
Setelah mengetahui bahwa Devan memang tidak bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh anggota scorpio hitam diluar kegiatan scorpio Hitam, Tuan L sangat yakin jika ada salah satu anggota scorpio hitam yang telah mengusik orang misterius yang sangat ditakuti oleh para mafia.
Dan yang membuat tuan L semakin penasaran, apa yang dilakukan oleh anggota scorpio hitam sehingga orang misterius itu bisa semarah itu. Sehingga meratakan markas Scorpio hitam secara keseluruhan. Bahkan nyawanya manusia seolah tak berharga.
Tak lama pesanan telah sampai, dan segera menggugah selera Devan yang sejak semalam tidak memakan sesuap nasi pun.
"Pakah taksi yang mengantar kami tadi adalah taksi sungguhan ?." tanya tuan L kepada pemilik rumah makan tersebut.
"Iya, taksi itu sering mengantar penumpang. Sepertinya memang taksi online pada umumnya." jawab pemilik rumah makan itu.
Setelah mengatakan hal itu, pemilik rumah makan itu segera berlalu meninggalkan tuan L dan juga Devan. Devan melihat kearah tuan L seakan meminta penjelasan.
"Hanya berjaga-jaga saya, karena banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Dan pemilik rumah makan ini dulunya adalah orang ku." jawab tuan L dengan singkat.
Setelah mengatakan hal itu tuan L segera menikmati makanan yang tersaji dihadapannya. Keduanya menikmati makanan tersebut dengan sangat hikmat.
Setelah menghabiskan makanan mereka, keduanya kemudian pergi ke rumah Devan yang sangat jarang ia kunjungi. Hanya seorang penjaga rumah dan juga istrinya yang menempati tempat itu.
Selama ini Devan lebih sering menghabiskan waktunya di markas scorpio hitam. Ia hanya sesekali mengunjunginya.
Setelah sampai tuan L segera beristirahat, demikian juga dengan Devan. Namun Devan kembali keluar dari kamar dan menikmati udara di taman belakang.
Devan duduk di bangku taman sambil menatap tanaman yang ada dihadapannya. I teringat saat masih bersama sang ibu. Setiap sore pasti ia diajak untuk menyirami tanaman bunga dihalaman rumah mereka.
"Devan kelak kalau kau sudah menemukan seorang wanita, ibu selalu berharap bahwa wanita itu juga menyukai bunga seperti ibu, agar kelak bukan hanya kamu yang menemani ibu melainkan istri mu juga." ucap sang ibu.
Devan tersenyum saat mengingat hal itu. Ia terbayang wajah Devira yang selalu mencuri perhatiannya.
Bahkan mata indah itu selalu saja terbayang di pelupuk matanya. Entah sejak kapan hal itu terjadi yang jelas kini pemilik mata indah itu selalu menghiasi hari-harinya.
"Devi, saat ini apa yang sedang kau lakukan ? apakah kau juga sedang memikirkan aku sama seperti aku yang tengah memikirkan mu." ucap Devan lirih.
Ya tentu saja saat ini Devira juga tengah memikirkan Devan, hanya saja Devira sedang memikirkan bagaimana caranya menghukum Devan agar ia bisa merasakan sakit yang dialami oleh Devi.
Meskipun sebenarnya Devira juga memiliki rasa kepada Devan hanya saja semua itu ia pendam dan ia kubur dengan dendam.
Seperti sebuah judul Novel saja, antara dendam dan cinta. Tapi untuk saat ini Devira belum menyadari akan perasaannya yang sebenarnya kepada Devan.
Devira tengah fokus kepada balas dendamnya. Pembalasan yang lebih kejam dari apa yang telah dialami oleh Devi saudara kembarnya.
Sementara Devan belum mengetahui bahwa dirinya adalah target pembalasan dendam itu. Ya semoga saja Devan dan Devira segera mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga perasaan keduanya tidak terhalang oleh dendam dan permusuhan.
Sementara Devan tengah memikirkan Devira, Boby tengah berjuang untuk bisa sampai di rumah Arin. Sahabat dekatnya yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Sebenarnya persahabatan keduanya sudah sejak masih dibangku SMP, hanya saja mereka seolah tak saling kenal saat di SMA Persada.
Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Boby, ia segera mengetuk pintu agar Arin segera menolongnya, atau setidaknya membantunya untuk sekedar masuk ke dalam rumah.
Cukup lama Boby menunggu Arin, sehingga membuat Boby semakin tersiksa dengan kondisinya. Perlahan pandangannya kabur disaat ada seseorang yang membukakan pintu.
Belum sempat Boby menyapa orang tersebut, tubuhnya telah jatuh kelantai, ia tidak sadarkan diri dihadapan Arin.
Arin sangat panik ketika melihat kondisi Boby. Sangat memprihatinkan sekali. Wajahnya sangat pucat dan kaki kirinya terluka dan masih mengeluarkan darah.
Kain yang ia gunakan untuk menutupi lukanya sudah tak kelihatan warna aslinya, kini berubah merah darah dari lukanya.
Tanpa berfikir panjang lagi, Arin segera menghubungi ambulan, Boby harus segera mendapatkan pertolongan agar nyawanya selamat.
Ia tak sampai hati melihat kondisi sahabatnya Boby. Arin juga mencoba menghubungi Devan, karena yang Arin tau Devan adalah sahabat dekat Boby.
Namun Devan tidak bisa ia hubungi. Berulang kali Arin mencoba namun tetap saja tidak membuahkan hasil.
Hingga ambulan datang dan membawa Boby ke rumah sakit terdekat, agar Boby segera mendapatkan pertolongan karena ia telah banyak kehilangan darah.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? Boby cepat buka matamu ! jangan merepotkan orang lain. Cepat bangunlah dan selesaikan masalahmu sendiri tanpa harus melibatkan aku." ucap Arin saat berada di dalam mobil ambulan.
Terbayang diwajah Arin, bagaimana kondisi Boby saat mereka bertemu di SMA Persada. Boby dalam keadaan baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apapun.
Namun kini tubuh yang atletis itu kini terbaring tak berdaya dihadapannya. Tak terasa air mata Arin jatuh kerena melihat kondisi Boby.
Setelah sampai di rumah sakit Boby langsung dibawa ke unit gawat darurat. Boby segera ditangani namun ia masih belum juga membuka kedua matanya.
Mungkin karena terlalu banyak kehilangan darah atau ia terlalu lelah sehingga usaha yang dilakukan oleh tim medis belum bisa membuatnya membuka kedua matanya kembali.
Arin masih setia di depan ruang dimana Boby saat ini tengah berjuang untuk bisa segera bangkit dari tidurnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Jika aku terus disini pasti akan ada yang melihat ku ada disini. Apa sebaiknya aku pergi saja ?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
Namun saat ia hendak pergi, seorang perawat menahannya.
"Apakah anda keluarga pasien Boby ?." tanya perawat itu sambil berjalan mendekati Arin.
"Iya benar, bagaimana keadaannya saat ini ?." tanya Arin.
"Pasien telah selamat, hanya saja saat ini pasien membutuhkan tambahan darah,, dan sayang sekali stok Darah di tempat kami tidak tersedia."
"Mohon segera mencari tambahan darah tersebut, karena akan sangat berbahaya jika pasien dalam keadaan seperti ini." jelas perawat itu.
"Baiklah akan saya usahakan untuk segera mendapatkan tambahan darah itu. Dan saya mohon lakukan yang terbaik demi keselamatan Boby." jawab Devira dengan serius.