Devi Devira

Devi Devira
Bab. 18. Ruang kosong



Kepala Sekolah mulai memeriksa setiap rekaman cctv, mulai dari pintu masuk sampai yang ada didalam kelas Devi.


Dari rekaman itu terlihat bahagia Melani dan teman-temannya memperlakukan Devi. Jika mungkin selama ini kasus bullying disekolah hanya beliau dengar di tayangkan berita kini beliau Melihat sendiri kejadian itu.


Dan parahnya lagi kejadian bullying itu terjadi disekolah yang saat ini beliau pimpin. Bagaimana tidak marah orang yang dekat dengan Devi jika melihat kejadian demi kejadian yang dialami oleh Devi.


Tapi, sejak kapan Devi berganti ? eh maksudnya Devi yang asli digantikan Devi yang sekarang ?.


Setelah pertanyaan itu muncul, Kepala Sekolah mengecek absen seluruh muridnya termasuk Devi. Butuh waktu memang, tapi akhirnya beliau mendapatkan bahwa Devi sempat tidak masuk selama satu Minggu.


Setelah itu beliau memeriksa cctv hari terakhir Devi masuk di bulan itu sebelum ijin. Meskipun dalam absen tersebut Devi tidak ada keterangan.


Beliau kembali memeriksa rekaman cctv dari awal masuk ke pintu gerbang sampai di akhir pelajaran dan keluar pintu gerbang.


'Ternyata yang membawa Devi terakhir kalinya adalah Melani the gengs. Pantas saja Devi yang sekarang sangat marah, ternyata mereka membawa Devi dalam keadaan yang tak sadar.'


'Tak sadar ? artinya Devi sebelumnya mengalami sesuatu ?'


Kepala Sekolah memeriksa kembali kejadian demi kejadian hari itu, Beliau juga mengcopy rekaman tersebut. siapa tahu suatu saat berguna.


Sementara Devan tak lama setelah kepergian Devira ia membuka kedua matanya. Perlahan ia menyadari bahwa ia sedang terikat saat tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya.


'Apa yang terjadi ? bukankah malam tadi aku meloncat dari atas motor kesebuah mobil asing ?.' Dan sekarang ada dimana aku ?.


Saat Devan sedang mencoba berfikir lelaki yang telah menolongnya masuk dan mendekati dirinya.


"Sudah bangun king ? bagaimana tidur panjangmu apakah begitu nyenyak sehingga kau lupa untuk membuka mata mu ?." tanya pria yang berkaos oblong itu.


"Siapa kau dan apa yang kau inginkan ?." tanya Devan.


"Bukan aku, tapi bos kami yang menginginkan sesuatu dari mu. Tapi sebelumnya apakah kau lapar atau haus ? soalnya kau sudah satu hari satu malam belum bangun." ucap pria itu sambil memberikan sebuah roti dan air mineral.


Saat Devan ingin menolaknya, tapi perutnya sudah memberikan alarm dengan sangat kuat. Sehingga terpaksa ia memakan roti tersebut yang disodorkan oleh pria itu.


Setelah membantu menyuapi Devan lelaki itu tersenyum, dan membuka sebuah video dihadapan Devan.


Terlihat bagaimana Devan berusaha mengendalikan motornya hingga ia melompat keatas mobil beberapa detik sebelum motor itu meledak.


Tak lama kemudian, datanglah anggota mafia scorpio hitam yang ia pimpin. Namun sayangnya motor itu tak dapat mereka selamatkan.


Setelah itu, lelaki itu memutar video bagaimana damainya kondisi mafia scorpio hitam yang kini tanpa dirinya.


"Apa yang kalian inginkan ?." tanya Devan lagi.


"Sederhana sekali, dari video tersebut kau bisa mengerti apa yang terjadi dalam kelompok mafia yang selama ini kau pimpin."


"Tapi itu bukan urusan kami, yang kami inginkan adalah kau mengingat semua kenangan indah yang pernah kau nikmati di tempat ini." jawab pria itu.


"Ini dimana ? aku tidak pernah berada di sini." jawab Devan tegas.


