
Setelah mendapatkan perawatan yang insentif, Boby sudah jauh lebih baik. Bahkan hari ini ia telah di ijinkan untuk pulang.
"Boby semuanya tidak ada yang gratis ! jadi setelah kau kembali ke rumah mu kau harus segera mengembalikan semua biaya dan tenaga yang telah aku keluarkan untuk menyelamatkan nyawamu." ucap Arin sambil menyerahkan bukti pembayaran selama Boby dirawat.
"Kau tenang saja Arin, aku akan membayarnya berikut dengan bunganya. Hanya saja aku harus bersembunyi terlebih dahulu."
"Aku harap kau bisa membantu aku untuk menemukan tempat persembunyian untuk sementara waktu." jawab Boby sambil bersiap untuk pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Baiklah, tapi yang harus kau ingat semuanya tidak ada yang gratis !." jawab Arin lagi.
Setelah selesai bersiap keduanya segera pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Arin dan juga Boby menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melihat didepan mereka.
"Antar saya ke kota A." ucap Arin setelah berada di dalam taksi online.
"Baik, dengan senang hati." jawab sopir taksi online itu.
Boby dan juga Arin, tidak menyadari bahwa taksi online itu adalah taksi yang sama yang mengantarkan Devan waktu itu.
Hal itu adalah hal yang sangat kebetulan bagi sang sopir yang merupakan anggota dari Devira. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Sang sopir yang sedang menyelidiki siapa sebenarnya Arin, saat ini sedang mengantarkan Arin dan Boby ketempat persembunyian mereka selama ini.
"Boby apa rencana mu selanjutnya ? Aku rasa Devan pasti telah mengetahui semuanya sehingga ia tidak mau lagi berhubungan dengan mu."
"Dan satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah membawa aku kedalam masalah yang kau hadapi saat ini." ucap Arin.
"Aku Rasa Devan tidak akan bisa mengetahui secara keseluruhan. Ia hanya tau aku telah mengkhianatinya disaat balap motor itu." jawab Boby dengan sangat yakin.
"Terserah kau saja, yang pasti jangan pernah menghancurkan nama baikku dihadapan Devan. Aku ingin Devan menjadi milikku seorang." ucap Arin.
Boby hanya tersenyum menanggapi ucapan dari sahabatnya yang sangat menginginkan Devan. Padahal Devan sama sekali tidak memperdulikan wanita-wanita disekelilingnya.
Kecuali satu, ia adalah Devira. Hal itu yang membuat banyak wanita merasa iri dengan Devira. Karena pemuda setampan Devan yang terkenal seperti kulkas lima belas pintu itu sangat berbeda saat memperlakukan Devira.
"Ngomong-ngomong apakah kau tau siapa gadis yang saat ini menggantikan posisi Devi ?." tanya Boby selanjutnya.
"Entahlah mereka berdua sangat mirip, aku yang setiap hari bersama dengan Devi saja tidak bisa membedakan ia asli atau palsu." jawab Arin.
"Ku pikir kau adalah gadis yang cerdas tapi ternyata kau sama seperti penampilan mu saat disekolah." jawab Boby.
"Apa maksud mu ha ?." tanya Arin.
"Sudahlah yang harus kita pikirkan saat ini adalah siapa gadis itu. Seharusnya kau bisa mencari tau siapa dia dari ibu kandung Devi."
"Karena beliau pasti tau siapakah Devi yang sekarang. Dan apa tujuannya menggantikan posisi Devi." jelas Boby.
"Kau selalu saja menyuruh ku untuk hal semacam itu. Aku juga berfikir demikian. Hanya ibu Jihan yang bisa menjelaskan semuanya." ucap Arin.
Kemudian keduanya diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Karena mereka saat ini tengah berada di jalan buntu untuk masalah yang mereka hadapi saat ini.
Yang pasti saat ini Boby telah mempunyai harta yang berlimpah. Harta yang ia dapatkan dari pengkhianatan nya terhadap Devan. Sahabat sekaligus orang yang paling berjasa dalam hidup Boby.
