Devi Devira

Devi Devira
Bab. 29. Mencari pertolongan



Melani dan juga ayahnya terdiam, sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Keheningan dan kesunyian menenggelamkan mereka berdua. Terkadang kesunyian bisa membuat seseorang dapat berfikir dengan tenang.


Dan dapat mengambil sebuah keputusan, yang telah mereka pikirkan dengan matang-matang. Baik dari segi manfaat atau resiko yang akan mereka terima.


"Melani, untuk sementara kita tinggal disini dulu sampai ayah menemukan sebuah tempat yang jauh lebih baik dan jauh lebih aman untuk kita berdua."


"Awalnya kota ini adalah tempat yang aman bagi kita, tapi ternyata tetap saja kita ketahuan oleh polisi." ucap ayah Melani.


"Semua ini gara-gara Arin ayah. Dia yang telah mengunggah video dan juga beberapa foto saat aku sedang keluar."


"Bahkan ia sempat menertawakan aku, disaat aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai membuat polisi itu hampir menemukan tempat persembunyian ku." jelas Melani.


"Arin ?." tanya sang ayah.


"Benar ayah, Arin teman Devi si gadis cupu itu." jawab Melani.


"Arin adalah salah satu anggota mafia. Dia bukalah gadis cupu seperti yang kau kira selama ini. Tapi ada urusan apa sehingga ia mencari masalah dengan mu ? dan untuk apa ia berada di kota ini ?." tanya sang ayah lagi.


"Melani tidak tau ayah. Bahkan ayah lebih tau dari pada Melani jika Arin adalah anggota mafia." jawab Melani.


"Ayah belum lama tau akan hal itu. Lalu apakah Devi juga salah satu anggota mafia sama seperti Arin ?." tanya ayah Melani.


"Bukan ayah ! Devi Adalah gadis cupu yang sangat menjijikkan. Bahkan ia tak bisa melakukan apapun saat ia aku sekap di gudang kosong itu."


"Seharusnya saat ini sudah mati karena ketakutan kalau saja tidak ada yang menyelamatkan dirinya." jawab Melani.


"Apa ? Apa yang kau katakan Melani ?." tanya sang ayah dengan terkejut.


Beliau tidak pernah berfikir bahwa putrinya yang sangat ia manjakan selama ini bisa melakukan hal seperti itu.


Apakah benar yang dikatakan oleh pemuda itu saat di SMA Persada. Bahwa beliau harus bertanya mereka datang untuk apa ? Bukan siapa mereka.


Jadi kedatangan mereka adalah untuk membalas dendam terhadap apa yang dialami oleh Devi selama ini ?.


Jika benar demikian itu artinya orang yang telah menyebabkan ia jatuh dan menjadi buronan polisi saat ini adalah mereka ?.


Ayah Melani mengacak rambutnya dengan prustasi. Bagaimana caranya mereka bisa lolos saat ini, jika mereka menjadi buronan polisi dan juga orang-orang yang belum ia ketahui.


"Kenapa kau tidak pernah berfikir jauh sebelum melakukan hal-hal yang berbahaya. Setidaknya kau harus memberi tau apa yang kau lakukan kepada ayah." ucap ayah Melani dengan sangat kecewa.


"Apa maksud ayah ? bukankah selama ini Melani bebas melakukan apa saja sesuka hati ? Hanya menghukum gadis cupu itu saja membuat ayah sepanik itu." ucap Melani dengan kesal.


"Justru itu awal dari semua masalah ini Melani ! Karena kecerobohan mu kita menjadi buronan polisi dan juga menjadi buronan orang-orang itu."


"Seandainya bisa memutar waktu, maka ayah yang akan menghukum mu saat itu juga dari pada ayah kehilangan semuanya seperti ini." ucap sang ayah dengan parah.


Melani menatap wajah sang ayah dengan tak percaya. Bagaimana mungkin sang ayah mengatakan hal itu hanya karena gadis cupu itu.


Memangnya siapa Devi ? sehingga sang ayah sangat marah sekali terhadap dirinya. Atau pria asing yang waktu itu yang telah meracuni otak sang ayah.


Namun sang ayah tidak memperhatikannya, beliau sedang berfikir sambil mondar-mandir di dalam kamar itu.


Membuat hati Melani semakin sedih. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya menjadi seperti itu, ia lalu menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Ia menangis dalam diam menerima kenyataan yang saat ini harus ia terima.


"Melani apakah kau bisa menghubungi Devan ?" tanya sang ayah.


Namun saat melihat kearah Melani, sang ayah hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tau pasti Melani saat ini tengah terpukul.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, menjelaskan semuanya juga tidak akan bisa merubah semuanya. Dan saat ini ia juga tidak mungkin meminta tolong kepada Devan.


Bukankah Devan telah meninggal dalam kecelakaan itu, ya semuanya karena Boby. Padahal ia hanya meminta agar Boby menghalangi Devan untuk tidak bisa datang kesekolah saja, agar ia bisa mengusir Devi dari SMA Persada itu tanpa perlindungan dari Devan.


Ya seharusnya ia meminta tolong kepada Boby, karena hanya Boby yang bisa menyelamatkan mereka dari Polisi dan orang-orang itu.


Dengan cepat ayah Melani menghubungi Boby, ia harus menjelaskan semuanya agar Boby bisa menolongnya.


Lama sekali panggilan itu diabaikan oleh Boby, namun ia tidak menyerah dan terus menerus menghubungi Boby.


Dengan cepat ayah Melani keluar dari dalam kamar, setelah memastikan bahwa diluar dalam kondisi yang aman.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat hendak berjalan meninggalkan penginapan itu secara tidak sengaja ayah Melani melihat Boby yang sedang berjalan dengan tertatih.


Kaki kirinya masih diperban. Dengan cepat ayah Melani segera menghampiri Boby dan membantunya berjalan.


"Apa yang terjadi sehingga kau seperti ini ?." tanya ayah Melani sambil membantu Boby berjalan.


"Sebaiknya kita bicara di sana saja." jawab Boby.


Keduanya lalu berjalan menuju sebuah bangku yang terletak di sisi taman. Kemudian keduanya duduk dan membicarakan semuanya.


"Bagaimana kau bisa berada di sini ? dan apa yang terjadi dengan kaki mu itu ?." tanya ayah Melani.


"Saat ini kita sama Om, sama-sama menjadi seorang buronan. Hanya bedanya Om adalah buronan Polisi sedangkan aku adalah buronan mafia."


"Devan masih hidup, dan saat ini ia dalam keadaan baik-baik saja. Kecelakaan motor itu tidak berpengaruh apapun terhadap Devan."


"Dan Om pasti tau apa selanjutnya yang terjadi terhadap diriku Om." jawab Boby dengan tersenyum penuh dengan kekecewaan.


"Devan selamat ? baguslah dengan demikian artinya kita masih mempunyai harapan walaupun sangat sedikit sekali kemungkinannya." ucap ayah Melani.


Boby tidak mengerti dengan jalan pikiran orang tua Melani, bagaimana bisa berfikir seperti itu. Boby tau bahwa Devan mempunyai hati yang baik.


Tapi apakah ia masih menerima dan memaafkan mereka yang telah mengkhianatinya dengan keadaan yang sangat sadar ?.


Sangat tidak mungkin, terlebih lagi terhadap pengkhianatan yang telah ia lakukan selama ini. Pasti kebencian Devan terhadap dirinya sungguh sangat besar sebesar kesalahan yang telah ia lakukan.


Bahkan jika ia berada di posisi Devan, ia tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menusuknya dari belakang seperti yang telah ia lakukan demi keserakahan akan harta dan tahta juga wanita.