Devi Devira

Devi Devira
Bab. 19. Menghilangkan bukti



Suasana menjadi hening, saat Melani berjalan menuju ruang kosong tempat Devi disekap. Setelah itu ia memeriksa sekeliling.


"Amankan baju yang berserakan itu, dan cepat kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita." Perintah Melani.


Dengan cepat, salah satu dari mereka berjalan mendekati pakaian Devi yang berserakan di dan sudah tidak layak dan koyak itu.


Dengan sangat jijik mereka memasukkan pakaian itu kedalam sebuah plastik hitam. Kemudian membawanya pergi.


"Pastikan tidak ada jejak apapun yang tertinggal !." perintah Melani lagi.


Setelah itu mereka memeriksa kembali ruangan kosong itu, dan saat mereka berada didekat Devan mereka berhenti.


"Seperti ada sesuatu." ucap salah satu dari mereka


Perlahan salah satu dari mereka mencoba memeriksa dibalik ruangan sebelah yang sudah hancur berantakan itu.


Devan segera bersembunyi, dibalik reruntuhan bangunan. Saat ia melihat ada sebuah kecoak, Devan mengambilnya dan melemparkannya tepat m mengenai kaki gadis yang tengah memeriksanya.


"Kecoak !." teriak gadis itu sambil berlari.


"Apa yang kau lakukan ?." tanya Melani dengan wajah yang tidak suka.


"Aku seperti melihat ada orang diruang sebelah itu, waktu aku ingin memeriksanya tiba-tiba ada kecoak." jawab gadis itu jujur.


"Ada orang ? cepat periksa tempat ini dengan teliti !." perintah Melani.


Mereka segera menganggukkan kepalanya dan segera menyebarkan memeriksa keadaan sekelilingnya. Setelah lama akhirnya mereka kembali berkumpul dihadapan Melani.


"Sepertinya memang benar ada yang mendatangi tempat ini. Aku menemukan botol air mineral dan juga bungkus roti." ucap salah satu dari mereka dengan membawa bukti.


"Artinya tempat ini sudah diketahui oleh orang lain. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita." ucap Melani.


Setelah itu mereka semua pergi meninggalkan gudang kosong itu. Tanpa mereka sadari Devan telah melihat dan mendengar semua perkataan yang mereka ucapkan.


"Apa yang telah mereka lakukan ? mengapa mereka m ngambil pakaian yang sudah koyak itu ?." batin Devan.


Kemudian ia teringat dengan sebuah pisau yang ia sembunyikan dibalik bajunya.


"Apakah mereka telah melakukan sebuah pembunuhan ? tapi jika mereka yang melakukannya mengapa pakaian itu koyak ?."


"Dan bukankah itu adalah pakaian wanita, apa yang sebenarnya mereka lakukan ?. Dan apa hubungannya dengan orang yang telah menahan ku ?."


"Bukan, bukan menahan tapi telah menolong ku dari kecelakaan maut itu. Artinya ada musuh dibalik selimut yang merupakan anggota mafia scorpio hitam."


Ucap Devan mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan ingin menyelidiki siapa yang telah mencoba melakukan kecurangan malam itu.


Dari jauh Rian telah merekam kedatangan Melani dan juga kawan-kawannya. Setelah mereka pergi tak lama kemudian Devan juga ikut pergi meninggalkan gudang kosong itu.


Setelah mendapatkan video tersebut, Rian segera pergi meninggalkan persembunyiannya. Namun tak lama dari kepergian Rian ada seseorang yang menggunakan tutup kepala masuk ke gudang kosong itu dengan cara mengendap-endap.


Setelah memastikan keadaan aman, ia segera menyiramkan bensin ke sekeliling gudang kosong itu. Tak lupa ia juga menyiramkan bensin keseluruhan ruangan.


Setelah itu ia menyalakan sebuah korek api dan melemparkannya kedalam gudang kosong itu. Tak lama api segera menyebar dan membakar seluruh gudang itu.


