
Devira kemudian menghela nafas panjang. Terasa begitu berat beban didalam hatinya. Rian menatap ke arah siswa dan siswi yang mulai memasuki ruang kelas mereka masing-masing.
"Lalu apa alasan mu untuk membalas dendam ?." tanya Rian lagi.
"Seperti yang aku jelaskan dari awal, sejak aku mengetahui bahwa aku masih mempunyai seorang mommy dan juga adik kembar, aku ingin membuat hidup mereka tercukupi."
"Dan disaat aku sudah menemukan mereka, dan aku sudah mempunyai segalanya. Aku harus menerima kenyataan pahit."
"Devi adik kembar ku telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan yang membuat aku sakit hati ia bukan hanya dibunuh tetapi juga diperkosa."
"Yang lebih menyakitkan, tidak ada yang mau menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Meskipun sangat jelas luka tusukan disekujur tubuh Devi dan juga luka memar di tubuhnya."
"Tetap saja semua bungkam seribu bahasa. Seolah kematian Devi adalah hal yang sangat wajar. Jika polisi atau hukum tidak bisa membalas mereka semua, maka aku yang akan membalas mereka dengan caraku sendiri." ucap Devira dengan suara yang bergetar karena menahan amarahnya.
Rian menatap wajah Devira, wajah yang sangat cantik itu dipenuhi oleh dendam dan amarah. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana kondisi lawannya nanti saat berhadapan dengan hukum ala Devira.
Rian menghembuskan nafasnya, ia bisa membayangkan bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Karena ia juga pernah merasakannya. Dimana keluarganya dibunuh oleh sekelompok orang yang saat itu kebal terhadap hukum.
Hal itu yang menjadi alasannya bergabung menjadi anggota mafia. Karena hanya dengan cara itu ia bisa membalas perbuatan mereka.
"Tujuan kita sama, jika kau ingin memulai dari Melani dan teman-temannya. Maka aku akan memulai dendamku dari ayah Melani."
"Air mata harus dibayar dengan air mata, dan nyawa harus dibayar dengan nyawa. Dan hukum yang tidak bisa menegakkan keadilan harus di musnahkan dan diganti dengan hukum yang benar-benar bisa menegakkan keadilan." ucap Rian.
Devira menatap Rian dengan tersenyum, ia hampir saja melupakan tujuan Rian untuk membalas dendam kematian keluarganya hanya karena dendamnya sendiri.
"Baiklah kita akan memulainya dari gudang kosong dibelakang Sekolah ini." ucap Devira.
"Saat matahari terbenam kita akan memulainya." jawab Rian dengan merapikan kacamata hitamnya dan setelah itu ia bangkit dan berjalan meninggalkan Devira.
Setelah kepergian Rian Devira bangkit dari duduknya dan ia berjalan menuju keruang kepala sekolah. Di sana beliau sedang duduk dengan ketakutan.
Karena keserakahannya akan uang, kini karirnya terancam hancur berkeping-keping dihadapan Devi muridnya sendiri.
Seorang murid yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata adalah pemilik SMA Persada yang sah.
Keringat dingin membasahi tubuh yang sejak tadi gemetar karena ketakutan. Langkah Devira benar-benar membuat detak jantungnya seakan berhenti karena takut.
"Selamat pagi." sapa Devira dengan sopan.
"Se selam selamat pagi." jawab Kepala Sekolah dengan gugup.
"Apa yang membuat anda berbicara seperti itu ? bukankah anda sangat lancar dan lantang saat berbicara ?." tanya Devira sambil tersenyum.
"Saya, saya mohon maaf, mohon maafkan saya karena tidak pandai dalam mengenali seseorang." jawab sang kepala sekolah.
"Saya datang kesini bukan mengharapkan kata maaf anda, tetapi saya meminta bantuan anda." ucap Devira dengan sangat pelan.
Kepala Sekolah menelan ludahnya dengan susah payah. Beliau takut dengan ucapan Devira. Meskipun saat berbicara wajahnya selalu tersenyum, namun setiap ucapannya sangat menusuk kalbu.
