
Devira menuju ke markasnya, ia segera mencari Rian untuk menanyakan perihal Melani dan juga keluarganya. Devira tak ingin menunda lagi, Melani harus membayar mahal atas perbuatannya terhadap Devi.
Selain itu ia juga ingin segera menemukan Devan dan juga gadis yang mempunyai pin dan juga tato bunga melati itu.
Karena sudah dapat dipastikan bahwa anggota scorpio hitam yang telah memperkosa Devi adalah Devan, dan pasti kematian Devi ada hubungannya dengan pemilik pin bunga melati itu.
Karena alasan cemburu terhadap Devi, pasti wanita itu melakukan hal yang sangat mengerikan terhadap Devi. Di atas motornya Devira meneteskan air matanya membayangkan bagaimana perasaan Devi saat itu.
Setelah sampai di markasnya, Devira segera menemui Rian. Rian yang sedang merenung tidak mengetahui kedatangan Devira.
"Bolehkah saya masuk ?." tanya Devira sambil mengetuk pintu.
"Silakan !." jawab Rian dengan sedikit terkejut.
Devira segera masuk setelah mendapatkan ijin dari Rian. Kemudian ia duduk di hadapan Rian yang terlihat menghapus air disudut matanya.
"Apakah kau merindukan adikmu ?." tanya Devira.
"Iya Queen, saya sangat merindukannya. Saya berharap dia masih hidup dan saya segera bertemu dengan dirinya." jawab Rian dengan jujur.
"Kau beruntung masih banyak harapan untuk bisa bertemu dan bersatu kembali dengan adikmu. Berbeda dengan aku."
"Bertemu dengannya adalah hal yang tidak mungkin lagi. Mereka telah merampas Devi dari hidup ku dengan cara yang sangat kejam." ucap Devira dengan suara yang bergetar.
"Maaf Queen, apa rencana kita selanjutnya ?." tanya Rian.
"Besok sepulang dari sekolah kita akan memberikan hukuman bagi mereka. Kau boleh menghukum ayah Melani dan aku sendiri yang akan menghukum Melani."
"Setiap air mata Devi harus ia bayar dengan mahal. Karena dialah penyebab utama Devi mengalami hal sangat mengerikan itu." jawab Devira.
"Baik Queen, kita akan pergi ke kota itu, tempat dimana keluargaku dihabisi oleh manusia laknat itu. Dan terimakasih atas bantuannya selama ini."
"Kini saya bisa membalaskan kematian keluarganya saya ditempat dimana mereka menghabisi keluarga saya." ucap Rian.
Devira menganggukkan kepalanya, setelah itu Rian juga menyampaikan informasi yang diperoleh oleh anak buahnya yang berperan sebagai seorang sopir taksi.
Bahwa Devan bersama tuan L yang mungkin telah menyadari penyerangan yang dilakukan oleh mereka terhadap markas scorpio hitam.
Dan disisi lain saat ini, Boby dan juga Arin sedang berada di penginapan tempat dimana Melani dan ayahnya bersembunyi dari Polisi.
Dan berdasarkan perkiraan Devan juga akan menyusul mereka ke kota itu hanya saja kapan waktunya belum mereka dapatkan.
"Bagus jika seperti itu, aku akan menghukum Devan sekaligus. Dan perintahkan anak buah mu yang berada di departemen kepolisian untuk menangkap seluruh teman Melani yang terlibat dalam penyekapan terhadap Devi."
"Video tersebut telah aku kirimkan melalui email pribadinya sebagai barang bukti yang kuat untuk menjatuhi hukuman penjara kepada mereka." perintah Devira.
"Baik Queen. Dan satu lagi Queen, bagaimana kita mengantisipasi campur tangan tuan L ?." tanya Rian.
"Tuan L adalah urusanku, jika dia menghalangi aku untuk menghukum penjahat-penjahat itu maka aku tidak akan segan lagi terhadapnya." jawab Devira.
Setelah berdiskusi tentang hal itu, Devira meninggalkan Rian, ia kemudian masuk ke ruang pribadinya.
Ia harus melatih kemampuannya dalam menggunakan berbagai senjata dan juga melatih pernafasannya.
