
Boby dan juga Arin segera beristirahat dikamar masing-masing. Melepaskan lelah setelah perjalanan yang cukup jauh.
Sementara Melani tengah uring-uringan karena mengetahui bahwa Arin telah memposting foto berserta video dirinya dimedia sosial pribadinya.
Sehingga kondisi serta keadaan yang dialaminya saat ini telah diketahui oleh banyak orang, bahkan mungkin posisi sang ayah sudah tercium oleh Polisi.
"Arin, ternyata kau mulai berani bermain api dengan diriku, jangan salahkan aku jika aku akan membakar mu hingga tak tersisa."
"Tunggu saja kau Arin, kau akan menyesal karena telah berani melawanku." ucap Melani dengan penuh amarah.
Melani lalu membanting ponselnya diatas kasur. Ia benar-benar marah namun tidak tau harus melakukan apa untuk membalas perbuatan Arin.
"Awas kau Arin, tunggu pembalasanku !." teriak Melani.
Namun teriakan Melani terhenti saat mendengar suara ketukan pintu. Perlahan ia melihat dari balik jendela kamarnya.
Terlihat dua buah mobil Polisi terparkir di halaman rumah. Meskipun ia tidak mengetahui pasti berapa jumlah personil polisi yang mendatangi rumahnya, tapi ia sangat yakin jika rumahnya saat ini telah dikepung oleh Polisi.
"Apa yang harus aku lakukan ? aku tidak ingin berpisah dengan ayah. Ayah, ya aku harus mencari ayah." ucap Melani.
Setelah itu Melani langsung mencari keberadaan sang ayah. ia mencari kesana-kemari namun ia tidak bisa menemukan siapapun di rumah itu.
Melani sangat panik, ia benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan sang ayah.
"Segera buka pintunya ! dan serahkan diri kalian sekarang juga, jika kalian tidak segera keluar maka kami akan masuk dengan paksa."
"Perlu kalian ketahui bahwa rumah ini telah kami kepung. Tidak ada seorangpun yang bisa keluar dengan selamat tanpa seijin kami." ucap salah satu dari polisi itu.
Melani sudah bermandikan keringat dingin. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Ia sangat takut, ia ingin bersembunyi agar tidak ada yang bisa menemukannya.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Melani mencoba bersembunyi didalam lemari. Setelah merasa aman ia baru bisa bernafas dengan sedikit lega.
"Sekali lagi keluar kalian semua, dan serahkan diri kalian. Jika tidak maka kami akan masuk dengan paksa !." ucap polisi itu.
Namun tak ada pergerakan sama sekali dalam rumah itu. Membuat Polisi memberikan tembakan peringatan untuk keluarga Melani.
"Kami hitung sampai tiga, jika kalian tidak segera keluar maka terpaksa kami akan masuk dengan paksa. Dan jangan salahkan jika kami melakukan tembakan untuk kalian."
"Satu !." ucap Polisi itu.
Namun lagi-lagi tidak ada pergerakan dari dalam rumah Melani.
"Dua !." ucap polisi itu lagi.
Melani semakin ketakutan, saat ini ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sementara ayahnya tidak tau dimana rimbanya.
"Ayah tolong Melani." ucap Melani lirih.
Saat ini ia tau bagaimana rasanya saat Devi berada di dalam gudang kosong itu saat disekap oleh teman-temannya atas perintah Melani.
Takut, ya sangat ketakutan dan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Hanya bisa pasrah dengan keadaan yang akan menimpanya.
"Tiga !." ucap Polisi itu lagi.
Brak !
Terdengar suara pintu yang didobrak dengan sangat kuat, sehingga daun pintu itu hancur berkeping-keping.
Satu persatu personil polisi itu masuk kedalam rumah Melani, mereka mencari ke segala penjuru rumah untuk mencari Melani dan juga sang ayah.
"Cepat cari dan temukan mereka semua ! jangan beri kesempatan apalagi sampai melarikan diri." perintah sang komandan.