Setelah itu pakaian itu ia pakaikan kesebuah jenazah yang sudah ia siapkan. Setelah semua siap, ia mengangkat jenazah itu lalu melemparkannya kedalam kobaran api yang membumbung tinggi.


"Selamat tinggal, dan kau tidak akan pernah bisa menemukan siapa pembunuh Devi yang sebenarnya. Karena sama saja kau hanya akan mengurai benang kusut."


hahahaha ...


Orang misterius itu tertawa puas, karena telah berhasil menghilangkan barang bukti yang bisa mengarahkan kepada dirinya. Hanya Devan dan juga Melani yang akan menjadi tersangka.


Rian sempat berhenti karena merasa ada sesuatu, dan benar saja ia melihat gudang kosong itu telah terbakar.


Hanya terdengar suara seseorang tertawa dibalik kobaran api. Sayangnya ia tidak bisa melihat wajah orang itu karena tertutup oleh kobaran api dan jarak yang jauh.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rian memutuskan untuk kembali dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang ia parkir di balik semak-semak. Setelah itu ia menuju ke markasnya dimana Devira telah menunggu kedatangannya.


Sama halnya dengan Devan, ia segera menuju ke markasnya hanya saja kali ini ia melalui jalan rahasia yang hanya dirinya saja yang mengetahuinya selama ini.


Tak satupun dari mereka yang mengetahui jalan rahasia itu, termasuk tangan kanannya yaitu Boby. Devan berjalan perlahan menuju ke ruangannya.


Setelah sampai ia segera masuk dengan cara mengendap-endap. Saat ia baru saja masuk kedalam ruangan itu terdengar suara langkah kaki yang menuju ke ruangannya itu.


Ia segera bersembunyi di balik lemari besi yang juga merupakan pintu rahasia yang khusus ia gunakan untuk bersembunyi.


Terlihat Boby dan para petinggi scorpio hitam masuk dan memeriksa keseluruhan ruangan itu, mereka mencari sesuatu yang entah apa itu, Devan tidak tau. Tapi setelah beberapa saat mencari mereka tidak menemukan apapun.


"Kita cari ditempat lain !." ucap Salah satu dari mereka.


Setelah mengatakan itu mereka keluar, namun Boby berhenti dan memperhatikan tempat dimana Devan bersembunyi.


Ia mencoba membuka lemari besi itu, namun sampai lama ia tak dapat membukanya. Akhirnya ia keluar mengikuti yang lainnya.


Hal itu tak luput dari perhatian Devan, dengan perlahan Devan akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.


Ia segera mendekati meja kerjanya dan menekan sebuah tombol yang terletak disudut bawah meja kerjanya itu.


Setelah itu ia segera mengoperasikan komputer dihadapannya. Jari jemarinya dengan lincah berselancar diatas keyboard.


Layaknya tengah menikmati kegiatan tersebut, Devan seakan tak perduli dengan apa yang terjadi di luar ruang kerjanya.


Setelah beberapa saat akhirnya ia menekan tombol enter, dan layar monitor dihadapannya memproses sesuatu yang ia inginkan.


Alangkah terkejutnya Devan saat melihat apa yang ada dihadapannya itu. Devan menggelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Saat mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya. Devan segera menyimpan semuanya dan mengembalikan seperti semula.


Setelah itu ia kembali masuk kedalam lemari besi tempat ia bersembunyi sebelumnya namun ia urungkan niatnya itu.


Devan segera keluar melalui jalan rahasianya, sebelum ia jauh melangkah ia mendengar suara yang sangat keras. Sepertinya ada yang berusaha untuk membuka lemari besi yang selama ini tidak ada yang tau isinya.


Devan menghela nafasnya, dan segera melanjutkan langkahnya. Dengan perasaan yang tidak karuan Devan melangkah meninggalkan markasnya yang telah ia bangun dengan keringatnya sendiri. Namun kini tempat itu telah dikuasai oleh orang kepercayaannya selama ini.