"Baiklah jika kau tidak pernah ada ditempat ini. Tapi kau harus ingat kejadian yang berawal dari tempat ini. Dan semua kejadian indah bersama gadis itu." ucap pria itu lagi.


"Baiklah kau beruntung saat ini. Karena bos kami tidak ingin kau terluka karena hanya dia yang berhak atas nyawa mu."


"Kau berusahalah untuk bebas dari tempat ini, dan berusahalah untuk mengingat semua kejadian yang dialami oleh seorang gadis dari tempat ini."


"Sebelum nyawamu melayang di tangan bos kami. Dan Ingatlah bahwa anak buahmu tidak menginginkan dirimu." ucap Pria itu lalu pergi begitu saja.


Meninggalkan Devan yang masih terikat. Devan mencoba merenungi apa yang dikatakan oleh pria itu. Namun sekeras apapun ia mencoba tapi tetap saja ia tak mampu.


Devan kemudian berusaha melepaskan ikatannya. Namun ia belum berhasil, tak jauh dari tempatnya saat ini ia melihat sebuah pisau yang sangat usang.


Namun ia tidak bisa menjangkaunya. Dengan susah payah Devan mengerakkan tangannya agar ada sedikit celah untuk membuka ikatan tali itu.


Cukup lama Devan berusaha dan akhirnya ia bisa membuka ikatan tangannya, setelah itu ia membuka ikatan kakinya.


Perlahan Devan mendekati pisau yang terdapat noda darah itu. Dengan menggunakan saputangannya, Devan mengambil pisau itu kemudian ia menyimpannya di balik bajunya.


Devan melihat ada bercak-bercak darah yang menghiasi ruangan itu. Namun ia tidak mengerti apa yang terjadi dalam ruangan ini.


Satu hal yang pasti, telah ada kejadian yang membuat ia menjadi seorang tersangka. Devan melihat sekeliling ruangan itu.


Terlihat sebuah pakaian dalam seorang wanita yang telah robek, dan ada sobekan pakaian tak jauh dari sana. Devan mencoba memperhatikan tempat itu, dan setiap sudut ruangan itu.


'Pasti telah terjadi sesuatu pada seorang gadis didalam ruangan ini, Dan kalau tidak salah pakai itu seperti seragam SMA Persada.'


'Seragam SMA Persada ? artinya yang menjadi korban adalah teman SMA ku ? Tunggu dulu jika benar lalu apa hubungannya dengan aku ?.'


'Bisa-bisa mereka menuduh ku tanpa sebuah bukti, dan aku adalah pria baik-baik jadi tidak mungkin aku memperkosa seorang gadis.'


'Apalagi ia teman SMA ku, sungguh sangat memalukan !. Aku harus membersihkan nama baikku agar gadis bermata indah itu mau menjadi kekasihku.'


'Gadis bermata indah itu sepertinya bukan Devi, ia sangat berbeda dengan Devi biasanya. What ? berbeda ? atau jangan-jangan dia memang bukan Devi ?'.


Saat Devan bermonolog sendiri, terdengar suara seseorang bukan bukan hanya seorang tapi ada beberapa orang yang datang ketempat itu.


Devan kemudian bersembunyi, agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Ia juga ingin tau siapa yang datang apakah orang yang tadi atau orang lain.


"Kita harus mencari tau dari sini siapa Devi itu sebenarnya."


"Iya benar bukankah waktu itu kita telah menyekap Devi di gudang ini."


Terdengar suara orang yang bercakap-cakap dan Devan sangat mengenal suara itu. Mereka adalah Melani dan gangnya.


Melani dan teman-temannya masuk keruang dimana Devan bersembunyi. Mereka memperhatikan setiap seluruh ruangan.


"Apakah kalian yakin telah melakukan tugas kalian dengan benar ?." tanya Melani.


"Benar, kami juga telah mengikat tubuh Devi di kursi itu." ucap salah satu dari mereka sambil menunjukkan sebuah kursi dan juga sebuah tali yang tak jauh dari mereka berdiri.