DEVDAS

DEVDAS
Merinding



Pesta pernikahan berjalan dengan lancar hingga di pengujung acara, para tamu sudah berangsur-angsur pulang dan ruangan luas itu terlihat sepi.


Dasya duduk di depan kaca rias seraya melepas gaun yang melekat di tubuhnya, terasa gerah dan lelah itulah yang dirasakan oleh wanita itu.


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Dasya terkejut dan melihat kearah pintu. Terlihat Dev yang baru saja masuk segera melepaskan kemeja pengantin nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dasya yang melihat Dev yang acuh tak acuh padanya membuat wanita itu sedikit sesak dan lega secara bersamaan.Karena lelaki itu tidak lagi marah padanya namun dihatinya ia menginginkan Dev yang saat itu memeluk nya erat seakan tak ingin jauh dari nya.


Setelah beberapa menit Dev keluar dengan handuk yang menggantung di pinggang nya. Lelaki itu melihat Dasya yang tengah berusaha melepas gaun nya yang sedikit kesusahan. Ia berjalan mendekat dan meraih gaun tersebut dan melepas kancing nya hingga Dasya terkejut dibuatnya.Tubuhnya merinding karena sentuhan yang Dev berikan.


"cepat lah mandi, kita akan ke apartemenku" perintah Dev dengan cepat Dasya mengangguk dan berjalan ke kamar mandi.


.


.


Keduanya sudah berada di apartemen milik Dev.


"tidurlah di kamar sebelah" ucap Dev kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"huh untung saja" Dasya menghembuskan nafasnya merasa lega


"aku pikir dia akan melakukan nya di apartemen miliknya"ucap Dasya


"melakukan apa" tiba tiba Dev menyahut dari dalam kamarnya hingga membuat wanita itu terkejut


"astaga dia mendengarnya" gumam Dasya dengan sedikit was-was


"apa yang kau katakan tadi?" tanya Dev kembali namun sekarang lelaki itu sudah berdiri di depan pintu kamar nya.


"mmm tidak ada aku tidak mengatakan apa apa, ya sudah aku kekamar dulu selamat malam" ucap Dasya dengan cepat ia berlari ke dalam kamar yang berada di samping kamar milik Dev.


"wanita aneh" ucap Dev lalu kembali masuk ke kamar nya.


Di dalam kamarnya Dasya masih memegang jantungnya yang terasa ingin melompat keluar.


"huh kenapa dia menakutkan seperti itu" ucap Dasya ia pun membaringkan tubuh nya yang terasa lelah ke atas tempat tidur dan tak butuh waktu lama ia pun sudah terlelap.


Keesokan harinya,Dasya bangun terlebih dahulu membersihkan diri dan menuju dapur.


Ia membuka lemari es untuk melihat bahan makanan untuk sarapannya dan juga Dev yang sudah berstatus suaminya.


setelah memasak nasi goreng dan Omelet karena hanya itu bahan bahan yang ada ia pun berjalan menuju kamar Dev.


"Dev" panggilnya namun tak ada sautan dari dalam sana.


ia membuka pintu yang tak terkunci itu dan masuk kedalam kamar Dev.


Terlihat lelaki itu masih terlelap, Dasya membangun Dev namun lelaki itu masih betah dengan tidur nyenyak nya.


"Dev bangun" panggil Dasya hingga kedua mata Dev terbuka


"apa yang kau lakukan disini" Dev terkejut refleks menjauh kan tubuhnya


"aku hanya ingin membangunkan mu" ucap Dasya


"keluar, aku sudah bilang jangan masuk kamar tanpa seizinku" bentak Dev membuat Dasya kesal


"kenapa jadi dia yang marah" gumam Dev, dan beranjak untuk membersihkan diri.


.


.


Setelah sarapan kedua nya sudah berada di dalam mobil milik Dev.


sesekali lelaki itu melirik ke arah Dasya yang masih terlihat kesal.


tidak ada yang memulai pembicaraan keduanya hanya diam hingga mereka sampai di tempat tujuan.


Dasya langsung keluar dari mobil dan berjalan kedalam rumahnya.


"tidak tahu terima kasih" umpat Dev ia pun ikut menyusul Dasya untuk menemui mertua nya.


"kenapa kau ikut masuk" ketus Dasya saat melihat Dev yang berjalan di belakang nya


"aku ingin bertemu dengan paman dan bibi apa urusan nya dengan mu" ucap Dev dengan wajah datar nya.


"untuk apa? kau ingin mengadu ku yang tidak tidak" tuduh Dasya


Dev berjalan mendekati Dasya membuat wanita itu sedikit memundurkan langkahnya


"pikiran mu itu kotor sekali, pantas saja kau menyakiti adikku" ucap Dev seraya meletakkan telunjuknya ke dahi milik Dasya.


"huh,yang ada pikiran mu yang selalu buruk kepada orang lain"ucap Dasya lalu mendorong Dev


" lebih baik kau pulang saja"ucap Dasya dengan masih mendorong tubuh Dev yang sama sekali tidak bergerak.


Dengan cekatan Dev menarik Dasya ke dalam pelukannya saat kedua orang tua Dasya melihat mereka.


"tidak apa apa aku hanya tinggal sebentar" ucap Dev dengan suara yang tiba tiba lembut di telinga Dasya membuat wanita itu yang tadinya memberontak seketika terdiam dan menatap Dev.


"Dev, Dasya, kalian kemari?" tanya Gino yang berjalan di samping istrinya .


"eh paman bibi" ucap Dev seraya melepas pelukan nya


"kalian baru saja menikah sudah manis begitu" ledek Clairin membuat kedua pengantin baru itu malu.


"mamah papah" seru Dasya seraya berjalan memeluk Clairin


"hei, kau sudah menikah, kenapa masih bersikap manja" ucap Clairin.tangan nya mengusap punggung putri nya itu.Namun Dasya hanya diam.


"Dev ayo duduk" pinta Gino pada menantunya.dengan segera Dev mendudukkan tubuh nya di sofa.


"bagaimana rencana bulan madu kalian?" tanya Gino seketika membuat Dasya dan Dev membulatkan kedua mata mereka.


"kami belum memikirkannya paman" ucap Dev


"kami sudah tua, secepatnya kalian memberikan cucu untuk kami" ucap Gino lalu tertawa


"bulan madu? memikirkannya saja membuat ku merinding" batin Dasya. Ia menatap Dev yang duduk di depannya membuat pandangan mereka bertemu.


"bulan madu? aku belum yakin akan itu, aku bisa saja menerkamnya di manapun jika aku mau" batin Dev seraya menampilkan smirk miliknya