Devi Devira

Devi Devira
Bab. 6. Kerugian Devan.



Saat senja telah berganti dengan malam, Devira melangkah keluar. Ia pergi menuju sebuah tempat dimana Devan dan anak buahnya akan melakukan transaksi besar.


Perdagangan minuman keras dan juga Narkoba yang selama ini ia geluti, tidak pernah tercium oleh Polisi setempat. Karena Devan sangat lihai dalam melakukan hal tersebut. Bahkan kelompoknya sangat disegani oleh kelompok mafia lainnya.


Dengan keahliannya, Devira bisa mendapatkan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh kelompok Devan.


"Kali ini aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada mu Devan. Tapi jika memang benar kau terbukti terlibat dalam pembunuhan Devi, maka aku akan mencincang-cincang tubuhmu." ucap Devira yang kini tengah berada diantara anak buah Devan.


Devira sangat pandai menyamar, bahkan ia juga mendapatkan pakaian khas dan juga pin scorpio yang merupakan tanda keanggotaan kelompok scorpio hitam milik Devan.


Sementara Devan tidak menyadari bahwa ada seorang penyusup. Ia masih fokus menghubungi orang yang akan membeli barang dagangan mereka.


Sementara anak buahnya, termasuk Devira sedang mengemas barang-barang tersebut dan dimasukkan ke sebuah kontainer yang sudah mereka siapkan bersama beberapa barang lainnya untuk kamuflase.


Tak lama datang dua orang yang merupakan pembeli yang tadi dihubungi oleh Devan. Orang tersebut langsung mendekati Devan yang sudah menunggunya.


"Selamat malam King. Ini orang kepercayaan Mr. X yang akan membeli barang dagangan kita." ucap anak buah Devan.


Devan tersenyum kemudian ia memberikan kode agar anak buahnya meninggalkan mereka dan segera menyiapkan barang pesanan.


"King, senang bisa bekerjasama sama denganmu. Pimpinan kami sangat puas dengan pelayanan dan keamanan yang kalian berikan."


"Ini uangnya, silakan diperiksa dan kami akan segera kembali. Kami tunggu barang tersebut, kami harap barang tersebut bisa sampai dengan aman seperti biasanya." ucap anak buah Mr. X


"Jangan khawatir, malam ini juga barang itu akan segera kami kirim. Lihatlah kontainer itu, sudah mulai masuk kedalam kapal." jawab Devan sambil menunjuk sebuah kontainer yang sedang berjalan perlahan menuju sebuah kapal laut.


Keduanya kemudian berjabat tangan sambil tersenyum. Tak lama setelah itu orang kepercayaan Mr. X berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Devan juga bersiap untuk pergi sambil membawa sebuah koper yang ia terima dari orang kepercayaan Mr. X itu.


"Pastikan semua aman dan barang segera sampai ditempat tujuan sesuai waktu yang telah ditentukan." ucap Devan kepada orang kepercayaannya.


"Baik King." jawab orang tersebut.


Setelah itu Devan pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun baru saja ia masuk kedalam mobil, tiba-tiba terdengar bunyi sirine polisi.


Terpaksa Devan memberikan kode agar anak buahnya segera meninggalkan tempat tersebut. Dan ia harus merelakan barang pesanan Mr.X di bawa oleh Polisi.


"Sial, kenapa hari ini kita sial seperti ini. Apakah ada yang mencoba mempermainkan kita ?." tanya Devan kepada salah satu orang kepercayaan yang sekaligus teman sebangkunya di SMA.


"Biar nanti saya selidiki King." jawab orang tersebut.


Setelah itu, Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera mengirimkan barang pengganti agar Mr. X tidak kecewa dengan kelompoknya.


Tak membuang waktu lama, Devan segera menuju gudang penyimpanan barang-barang haram itu dan segera mengemasnya dengan rapi.


