
Dasya dan Dev kini sudah berada di dalam mobil mereka memutuskan untuk pulang.
"Dev, ini kan bukan jalan kearah apartemen mu" ucap Dasya saat sadar arah jalan pulang mereka berbeda.
"kita akan ke suatu tempat" ucap Dev
sesampainya,Dev menghentikan mobilnya di depan rumah mewah.
"Dev,rumah siapa ini?" tanya Dasya
"rumah kita" ucap Dev membuat Dasya terkejut.
"rumah kita?sejak kapan kau membeli rumah?" tanya Dev
"sudah lama ,semenjak perusahaan ku berkembang aku membangun rumah dengan uang seadanya" ucap Dev
"ayo masuk" ajak Dev. Keduanya pun masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Dev, apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kita berdua" ucap Dasya saat melihat selak beluk rumah tersebut memang tidak sebesar rumah keluarga nya dan keluarga Dev tapi mereka baru saja menikah dan sudah memiliki rumah sebesar ini.Itu tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
"setiap sudut rumah ini akan kita buat kenangan dengan anak-anak kita nanti" ucap Dev hingga membuat Dasya ingin menangis.
"ayo kita ke kamar"ajak Dev.
Mereka memasuki kamar yang cukup luas terdapat tempat tidur yang besar mungkin cukup untuk bermain tinju,pikir Dasya.
" Dev ini terlalu berlebihan"ucap Dasya
"tidak,ini bahkan belum selesai semua,aku akan membuat kolam berenang di halaman belakang" ucap Dev membuat Dasya melongo
"sekalian saja kau buat taman bermain"ucap Dasya. keduanya tertawa.
" kapan kau ingin pindah kesini?"tanya Dasya
"terserah kau saja"jawab Dev
" bagaimana kalau minggu depan"seru Dasya
"baiklah kita akan berbulan madu disini" ucap Dev yang hanya di jawab anggukan oleh Dasya
"maaf, aku tidak bisa mengajakmu bukan madu di liar kota atau di luar negeri karena perusahaan sedang ada masalah" ucap Dev
"tidak apa apa Dev" ucap Dasya
"ayo kita kembali ke apartemen aku akan pergi ke kantor lagi" aja Dev Dasya pun mengangguk.
"Dev" panggil Dasya keduanya menghentikan langkah mereka
"ada apa?" tanya Dev
"bisa kah kau tidak usah kembali ke kantor" pinta Dasya. Dev terdiam lalu tersenyum
"baiklah aku akan menghubungi sekretaris ku nanti"ucap Dev seketika wajah Dasya kembali ceria dan langsung memeluk tubuh suami nya itu.
" ayo kembali ke kamar"ajak Dev dengan tersenyum.
"kenapa kembali ke kamar?" tanya Dasya
"tidak ada" dengan sekejap Dev mengangkat tubuh istrinya itu masuk ke dalam kamar kembali.
"Dev turunkan aku" seru Dasya saat tubuh nya melayang
Dev menurunkan Dasya di atas tempat tidur dan menatap wajah Dasya lekat lalu ******* bibir istrinya itu.
"Dev"namun lelaki itu tetap melanjutkan aktivitas nya melucuti pakaian yang dikenakan istrinya.
.
.
Keduanya berbaring di atas tempat tidur dengan nafas yang masih tak beraturan.
" kau ingin memiliki anak berapa?"tanya Dev
"mmm seperti nya satu cukup" ujar Dasya
"itu terlalu sedikit" tolak Dev tak setuju "3 atau 4 itu baru cukup" lanjut Dev
"itu terlalu banyak Dev, aku ingin satu saja" kekeh Dasya
"punya banyak anak itu menyenangkan" ucap Dev seraya mengecup bibir Dasya.
"terserah kau saja" Dasya tak ingin melanjutkan perdebatannya
"bagaimana kabar ka David dan istrinya ya, mereka bulan madu lama sekali" ucap Dasya, membuat Dev terdiam.
