Devi Devira

Devi Devira
Bab. 23. Kehancuran



Setelah memastikan anggotanya selamat dan juga menghilangkan barang bukti, Devira segera menarik seluruh pasukannya.


"Perintahkan semuanya untuk kembali dan beristirahat, bagi yang terluka segera obati dan panggil dokter spesialis kita. Jangan sampai ada yang terlewatkan." perintah Devira.


"Baik Queen !." jawab mereka serempak.


Sementara Devira berjalan mendekati reruntuhan bangunan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah sampai ia segera menggali dan mencari-cari sesuatu.


"Apa yang anda lakukan ? biar saya kerjakan." ucap Rian.


"Aku mencari meja kerja yang biasa digunakan oleh Devan. Karena di sana ada sebuah alat yang bisa merekam seluruh kejadian di dalam markas ini termasuk penyerangan yang kita lakukan." jawab Devira.


"Baiklah, kita akan mencarinya bersama-sama. Tapi bagaimana anda bisa mengetahuinya ?." tanya Rian sambil memindahkan barang-barang yang menghalanginya menggali.


"Karena Devan, adalah didikan tuan L." jawab Devira.


Rian menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah itu ia meminta bantuan beberapa rekannya yang masih kuat untuk membantu mencari Meja kerja Devan.


Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Seperti itulah pribahasa yang tepat untuk menggambarkan usaha dari kelompok Devira.


"Queen kami telah menemukannya." ucap salah satu dari mereka.


Devira segera mendekati meja yang sudah hancur berantakan itu. Setelah memastikan itu adalah meja kerja Devan. Devira segera mengambil sesuatu yang ada di sudut meja bawah.


Sebuah benda yang sangat kecil dan berwarna hitam yang Devira cari akhirnya ia temukan. Dengan cepat Devira mengeluarkan sebuah alat dari balik bajunya.


Dengan cepat Devira menghapus rekaman penyerangan yang dilakukan oleh pasukannya. Ia juga menyalin data-data yang tersimpan dalam alat tersebut termasuk cara kerjanya.


Setelah itu ia kembali meletakkan benda itu ketempat asalnya. Dan meminta untuk mengembalikan semuanya seperti semula.


Sehingga tidak akan ada yang mengetahui bahwa tempat itu baru saja mereka bongkar. Setelah semuanya selesai Devira yang lainnya berdiri dari jauh dan kemudian ia melemparkan sebuah bom untuk menghilangkan jejak mereka.


"Queen anda hebat sekali ! anda telah memperhitungkan segalanya. Dan sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum Devan sampai."


"Saat ini Devan berada 3 kilo meter dari sini. Jadi sebaiknya kita segera pergi dan menghilangkan jejak kita." ucap Rian.


"Kalian pergilah, biar aku saja yang akan menghilangkan jejak kelompok kita agar Devan tidak bisa menemukan kita." jawab Devira.


"Tapi Queen." ucap Rian.


Namun Devira hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu memberikan kode dengan tangannya agar mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara Devira, mengeluarkan sebuah alat kecil dari saku bajunya. Dengan cepat ia segera mengoperasikan alat tersebut.


Dalam hitungan menit berikutnya tiba-tiba, datang sebuah helikopter yang berputar-putar di atas markas Devan.


Baling-balingnya memporak-porandakan semua yang ada, setelah semuanya kacau helikopter itu menumpahkan hujan buatan yang sangat deras sehingga semuanya berubah seperti lautan.


Setelah puas melakukan hal itu, Devira pergi bersama helikopter itu dan terbang jauh meninggalkan kehancuran markas Scorpio hitam.


Devira tersenyum melihat kondisi markas Scorpio hitam dari atas sana. Dan ia juga berhasil meninggalkan jejak untuk Devan, dimana Boby berada.


Karena sebenarnya ia tidak tega membiarkan Boby dengan kondisi yang terluka. Namun hal itu sebagai peringatan bagi Devan, bahwa semuanya akan berakhir dengan kehancuran karena ia telah menghancurkan Devi yang merupakan belahan jiwa Devira.