Ia tidak mau jika kemarahan menguasai dirinya sehingga ia akan terbakar sendiri oleh api amarah itu. Saat ini Devira sedang bermeditasi untuk menenangkan diri.
Sementara Rian menghubungi orang kepercayaannya untuk melakukan penangkapan terhadap teman-teman Melani besok disekolah.
Untuk memberi peringatan kepada seluruh siswa SMA Persada bahwa apapun tindak kejahatan itu adalah hal yang bertentangan dengan hukum.
Dan para pelanggar hukum akan dikenai sanksi sesuai kejahatan yang dilakukannya terlepas mereka adalah orang kaya ataupun anggota keluarga pejabat negara sekalipun.
Selain itu juga Rian mengkondisikan seluruh anggotanya untuk bersiap-siap jika ada sesuatu yang bisa merugikan mereka termasuk orang-orang yang kemungkinan akan membantu Scorpio hitam ataupun keluarga Melani.
Setelah selesai barulah Rian berlatih seperti biasanya. Meskipun kemampuannya sudah tidak perlu diragukan lagi namun tetap saja ia harus tetap berlatih seperti halnya yang dilakukan oleh Devira.
Berbeda dengan Devira yang sedang bermeditasi, ia tidak bisa fokus karena bayangan Devan selalu mengganggu pikirannya.
"Mengapa bayangan Devan selalu hadir dalam ingatan ku ? Wahai hati ingatlah bahwa Devan adalah pelaku pemerkosa Devi."
"Jangan lemah, kau harus kuat untuk menghukum penjahat itu tanpa belas kasihan apalagi sampai tidak tega karena rasa kagum yang ada pada dirimu."
"Ya memang Devan sempurna, tapi ingatlah bahwa ia tidak layak untuk kau pikirkan. Karena kesempurnaan yang ia miliki telah ia gunakan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum dan norma-norma yang ada."
"Ayo Devira kau harus bisa fokus terhadap tujuan utama mu berada di negara ini, dan kau harus ingat alasan kau berada di kota ini untuk saat ini." ucap Devira.
Devira menghembuskan nafasnya dengan kasar. Setelah itu ia bangkit dan mencoba berlatih bela diri untuk menyalurkan kemarahannya.
Menguras tenaganya agar ia bisa segera beristirahat untuk persiapan yang akan dilaksanakan besok. Dan setelah dirasa cukup Devira segera membersihkan diri setelah itu ia bersiap untuk beristirahat.
Tak lupa ia mengirimkan pesan untuk sang mommy agar beliau tidak merasa khawatir karena Devira tidak berada di rumah saat ini.
Setiap apa yang ada di dunia ini selalu berpasang-pasangan. Jika ada siang pasti akan ada malam, jika ada duka pasti akan ada bahagia atau sebaliknya.
Hal itu yang kini dialami oleh Melani, ia tidak bisa memejamkan matanya setelah melihat siaran langsung yang dilakukan oleh salah satu teman Melani yang mengakui perbuatan mereka terhadap Devi.
Ia sangat gelisah dengan hal itu, apa akibatnya jika hal itu sampai diketahui oleh Polisi pasti polisi akan mencari dirinya sebagai seorang buronan seperti sang ayah saat ini.
Ia tidak habis pikir bagaimana bisa temannya sendiri mengkhianati dirinya. Padahal ia telah berpesan agar menyimpan rahasia itu rapat-rapat namun malah ia bongkar dihadapan publik.
"Bagaimana reaksi Devan setelah mengetahui hal ini ? apakah ia semakin membenci dirinya atau ia akan mengklarifikasi kebenaran akan hal itu ?."
"Devan aku akan menjelaskan semuanya kepada mu. Aku melakukan hal itu karena tidak rela jika Devi memiliki dirimu." ucap Melani dengan frustasi.
"Devan bukankah sudah aku katakan bahwa aku bersedia memberikan segalanya seperti yang Devi berikan untuk mu."
"Termasuk tubuh ini, aku rela Devan asalkan kau mau menjadi milikku seorang. Hanya itu yang aku inginkan Devan." ucap Melani sambil meneteskan air mata.