
Rian menatap wajah Devan alias Vano adik kandungnya yang selama ini ia cari. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan cara seperti ini.
Kebahagiaan keduanya terpancar dari wajah mereka berdua. Seolah dunia ini milik mereka berdua, sehingga mereka melupakan tuan L yang tengah pingsan di samping mereka dan saat ini membutuhkan pertolongan.
"Tuan mari kita obati tuan Devan dan juga tuan L. Setelah itu kita akan pikiran langkah selanjutnya." ucap sopir taksi yang selama ini menjadi orang kepercayaannya.
"Kau benar ! tolong bantu aku membawa mereka berdua." jawab Rian sambil menghapus air matanya.
Devan terkejut melihat sopir taksi itu. Bagaimana mungkin ia berada di tempat ini kembali dan ia heran bagaimana bisa ia mengenal Rian dan menyebutnya dengan sebutan tuan.
"Apakah kalian saling mengenal ?." tanya Devan.
"Tentu saja, ia adalah orang kepercayaan ku." jawab Rian tanpa ragu.
Dan sang sopir taksi itu hanya tersenyum ke arah Devan. Setelah itu ia segera mengangkat tubuh tuan L dan membawanya masuk ke mobil Rian.
"Kita akan pergi ke rumah sakit kasih bunda. Jalankan mobilnya secepat kau bisa." ucap Rian setelah berada di dalam mobil beserta Devan.
"Baik tuan, dan tolong jaga tubuh tuan L." jawab sang Sopir.
Setelah itu ia segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Devan terkejut dengan kemampuan yang dimiliki oleh sopir taksi itu.
Selama ini ia merasa kemampuannya dalam mengendarai kendaraan sangat luar biasa. Namun kini ia mengakui bahwa kemampuannya berada di bawah sang sopir.
Seandainya tuan L tidak dalam kondisi pingsan, mungkin beliau akan berteriak histeris ketakutan karena kecepatan mobil yang mereka kendarai.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di rumah sakit kasih bunda yang berada di zona C dengan selamat.
Dengan gerakan yang sangat cepat mobil Rian terparkir di sebuah tempat spesial di rumah sakit tersebut.
Tempat parkir khusus untuk pemilik rumah sakit kasih bunda. Devan menatap Rian dengan sejuta kekagumannya.
Mereka segera membawa tubuh tuan L agar segera mendapatkan pertolongan dan juga membawa Devan agar segera mendapatkan perawatan.
Pada saat Devan dan tuan L ditangani oleh dokter, Rian menyampaikan kebenaran yang baru saja ia ketahui bahwa Devan adalah adik kandungnya yang selama ini ia cari.
Rian juga berjanji kepada Devira, tidak akan menghalang-halangi Devira untuk membalas semua kesalahan yang Devan lakukan terhadap Devi jika itu adalah kebenarannya.
Tetapi untuk saat ini ia meminta ijin untuk menghabiskan waktunya bersama Devan. Setelah mendapatkan ijin dari Devira barulah Rian bisa bernafas dengan lega.
Saat ini ia bisa fokus terhadap penyembuhan Devan, dan selama masa itu ia bisa mengobati kerinduannya terhadap sang adik setelah bertahun-tahun berpisah.
Rian menatap orang kepercayaannya yang tersenyum melihat ke arahnya. Dan Rian segera mendekatinya.
"Apakah kau telah mengetahui semuanya ?." tanya Rian.
"Benar tuan, bahkan Waktu itu aku sudah sempat mengatakan hal ini, tapi sayangnya anda sedang fokus terhadap penyerangan yang dilakukan oleh kelompok mafia yang ingin menyerang Zona C." jawab sang sopir dengan sopan.
"Dan apakah kau telah menyampaikan hal itu terhadap Queen ?." tanya Rian.
"Ya aku telah mengatakannya tadi saat beliau akan meninggalkan tempat itu." jawabnya dengan jujur.
Rian kemudian tersenyum dan menepuk pundak sopir taksi itu.
"Sebelum Devan mendapatkan hukuman dari kesalahannya, ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Boby atau Arin." ucap Rian.