Setelah itu ia membawa barang-barang tersebut dengan kontainer yang lain. Dan ia sendiri yang mengemudikannya.


Devan mengemudikan kontainer yang ia bawa seperti hembusan angin, begitu sangat kencang bak dalam arena balap.


"Aku baru tau kemampuan mu King. Kau memang seorang pembalap sejati. Tapi jangan kau berbangga diri dulu sebelum tau kemampuan ku." ucap Devira yang berada di dalam sebuah taksi.


"Kita jalan dan antar aku ke rumah mommy ku." perintah Devira kepada sopir taksi yang merupakan anak buahnya.


Mobil itu melaju perlahan layaknya taksi pada umumnya. Sementara anak buah Devan yang lain sedang menyelamatkan diri mereka masing-masing dari kejaran Polisi.


Di tempat lain, Devan berhenti disebuah dermaga kecil. Kapal yang sudah ia pesan sudah siap, dengan cepat Devan membawa kontainer yang ia kemudian masuk kedalam kapal.


Setelah itu, dengan perlahan kapal tersebut segera meninggalkan dermaga menuju ke sebuah pulau dimana anak buah Mr. X tengah menunggu.


setelah lama berada di atas lautan akhirnya Devan dan orang-orangnya berhasil menepi ke sebuah pulau yang sangat sepi.


Setelah menerima sebuah kode, anak buah Devan segera turun dan disambut oleh beberapa pengawal Mr. X.


"Ini yang kami suka dari mu King. Apapun yang terjadi kau tetap memenuhi permintaan kami dan barang tersebut sampai ditangan kami dengan aman." ucap Mr. X.


"Sama-sama Mr. Tapi maaf saya harus segera kembali untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Dan untuk anak buah anda yang kemungkinan tertangkap saya akan membantunya." ucap Devan.


"Untuk hal itu, saya pasti akan membalasnya suatu saat nanti." jawab Mr. X sambil mengulurkan tangannya.


Devan segera menjabat tangan tersebut dan segera berlalu meninggalkan pulau terpencil itu, dengan kapal lain yang lebih kecil.


Sebuah kapal nelayan yang sudah ia modifikasi sehingga bisa berlayar dengan cepat. Sehingga sebelum fajar menyingsing, Devan telah berada di markasnya.


"Sial ! kita rugi besar kali ini. Kita harus segera mencari tau siapa yang menjadi mata-mata diantara kita."


"Tangkap ia hidup-hidup biar aku sendiri yang akan menghukumnya, agar tidak akan ada lagi yang berani mengkhianati ku." perintah Devan dengan penuh penekanan.


Boby yang merupakan salah satu orang kepercayaannya dan juga teman sekolah Devan sampai bergidik ngeri mendengar ucapan Devan.


Terlihat kemarahan yang sangat mengerikan terpancar dari wajah Devan. Devan kemudian duduk sambil menyalakan sebatang rokok.


Padahal selam ini pria itu tidak pernah merokok. Mungkin kali ini kerugian yang ia alami sangat luar biasa sekali.


Tak ada yang berani berbicara bahkan untuk sekedar menggerakkan jari jemarinya anak buah Devan tak mampu melakukannya.


Mereka sangat takut melihat ekspresi Devan yang tidak biasanya itu. Kali ini memang benar-benar diluar ekspektasi mereka jika akan datang sekelompok Polisi yang akan menggagalkan transaksi yang mereka lakukan.


Setelah puas dengan sebatang rokok, Devan berdiri dan segera meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Boby. Ia harus segera sampai di Sekolah jangan sampai ada yang mengetahui apa pekerjaan mereka di luar sekolah.


Sementara Devira sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sebuah senyuman terukir indah diwajahnya yang cantik itu.


Saat ia hendak membuka pintu, terdengar ketukan pintu dari luar. Devira menatap wajah sang Mommy yang juga merasa bingung siapa tamu yang datang kerumah mereka sepagi ini.