
"Dev" suara wanita yang membuat lelaki yang sedang berbicara dengan teman lelaki nya mengalihkan pandangan nya menghadap wanita yang kini telah berada di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Mommy" ucap nya.
"Mommy sudah katakan kau harus memberitahu mommy jika kau pulang terlambat" ucap wanita itu.
"maaf Mom aku lupa memberitahu mu" ucap Dev dengan tatapan memelas
"Dasya, sudahlah Dev sudah besar kau tidak perlu seperti ini" seorang lelaki yang baru saja datang menghampiri mereka.
"apa yang kau katakan Al? kau tidak tau pergaulan jaman sekarang" ucap Dasya.
"cepat pulang, mommy akan menghukum mu" ucap wanita itu lalu beranjak pergi.
"Paman tolong aku" rengek Dev.
"Maafkan paman Dev, kali ini paman tidak bisa membantu mu, apa kau tidak melihat mommy mu sangat marah tadi" ucap Alex. Dev hanya pasrah lalu mengikuti langkah Alex menuju mobil.
.
.
.
Devino Wilfred putra dari Dasya dan Devano.Kini lelaki itu sudah berusia 18 tahun yang sedang menjalani pendidikan di sekolah menengah atas bersama dengan kembarannya Radifa Wilfred. Saat itu ia di tantang untuk bermain basket oleh teman lelaki nya. Tentu saja lelaki itu tidak bisa menolak.Bukan Devino jika ia menolak tantangan itu.
Karena bermain cukup lama Devino tidak merasa hari sudah hampir sore hingga ia harus menerima amarah dari mommy nya seperti saat ini ia menerima banyak omelan dari wanita itu.
"Dev apa kau mendengarkan mommy" ucap Dasya
"iya mom aku mendengarnya" ucap Dev dengan malas.
"kembali ke kamar mu setelah itu makan malam" ucap Dasya
Devino hanya mengangguk kemudian beranjak pergi namun sebelum itu ia memberi sebuah ciuman di pipi wanita itu.
"Dev!!" Teriak Dasya.
"Mommy semakin cantik jika sedang marah, benarkan paman Alex" teriak Dev seraya melangkah kan kaki nya menuju kamar.
Dasya yang mendengar itu begitu jengah.
"Dia sangat mirip dengan suamimu" ucap Alex. Dasya hanya diam lalu meñatap Alex.
"ayo kita makan malam" ajak Dasya. Alex mengikuti Dasya mengekori wanita itu menuju Meja makan.
.
.
.
Bertahun-tahun berlalu begitu cepat Kini Dasya harus menghadapi anak kembarnya yang semakin hari semakin dewasa.Meskipun ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa Dev namun wanita itu tetap tidak bisa melupakan lelaki yang sangat ia cintai.
Alex.Lelaki itu dalam beberapa tahun ini selalu ada untuk nya membantu wanita itu mengurus kedua anaknya hingga Devin dan Difa sangat manja jika sudah bersama dengan Alex.
"Al, kau jangan memanjakan mereka terus" ucap Dasya. Kini keduanya sedang berada di meja makan seraya menunggu kedua anaknya datang.Namun lelaki itu hanya tersenyum.
"Mommy" teriak seorang gadis remaja yang tak lain adalah putrinya.
"hai sayang" ucap Dasya kemudian memeluk putrinya itu.
"Mommy aku lapar" ucap Difa. Dasya hanya tersenyum kemudian mengambilkan nasi ke dalam piring kosong kemudian memberikannya untuk Difa.
"thank you Mom" ucap Difa.
"hai daddy Alex" ucap Difa
"hai juga Sayang, bagaimana harimu?" tanya Alex. sudah menjadi kebiasaan gadis itu memanggil nya daddy sedari kecil dan Dasya tidak mempermasalahkannya.
"sangat menyenangankan paman" jawab Difa dengan antusias
"daddy" panggil Difa pada Alex
"ada apa?" tanya Alex
"kenapa daddy tidak menikah saja dengan mommy?" ucap Difa polos. membuat Alex tertawa
"doakan saja sayang" ucap Alex
"apa paman takut di tolak oleh mommy" tanya Difa dengan senyum jahil
"mommy mu perlu waktu sayang, lanjutkan makanmu jangan banyak bicara jika sedang makan" ucap Alex. Perkataan Difa menjadi boomerang baginya hingga ia melihat Dasya dan Dev sudah berjalan ke meja makan.
.
.
.
Setelah makan malam Dev dan Difa sudah kembali ke kamar mereka.
Sedang kan Dasya. Wanita itu sedang mengobrol dengan Alex.
"bagaimana pekerjaanmu?" tanya Dasya membuka obrolan mereka
"seperti biasa" jawab Alex seadanya
"terima kasih" ucap Dasya kini membuat Alex menatap nya lekat.
"untuk?"
"kau sudah membantuku mengurus Dev dan Difa jika kau tidak ada aku tidak_"Alex menyela
" Sudah berapa kali kau mengatakan itu Dasya"ucap Alex
"aku tidak masalah, bahkan aku senang bisa menjadi daddy mereka" ucap Alex.
"maaf" ucap Dasya wajah nya kini di tekuk menatap lantai membuat Alex mendelik heran.
"kau tidak bersalah Dasya aku tau tidak mudah melupakan orang yang kau cintai, aku mengerti perasaanmu" ucap Alex kedua nya saling diam.
"jika aku melamar mu apa kau menolaknya?" goda Alex membuat semburat malu yang membuat pipi wanita itu memerah.Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa kan jantung nya berdegup dengan kencang.
"Alex jangan bercanda"
"aku tidak bercanda" ucap Alex kini dengan wajah yang serius.
"kau ini" Dasya melempar bantal sofa yang berada di samping nya ke arah Alex membuat lelaki itu tertawa.
"apa aku di tolak" ucap Alex
"jangan menggodaku Alex" teriak Dasya yang kini merasakan panas di pipinya.
Dev tidak akan pernah bisa tergantikan di hatinya.Tapi apakah ia egois. sekarang ia memiliki anak yang membutuhkan sosok ayah disamping mereka.
"Ya sudah aku pulang dulu besok pagi aku akan mengantar Dev dan Difa ke sekolah"pamit Alex kini lelaki itu sudah berdiri dari tempatnya.
" mmm Al apa kau tidak menginap?"tanya Dasya ragu
"apa kau ingin aku menginap disini?" goda Alex
"aku hanya menawari mu saja jika kau tidak mau ya tidak maslaah" ucap Dasya yang kini menjadi gugup.
"aku pulang dulu" ucap Alex seraya mengusap puncak kepala Dasya lalu berjalan pergi.
Dasya menatap punggung Alex yang semakin berjalan menjauh.
Ia tidak tau kapan ia bisa membuka hatinya untuk lelaki yang selalu ada untuk nya selama ini.