
Seluruh pasukan Mr. X, langsung melindunginya dengan cara membuat sebuah lingkaran mengelilingi Mr. X. Dengan senjata berada ditangan mereka siap bertarung hingga tetes darah terakhir.
"Tolong selamatkan aku, sebelum wanita itu mendekat bantulah aku untuk melarikan diri." ucap Mr. X sambil meringis kesakitan.
"Baik tuan, mari kita pergi dari sini." ucap salah satu anak buahnya.
Devira bisa mengetahui hal itu, karena ia memang mempunyai kelebihan bisa mendengar suara meskipun dari jarak yang jauh.
Dengan cara melemparkan sebuah pisau kecil yang terselip di sepatunya, Devira bisa menjatuhkan salah seorang anak buah Mr. X hal itu membuat mereka menyerang Devira dengan membabi buta.
Tapi mereka bukanlah lawan yang seimbang untuk Devira, dengan sangat lincah Devira menghindari serangan demi serangan. Seperti seorang penari yang dengan Lues meliuk-liukkan tubuhnya menghindari peluru dan juga serangan senjata lainnya.
Dan tanpa mereka sadari, Devira telah mengalungkan pisaunya di leher Mr. X. Dengan tenang Devira membantu Mr. X berdiri.
"Letakkan senjata kalian jika kalian ingin tuan kalian ini selamat !." ucap Devira dengan dengan sedikit menekankan pisau itu ke leher Mr. X.
"Turuti perintahnya letakkan senjata kalian !." ucap Mr. X.
Secara bersamaan mereka segera meletakkan senjatanya di atas tanah. Namun salah satu diantaranya ada yang diam-diam mengarahkan senjatanya ke arah Devira.
Dor Dor Dor
Tiga tembakan ia lepaskan dengan harapan bisa mengenai Devira dan mereka bisa segera menyelamatkan Mr. X.
Jleb ! bersamaan dengan itu Devira lebih dahulu melemparkan pisau kecilnya dan tepat mengenai dada sang penembak, sehingga dia tembakan yang telah ia lepaskan hanya mengenai udara. Seketika orang itu jatuh dengan berlumuran darah.
"Apakah ada yang mau bermain dengan ku lagi ?." tanya Devira dengan tersenyum cantik.
Mereka semuanya hanya bisa menundukkan kepalanya, tak ada satupun yang berani bersuara. Mereka saat ini serba salah.
Mereka melawan maka nyawa akan melayang dan mereka diam maka hukuman sudah nampak di depan mata.
Karena Mr. X tidak akan pernah membiarkan anak buahnya menyulitkan dirinya meskipun itu adalah kesalahan Mr. X sendiri.
"Katakan apa mau mu ? Dan lepaskan saya." ucap Mr. X.
"Seharusnya aku yang bertanya akan hal itu, untuk apa kalian datang ke wilayah yang seharusnya tidak kalian datangi." jawab Devira.
"Aku tidak ada urusan dengan mu, aku hanya ingin membunuh pemimpin mafia yang menguasai zona C karena ia telah membunuh Devan." jawab Mr. X dengan tegas.
Hahahaha
Devira tertawa mendengar penjelasan Mr. X. Ia kemudian menggelengkan kepalanya setelah itu ia mendorong tubuh Mr. X hingga jatuh tersungkur ke tanah.
"Sangat lucu sekali, sekelompok mafia besar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia mafia. Sehingga dengan mudah dibohongi."
"Seharusnya kalian cek kebenarannya dahulu sebelum melakukan tindakan bodoh yang justru merugikan kalian sendiri."
"Dan satu hal lagi, pikiran kembali keinginan kalian untuk melakukan penyerangan terhadap mafia yang saat ini menguasai zona C."
"Menghadapi satu dari anggota mereka saja kalian tidak mampu lalu bagaimana jika kalian m meghadapi pasukan mereka sebenarnya ?."