"Saya bangga terhadap tuan, sebagai seorang kakak anda bisa dengan tegas memisahkan kepentingan pribadi dan juga sebuah kebenaran."
"Semoga bukan Devan pelaku kejahatan yang sesungguhnya, agar kebahagiaan kalian lebih sempurna." jawab sang sopir.
Setelah itu ia akhirnya berpamitan untuk melanjutkan tugas selanjutnya. Tugas untuk memantau keadaan Boby dan juga Arin.
Sementara Rian segera menemui Devan setelah pemeriksaan dan perawatan. Tak lupa ia juga memastikan kondisi tuan L.
"Kak bagaimana kondisi kakek ? ah maksudku kondisi tuan L ?." tanya Devan.
"Beliau masih belum sadarkan diri. Serangan yang sangat mematikan itu membuat beliau harus berjuang keras untuk bisa segera bangun dan pulih kembali."
"Lalu bagaimana dengan kondisi mu sendiri ? apakah kau sudah lebih baik ?." tanya Rian sambil mendekati Devan.
Setelah itu ia duduk di bangku yang ada di ruang perawatan Devan. Ia juga mengambil buah jeruk kemudian mengupasnya dan memberikan kepada Devan.
" Vano ini adalah buah kesukaan mu saat masih kecil, aku tidak tau apakah kau masih menyukainya atau kau sudah menyukai buah yang lain." ucap Rian sambil menyerahkan buah di tangannya.
"Semuanya masih sama kak, aku masih seperti yang dulu. Aku selama ini mencari keberadaan kakak dengan bantuan tuan L."
"Beliaulah orang yang telah menyelamatkan aku waktu itu. Sayangnya disaat Beliau ingin menolong kakak, kakak sudah tidak ada dan juga semua orang jahat itu." jelas Devan.
"Jadi benar bayangan yang aku lihat itu adalah tuan L. Gerakannya masih sama saat menyelamatkan mu dari serangan nona Devira." ucap Rian.
Devan tersenyum saat mengetahui nama si pencuri hatinya itu, gadis yang bermata indah itu ternyata bernama Devira.
Devira dan juga Devi ? apakah keduanya adalah saudara kembar ? pertanyaan itu muncul kembali dalam benak Devan.
"Apa yang kau pikirkan ?." tanya Rian.
"Apakah gadis hebat itu bernama Devira ? dan apakah ia adalah saudara kembar dari Devi ?." tanya Devan langsung pada intinya.
"Benar, mereka adalah saudara kembar. Tapi kalau boleh kakak tau mengapa kau bisa melakukan hal menjijikkan itu ?.' tanya Rian penuh selidik.
Devan tersedak saat mendengar pertanyaan dari Rian. Jadi benar yang selama ini ia pikirkan bahwa ia dituduh sebagai pelaku kejahatan itu.
"Mengapa kakak bertanya seperti itu ? aku bahkan tidak melakukan apapun terhadap Devi. Selama kejadian itu aku masih berada di luar negeri."
"Jika kakak tidak percaya kakak bisa menyelidiki hal itu. Aku yakin kakak mampu melakukannya. Jadi tolong jangan berfikir negatif terhadap adikmu ini." ucap Devan.
"Lalu ini milik siapa ? bukankah ini milikmu sebagai ketua scorpio hitam ?." tanya Rian.
"Itu adalah milik Boby, aku selama ini tidak pernah mempunyai simbol seperti itu. Itu dibuat oleh Boby sebagai pengenal untuk anggota scorpio hitam."
"Dan ia membuat itu sebagai simbol bawah ia adalah pemimpin scorpio hitam. Hal itu ia lakukan dibelakang ku."
"Selama ini ia telah mengkhianati aku dan bahkan telah memberontak dan juga mengklaim bahwa ia adalah pemimpin scorpio hitam." jelas Devan dengan jujur.
Rian mendengar dan melihatnya dengan seksama , dan ia yakin bahwa yang dikatakan oleh Devan adalah benar adanya, hal itu sama dengan laporan dari anak buahnya yang baru saja ia terima.