Devan.


Keduanya saling tatap dengan penuh pertanyaan tentang lawan yang kini terasa seperti kawan dekat itu.


Namun tuan L memanfaatkan situasi itu dengan melayangkan serangan terhadap Rian. Beliau ingin menguji sejauh mana kemampuan yang dimiliki oleh Rian.


Karena sedang tidak fokus Rian terkena serangan dari tuan L. Meskipun ia masih sempat menghindar dari serangan itu.


Hal itu membuat anak buah Rian segera bergabung dengan Rian untuk menghadang Devan dan juga tuan L agar tidak menimbulkan kota ini.


"Anda yang memulai lebih dahulu tuan, maka jangan salahkan saya jika bertindak terhadap tuan." ucap Rian.


Namun tuan L tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Rian. Beliau melakukan serangkaian serangan yang ditujukan untuk Rian.


Meskipun sedikit kewalahan tapi Rian masih bisa menangkis serangan demi serangan dari tuan L meskipun dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Jangan biarkan Devan meninggalkan tempat ini!." perintah Rian.


Dengan cepat anak buah Rian menghadang Devan dengan serangan demi serangan. Karena kondisinya yang masih belum pulih Devan kewalahan menghadapi mereka.


Sama seperti yang dihadapi oleh Rian, ia berusaha sekuat tenaga untuk melawan tuan L, serangan demi serangan bisa Rian tahan meskipun dengan susah payah.


"Hebat juga kemapuan mu anak muda !. Tapi itu tidak akan bertahan lama, bersiaplah untuk menerima kekalahan mu !." ucap tuan L.


Setelah mengatakan hal itu tuan L memusatkan kekuatannya di tangannya, dengan gerakan yang sangat cepat beliau mengarah tinjunya ke arah dada Rian.


Sementara Rian hanya bisa berharap agar Devira segera muncul, karena ia sudah tidak bisa menahan kekuatan tuan L lagi.


Seperti hembusan angin yang sangat cepat, tinju tuan L mengarah ke dada Rian. Sedangkan Rian berusaha untuk menghindari serangan yang sangat mematikan itu.


Namun belum sempat Rian menghindar tinju yang dilayangkan oleh tuan L sudah berada tepat di dadanya. Hanya berjarak beberapa inci saja.


Beruntung ada sebuah gerakan yang sangat lembut yang menyambar tubuh Rian, sehingga ia selamat dari tinju yang sangat mematikan itu.


Terlambat satu menit saja bisa dipastikan Rian akan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beruntung Devira datang tepat waktu sehingga ia masih bisa bernafas.


"Lawanmu adalah aku pemilik tinju tujuh Dewa !." ucap Devira sambil tersenyum menyilangkan tangannya di depan dada.


Seperti seorang ratu dengan pakaian kebesarannya, Devira tampak begitu anggun dengan penuh kekuatan.


"Siapa sebenarnya kau ? dan bagaimana mungkin kau bisa mengetahui tinju tuju dewa ini ?." tanya tuan L yang terkejut karena serangannya gagal.


Dengan sekuat tenaga tuan L mengatur kembali kekuatannya yang hanya mengenai angin kosong saja.


"Tidak penting siapa aku, yang penting sekarang kau adalah kawanku. Seperti yang telah aku ucapkan bahwa kau harus menanggung akibatnya karena telah berani mengibarkan bendera perang dengan ku." jawab Devira dengan penuh wibawa.


Seperti seorang ratu yang akan menghukum prajuritnya yang telah terbukti bersalah. Devira berjalan dengan sangat anggun mendekati tuan L.


Sementara tangan kirinya melemparkan sebuah benda kecil dan tepat mengenai kaki Devan. Sehingga Devan terpaksa harus duduk dengan kedua lututnya sambil menundukkan kepalanya.