DEVDAS

DEVDAS
Temani Aku



"tidak bisa, dia akan kembali ke jerman besok" ucap Aurel namun Tama tak menghiraukannya.


Dion,Clara dan Dev menatap ke arah Tama dan Dasya yang sibuk dengan dunianya sendiri.


"baiklah aku akan bertemu dengan nya sendiri" ucap Aurel lalu beranjak pergi. Tama menatap kepergian Aurel namun kembali mengobrol dengan Dasya.


Menyadari tatapan Kakak nya yang begitu tajam seakan ingin menghajar lelaki yang sedang berbicara dengan Dasya, Clara mencari alasan agar kakak nya itu tidak lepas kendali.


"ahh, Dion perut ku terasa sakit ayo kita pulang" ucap Clara hingga membuat Dasya yang saat itu sedang asyik mengobrol teralihkan kepada Clara.


"sayang kau baik baik saja ayo kita ke dokter" panik Dion


"tidak aku ingin pulang saja" pinta Clara


"baiklah ayo kita pulang" Dion menuntun Clara untuk keluar dari restoran.


Dasya yang menatap Dev seakan tau maksud lelaki itu.


"Tama aku pulang dulu kita akan mengobrol lain waktu lagi" ucap Dasya


dengan berat hati Tama mengiyakannya padahal ia ingin lebih lama mengobrol dengan Dasya.


"baiklah, kau harus membalas pesan ku nanti" ucap Tama dengan cepat Dev menari lengan Dasya untuk segera pergi seraya memberi tatapan tajam kepada Tama namun lelaki itu hanya acuh.


"sampai ketemu lagi" ucap Dasya lalu berjalan menyusul Dev yang berjalan didepannya.


Di dalam mobil, Dasya dan Dev saling diam tidak ada yang memulai pembicaraan,. Hingga mereka sudah sampai di depan rumah mewah milik keluarga Wijaya.


"cepat keluar" ucap Dev dengan nada dingin membuat Dasya menjadi heran namun dengan cepat ia turun dari mobil lelaki itu.


setelah Dasya keluar, Dev dengan segera menancapkan gas nya meninggalkan Dasya dengan seribu pertanyaan.


"kenapa dia tiba tiba menjadi dingin" gumam Dasya lalu memasuki rumah.


.


.


.


sore hari,Dasya sedang bersiap-siap karena ia sudah berjanji pada Tama untuk menonton bersama.


Namun saat ia hendak masuk ke dalam mobil nya ia melihat mobil Dev yang masuk ke pekarangan rumah nya.


"kau ingin pergi kemana?" tanya Dev yang sudah turun dari mobilnya.


"aku ingin menonton bioskop" jawab Dasya


"dengan siapa?" tanyanya lagi


"Tama, aku sudah berjanji padanya" ucap Dasya "kau ada apa kemari?" tanya Dasya


"mamah ingin menemui mu" jawab Dev


"tapi aku harus pergi" ucap Dasya


"baiklah kapan-kapan saja tapi aku harus ikut dengan mu" seru Dev. Dasya berpikir sejenak


"baiklah ayo" ajak Dasya ingin masuk kedalam mobilnya


"pakai mobil ku saja" ucap Dev. Dasya pun mengiyakan kemudian masuk kedalam mobil milik Dev.


.


.


sesampainya,Tama sudah menunggu kedatangan Dasya namun dikejutkan dengan Dev yang berjalan di belakang Dasya.


"Tama,maaf lama menunggu" ucap Dasya


"tidak masalah,apa dia juga ikut menonton bersama kita?" tanya Tama seraya menatap Dev yang juga menatapnya.


"kenapa,apa kau keberatan?" ucap Dev dengan datar.


"ya sudah ayo kita masuk" ucap Tama tanpa menghiraukan pertanyaan Dev membuat lelaki itu kesal dibuat nya.


Mereka bertiga sudah duduk di bangku kosong seraya menunggu flm ditayangkan.


Dev kesal karena Dasya lebih asyik mengobrol dengan Tama tanpa menghiraukannya. Ia beranjak dari tempat duduk nya kemudian berpindah diantara Dasya dan Tama membuat keduanya menjadi kesal.


"Dev apa yang kau lakukan?" tanya Dasya dengan kesal


"tidak ada, disitu sangat tidak nyaman"ucap Dev tanpa menoleh kearah Dasya.


Tama yang melihat Dev duduk di sebelahnya membuat lelaki itu ingin menghajar Dev.namun ia urungkan.


suasana menjadi hening karena flm segera di mulai.


Dev seketika terkejut karena ternyata flm yang akan ditayang kan adalah flm horor membuat wajah nya menjadi keringat dingin tangan nya menjadi gemetar namun ia berusaha bersikap tenang dengan mengepalkan kedua tangan nya.


"Dev kau baik baik saja?" tanya Dasya saat melihat Dev yang berkeringat dengan wajah yang begitu tegang


"tidak ada" ucap Dev berat. Dasya kembali menghadap ke arah layar dengan menyentuh lengan Dev yang di kepalkan membuat Dev sedikit merasa tenang.


.


.


.


Beberapa jam kemudian mereka sudah keluar dari bioskop untuk pulang.


"Tama aku pulang dulu sepertinya Dev tidak baik baik saja" ucap Dasya ia khawatir karena sedari tadi Dev tidak berhenti berkeringat dan tangannya terasa dingin tatapan nya selalu menatap lurus kedepan.


