DEVDAS

DEVDAS
nomor siapa ini?



keesokan harinya,


Dev lebih dulu terbangun,ia menatap wajah istrinya yang masih terlelap,karena kelelahan melayaninya tadi malam.Mengingat apa yang mereka lakukan membuat nya tersenyum dan mengecup kening istrinya.


Dev meraih ponsel nya untuk memeriksa pesan masuk dari sekretarisnya dan meletakkan nya kembali lalu beranjak ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit Dev sudah selesai membersihkan diri ia melihat istrinya yang masih tidur dengan posisi yang sama.Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian kerjanya untuk ia kenakan.


Setelah selesai, ia berjalan mendekati istrinya.


"aku harus memanggilnya apa? sayang,baby,sweety.arggh itu menjijikan" gumam Dev


"hei bangun lah" seru Dev seraya menggoyang kan tubuh Dasya.


"eeghh" Dasya melenguh karena tidur nya terusik


"bangun, ini sudah hampir siang" ucap Dev kembali hingga kedua mata Dasya terbuka sesekali mengerjapkannya untuk mengumpulkan kesadaran.


"Dev kau sudah rapi?" tanya Dasya seraya menggosok matanya.


"kau ini kebo sekali" ucap Dev


"apa masalahnya, itu semua karena kau sendiri" kesal Dasya seraya mengubah posisi nya menjadi berdiri menyejajarkan posisinya dengan suaminya itu.


"kau mau apa?" tanya Dev saat melihat Dasya mendekat kearahnya.


"diam lah" perintah Dasya .


Wanita itu mengambil alih dasi yang tak terikat dengan rapi di kemeja suaminya itu lalu mengikatnya kembali dengan sangat rapi.


"mengikat dasi saja tidak bisa" ledek Dasya.Namun Dev hanya diam menatap Dasya.


"kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Dasya.


"tidak ada, hanya ada kotoran di matamu" ucap Dev membuat wanita itu kesal.


"Dev!" Dasya memukul dada lelaki itu namun sang empu hanya terkekeh.


Tiba-tiba ponsel milik Dev berbunyi dengan segera ia menyambungkan teleponnya lalu meletakkan nya kembali ke kantong celananya.


"aku akan pergi kekantor hari ini, tunggu aku pulang aku hanya sebentar" ucap Dev.


"aku juga ingin ke kantor, kasihan papah jika mengurusnya sendiri" ucap Dasya


"kau tidak perlu bekerja lagi,aku sudah cukup memenuhi kebutuhan kita" ucap Dev


"tapi_"


"aku tidak ingin dianggap tidak mampu membiayai mu karena kau bekerja,aku seorang CEO jadi bersikap lah menjadi istri dari CEO DW' Compeny" ucap Dev


"huh terserah kau saja" ucap Dasya


"ya sudah aku berangkat dulu" pamit Dev kemudian ingin melangkah keluar kamar.


"Dev" panggil Dasya membuat lelaki itu menghentikan langkah nya.


Dasya berjalan mendekati Dev lalu mengecup pipi kiri lelaki itu membuat tubuh Dev menegang.


"hati hati" ucap Dasya dengan malu, lalu berlari dengan cepat menuju ke kamar mandi.


Dev hanya tersenyum lalu kembali melangkah keluar.Ia terpaksa harus bekerja hari ini padahal ia masih memiliki cuti untuk beberapa hari ke depan tapi sekretaris nya memberitahu bahwa perusahaannya sedang dalam masalah dan ia harus turun tangan sendiri.


Setelah membersihkan diri Dasya ingin membuat Makan siang untuk Dev.


Namun ponsel nya berbunyi.


085289xxx


"aku sudah kembali"


"nomor siapa ini?" gumam Dasya saat melihat pesan singkat dari orang yang tak dikenal.Ponsel nya kembali bergetar.


085289xxx


"selamat atas pernikahanmu"


Dasya hanya membacanya tanpa niat untuk membalas. Ia pun berjalan menuju dapur untuk memasak.


.


.


Setelah selesai memasak Dasya menyiapkan makanan ke dalam rantang untuk makan siang Dev.


"aku akan mengantarnya,pasti dia belum makan siang" ucap Dasya dengan tersenyum lalu masuk kedalam kamar untuk bersiap siap ke kantor suaminya itu.


Kini Dasya sudah bersiap siap ia membawa rantang yang sudah ia siapkan tadi lalu masuk kedalam mobil nya.Namun ponselnya kembali begetar. Dan matanya seketika membulat sempurna saat melihat foto yang dikirim oleh nomor yang sama.Foto Pernikahan mereka yang dirobek menjadi dua memisahkan dirinya dengan Dev dan ada tinta merah di foto yang ia yakini adalah darah.Dengan tangan gemetar ia meletakkan ponselnya ke dalam tas dan melaju kan mobilnya.