"Apa yang bisa saya bantu ?." tanya sang Kepala Sekolah.
"Apa, apa maksudmu ?." tanya sang kepala sekolah dengan ketakutan.
"Apakah harus aku jelaskan bapak kepala sekolah yang terhormat ?." tanya Devira sambil melangkah mendekati tubuh yang gemetar ketakutan itu.
"Jika anda bisa membantu saya maka anda akan tetap menjadi kepala sekolah di SMA Persada ini, namun jika sebaliknya, maka maafkan saya." ucap Devira lagi.
"Saya akan membantu dengan seluruh kemampuan saya. Tapi sebenarnya siapa kamu ?." tanya sang kepala sekolah.
"Jangan tanya siapa saya tapi untuk apa saya ada disini ! dan saya ada disini untuk satu hal, membalas kematian Devi !."
"Jadi mohon bantuan dan kerjasamanya, jika anda ingin selamat dan juga karir anda." ucap Devira penuh penekanan.
Setelah mengatakan hal itu, Devira segera keluar dari ruang kepala sekolah dan pergi menuju ke gudang kosong itu.
Dimana saat ini, Devan masih terpejam dengan kaki dan tangan terikat. Setelah Devira masuk ia melihat Devan yang masih terpejam itu dengan perasaan yang aneh.
'Sebenernya Lo tampan juga king, sudah tampan, gagah, kaya dan ketua mafia yang sangat disegani. Sungguh sempurna dan perfect.'
'Sayangnya Lo pembunuh adik gue, so kita buang jauh-jauh perasaan gue, maksudnya rasa kagum gue ke lo.'
'Jadi, maaf jika gue ngibarin bendera perang ke elo, King kau harus tau bahwa nyawa adik gue lebih berharga dari pada nyawa kalian semua.'
Devira kemudian keluar dan berpesan kepada anak buahnya agar melepaskan Devan setelah ia sadar dan ingat akan tempat ini.
Setelah memastikan semuanya aman, barulah Devira pergi menuju ke markasnya untuk mengurus wilayah baru yang semalam ia dapatkan dari balap liar.
Ia berencana mengembangkan sayapnya, dengan menguasai zona C maka ia akan mudah untuk menguasai kota dan negara ini.
Dan juga ia ingin segera menyelesaikan dendamnya kepada pembunuh Devi. Karena sejauh ini ia belum menemukan siapa pembunuh Devi yang sebenarnya.
Ia telah mengungkapkan jati dirinya didepan Kepala Sekolah, dengan harapan ia akan segera menemukan titik temu.
Atau ia harus segera memulai dari teman-temannya Melani. Yang pasti mereka akan cepat mengakui perbuatan mereka terhadap Devi.
Dan hal yang saat ini masih mengganjal pikirannya adalah pemilik pin bunga melati itu. Yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Jika pin scorpio sudah dipastikan bahwa salah satu dari anggota mafia scorpio hitam yang terlibat dalam pembunuhan Devi.
Dan dari pin tersebut menunjukkan bahwa pembunuh itu bukanlah anggota biasa, karena pin tersebut melambangkan bahwa sang pembunuh mempunyai kedudukan yang penting dalam mafia tersebut.
Sementara di dalam ruangannya, kepala sekolah tengah berfikir bagaimana caranya ia bisa mengetahui siapa pembunuh Devi ?.
Eit tunggu dulu, pembunuh Devi ? apakah artinya Devi sudah tiada dan yang saat ini mereka anggap Devi bukanlah Devi yang sebenarnya ?.
Jika demikian siapa gadis itu dan mengapa ia bisa sangat mirip sekali dengan Devi ? Ah ayolah berfikir dengan cepat !.
Jangan sampai kau kehilangan kedudukan sebagai seorang kepala sekolah. Siapapun gadis itu ia harus segera mencari tau siapa pembunuh Devi yang sebenarnya.