DEVDAS

DEVDAS
Dia Masih Marah



"Dev" Dasya merasa tak percaya Dev mengikutinya.


Lelaki itu berjalan menghampiri mereka dan dengan sekejap Dev menarik kerah baju yang dikenakan Tama dan memukul wajah lelaki itu hingga tersungkur.


Dev menarik Tama untuk berdiri lalu memukulnya lagi membuat darah segar keluar dari sudut bibir Tama.


"Dev apa yang kau lakukan, lepaskan Tama" teriak Dasya saat melihat Dev memukul Tama hingga wajah lelaki itu penuh dengan lebam.


Dev menghempas kasar Tama hingga lelaki itu terjatuh.


"Tama" teriak seorang wanita yang ternyata juga berada di dalam restoran itu yang tak lain adalah Aurel.


Wanita itu menghampiri Tama yang tergeletak dilantai hang berusaha untuk berdiri.


"Lelaki ini teman SMA mu hah Apa dia teman SMA yang kau katakan itu" teriak Dev dengan penuh amarah yang membuat Dasya sedikit menciut.


"Dev aku_"


"apa urusan mu dengan Dasya kau tidak berhak mengaturnya" ucap Tama


"Dia istri ku jadi aku berhak mengaturnya dan aku ingatkan jangan pernah menganggu Dasya lagi" ancam Dev namun tak membuat keberanian Tama menciut ia masih tak percaya lalu menatao kearah Dasya seolah meminta penjelasan.


"Tama aku sudah menikah, maafkan aku" ucap Dasya yang membuat Tama tak bergeming.


"Dasya kau bercanda kan?" tanya Tama masih tak percaya dan berjalan mendekati Dasya namun Dev kembali memukul wajah nya


"Dev cukup" Dasya menahan Dev agar lelaki itu berhenti memukul Tama


"nona Dasya sebaiknya kau ajak suami mu pulang" ucap Aurel seraya merangkul Tama yang masih tersungkur di lantai.


Dasya menarik paksa Dev agar keluar dari tempat itu dan membawanya pulang.


Dirumah.


"Dev aku_


" kau tidak perlu berbohong untuk bertemu dengan lelaki itu"ucap Dev menyela


"Dev aku hanya takut jika kau marah" Dasya berusaha menjelaskannya pada Dev namun lelaki itu masih di selimuti amarah.


"Aku tidak marah jika kau jujur padaku" ucap Dev lalu meninggalkan Dasya menuju kamar.


Dasya menyesal karena telah berbohong seharusnya ia katakan jika ia ingin bertemu dengan Tama dan kejadian ini tidak akan terjadi.


.


.


Di lain sisi, Aurel membawa Tama ke Apartemen milik lelaki itu dan mengobati luka diwajahnya.


"kau sangat bodoh" ucap Aurel dengan wajah datar nya


Ya,Aurel baru saja kembali ke Indonesia dan langsung menemui Tama.


Namun Tama tiba tiba meminta bantuan nya dan ia tidak tau jika Tama ingin melamar Dasya. Saat di restoran tadi melihat Tama berlutut mengatakan perasaannya membuat hatinya hancur berkeping-keping. kehadirannya selama ini tak pernah membuat Tama jatuh cinta padanya.


Selesai mengobati luka Tama ia langsung berpamitan untuk pulang.


Ia menangis sejadi-jadinya dikamar miliknya menumpahkan rasa sakit yang selama ini ia tahan.ianmeringkuk memeluk kedua lutut nya dan menangis dengan terisak.


"kau jahat Tama" isaknya ia merobek foto Tama yang ia miliki.


Sedang kan Tama lelaki itu masih tak bergeming seakan tak menerima kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia cinta menikah dengan orang lain.Sungguh rasanya ia ingin menangis.


.


.


.


Wanita itu mengetuk pintu kamar Dev seharian lelaki itu tak keluar dari kamarnya.


"Dev" panggil Dasya namun tak ada sahutan dari dalam sana.


Karena Dev tak kunjung membuka pintunya membua Dasya menyerah lalu berjalan ke kamar sebelah selera nya untuk makan tiba tiba hilang dan ia memutuskan untuk tidur saja.


Dev menatap langit langit kamar nya dengan tatapan kosong mengingat seorang lelaki yang melamar istrinya di depan mata mya sendiri membuat darahnya kembali berdesir.Di tambah lagi Dasya telah membohonginya semakin membuat hati nya terasa sakit.Ia berusaha menutup kedua matanya agar malam cepat berlalu.


.


.


.


.


.Keesokan harinya,Dasya terbangun dari tidur dan beranjak keluar untuk menghampiri Dev tapi saat berada dikamar lelaki itu Dasya tak menemui Dev di kamarnya.Dasya berjalan kearah dapur terlihat seorang pelayan sedang membersihkan meja makan.


"Bi apa Dev sudah berangkat bekerja?" tanya Dasya


"iya nyonya, Tuan berangkat pagi pagi sekali" ucap pelayan itu


Dasya menghembuskan nafasnya.


"Dia masih marah" gumam Dasya lalu masuk kembali ke kamarnya


"bahkan dia tidak berpamitan padaku" ucap nya lalu duduk di tepi tempat tidurnya dan mengambil ponselnya mencoba menghungi suaminya itu.


"kenapa dia tak mengangkatnya" ucap Dasya kesal.


Tiba tiba ponsel nya berdering dengan antusias Dasya mengangkat nya namun yang menelpon bukan lah orang yang ia harapkan


"hallo Tama"


"Dasya kemarin_"


"Tama maafkan aku karena tidak memberitahumu"


"bisa kah kita bertemu lagi"


Dasya sedikit berpikir ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Tama. Lelaki itu adalah sahabat nya ia tak tega jika menyakiti perasaannya


"baiklah aku akan mengirim alamat nya" ucap Dasya lalu mengirim alamat untuk tempat mereka bertemu.


.


.


"Dasya kapan kau menikah?" tanya Tama


"4 bulan yang lalu" Tama menghela nafasnya ia terlambat mengungkapkan perasaannya.


"Aku tidak bisa menghubungimu saat itu maafkan aku" lanjut Dasya


"lupakan, aku tidak ingin membuat mu merasa bersalah atas perasaan ku, aku akan berusaha melupakanmu" ucap Tama dengan tersenyum


"baiklah aku pulang dulu aku takut jika Dev mengetahui kita bertemu" ucap Dasya hendak berdiri namun kepala nya terasa sakit hingga membuat tubuh nya oleng dengan cepat Tama memegang tubuh Dasya agar tidak terjatuh.


"Dasya apa kau baik baik saja?" tanya Tama khawatir.


"tidak, aku baik baik saja" ucap Dasya lalu beranjak pergi.


Tama menatap kepergian Dasya


"ku harap aku bisa melupakanmu Dasya" gumam Tama