"baik lah sampai ketemu besok" ucap Tama. Dasya memegang lengan Dev menuntunnya masuk kedalam mobil.


"Dev apa kau benar baik baik saja?" tanya Dasya kembali Dev menatap Dasya seraya mengangguk ia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya kemudian masuk ke dalam mobil untuk mengantar Dasya pulang.


.


.


.


"hallo Clara, ada apa?" tanyanya


"Ka Dasya cepatlah kemari ini tentang Ka Dev"


"ada apa dengannya"


"lebih baik kau kemari saja"


"baiklah aku akan bersiap terlebih dulu"


sambungan telepon terputus Dasya segera bersiap karena ia khawatir pada Dev.


"astaga, ada apa dengan nya" gumam Dasya


.


.


.


sesampai di Apartemen Dion, Dasya segera masuk kedalam.


"Clara ada apa dengan Dev" ucap Dasya panik


"sebenar nya apa yang terjadi tadi malam?" tanya Dion


"iya Kak tadi malam ia merengek untuk tidur di temani Dion" ucap Clara membuat Dasya terkejut.


Benar , tadi malam setelah mengantar Dasya pulang Dev menuju ke apartemen Dion . Ia memaksa Dion untuk menemaninya tidur membuat Clara dan Dion kesal.


"mmm tadi malam kami menonton flm horor di bioskop" ucap Dasya seketika Clara terkejut


"Ka Dasya, apa kau tau, Ka Dev Trauma flm yang berbau horor" ucap Clara membuat Dasya tersentak


"tapi dia tidak mengatakannya" gumam Dasya ia menjadi merasa bersalah pantas saja ia melihat lelaki itu begitu ketakutan.


"Dev tidak bisa tidur tadi malam jadi ia masih belum bangun" ucap Dion Dasya segera menghampiri Dev di dalam kamar.


Ia melihat Dev yang tertidur pulas, ia merasa sangat bersalah pada lelaki itu.


tiba-tiba Dev mengigau seperti sedang bermimpi buruk.Dasya berusaha membangun lelaki itu dengan menggerakkan kedua bahu Dev


"Dev bangun lah" ucap Dasya ia menyentuh wajah Dev yang terus menggelengkan kepalanya.


"Dev" seru Dasya seketika Dev membuka kedua matanya. Dasya masih masih menyentuh wajah Dev memberikan ketenangan kepada lelaki itu.


"Dev" panggil Dasya lelaki itu seketika memeluknya. Dasya mengusap rambut Dev.lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya kepada Dasya.


"maaf" gumam Dasya namun Dev hanya diam .


"kenapa kau tidak bilang jika kau tidak suka menonton flm horor" Dasya melepaskan pelukan mereka. Dev menatap mata biru Dasya dan memeluknya kembali.


"kau harus bertanggung jawab" ucap Dev


"bertanggung jawab? jelas-jelas itu kesalahanmu" bantah Dasya tak terima.


"tapi kau yang mengajakku"


"kau sendiri yang ingin ikut dengan ku"Dasya menjauhkan tubuhnya dari Dev karena kesal


" aku tidak mau tau"ucap Dev lalu menarik Dasya ke pelukannya hingga keduanya menjadi terbaring di tempat tidur.


"temani aku tidur, karena semalam aku tidak bisa tidur karena mu"ucap Dev seraya menenggelamkan wajahnya pada Dasya yang juga terbaring menghadapnya.


" kenapa jadi aku"gumam Dasya namun ia tak bergeming ia membiarkan Dev memeluknya. meskipun jantungnya sudah ingin keluar dari tempat nya karena tak bisa berdetak dengan normal.


"Dasya" panggil Dev ia menghirup bau farfum khas milik Dasya yang menenangkan baginya.


"ada apa?" tanya Dasya ia menatap wajah Dev membuatnya semakin gugup karena wajah lelaki itu begitu dekat dengannya.


"detak jantung mu sangat cepat, apa kau berlari saat menuju kesini?" tanya Dev membuat Dasya kesal


"dasar bodoh, itu karena kau memelukku" ingin saja Dasya mengatakannya namun ia menelan nya begitu saja.


"entahlah" ketus Dasya membuat Dev memalingkan wajah nya menatap Dasya.


"apa kau gugup karena aku memeluk mu" tebak Dev seketika Dasya bungkam.


"sudah tau kenapa kau bertanya" lagi lagi Dasya ingin meluncurkan kata kata kasar untuk Dev.


"aku tidak tau" ketus Dasya "katanya kau ingin tidur, cepat lah aku ingin pergi bekerja" ucap Dasya dengan nada kesal


"disini saja temani aku, tidak usah bekerja" perintah Dev ia semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat wanita itu merasa sesak.


Dasya terdiam, ia sangat senang bisa menemani Dev tapi ia masih bingung dengan perasaan Dev padanya ia takut cinta nya bertepuk sebelah tangan dan pastinya kalian tahu itu sangat menyakitkan.


"kenapa kau diam?" tanya Dev saat melihat Dasya yang tak kunjung berbicara atau mengomentari ucapannya tadi.


"tidurlah aku akan menemanimu" ucap Dasya membuat Dev menarik sudut bibirnya.


.


.


.


.


.


"Takdir begitu rumit


Hingga kau tak mengerti jalan pikirnya"


[mntalya]