DEVDAS

DEVDAS
Kenapa kau marah?



Setelah mengantarkan sarapan untuk David kini ia berada di dalam Kafe menunggu seseorang


"sudah menunggu lama?"seseorang datang lalu duduk di depan Dasya


"Tama,tidak juga"ucap Dasya lalu tersenyum


"maaf tidak bisa menghubungi mu beberapa hari hari ini karena aku sangat sibuk kau tau kan ini pengalaman pertama ku menjadi CEO"ucap Tama


"tidak masalah sebagai gantinya kau harus mentraktirku"ucap Dasya lalu disambut tawa oleh Tama


"kau selalu ada mau nya"ucap Tama dan keduanya tertawa.


Tiba tiba ponsel Tama berdering


"hallo Tama kau dimana?"tanya wanita dari seberang sana


"aku sedang di kafe bersama Dasya"ucap Tama


"apa aku boleh menyusul?"


"kemarilah"ucap Tama kemudian memutuskan sambungan teleponnya


"siapa?"tanya Dasya penasaran


"Aurel,dia bekerja sebagai sekretarisku "ucap Tama


"wah Aurel juga bersama mu?"tanya Dasya yang hanya di balas anggukan oleh Tama


"bukankah keluarga nya adalah keluarga terpandang di Jepang lalu kenapa dia ingin menjadi sekretaris mu?"tanya Dasya


"aku juga tidak tau"Jawab Tama asal


Seorang wanita dengan rambut yang digulung kedalam tak lupa kacamata yang bertengger di hidungnya berjalan kearah mereka. Ia tersenyum saat melihat seseorang yang ia cari


"Hai Tama"ucap nya yang tak lain adalah Aurel


"Dasya kau juga ada disini?"tanya Aurel Dasya hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan


"kau apa kabar"tanya Aurel pada Dasya.


Meskipun mereka tidak terlalu dekat semasa kuliah tetapi mereka saling mengenal. Siapa yang tidak mengenal Aurel gadis cantik dengan body yang selalu jadi impian setiap lelaki ia sangat populer di kampus. Namun yang ia tau beberapa tahun ini Aurel mengubah penampilannya menjadi seperti ini rambut yang selalu digulung dan menggunakan kacamata membuat penampilan Aurel sedikit berbeda dan sederhana


"kabar ku baik,lalu kabar mu bagaimana?"tanya Dasya balik


"kabar ku sedikit buruk"ucap Aurel membuat Dasya menautkan kedua alisnya


"aku tidak pernah meminta mu untuk mengurusku"kesal Tama seraya memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan membuat kedua wanita tersebut tertawa.


"kenapa kau ingin menjadi sekretaris Tama bukan kah keluarga mu memiliki banyak perusahaan"tanya Dasya penasaran


"tidak ada aku hanya belajar mandiri saja"jawab Aurel. Dasya hanya mengangguk


"Dasya kapan kita akan berjalan jalan aku sangat merindukanmu"ucap Tama seraya menatap Dasya


"kapan saja beh asal kau yang mentraktirku"ucap Dasya lalu terkekeh


"kau ini"Tama mengusap rambut Dasya lalu mencubit hidung wanita itu.Merekabberdua bercanda dan tertawa tanpa menghiraukan Aurel Yang hanya diam menatap mereka berdua


"saat bersama ku dia tidak pernah tertawa seperti itu bahkan mengusap rambutku saja tidak pernah"batin Aurel dada nya terasa sesak saat melihat Dasya dan Tama yang sedang bercanda.


.


.


.


.


Usia kehamilan Clara sudah menginjak Bulan kelima perut nya yang ramping pun sudah terlihat membuncit.


Dion yang kini sedang memanjakan istri nya tersebut sedang duduk di sofa dengan Clara yang tidur diatas pangkuan nya. Semakin bertambah usia kehamilannya Clara semakin manja dengan Dion. Kadang tak jarang ia harus tidak bekerja karna istrinya tidak ingin jauh darinya.


"sayang jika aku terus tidak bekerja aku tidak nyaman dengan Dev"ucap Dion seraya mengusap rambut istrinya


."aku akan berbicara pada nya, bukan kah ka Dev memperbolehkan mu untuk libur"ucap Clara membuat Dion sedikit lelah karna sikap Clara


"tetap saja aku tidak nyaman, Dev memang kakak mu tetapi di kantor dia adalah bos ku jadi aku tidak boleh semena mena"ucap Dion membuat Clara mengubah posisi nya menjadi duduk lalu menatap tajam suaminya itu


"pergilah"ketus Clara ia menjauhkan tubuh nya dari Dion. Melihat tingkah Clara membuat Dion mendengus kesal namun tetap sabar


"bukan begitu sayang"ucap Dion berusaha merayu istrinya


"pergilah bekerja kau memang lebih mementing kan pekerjaan dari pada aku"bentak Clara mata nya sudah berkaca kaca menahan air mata nya yang ingin keluar


"sayang kenapa kau marah aku hanya"Dion menghentikan ucapan nya saat mendengar tangisan kecil dari istrinya itu. Dion mengambil udara sebanyak banyaknya kemudian membuangnya dengan kasar. Ia menarik istrinya kedalam pelukannya berusaha menenangkan wanita tersebut


"maafkan aku"ucap Dion seraya mengecup kening Clara


"ayo kita ke kamar kau harus beristirahat"ajak Dion kemudian menuntun istrinya kembali ke kamar