"Dan sebenarnya siapa yang telah memberikan informasi yang sangat menggelikan itu ? sebelum aku berubah pikiran lebih baik kau jawab dengan jujur." ucap Devira.
"Aku hitung sampai tiga, jawab pertanyaan ku dengan jujur siapa yang memerintahkan kalian untuk menyerang kami ?." ucap Devira.
Namun Mr. X masih saja diam sambil menahan rasa sakit di kakinya. Dan darah masih saja terus mengalir.
"Satu !." ucap Devira.
Namun semuanya masih saja bungkam seribu bahasa. Devira memperhatikan semuanya satu persatu.
"Dua !." ucap Devira.
"Tunggu akan aku jawab. Sebenarnya aku diperintahkan oleh Boby orang kepercayaan Devan. Dan ia melihat dengan kepalanya sendiri bagaimana kalian dengan licik telah berbuat curang sehingga Devan mengalami kecelakaan dan tewas di tempat." jawab Mr. X dengan serius.
Hahahaha
Devira tertawa dan ia berjalan mendekati salah satu anak buah Mr. X. Dengan gerakan cepat ia mengambil ponsel yang ada di saku celana anak buah Mr. X.
Devira mengetikkan sesuatu dan melemparkannya ke arah Mr. X, tak berselang lama ponsel itu tersambung.
Melalui panggilan video call, terlihat Devan masih berada di SMA Persada, sedang berjalan mencari keberadaan Devira.
"Devan ternyata kau masih hidup !." tanya Mr. X tanpa basa-basi.
"Mr. X ? apakah anda mengganti nomor telepon ? dan untuk apa anda menghubungi saya di jam segini ?." tanya Devan dengan heran.
"Devan, aku menerima perintah dari Boby untuk menyerang kelompok mafia yang telah membunuhmu." jawab Mr. X.
Kemudian Mr. X menceritakan semuanya kepada Devan hingga kondisinya saat ini. Dan disaat hendak menunjukkan wajah wanita yang telah mengalahkan kelompoknya, wanita itu entah dimana.
Ia telah pergi meninggalkan Mr. X dan juga pasukannya dengan membawa sebuah kemenangan dan juga telah menunjukkan sebuah kebenaran.
"Devan ia sangat hebat sekali, ia seorang diri menghancurkan pasukan yang aku pimpin dan ia juga yang melakukan panggilan ini agar aku bisa mengetahui kebenarannya."
"Devan sebenarnya apa yang terjadi ? dan siapa sebenarnya mafia yang telah menguasai zona C itu ?" tanya Mr. X.
Devan kemudian menjelaskan semuanya, bahkan ia juga tidak tau siapa kelompok mafia itu, karena ia juga telah diselamatkan oleh mereka disaat nyawanya hampir melayang.
Ia masih ingat, seseorang yang berada di depannya menghubungi seseorang untuk menyelamatkan nyawanya saat itu.
Dan dari mereka juga, Devan akhirnya mengetahui bahwa selama ini Boby adalah musuh dalam selimut yang selalu menusuknya dari belakang.
Bahkan Boby juga yang dengan licik mencelakai Devan saat itu demi bisa menjadi pemimpin scorpio hitam. Tapi sayangnya saat ini Boby sedang melarikan diri karena markas Scorpio hitam sudah rata dengan tanah.
"Devan, aku turut berdukacita atas apa yang terjadi pada mu, tapi untuk saat ini aku harus segera mengobati lukaku dan juga menguburkan anak buahku."
"Suatu saat aku pasti akan membalas perbuatan Boby, karena kebohongan yang ia lakukan aku hampir saja kehilangan nyawaku. Untung saja gadis itu masih mengampuni nyawaku kalua tidak saat ini pasti aku sudah tinggal nama." jelas Mr. X.
Setelah itu anggota yang ia pimpin, bersiap untuk meninggalkan tempat itu, mereka merapikan senjata mereka dan membawa rekan-rekannya yang kini tinggal nama.
Meninggalkan tempat yang menjadi saksi kekalahan mereka di tangan seorang gadis.