Devi Devira

Devi Devira
Bab. 16. Siapa Dia ?



Seakan udara berhenti bergerak yang menyebabkan Melani dan kawan-kawannya tak mampu untuk menghirup udara segar. Dada mereka terasa sangat sesak karena kehabisan oksigen.


Melani mendekati sang pemilik SMA Persada yang lama. Ia dengan berani meraih tangan beliau. Melani menggelengkan kepalanya seolah meminta penjelasan yang lebih agar ia benar-benar percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Pak, tolong katakan bahwa apa yang baru saja bapak sampaikan adalah salah. Mana mungkin gadis cupu ini adalah pemilik SMA Persada ini."


"Kita semua sama-sama tau siapa dan bagaimana kehidupan gadis cupu ini selama ini. Jangankan rumah mewah, uang untuk jajan saja ia tidak punya pak ." ucap Melani.


Pria berkacamata hitam itu tersenyum geli, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Melani. Ia tiba-tiba bertepuk tangan penuh semangat.


"Luar biasa, penilaian yang cukup menggambarkan bagaimana kepribadian mu yang sebenarnya, nona. Jika kalian hanya melihat keseharian gadis ini dari sudut pandang kalian saja, itu bukan berarti sebuah kebenaran."


"Sama halnya jika kalian melihat Boby dan Arin hanya dari sudut pandang kalian saja. Maka kalian tidak akan pernah tau siapa dan apa yang selama ini mereka kerjakan." ucap pria asing itu.


Hal itu tentu saja membuat Arin dan Boby saling pandang satu sama lainnya. Dan seluruh yang ada ditempat itu memandang keduanya dengan penuh tanda tanya.


Apakah benar yang pria asing itu katakan ? jika benar siapa yang pria itu katakan lalu siapa Boby dan Arin sebenarnya ?.


"Apa maksud perkataan mu anak muda ?." tanya ayah Melani.


"Saya yakin anda tidak membutuhkan jawaban dari saya, karena anda sendiri mengetahui siapa mereka !." jawab pria itu sambil menunjuk Boby dan kawan-kawannya serta Arin yang menatap pria itu tak percaya.


"Kalau begitu katakan siapa gadis ini !." ucap ayah Melani dengan penuh penekanan.


"Anda tidak perlu tau siapa dia, tapi yang perlu anda tau untuk apa dia ada diantara kalian. Jika kalian tidak melakukan sebuah kesalahan pastinya ia tidak akan muncul disini." jawab pria itu sambil berbisik ditelinga ayah Melani.


Setelah itu pria berbisik raut wajah ayah Melani berubah seperti orang yang baru saja melihat hantu. Hal itu tentu saja membuat tanda tanya besar bagi seluruh yang ada di tempat itu.


Melani menatap sang dengan harapan ia tau, apa yang dikatakan oleh pria asing itu. Sehingga sang ayah seolah-olah mendapatkan sebuah tekanan.


"Melani sebaiknya kita kembali ke rumah, alangkah lebih baik jika kau memulihkan kondisimu agar cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti biasanya." ucap Ayah Melani.


Setelah itu anak buah keluarga Melani mendekati Melani dan kemudian mendorong kursi roda Melani. Sementara Melani tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya diam dan menuruti perintah sang ayah.


Satu persatu siswa dan siswi SMA Persada itu, pergi meninggalkan tempat itu dan memulai aktivitas seperti biasa.


Tak ada satupun dari mereka yang tau siapa Devira sesungguhnya, sehingga keluarga Melani yang notabenenya keluarga pejabat sampai tidak bisa berkata apapun dan memilih untuk pergi.


"Arin, apakah kau tau siapa Devi sebenarnya ?." tanya Boby saat berjalan menuju ke kelasnya.


"Entahlah, tapi bukankah kita sama-sama tau jika Devi bukan siapa-siapa." jawab Arin.


