
Seperti biasanya disaat jam istirahat para siswa dan siswi sedang asik menikmati makan siang atau hanya sekedar membeli minuman segar.
Termasuk juga Devira dan juga Arin. Sementara mereka berdua memesan es jeruk dan beberapa cemilan, Melani sudah duduk di kursi sambil menunggu Devira melewatinya.
Seperti yang sudah-sudah, Melani akan melampiaskan kemarahannya kepada Devi, meskipun sebenarnya ia marah bukan disebabkan oleh Devi.
Disaat Devira dan juga Arin melewatinya, dengan sengaja kakinya menjegal langkah Devira dengan harapan Devira akan jatuh tersungkur seperti biasanya.
Tapi sayangnya apa yang dipikirkan oleh Melani salah besar. Bukanya Devira yang terjatuh, melainkan Melani yang berteriak karena kakinya terbentur kaki meja dengan sangat kuat.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat, Devira menendang kaki Melani. Setelah itu ia hanya berdiri seperti tidak mengetahui apa-apa.
Arin dan juga Melani masih tetap berdiri dengan ekspresi kebingungan. Apa yang membuat Melani berteriak dan menangis sekuat-kuatnya.
"Apa yang terjadi ?." tanya salah satu teman Melani.
"Kaki ku, kaki ku terbentur kaki meja." jawab Melani sambil menangis.
"Bagaimana bisa ?." tanya yang lainnya secara bersamaan.
"Entahlah aku tidak tau, aku hanya ingin menjegal kaki Devi tapi entah apa yang terjadi malah kakiku sendiri yang terbentur." jelas Melani.
Arin menatap ke arah Devira, keduanya saling tatap dan mengangkat bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Melani.
Disaat Devan, Melani masih menangis dan di detik berikutnya ia jatuh pingsan karena tidak kuat menahan sakit di kakinya.
Devan hanya melihat hal itu sekilas, kemudian ia duduk di bangku yang biasanya ia gunakan. Tak perduli dengan apa yang terjadi di kantin tersebut.
Sepintas ia melihat Devi yang tengah menikmati jus jeruk kesukaannya. Devan kemudian tersenyum melihat gadis itu terlihat berbeda dari biasanya.
Hal itu tak luput dari perhatian Arin, yang selalu mencuri-curi pandang terhadap Devan. Pria tampan yang selalu acuh tak acuh terhadap wanita.
Namun berbeda dengan Devi, Devan seperti lebih sering memperhatikan Devi dari kejauhan. Dan hal itu yang membuat gadis-gadis terlihat cemburu terhadap Devi.
Seorang gadis cupu yang masuk ke sekolah itu karena bea siswa dari keluarga Melani. Hal itulah yang membuat Melani dengan sesuka hati memperlakukan Devi.
Begitu sebaliknya Devi sama sekali tidak berani membantah apa yang diperintahkan oleh Melani dan ia tidak berani sama sekali untuk membalas perbuatan Melani. Meskipun sebenarnya ia sangat menderita atas perlakuan Melani dan juga teman-temannya.
"Hai Cupu ! kau harus membayar mahal atas perlakuan mu hari ini. Dan akan aku pastikan bahwa hari ini adalah hari terakhir kau berada di sekolah ini." ucap salah satu teman Melani.
Setelah mengancam Devira, mereka segera membawa Melani kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis atas insiden yang dialami oleh Melani.
Sementara Arin menatap Devira yang seakan tak perduli dengan ancaman tersebut. Ia masih menikmati jus jeruk yang ia pesan dan sesekali memakan cemilan yang ada didepannya.
"Dev, bagaimana jika apa yang mereka ucapkan itu benar ?." tanya Arin.
"Biarkan saja apa yang ingin mereka katakan." jawab Devira masih dengan santai.
"Devi, kau tau jika mereka mengadukan hal itu kepada ayah Melani, maka beasiswa yang kau dapatkan akan dicabut dan artinya kau tidak akan bisa lagi bisa belajar di sekolah ini !." jelas Arin.
Devira hanya tersenyum mendengar penjelasan Arin. Ia baru mengetahui bahwa Devi saudara kembarnya bisa masuk ke sekolah ini berkat beasiswa dari ayah Melani.
"Bisakah kau ceritakan bagaimana awalnya Melani begitu membenciku ? apakah karena beasiswa itu atau ada hal yang lainnya ?." tanya Devira.
"Bukankah kita sama-sama tau, bahwa kita tidak pernah mengetahui apa alasan Melani melakukan hal itu terhadap mu." jawab Arin dengan ketus.
Devira memperhatikan raut wajah Arin, ia tau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arin sahabat dekat Devi adiknya.
Tak lama Devan berjalan mendekati Devira dan juga Arin. Tanpa berbasa-basi Devan langsung duduk di hadapan Devira.
"Jika kau tidak lagi mendapatkan beasiswa, aku akan dengan senang hati menggantikan ayah Melani untuk membiayai sekolah mu." ucap Devan dengan tersenyum.
Arin langsung saja mendekat, ia ingin memastikan bahwa apa yang ia dengar barusan tidak salah.
"Apa maksud mu Devan ?." tanya Arin.
"Aku tidak ada kepentingan dengan yang lain." jawab Devan tanpa melihat Arin.
Tentu saja hal itu membuat Arin sangat kecewa, namun ia tetap tersenyum dan menyimpannya rapat-rapat jauh di dalam lubuk hatinya.
Sementara Devi hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak banyak berbicara namun ia menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf karena telah menolak niat baik Devan.
Setelah melakukan hal itu kemudian ia berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu, namun hal itu sudah diprediksi oleh Devan.
Dengan cepat Devan menarik tangan Devira yang membuat gadis itu langsung terjatuh kedalam pangkuan Devan.
Keduanya saling pandang untuk beberapa waktu. Devira segera bangkit saat mendengar suara dari Arin. Yang seolah-olah mengingatkan dirinya.
"Maaf." ucap Devira kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Devan yang masih bengong dengan pikirannya sendiri.
Arin tak habis pikir mengapa Devi menolak niat baik Devan. Padahal jika ia yang berada di posisinya pasti dengan sangat senang hati dan lapang dada akan menerima bantuan dari Devan.
Sementara Devan hanya tersenyum. Kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan teman-temannya yang masih tak percaya bahwa Devan yang telah melakukan hal itu.
Padahal selama ini Devan seperti tak perduli dengan wanita, bahkan selama ini ia hanya diam saja saat Devi di bully dan dianiaya oleh Melani dan teman-temannya.
Mereka hanya melongo melihat apa yang dilakukan oleh Devan terhadap gadis cupu itu.
Di tempat lain Melani telah sampai di rumah sakit, ia segera mendapatkan perawatan intensif untuk mengobati kakinya.
Sementara teman-teman Melani menunggu dengan gugup karena mereka takut akan mendapatkan hukuman dari ayah Melani.
Salah satu dari mereka memberikan diri untuk memberikan kabar tentang keadaan Melani. Apapun yang akan mereka terima setidaknya mereka bukan orang yang mencelakai Melani.
Setelah itu mereka menunggu di depan ruang tunggu. Seolah tengah menunggu sesuatu yang sangat penting bagi mereka.
Tak satupun dari mereka yang beranjak dari posisinya, sampai suara yang begitu mereka kenal menyapa mereka semua.
"Katakan siapa yang telah berani melukai putri kesayangan ku ?. Akan aku pastikan dia dan keluarganya akan membusuk di dalam penjara !." ucap seseorang yang baru saja datang.