Markas yang ia bangun dengan susah payah, kini hancur berantakan dan kini terendam air. Senjata, harta benda dan jasad-jasad anak buahnya, berserakan di segala arah.


"Siapa yang telah melakukan semua ini !." ucap Devan dengan mengepalkan tangannya.


Devan dengan cepat berlari mencari meja kerjanya, dengan harapan ia bisa melihat kejadian apa yang menimpa markasnya dan siapa yang melakukan penyerangan itu.


Dengan cepat Devan menemukan benda yang ia cari, setelah itu ia segera kembali kedalam taksi yang masih setia menunggunya.


Setelah berada didalam taksi Devan segera membuka ponselnya. Dengan cepat ia menyambungkan benda itu dengan ponselnya.


Setelah tersambung Devan segera membuka rekaman kejadian yang ada didalam dan sekitar markasnya.


Terlihat bagaimana Boby berusaha untuk membuka lemari besi dalam ruang kerjanya. Setelah berhasil ia segera mengambil harta simpanan Devan yang selama ini ia simpan untuk sang kakak.


Ya Devan masih ingat bahwa kakak kandungnya saat itu berhasil kabur dan menyelamatkan diri dari pembunuhan keluarganya.


Disaat ia hendak tertangkap ada seseorang yang menyelamatkan mereka. Hanya saja mereka diselamatkan oleh orang yang berada.


Tapi Devan yakin hingga saat ini kakaknya masih hidup. Dan ia mengumpulkan seluruh jerih payahnya selama ini untuk bisa hidup berkecukupan bersama sang kakak.


Namun semuanya telah dibawa pergi oleh Boby. Tak cukup sampai disitu, Boby juga mengumumkan bahwa Devan telah tiada dan sebelum menghembuskan nafasnya Devan telah melantiknya sebagai ketua yang baru.


Boby kemudian melakukan sebuah pelantikan ketua scorpio hitam yang baru dan dengan aturan yang baru.


Mereka berpesta pora dengan minuman keras dan juga wanita-wanita cantik yang menemani mereka. Sungguh sangat bertentangan dengan apa yang selama ini Devan perintahkan.


Perbuatan yang sangat menjijikan itu terpampang jelas Dimata Devan. Membuat Devan semakin terbakar amarah.


Tak berselang lama dari pesta anggota scorpio hitam, muncul kepulan asap hitam yang berasal dari gudang penyimpanan barang-barang haram yang selama ini Devan jual belikan bersama scorpio hitam.


Duar !!!


Terdengar suara ledakan yang menyebabkan kebakaran hebat di dalam markas scorpio hitam. Setelah itu hanya asap hitam yang terlihat dari rekaman tersebut.


Devan segera keluar dan mencari sesuatu yang bisa mengantarkannya kepada seseorang yang mungkin bisa menjelaskan semuanya kepada dirinya.


Ia melihat sebuah ceceran darah yang tak jauh dari semak belukar. Perlahan Devan mengikuti jejak darah itu.


Dan tak lama kemudian, Devan melihat Boby yang terlelap dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Kaki kirinya terluka dan dibalut bajunya, sementara tubuhnya terlihat sangat putih dan pucat sekali.


"Boby !." teriak Devan.


Ia segera menghampirinya dan membantunya keluar dari semak belukar itu. Devan tau bahwa sahabat dan juga pengkhianat itu tidak mempunyai kemampuan apapun untuk melindungi dirinya.


"Devan, apakah aku sudah berada di surga ? mengapa aku bisa melihat mu ?." tanya Boby sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


"Apa yang terjadi ?." tanya Devan sambil menahan gejolak amarahnya.


"Ada sekelompok orang yang menyerang markas kita. Devan lihatlah semuanya telah hancur." jawab Boby sambil menahan tangisannya.


"Katakan dengan jelas apa yang terjadi sehingga kau mengkhianati aku dan katakan dimana kau sembunyikan emas dan benda berharga lainnya yang kau ambil dari lemari besi itu ?." tanya Devan dengan penuh penekanan.