"Yang perlu kita ketahui adalah bukan dia siapa tapi untuk apa dia ada." ucap salah satu teman Boby.


Dan hal itu di setujui oleh Arin dan juga Boby dengan sebuah anggukan kepala. Setelah itu mereka menjaga jarak dan masuk kedalam kelas, seolah-olah mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya.


"Boby !." panggil salah satu teman Melani.


"Sebenarnya Devan ada dimana ? dan apakah kalian tau siapa pria asing itu dan juga siapa sebenarnya gadis cupu itu ?." tanya salah satu dari mereka.


"Kami juga tidak tau siapa Devi sebenarnya. Tapi kalau Devan ia sedang pergi ke luar negeri untuk masalah pekerjaan." jawab Boby.


"Apakah kau yakin ?." tanyanya lagi.


Boby hanya m menganggukkan kepala. Ia juga sebenarnya memang tidak tau siapa Devi sebenarnya. Yang ia tau gadis cupu itu selalu mendapatkan perhatian dari Devan.


"Kalau begitu siapa Arin ?" tanya gadis itu lagi.


"Sebaiknya kau tanya kepada yang bersangkutan." jawab Boby yang malas meladeni pertanyaan dari mereka.


Setelah mengatakan hal itu Boby dan yang lainnya berjalan menuju ke dalam kelas. Seperti tidak terjadi apa-apa mereka bergabung dengan siswa yang lainnya.


Sementara teman-teman Melani hanya bisa menahan kekesalan mereka. Mereka belum tau siapa Devi ditambah lagi siapa sebenarnya Arin.


Apakah sebenarnya mereka berdua hanya berlagak cupu saat disekolah saja ? dan sebenarnya mereka adalah anggota sebuah geng seperti Boby atau Melani ?. Pertanyaannya itu berputar-putar didalam kepala mereka.


Sementara Devira tengah duduk di bawah sebuah pohon yang sangat rindang, ditemani oleh pria asing itu yang ternyata adalah Rian.


Rian datang deng menggunakan sebuah penutup wajah, agar wajah aslinya tidak dikenali oleh Boby dan yang lainnya.


"Rian, kau sangat luar biasa. Sebenarnya dari mana wajah palsu mu ini Hem ?." tanya Devira.


"Aku hanya tidak ingin dikenali oleh mereka, karena baru semalam kita menjadi topik diantara mafia-mafia itu." jawab Rian.


Devira menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Kalau saja Rian datang dengan menunjukkan wajah aslinya pasti Boby dan yang lainnya akan mengenali wajahnya.


Karena Rian adalah wakil pimpinan mafia yang baru saja memenangkan zona C semalam. Dan jika itu terjadi pasti langkahnya untuk membalas dendam kematian Devi akan segera terbongkar saat ini juga.


"Sebenarnya apa alasan mu sehingga kau begitu gigih ingin membalas dendam kematian Devi ?." tanya Rian.


Karena yang Rian tau Devira dan Devi sama sekali belum pernah bertemu secara langsung. Meskipun Rian tau bahwa mereka adalah saudara kembar.


"Sejak kecil Devi hidup bersama dengan mommy dengan kesederhanaan. Ia sama sekali tidak pernah menikmati kemewahan seperti yang aku rasakan."


"Bahkan ia juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang sempurna. Karena sejak berpisah mommy harus bekerja keras demi menyambung hidup mereka."


Ucap Devira dengan penuh perasaan, terlihat ia begitu sedih saat mengatakan hal itu. Dimana bisa kita bayangkan bagaimana kehidupan Devi dan sang ibu yang tinggal terpisah dengan ayahnya.


Perpisahan kedua orang tuanya, membuat Devi harus menerima kenyataan bahwa ia harus rela menjalani kehidupannya dengan serba kekurangan.


Dengan segala keterbatasannya ia harus bisa berjuang untuk mencapai cita-citanya dan harus tetap tersenyum demi hati seseorang ibu.