DEVDAS

DEVDAS
Begitu Takut



suasana menjadi tegang, keluarga Wilfred sudah berkumpul di rumah sakit seraya menunggu dokter yang menangani Clara.


Sedangkan Dasya, ia duduk di samping Tari yang tengah memeluknya.Wanita itu masih saja menangis.


"sudahlah sayang, ini hanya kecelakaan saja" bujuk Tari berusaha menenangkan calon menantunya itu.


"kecelakaan bagaimana dia sengaja mendorong Clara, aku melihat nya sendiri" Teriak Dev emosi


"Dev kendalikan dirimu" ucap Arya. Dev hanya memalingkan wajahnya.


Seketika Dokter keluar dari ruang UGD.


"dok bagaimana keadaan istri saya?*tanya Dion panik.


" mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan calon bayinya karena benturan yang sangat keras"ucap Dokter. Bagai di sambar petir disiang bolong Dion merasa kaki nya lemas untuk bersiri saja tidak mampu.Ia masuk untuk melihat keadaan istrinya.


Air Mata lelaki itu tak jarang keluar namun ia tepis kan ia harus kuat karena yang paling kehilangan adalah istrinya.


Ia menatap wanita yang sangat ia cintai itu mengusap rambutnya hingga kedua bola mata Clara terbuka.


"Sayang,kau sudah sadar?" ucap Dion ia tersenyum.


"Dion,anak ku" Clara memegang perutnya yang tidak lagi besar


"anakku dimana" histeris Clara ia memegang kerah baju suaminya.


"sssttt tenang lah anak kota sudah tenang disana" ucap Dion tenang.


"tidak, aku ingin anakku kembali" teriak Clara. Dion hanya memeluk istrinya itu untuk menenangkan nya


"Dion anak kita" isak Clara. Kedua nya sangat terluka karena kehilangan anak pertama mereka.


diluar sana.


Dasya melihat kesedihan Dion dan Clara dan penyebab nya adalah dirinya sendiri. ia kembali terisak dan memutuskan untuk pergi ke toilet.


ia menangis sejadi jadi nya merasakan sesak di dadanya.


Hingga seorang pria memberikannya sapu tangan.


"ini untukmu, hapus air mata mu itu jangan menangisi orang seperti mereka" ucap lelaki itu kemudian pergi.


Dasya tak bergeming dan kembali menangis.


Tiba tiba tangan nya di tarik dengan kasar oleh Dev yang baruasuk ke toilet.


"apa kau puas hah, apa kau puas" teriak Dev


"aku tidak tau apa yang kau pikirkan, kenapa kau tega menyakiti adikku, apa salah nya padamu" bentak Dev. Dasya hanya menangis seraya menundukkan wajahnya tak berani menatap Dev yang di selimuti amarah.


"aku tidak akan membiarkan masuk semakin dalam di keluarga ku" ucap Dev melemah kemudian berlalu pergi.


Dasya merosot kan tubuhnya semakin menangis.


1 minggu Kemudian


Clara sudah mulai membaik dan sudah di perbolehkan untuk pulang namun tetap saja ia masih merasa sedih atas kehilangan anak mereka.


Sedangkan Dasya wanita itu terus dihantui rasa bersalahnya ia tak berani menemui Clara dan juga Dion.


"pah aku tidak ingin menikah dengan Dasya" ucap Dev yang tengah berhadapan dengan ayahnya. tamparan keras mendarat di pipi kiri lelaki itu.


"jangan mempermainkan nama baik keluarga kita, 1 minggu lagi kalian akan menikah" bentak Arya. ia tidak habis pikir putra nya menyalahlan Dasya atas kecelakaan Clara.


"tapi dia yang sudah membuat Clara terluka, aku tidak ingin menikah dengannya" kekeh Dev.


"kau sendiri yang ingin menikah dengan Dasya waktu itu, lalu sekarang kau ingin memutuskannya, papah tidak habis pikir kau begitu pengecut" ucap Arya lalu meninggalkan putra nya itu.Dev hanya membuang kasar nafas nya yang terasa sesak.


flashback


Di ruang utama keluarga Wilfred Dev dan ayah nya sedang duduk di sofa seraya meminum kopi dan kue kering yang tersaji di atas meja.


"apa yang ingin kau bicarakan nak?" tanya Arya


"pah, jika ka David membatalkan pernikahan nya dengan Dasya apa aku boleh menggantikannya?" tanya Dev tanpa ragu.Namun tidak dengan Arya wajahnya begitu terkejut saat mendengar David akan membatalkan pernikahannya dengan putri sahabatnya itu.


Arya menyentuh Dada nya yang terasa berdenyut.


"papah baik baik saja?" tanya Dev kemudian mendekati ayah nya.


