
Dengan senang hati Melani menunggu kedatangan Devan. Ia mempersiapkan segala sesuatunya agar saat bertemu dengan Devan ia berpenampilan menarik dan tidak mengecewakan Devan.
Sementara Devan, hanya mengangkat bahunya ia tidak habis pikir dengan pemikiran mereka semuanya.
Pemikiran Melani, Arin dan juga Boby. Mereka saling menjatuhkan satu sama lainnya. Padahal sejatinya mereka sedang berusaha untuk menggali lubang secara bersamaan untuk menjatuhkan diri mereka sendiri.
Saat Devan hendak masuk kedalam kamarnya, kebetulan Tuan L keluar dari kamar dan hendak mencari Devan.
"Kakek mengapa kakek tidak beristirahat ?." tanya Devan.
"Kebetulan sekali, kakek ingin mencari mu ada sesuatu yang ingin kakek bicarakan dengan mu." jawab tuan L.
"Baiklah kek, sebaiknya kita bicarakan hal itu di ruang kerja saja. Dan saya akan meminta bi Minah untuk membuat kopi, agar kita bisa berbincang dengan lebih santai." jawab Devan.
Setelah mengatakan hal itu Devan segera menuju dapur, ia meminta bi Minah untuk membuatkan dua cangkir kopi dan juga makanan untuk pendamping kopi.
Sementara tuan L sendiri, langsung melangkah menuju ruang kerja Devan. Beliau membuka pintu kemudian segera masuk dan berdiri di samping jendela.
Beliau menatap keadaan kota yang tidak pernah sepi, hampir setiap saat ada aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang.
Beliau menatap jauh ke depan, entah apa yang ada didalam pikirannya saat ini. Sehingga saat Devan masuk, beliau tidak menyadarinya.
"Kakek apakah ada hal yang menggangu pikiran kakek ?." tanya Devan.
"Sebaiknya kita bicarakan hal itu setelah bi Minah mengantarkan kopi." jawab tuan L.
Kemudian beliau melangkah dan duduk di kursi dan meminta Devan untuk duduk di kursi kebesarannya.
"Kakek lebih baik kakek yang duduk di kursi itu." jawab Devan sambil menunjuk kursi kebesarannya.
"Tidak Devan, itu adalah kursi mu jadi jangan sungkan duduklah dan kita akan membicarakan hal yang sangat serius." jawab tuan L.
Belum sempat Devan menjawab, bi Minah sudah mengetuk pintu dan segera masuk membawa dua gelas kopi dan sepiring kue seperti yang diminta oleh Devan.
Setelah selesai melaksanakan tugasnya, bi Minah langsung berpamitan dan segera keluar meninggalkan Devan dan tuan L.
"Devan, kakek mendapatkan informasi bahwa kakak kandungmu masih hidup." ucap tuan L setelah bi Minah keluar.
"Benarkah kek ? benarkah kakak ku masih hidup ? jika demikian tidak sia-sia aku mengumpulkan semua harta benda ini."
"Seperti yang pernah Devan ucapkan kek, Devan mengumpulkan harta benda ini untuk mencari keberadaan kakak."
"Karena Devan Masih ingat, saat kedua orang tua kami dibunuh, kakakku rela menjadi tameng agar aku tidak terluka sedikitpun."
"Ia rela terluka untuk melindungi aku, sehingga aku bisa melarikan diri dan bertemu dengan kakek waktu itu. Katakan kek dimana kakak ku saat ini berada ?." tanya Devan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Devan, kakak mu selamat dan dalam keadaan yang baik-baik saja. Hanya saja menurut informasi yang kakek terima, kakak mu dibawa oleh orang misterius ke luar negeri."
"Dan sejauh ini, kami belum bisa menemukan keberadaannya. Tapi, pada saat balap motor yang merebutkan zona C, ada seorang pemuda yang sangat mirip sekali dengan kakakmu, dan ia yang menjadi pemenangnya." jelas tuan L.
Dan ia masih ingat dengan jelas, bahwa di depannya ada seseorang yang berada jauh didepannya. Dan ia sangat yakin jika orang itulah yang pasti menjadi pemenangnya.
"Jika benar yang kakek katakan, artinya aku pernah bertemu dengannya. Dan aku yakin dialah yang telah menyelamatkan aku dari kecelakaan yang disebabkan oleh Boby." ucap Devan.
"Apa maksudmu ?." tanya tuan L.
Kemudian Devan menceritakan semua kejadian yang ia alami, mulai dari motornya yang tak bisa dikendalikan kemudian ada orang asing yang menolongnya.
Hingga ia di ikat disebuah gudang kosong yang tak jauh dari SMA Persada. Dan akhirnya ia mengetahui semua pengkhianatan yang dilakukan oleh Boby.
"Artinya, kakak mu belum mengetahui bahwa kau adalah adiknya Devan. Dan jika benar orang yang menguasai zona C saat ini adalah orang yang telah menolong mu, artinya dia adalah kakakmu." ucap tuan L.
"Tapi mengapa ia melakukan hal ini ?." tanya tuan.
"Devan tidak mengerti dengan maksud kakek." jawab Devan.
"Devan, jika orang itu adalah kakakmu dan dia adalah orang yang telah menghancurkan markas scorpio hitam. Untuk apa ia melakukan semuanya itu ?."
"Untuk apa dia menolong mu dari kecelakaan maut itu dan untuk apa ia menghancurkan markas scorpio hitam ?." tanya tuan L.
Keduanya saling diam membisu, memikirkan semuanya. Memang banyak hal yang masih menjadi pertanyaan Devan selama ini.
Bahkan orang yang menolongnya itu juga memberikan sebuah teka-teki untuk dirinya. Dan untuk apa ia dibawa digudang kosong itu ?.
Ya, bahkan digudang kosong itu ada Melani and gengs. Ada juga jejak kekerasan bahkan mungkin sebuah pembunuhan.
Tapi apa hubungannya semua itu dengan dirinya ? Bahkan ia baru pertama kali berada di tempat itu. Semenjak ia menjadi salah satu siswa di SMA Persada ia tidak mengetahui ada sebuah gudang kosong di sekitar sekolahnya.
"Kakek, Devan harus segera menyelidiki semuanya. Bahkan ada kemungkinan aku harus berhadapan dengan kakak kandung ku sendiri."
"Untuk menghindari hal itu, Devan harus segera mengetahui kebenaran yang terjadi. Entah apa yang membuat Devan menjadi tersangka sebuah kejahatan."
"Sehingga orang yang paling ditakuti di dunia mafia sampai turun untuk menghancurkan markas scorpio hitam." jelas Devan.
"Benar Devan, jangan sampai kesalahan yang di lakukan oleh orang lain membuat scorpio hitam harus m nanggung semua akibat buruknya."
"Untuk bisa menyelamatkan scorpio hitam, dan hubungan persaudaraan antara kau dan juga kakakmu maka kau harus segera memecahkan semua ini."
"Mulailah menyelidiki dari Boby, karena ada kemungkinan Boby yang menyeret scorpio hitam kedalam masalah ini."
"Dan satu hal lagi yang harus selalu kau ingat Devan, jangan pernah memandang rendah seseorang yang kau anggap lemah. Karena sesungguhnya ada sebuah kekuatan yang sangat luar biasa dari orang yang seperti itu." ucap tuan L sambil menepuk pundak Devan.
Devan menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa ia paham dengan maksud tuan L. Saat ini ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mencari tau semua kebenaran ini.
Ibarat ingin mengurai benang yang kusut, maka Devan harus bisa mencari ujung dari benang itu sebelum ia mulai mengurai benang yang kusut tersebut.