
hari hari berganti semuanya berjalan dengan normal seperti biasanya kedekatan David dan Dasya membuat kedua keluarga merasa bahagia.
Aurel yang saat itu dirawat di rumah sakit sudah pulang 2 hari yang lalu ia pun menjadi akrab dengan Raga . kedua nya sering bertemu saat jam makan siang.seperti hari ini Aurel dan Raga makan siang di kafe yang berada di dekat kantor Tama.setelah selesai keduanyqa pun kembali bekerja.
"sepertinya kau semakin dekat dengan lelaki tadi" ucap Tama saat memasuki ruang kerja Aurel membuat wanita itu terkejut dibuatnya.
"tentu saja dia lelaki yang baik" ucap Aurel dengan tersenyum
"terserah kau saja,tetapi jika kau dicampakkan seperti dulu jangan datang padaku lagi" ucap Tama lalu keluar dari ruang tersebut meninggalkan Aurel yang berdiri mematung.
"bagaimana jika kau yang mencampakkan ku?" batin Aurel lalu kembali ke meja kerjanya.
.
.
.
.
flashback on
saat itu sedang diadakan pesta dansa dikampus dimana setiap mahasiswa harus memiliki pasangan untuk berdansa.
Aurel dan kekasihnya yang bernama Brave sedang menikmati hidangan yang telah disediakan keduanya sangat terkenal sebagai couple goals di kampus
dimana saat itu Aurel masih berpenampilan normal yang membuat mata semua lelaki tertuju padanya terkecuali Tama.
"sayang aku pergi ke toilet sebentar" ucap Brave . wanita itu hanya mengangguk
beberapa menit pesta akan dimulai namun Aurel masih belum melihat Brave kembali ia pun memutuskan untuk menyusul kekasihnya itu.
setibanya ditoilet Aurel mencari keberadaan Brave tanpa sengaja ia melihat Brave dan wanita lain sedang berciuman membuat Aurel terkejut lalu pergi dari pesta itu Brave berusaha mengejar Aurel yang saat itu berlari melewati pesta
Tama yang melihat Aurel menangis sembari berlari keluar memutuskan untuk mengikuti wanita itu.
ia melihat Aurel dan Brave sedang bertengkar
"Aurel maafkan aku" mohon Brave Aurel hanya diam sambil menangis
"aku tidak bermaksud untuk selingkuh tetapi wanita itu yang menyukai ku" ucap Brave
namun tiba tiba ia tersungkur ke tanah karena Tama datang lalu memukul wajah Brave
"brengsek apa yang kau lakukan" umpat Brave seraya mengusap darah yang keluar dari bibirnya
"kau berselingkuh,aku sudah mengingatkan mu waktu itu jangan sekali kali menyakiti Aurel jika tidak kau akan berhadapan dengan ku" teriak Tama diwajah Brave seraya menarik baju yang dikenakan lelaki itu dan hendak memukulnya lagi
"Tama jangan lakukan itu kumohon" ucap Aurel wanita itu masih menangis dengan memegang lengan Tama menahan amarah lelaki itu.
"pergilah dan jangan perlihatkan wajah berengsek mu itu" ucap Tama lalu mendorong Brave dengan cepat Brave pergi meninggalkan Tama dan Aurel
Tama membawa Aurel kedalam pelukannya membiarkan wanita itu menangis
saat ini Aurel sudah tenang tidak ada lagi airmata yang mengalir di wajah cantiknya.
"terima kasih" ucap Aurel
"jangan berurusan dengan lelaki lelaki berengsek seperti itu lagi" ucap Tama masih diselimuti amarah
"maafkan aku karena tidak mendengarkan mu waktu itu" ucap Aurel
Tama menarik nafas dalam lalu mengeluarkan nya untuk meredakan amarahnya.
keduanya kembali terdiam
"kenapa kau kemari bukan kah kau akan berdansa?" tanya Aurel
"tidak, aku tidak memiliki pasangan" ucap Tama
"mengapa?" tanya nya lagi
"lalu wanita seperti apa yang kau inginkan?" tanya Aurel kembali
"wanita yang sederhana dan baik hati" ucap Tama membuat Aurel tertawa pelan
"selera mu lucu sekali,tetapi aku pikir sudah tidak ada wanita seperti itu lagi di zaman ini" ucap Aurel
"kau benar,tapi aku yakin wanita seperti itu masih ada untukku" ucap Tama kemudian keduanya kembali terdiam.
flashback off
seperti biasa Dev disibukkan dengan berkas berkas yang menumpuk di mejanya seakan tumpukan itu tidak sedikitpun berkurang.
"permisi tuan diluar ada tuàn David ingin bertemu" sekretaris Dev datang dan memberitahu bahwa David datang untuk menemuinya
"suruh dia masuk" ucap Dev lalu kembali fokus pada pekerjaannya
"apa kau sibuk Dev?" tanya David yang baru saja masuk keruangannya
"mmm Dion tida bekerja lagi karena Clara sehingga aku yang harus menanganinya sendiri" ucap Dev
"ada apa ka David menemuiku?" tanya Dev sembari menuntun David untuk duduk di sofa.
"ada yang ingin aku bicarakan" ucap David lalu memberikan stopmap yang diberikan Dev padanya saat itu
"apa ini?" tanya Dev
"itu adalah sertifikat rumah sakit papah dia ingin aku mengambil alih rumah sakit itu" ucap David
"lalu?"
"Dev kau tau aku bukan siapa siapa disini aku hanyalah anak yang orang tua mu temukan di jalanan,aku tidak pantas menerima ini semua,ini adalah hak mu Dev" ucap David. Dev hanya diam.
"Dev aku tidak mau mengambil hak mu yang kedua kalinya lagi sudah cukup dulu aku_" belum sempat David menyelesaikan kalimatnya Dev terlebih dulu memotongnya
"ka aku sudah melupakannya dan aku tidak keberatan karena itu aku sudah nyaman bekerja di perusahaan ini yang telah aku bangun dari nol aku tidak mau mengungkit itu lagi,kau sudah ku anggap seperti kaka kandung ku sendiri" ucap Dev David terdiam
"aku sudah mengubur keinginan ku menjadi seorang dokter dan aku tidak menyalahkan kakak atas itu semua anggap lah ini jalan kita yang sudah diatur oleh Tuhan" ucap Dev
"ku mohon jangan pernah berpikir kau telah mengambil hak ku sebagai dokter,kau sudah menjadi dokter yang hebat dan aku bangga padamu" ucap Dev
Keduanya berdiri dan saling memeluk
"maafkan aku" ucap David Dev hanya menggeleng lalu tersenyum
"sudah pergilah aku sangat sibuk" ucap Dev membuat David tersenyum
"kau mengusir ku?" tanya David
"bukan begitu, kau pasti memiliki banyak pasien, jadi pergilah jadilah dokter yang bertanggung jawab" ucap Dev lalu menepuk bahu David
"baiklah aku akan pergi,mampirlah kerumah sakit" ucap David
"baiklah aku akan berkunjung saat aku tidak sibuk" ucap Dev
David pun beranjak pergi kembali kerumah sakit.
"bukan hanya 2 kak tetapi 3" ucap Dev penuh dengan makna ia merutuki hidup nya yang terasa kurang beruntung.
.
.
.
.
judul nya aku ganti biar lebih nyambung aja sama ceritanya
semoga suka jangan lupa tinggalkan jejak kaliaannn😘😘