"papah baik baik saja" ucap Arya. ia menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya.


"kenapa David membatalkan pernikahannya,dan darimana kau tahu?" tanya Arya


"Ka David sudah memiliki kekasih dan kekasih nya sedang hamil" ucap Dev ia sedikit takut penyakit ayah nya akan kambuh.


"Ya Tuhan David" ucap Arya seraya menyandarkan punggung nya di sofa ia mengatur nafas nya yang tersenggal-senggal.


"lalu apa hubungan mu dengan Dasya?" tanya Arya


"aku hanya ingin menjaga nama baik keluarga kita saja pah, karena keluarga Wijaya pasti akan merasa kecewa dan persahabatan papah dengan paman Gino akan merenggang nantinya" ucap Dev


"Ya sudah, papah akan membicarakannya dengan Gino" ucap Arya membuat senyum terukir di wajah Dev.


flashback off


.


.


.


Saat ini Dasya berada di depan apartemen milik Dion. Ia sengaja ingin mengunjungi Clara dan meminta maaf.


Dasya menekan tombol apartemen kemudian pintu di buka menampilkan Dion yang berdiri di depannya.


"Dasya, lama tak bertemu" ucap Dion santai,sedangkan wanita itu merasa sedikit takut.


"hey, ada apa dengan waja mu itu?" tanya Dion saat melihat wajah sahabat nya itu yang terlihat tegang


"siapa sayang?" tiba tiba Clara muncul di balik pintu.


"Ka Dasya" ucap Clara seraya memeluk wanita itu membuat Dasya terkejut.


"aku sangat merindukanmu, beberapa hari ini aku tidak ada teman untuk mengobrol" ucap Clara. Dasya hanya menatap Dion dan Clara secara bergantian merasa bingung karena sikap mereka biasa biasa saja setelah kejadian beberapa minggu lalu.


"ayo masuk" ajak Clara menuntun Dasya untuk menuju ruang tamu


"Clara aku_"


"Ka Dasya, lupakan kejadian itu aku tahu kau tidak sengaja dan aku sudah mengikhlaskan nya mungkin Tuhan masih belum percaya padaku" ucap Clara memotong ucapan Dasya.


"benar Sya, kau tidak perlu merasa bersalah lagi,kami sudah melupakannya" ucap Dion.Ada rasa lega di hati Dasya saat mendengar penuturan Dion dan Clara.


"sekali lagi maafkan aku" ucap Dasya seraya memeluk Clara


"tidak apa apa kak" ucap Clara membalas pelukan Dasya kemudian keduanya melepaskan pelukan mereka masing masing.


"oh ya ka, minggu depan kan pernikahan kaka dengan Ka David, bagaimana persiapannya?" tanya Clara. Dasya bungkam ia tak memikirkan pernikahannya dengan Dev yang ia tahu lelaki itu sangat membencinya setelah kejadian itu, ia tidak tahu lagi nasib pernikahannya nanti.


"ka Dasya" panggil Clara membuyarkan lamunan Dasya


"eh, mmm semuanya sudah selesai 80% tinggal menentukan tema dekor nya saja" ucap Dasya memaksakan senyumnya.


"aku tidak sabar ka Dasya akan menjadi kaka ipar ku nanti" seru Clara membuat ketiga nya tertawa.


.


.


.


Hari hari berlalu begitu cepat Seorang wanita berdiri di depan cermin dengan gaun pernikahan membalut tubuh indahnya.ia menatap pantulan diri nya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi setiap wanita dimana ia akan menjadi seorang istri dan memulai kehidupan barunya.


"sayang" panggil wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya.


"ayo kita turun kebawah,mempelai pria nya sudah menunggu" ucap nya


Dasya. Ya wanita itu adalah Dasya ia mulai berjalan ke arah altar dengan di dampingi seorang pria yang tak lain adalah Gino ayah nya.


Gino memberikan lengan Dasya kepada calon menantunya yaitu Dev.


pengucapan janji suci sudah dimulai dengan dipimpin oleh pendeta.


pernikahan yang begitu megah dan mewah dengan tamu tamu penting dari keluarga Wilfred maupun dari keluarga Wijaya.


pernikahan di gelar begitu meriah dan dipenuhi oleh kebahagian, namun tidak dengan kedua mempelai.


Mereka masih memikirkan perasaannya masing-masing.Kebencian yang Dev berikan begitu kentara di matanya membuat Dasya membayangkan bagaimana nasib pernikahannya nanti.


"Ya Tuhan aku begitu takut mencintainya" batin Dasya


"Ya Tuhan aku begitu takut membencinya"batin Dev kedua nya saling menatap seakan ada sesuatu yang membisik di telinga mereka.


.


.


.


" *I Hate You But I Love You*"