Devi Devira

Devi Devira
Bab. 11. Jalan Bahagia



Setelah Melani dan juga ayahnya pergi, teman-temannya yang lain juga ikut menyusul. Kemudian satu persatu mereka meninggalkan SMA Persada itu.


Saat Devira hendak melangkahkan kakinya, Devan memangilnya sehingga Devira dan Arin menghentikan langkahnya.


"Apakah tidak ada yang ingin kau katakan ?." tanya Devan setelah mereka berhadapan.


"Terimakasih atas bantuannya hari ini." ucap Devira.


"Iya Devan terimakasih karena telah membantu kami, jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi. Dan pasti hari ini adalah hari terakhir Devi di SMA Persada ini." ucap Arin mencoba mencari perhatian Devan.


Devan sama sekali tidak memperdulikan Arin. Ia tetap fokus pada Devira yang masih diam tak merespon seperti yang Devan harapkan.


Padahal Devan berharap, Devira gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu akan memeluknya karena telah menyelamatkan dirinya dari tekanan keluarga Melani.


Tapi ternyata hal itu salah, Devira hanya mengucapkan terimakasih saja dan hal itu seolah-olah terpaksa.


'Sungguh menarik gadis ini, ia terlihat cupu dari penampilannya tetapi dari pancaran matanya sungguh sangat berbeda, sangat berbanding terbalik.'


'Aku harus bisa mendapatkannya. Dia benar-benar gadis impian ku selama ini. Sangat luar biasa dan membuatku semakin penasaran ingin bisa lebih mengenalnya.' batin Devan.


"Terimakasih untuk semuanya. Saya permisi dahulu dan sampai jumpa lagi." ucap Devira sambil tersenyum menatap kearah Devan.


Setelah mengatakan hal itu Devira segera berlalu meninggalkan Devan dan yang lainnya. Arin masih diam ditempatnya.


Ia ingin lebih lama bersama dengan Devan. Tapi apa yang harus ia lakukan agar hal itu bisa terwujud. Arin mencoba berfikir keras.


"Devan apakah kau tidak keberatan jika mengantarkan kami pulang ? pasti akan lama jika harus menunggu taksi."


"Jika hal itu terjadi biasanya Devi memilih untuk berjalan kaki, agar bisa segera sampai dirumah dari pada harus menunggu taksi yang lama sekali." ucap Arin.


"Ok." jawab Devan dengan setengah berlari menuju ke arah mobilnya diparkir.


Sementara Arin tersenyum karena idenya berhasil, meskipun mengatasnamakan Devi, setidaknya ia bisa satu mobil dengan Devan.


'Arin ini adalah awal dari sebuah perjuangan.' batin Arin sambil melangkah menuju Devira yang sedang berdiri dipinggir jalan menunggu taksi.


Arin tersenyum ketika berada didekat Devira. Ia kemudian melambaikan tangan ke arah taksi yang mendekati mereka, sebagai bentuk penolakan.


"Mengapa kau menolak taksi itu ?." tanya Devira.


"Karena kita akan pulang bersama dengan Devan. Lumayanlah hemat ongkos." jawab Arin tanpa dosa.


"Tapi aku tidak ingin bersama dengan Devan." jawab Devira.


"Ayolah Devi, sekali ini saja ya, aku mohon." ucap Arin.


Sebelum Devira menjawabnya, mobil Devan telah berhenti di depan mereka. Devan turun dan membukakan pintu untuk Devira.


"Tidak kami duduk dibelakang saja." jawab Arin sambil menarik tangan Devira.


"Kau pikir aku ini sopir taksi online. Kau duduk di belakang dan Devi duduk didepan." jawab Devan.


"Ok, baiklah." jawab Arin dengan tersenyum.


Setelah mengatakan hal itu, Arin segera masuk ke dalam mobil Devan dan ia duduk dengan manis dibelakang.


Meskipun dengan perasaan yang kecewa namun Arin bisa menyembunyikannya dengan sangat apik dibalik senyum manisnya.


Devira terpaksa masuk kedalam mobil Devan. Setelah Devira masuk dan duduk dengan baik barulah Devan menutup mobilnya. Setelah itu ia segera masuk dan mengemudikan mobilnya perlahan.