Setelah lama hening, tiba-tiba Arin menghentikan mobil yang akan mengantarkannya ke kota A. Ditengah perjalanan ia tak sengaja melihat Melani.
Gadis paling arogan di SMA Persada itu kini tengah berpanas-panasan demi mengantri disalah satu toko yang terlihat sangat ramai itu.
"Boby coba kau perhatikan gadis itu ! bukankah itu Melani ?." tanya Arin.
"Ya dari kabar yang aku dengar, ayah Melani saat ini menjadi buronan polisi, mungkin tempat persembunyiannya tidak jauh dari sini." jawab Boby.
"Ternyata tidak salah aku mengantarmu menuju kota A, aku bisa mendapatkan informasi paling hot di SMA Persada." ucap Arin dengan senyum penuh intrik.
"Berita apa ?." tanya Boby.
"Berita terbaru tentang Melani dan keluarganya yang saat ini sedang menjadi buronan polisi. Ternyata selama ini harta yang mereka dapatkan didapatkan dengan cara yang salah."
"Sekarang mereka kena batunya. Sudah hidup sengsara eh masih menjadi buronan, kasihan banget sich hidupnya." ucap Arin.
Dengan cepat ia mengambil video dan beberapa foto Melani, setelah itu Arin membagikannya di media sosial pribadinya.
Tak lupa ia juga menandai siswa dan siswi SMA Persada agar mereka bisa mengetahui dimana dan bagaimana nasib Melani setelah keluarnya menjadi buronan polisi.
"Apa yang kamu lakukan ?." tanya Boby.
"Hanya berbagi bagaimana kondisi Melani saat ini. Bagaimana pun juga ia adalah teman kita." jawab Arin dengan ambigu.
Boby hanya mengangkat bahunya mendengar jawaban dari Arin. Ia tak habis pikir dengan pemikiran Arin, bagaimana bisa ia mengatakan hal itu, padahal saat ini Boby juga seorang buronan.
Bukan buronan Polisi tetapi buronan bagi Devan dan mungkin orang yang telah ia rugikan selama ini. Dan hal itu tentu saja lebih berbahaya dari pada menjadi buronan Polisi, karena Polisi pasti masih menaati hukum dan prosedur yang ada. Berbeda dengan ia yang menjadi buronan anggota mafia, pastinya tidak ada aturan yang bisa membatasi bagaimana mereka akan menghukumnya nanti.
Setelah Arin puas mengambil apa yang akan ia bagikan itu, ia segera meminta mobil kembali melaju menuju tempat tujuan mereka.
Dan yang membuat Arin lebih bersemangat ternyata tempat tinggal Melani dan keluarganya tak jauh dari tempat persembunyian Boby.
Dengan demikian ia bisa mengetahui bagaimana kehidupan Melani selama dalam persembunyiannya. Sementara Boby tak mau ambil pusing akan urusan Melani, yang jelas ia hanya ingin bersembunyi untuk sementara waktu.
Setelah sampai, Boby membayar taksi online tersebut berikut uang tambahan karena telah mengantarkan mereka dengan selamat dan tanpa halangan apapun.
"Terimakasih bos, senang bisa mengantarkan anda dan juga kekasih anda." ucap sang Sopir dengan tersenyum.
"Jangan sungkan." jawab Boby.
Kemudian Boby dibantu oleh Arin masuk ke sebuah rumah sederhana namun terlihat sangat elegan. Sang sopir hanya tersenyum melihatnya dari dalam mobil.
"Kalau sudah rejeki tidak kemana, sudah dapat uang tugas terlaksana dengan sempurna. Bersyukur bisa bekerja dengan Queen, sudah cantik, baik hati dan memberikan pekerjaan yang halal." ucap sopir taksi online itu.
Setelah itu ia segera meninggalkan tempat itu dan tak lupa ia melaporkan semuanya kepada Rian. Tentu saja ia pergi setelah memastikan keadaan Boby dan juga Arin serta keluarga Melani.