"kau ingin bulan madu?" tanya Dev
"kau kan sedang banyak pekerjaan,lain waktu saja" ucap Dasya lalu memeluk suaminya itu.
"seperti ini juga menyenangkan" ucap Dasya kembali. Dev membalas pelukan istrinya itu dan mengecup keningnya.
.
.
.
.
Hubungan Dasya dan Dev semakin mesra keduanya saling merindukan jika Dev tugas di luar kota.
Seperti saat ini, Dasya tengah menunggu kedatangan Dev dari Paris.
beberapa minggu yang lalu Dev berangkat ke Paris karena harus menemui klien nya disana.
Ponsel Dasya begetar ia yakin itu pesan dari Suaminya.
085289xxx
"maaf lama tak menghubungi mu aku sangat sibuk mengurus suami mu"
Pesan yang dikirim oleh no yang saat itu mengirimnya pesan singkat beberapa bulan yang lalu. ia pikir itu hanya orang iseng saja tapi ia yakin ada seseorang yang berusaha menyakiti suaminya.
kau siapa?
Dasya membalas pesan itu karena penasaran
085389xxx
"kau melupakan ku? akan ku buat kau mengingatku seumur hidupmu"
Dasya semakin penasaran orang di balik pesan singkat itu. Ia mengurung niat nya untuk membalas pesan tersebut dan menghubungi suami nya.
"Halo Dev kau dimana?" tanya Dasya
"sepertinya kau sangat merindukanku"
"Deeevv" rengek nya
"aku sedang dalam perjalanan kerumah,tunggulah sebentar lagi"
"baiklah, hati hati"
Dasya memutuskan sambungan telepon nya perasaan nya terasa lega setelah mengetahui keadaan Dev.
"aku harus mencari tau siapa orang yang terus mengganggu ku" gumam Dasya.
Ponsel Dasya berdering terlihat nomor yang tak dikenal.
"siapa ini?" gumamnya ia pun menekan ikon berwarna hijau di layar ponsel nya.
"hai Dasya , ini aku Tama "
"Tama,aku pikir siapa"
"maaf ini nomor baru ku karena ponsel ku hilang saat di Jepang"
"oh begitu"
"ayo kita bertemu, aku sangat merindukanmu"
"benarkah?" Dasya tertawa "baiklah kita bertemu di house kafe di dekat rumah ku akan ku kirim alamat nya padamu".
" baik lah see you baby"
sambungan telepon keduanya pun terputus.Dasya mengganti baju nya dan menuju ke kafe yang berada tak jauh dari rumah nya.
"Hai maaf menunggu" ucap Tama yang baru saja datang
"tidak masalah, bagaimana kabarmu?" tanya Dasya
"kabar ku baik bahkan sekarang sangat baik karena bertemu denganmu" goda Tama membuat keduanya tertawa.
"dimana Aurel apa dia tidak ikut dengan mu?"
"oh dia masih di Jepang, dia akan kembali minggu depan" ucap Tama lalu tangan nya memegang tangan Dasya membuat wanita itu terkejut dan menarik tangan nya.
"Dasya aku sudah lama memendam nya dan sekarang aku yakin ingin mengatakannya" ucap Tama. Dasya tau apa yang akan Tama katakan. Bagaimana mungkin ia mengatakan dia sudah menikah pasti lelaki itu sangat terluka.
"mm Tama aku_" Ponsel Dasya tiba tiba berdering
"baiklah aku akan pulang" ucap Dasya saat menerima telepon yang tak lain dari Dev.
"maaf Tama aku harus pulang"
"aku akan mengantarmu" tawar Tama
"tidak perlu rumah ku berada di sekitar sini aku tak ingin merepotkanmu" tolak Dasya membuat Tama sedikit kecewa.
"sampai ketemu lagi" seru Dasya seraya melangkah menjauhi kafe tersebut.
Tama berdiri mematung lalu mengeluarkan benda yang berbentuk kotak yang didalam nya terdapat cincin.
"huh mungkin besok saja" ucap Tama lalu beranjak pergi.
.
.
.
.
.
.