"Rumah Devi dijalan bahagia nomor 8, sedangkan aku dijalan anggrek nomor 6." jawab Arin.


"Kalau begitu kita kejalan anggrek dahulu untuk mengantarkan Arin terlebih dahulu." ucap Devan.


"Bagaimana bisa, bukankah rumahku lebih jauh dari sini dibandingkan Devi. Apa tidak sebaiknya kita ke jalan bahagia dahulu baru kejalan anggrek agar tidak berputar terlalu jauh." jawab Arin.


"Bukankah ini mobilku dan aku yang akan menentukan kemana mobil ini akan melaju." jawab Devan dengan sedikit kesal.


"Devan tapi benar apa yang dikatakan oleh Arin. Kejalan bahagia dulu baru kemudian kejalan anggrek. Aku juga pasti sudah ditunggu oleh ibuku." jelas Devira.


Ia tidak ingin berada dalam satu mobil bersama Devan, terlebih lagi Arin terlihat sangat ingin menghabiskan waktu berdua bersama Devan.


Meskipun Arin selalu tersenyum namun Devira tau jika ia sangat kecewa, mungkin sebenarnya Arin juga menaruh perhatian terhadap Devan.


Lebih baik Devira tidak merusak kesempatan yang jarang didapatkan oleh Arin. Kapan lagi Devan mau mengantarkan Arin sampai ke rumah.


"Baiklah jika itu keputusan mu. Tapi kapan-kapan bolehkah aku berkunjung ke rumah mu ?." tanya Devan.


"Silakan saja asal tidak menganggu waktu mu yang berharga itu. Dan jangan menyesal setelah tau bagaimana kondisi rumah kami." jawab Devira.


"Kau tenang saja, apapun keadaannya aku tidak akan pernah kecewa." jawab Devan dengan sangat yakin.


Arin memutar bola matanya, ia merasa jengah dengan ucapan Devan. Seandainya ia bisa pasti akan ia utarakan keinginannya.


Namun ia tidak berani, ia sangat takut jika Devan marah. Jadi ya sementara biarkan saja Devan dan juga Devi berbicara sesuka hatinya.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah Devira, rumah yang sangat sederhana namun terlihat sangat bersih dan rapi. Kemudian Devan menghentikan mobilnya.


"Terimakasih atas tumpangannya." ucap Devira sambil membuka pintu mobil.


"Hati-hati Devi, kami lanjut dulu ya." ucap Arin sambil menggantikan posisi Devi.


Setelah Arin duduk didepan ia segera menutup pintu dan melambaikan tangannya kearah Devi. Sama halnya dengan Devan yang masih fokus melihat Devira hingga tak terlihat lagi karena sudah berada di dalam rumah.


"Mengapa kau duduk di depan ?." tanya Devan.


"Bukankah kau bilang jika kau bukan sopir pribadi." jawab Arin dengan ketakutan.


Devan tak menjawabnya kemudian ia segera melajukan mobilnya. Setelah beberapa meter dari rumah Devira, Devan kembali menghentikan mobilnya.


"Sekarang juga silahkan turun, aku bukan kekasihmu dan juga bukan sopir pribadi mu !." ucap Devan dengan penuh penekanan.


"Tapi ini masih jauh dari rumah ku." jawab Arin.


"Aku tidak perduli ! Sekarang juga cepat turun dari mobilku sebelum aku yang akan membuatmu turun dengan paksa." jawab Devan.


Dengan ketakutan Arin akhirnya turun dari mobil Devan. Setelah itu mobil Devan melaju kencang entah kemana.


Sementara Arin menghentakkan kakinya karena kesal atas perlakuan Devan. Ia padahal merencanakan hal ini agar bisa berdua dengan Devan.


Namun semuanya sia-sia belaka, Devan tetap saja tak pernah menganggapnya ada. Hanya Devi yang selalu Devan perhatian padahal selama ini Devi selalu menghindari Devan.


Disaat Arin begitu kesal atas perlakuan Devan, yang tanpa perasaan meninggalkannya dipinggir jalan. Datanglah sebuah mobil yang tak kalah mewahnya menghampiri Arin.


Boby datang disaat yang sangat tepat. Dengan cepat Boby membukakan pintu mobil untuk Arin. Setelah itu keduanya melanjutkan perjalanannya.