Melani mendengar hal itu, disaat ia benar-benar ketakutan, ponselnya yang berada di atas kasur berdering, bertanda ada seseorang yang sedang menghubunginya.
Seorang polisi segera masuk kedalam kamar Melani, perlahan ia mendekati ranjang Melani dan mengambil ponsel itu.
Sambil memperhatikan ke segala arah, akhirnya polisi itu segera menerima panggilan itu.
"Bagaimana Melani ? apakah kau sudah melihat di media sosial ? pasti keluarga mu saat ini telah menjadi perbincangan hangat."
"Oh ya satu hal lagi, kau harus bersiap-siap karena sebentar lagi pasti polisi akan segera mendatangi rumah mu."
"Hahahaha !." suara Arin terdengar sangat jelas.
Sementara sang Polisi tetap memperhatikan sekeliling ruangan tanpa memperdulikan ucapan-ucapan dari Arin.
"Bagaimana apakah kau sudah menemukan mereka ?." tanya salah satu rekannya.
"Belum tapi pasti mereka masih berada di sini, karena ponselnya masih ada dan baru saja dihubungi oleh seorang." jelasnya.
Melani benar-benar ketakutan sekali, ia seolah tak bisa bernafas. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Sementara kedua polisi itu perlahan mendekati persembunyian Melani. Mereka memberikan sebuah kode kepada satu sama lainnya untuk segera membuka lemari dimana Melani bersembunyi.
Namun tiba-tiba kedua polisi itu terjatuh kelantai. Dan dengan sekali gerakan ada seseorang yang membungkam mulut Melani.
Dan dalam hitungan detik saja Melani telah kehilangan kesadarannya. Dan dengan cepat kilat bayangan itu membawa tubuh Melani.
Keluar dan meninggalkan tempat yang telah dikepung oleh anggota polisi. Namun tidak ada salah satu dari anggota polisi itu yang mengetahui tindakannya.
"Apa yang terjadi ?." tanya anggota polisi yang lainnya.
Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat kedua rekannya yang tak sadarkan diri dilantai. Setelah memeriksa keadaan keduanya, ia segera pergi dan melaporkan kejadian yang dialami oleh kedua rekannya.
"Cepat kejar ! pasti mereka belum jauh dari tempat ini." perintah sang komandan polisi itu.
Dengan cepat mereka segera melakukan pengejaran terhadap buronannya yang telah berhasil meloloskan diri.
"Sial siapa yang telah menolong mereka !." ucap Arin yang tak sengaja melihat polisi yang mengepung rumah Melani bubar.
"Apa yang kau ucapan barusan ?." tanya Boby.
"Melani dan juga ayahnya berhasil kabur dari kepungan anggota Polisi." jawab Arin dengan kecewa.
"Pasti yang menolong mereka bukanlah orang yang sembarangan. Karena tidak mudah untuk bisa kabur dari kepungan polisi, kecuali ...," ucap Boby.
"Kecuali apa ? Boby katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kau ketahui ?." tanya Arin dengan penasaran.
"Kita harus segera pergi dari sini !." ucap Boby yang langsung meninggalkan Arin.
Sementara Arin semakin bingung dengan apa yang terjadi ? apa hubungannya kaburnya Melani dan keluarganya dengan Boby yang ingin bersembunyi dari Devan.
"Devan ? apakah Devan yang telah menyelamatkan Melani ? sehingga Boby sangat ketakutan dan ingin segera kabur dari tempat ini ?." ucap Melani.
Setelah itu ia segera menyusul Boby untuk bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Padahal baru saja ia merasa senang karena bisa membuat Melani tercium persembunyiannya.
Namun sayangnya hal itu justru menjadi bumerang bagi dirinya dan juga Boby. Mau tidak mau ia harus segera pergi meninggalkan tempat itu agar Devan tidak mencurigai dirinya.