Sesampainya,Dasya langsung berlari menuju ruang kerja Dev.


Setelah sampai ia langsung masuk ke dalam ruang kerja suaminya dan terlihat Dev yang juga ingin keluar dari ruang kerja nya.


"Dasya kau disini" ucap Dev. Dasya menghela nafas lega keringatnya bercucuran karena berlari.


keduanya masuk bersama Dasya langsung memeluk Dev yang sedang bingung melihat tingkah aneh istrinya.


"kau kenapa?" tanya Dev namun Dasya hanya menggeleng. Tiba Tiba suara riuh dari bel tanda ada kecelakaan berbunyi begitu nyaring.Membuat semua orang begitu panik.


Dasya dan Dev segera berlari keluar melewati tangga darurat mengikuti semua karyawan yang lain dengan panduan petugas keamanan.


"Tuan terjadi kecelakaan di Lif karena Lif nya terjatuh langsung ke lantai satu" ucap petugas keamanan melaporkan pada Dev


"ada berapa karyawan di dalam nya" tanya Dev


"ada 3 orang Tuan semuanya terluka parah"


"baiklah bawa mereka ke rumah sakit segera" perintah Dev.


Dasya yang berdiri di samping Dev merasa takut bayangan foto tadi membuat nya semakin ketakutan.Ia memegang lengan Dev dengan erat.


"tidak apa apa" ucap Dev seraya mengusap punggung istrinya itu untuk menenangkan nya.


.


.


.


"Tidak berguna" bentak seorang lelaki pada lelaki lainnya yang merupakan anak buahnya.


"maaf tuan saya sudah menjamin Dev yang akan menggunakan lif itu tapi tiba tiba seorang wanita datang membuat Dev kembali keruangan nya."


"bukankah aku sudah bilang, jangan memberitahu Dasya soal itu, kau lihat sendiri wanita itu yang menggagalkan rencana kita. Apa kita harus membunuhnya juga?" ucap wanita yang berada di samping lelaki itu.


"jangan berani kau sentuh wanitaku atau kau akan kehilangan nyawamu" ancam lelaki itu membuat Wanita disampingnya merasa kesal.


"kau sudah di buta kan oleh Cinta" sinis wanita itu lalu pergi.


"kau keluarlah lanjutkan tugas mu dan awasi Dev setiap waktu jika ada kesempatan bunuh dia di tempat" ucap lelaki itu


"baik tuan" anak buah nya langsung keluar dari ruangan nya


"Dasya kau bahkan tak mengingatku saat bertemu di rumah sakit saat itu" ucap Nya dengan tersenyum sinis


"mereka terlalu kejam untukmu dan aku tidak ingin mereka menyakitimu" ucap nya lagi dengan tertawa keras.


.


.


Dev membawa istrinya kembali ke apartemen untuk menenang wanita itu.


"Dasya kau yakin baik baik saja" tanya Dev


"aku baik baik saja Dev hanya sedikit syok" ucap Dasya


"kita kw apartemen Dion kau bisa mengobrol dengan Clara nanti" ajak Dev Dasya hanya mengangguk dan keduanya pun menuju apartemen Dion.


Sesampainya,Dion langsung mempersilahkan kakak iparnya itu untuk masuk.


"ka Dasya" seru Clara dan langsung memeluk wanita itu.


"aku pikir kalian sibuk berbulan madu" ledek Dion


"clara ajaklah Dasya ke kamar aku ingin mengobrol dengan Dion" pinta Dev. Clara langsung menuntun Dasya untuk masuk kekamarnya.


"Ada apa Dev seperti nya sangat serius" ucap Dion


"ada masalah di kantor,salah satu karyawan membocorkan rahasia perusahaan sehingga perusahaan sedang dalam keadaan tidak aman" ucap Dev dengan serius membuat Dion sedikit terjut.


"bagaimana bisa? bukankah keamanan perusahaan sudah sangat ketat" ucap Dion tak percaya


"seperti nya ada musuh dalam selimut" ucap Dion


Flashback


Dev sedang sibuk dengan berkas berkas tentang pembocoran perusahaannya. Hingga ponsel nya tiba tiba berdering


"hallo tuan ada masalah di lantai 3 mohon tuan segera datang" ucap Lelaki dari sebrang sana.


Dev memutuskan sambungan teleponnya dan hendak beranjak keluar namun ia di kejutkan oleh kedatangan Dasya.Dan tak selang beberapa menit Lif yang akan ia gunakan terjatuh.


Flashback off


.


.


"lalu kita harus bagaimana?" tanya Dion


"kita lihat permainan mereka dulu" ucap Dev dengan smirknya.


Ia sudah mengantisipasi semua nya dia bukan orang bodoh yang mudah ditipu.


Bermain dengannya sama saja kau sedang menyalakan api di badan sendiri.