DEVDAS

DEVDAS
Biar Waktu Yang Menentukannya



Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara dengkuran halus dari dua sejoli yang saling memeluk.


Dasya yang awalnya hanya ingin menemani Dev tidur akhir nya ikut terlelap bersama lelaki itu.


Hingga suara telepon berbunyi yang berasal dari telepon milik Dev membuat wanita itu terbangun dan mengangkat teleponnya.


"Halo Dev, kau dimana? kau tidak ke kantor?" suara lelaki dari seberang sana yang tak lain adalah Andre.


"maaf Dev sedang tidur" ucap Dasya seketika Andre dibuat terkejut pasalnya yang mengangkat teleponnya adalah seorang wanita.apa kah Dev sedang bermain dengan wanita pikirnya


"kau siapa?" tanya Andre merasa penasaran


"aku_" belum sempat menjawab Dev seketika membuka kedua matanya


"siapa?" tanya Dev namun Dasya tidak menjawab ia memberikan ponsel itu kepada pemiliknya


"Ada apa?" ketus Dev


"Dev, kau dimana,dan siapa wanita itu,kau sedang bermain wanita ya" tuduh Andre membuat Dev merasa kesal.


"bukan urusanmu" Dev memutuskan sambungan teleponnya dengan sepihak membuat Andre di seberang sana mati karena penasaran.


"lain kali jangan mengangkat teleponku tanpa seizin ku" ketus Dev membuat Dasya menjadi sedikit takut.


"maaf, aku tidak tega membangunkan mu"ucap Dasya seraya menatap mata milik Dev yang terasa begitu teduh.


" ya sudah ayo tidur lagi"ajak Dev seraya menarik pinggang Dasya hingga keduanya terbaring.


"tidur lagi? kau yakin ingin tidur seharian?" tanya Dasya


"kalo dengan mu kenapa tidak" jawab Dev membuat jantung wanita itu semakin berdetak dengan cepat.Hingga kedua nya saling menatap tidak ada diantara keduanya ingin memutuskan tatapan mereka . Dev dan Dasya seakan tenggelam pada tatapan mereka masing-masing dengan jantung yang sudah ingin meloncat keluar.


Dev mendekatkan wajah nya seraya menatap bibir Dasya. wanita yang tau arah tatapan Dev seakan tau apa yang lelaki itu ingin kan.


Hingga bibir keduanya saling menyentuh . tidak ada lumatan keduanya masih diam merasakan geleyar geleyar aneh di tubuh mereka.


Merasa tidak ada penolakan Dev menggerakkan bibirnya mencium bibir bawah Dasya hingga membuat wanita itu mengerang.


Namun ketukan dari luar dan teriakan Clara yang begitu memekikkan telinga membuat keduanya saling menjauh menyadarkan diri masing masing.


"Kak Dev jangan macam-macam dengan kak Dasya, ingat kalian belum menikah" teriak Clara dari luar seraya terkekeh sedangkan suaminya hanya tersenyum melihat kejahilan istrinya itu.


"Sial" umpat Dev membuat keduanya merasa canggung.


"mengganggu saja" kesal Dev lalu menjauh kan tubuh nya dan berjalan ke arah pintu.


Dev membuka pintu dan menampilkan wajah datar nya membuat sang Adik ingin tertawa.


"Dev ada apa dengan wajah mu?" tanya Dion seolah tak tau


Namun Dev hanya diam dengan wajah nya yang masih diam memberikan tatapan tajam pada Adiknya dan sahabat nya itu dan sialnya sudah menjadi adik ipar nya.


Menyadari Dev yang terlihat sangat kesal Dion mengajak istrinya untuk pergi karena takut ia yang akan di hajar oleh Dev.


"sayang,lebih baik kita kemar sekarang" ajak Dion sesekali melirik ke arah Dev yang masih menatapnya dengan tajam.


"tapi aku ingin bertemu dengan Ka Dasya" ucap Clara seraya melihat ke dalam kamar namun terhalang oleh tubuh Dev.


"sepertinya Dasya ada keperluan dengan Dev, lebih baik kau bertemunya nanti saja ya" bujuk Dion dan akhirnya Clara hanya mengangguk lalu mengikuti suaminya itu. Namun sebelum itu Dion membisikkan sesuatu di telinga Dev.


"nikmati waktu mu kawan, kalian akan menikah beberapa minggu lagi, ku rasa kau boleh melakukanya jika kau tidak tahan" bisik Dion yang membuat Dev semakin merasa kesal dan melayangkan tangan nya di kepala Dion membuat sang empu meringis.


"jaga mulut mu atau ku cabut lidah mu itu" teriak Dev bukan nya takut Dion malah tertawa seraya meninting lengan istrinya untuk pergi.


"Dion sialan" umpat Dev seraya masuk ke dalam kamar nya kembali.


"Ada apa Dev?" tanya Dasya saat melihat Dev kembali membaringkan tubuh nya di tempat tidur seraya menarik selimut menutup seluruh badannya.


"Dev" panggil Dasya.


"Diamlah, jika kau tidak ingin aku berbuat lebih" ucap Dev di balik selimut.


"ada apa dengan nya" heran Dasya lalu beranjak dari tempat tidur.


"kau ingin pergi kemana?" tanya Dev seraya mengibak selimut yang menutupi tubuhnya.


"aku ingin keluar" jawab Dasya seketika tangan nya di tarik oleh Dev hingga ia jatuh di atas tubuh Dev.


Kedua nya hanya diam tidak ada yang ingin beranjak dari posisi yang sangat intim itu. Hingga Dev merasa sesak di bawah sana lalu mendorong tubuh Dasya hingga wanita itu terjatuh dari ranjang.


"aaahhh" Dasya merasakan kram di bokongnya karena terbentur lantai.


"ma- maaf aku tidak sengaja" ucap Dev seraya membantu Dasya untuk berdiri.


"kau ini kenapa?" tanya Dasya kesal dengan mengusap bokongnyayang masih sakit.


"tadi kau bersikap baik sekarang kau sagat menyebalkan" kesal Dasya lalu keluar dari kamar tersebut.


Dev yang menatap kepergian Dasya hanya mendengus kesal.


"Dion,akan ku bunuh kau nanti" geram Dev yang merasa tubuhnya menjadi panas.


"hah. seperti nya aku tidak boleh terlalu dekat dengan Dasya atau aku akan kehilangan akal" gumam Dev seraya menarik rambutnya frustasi.


.


.


Dasya kembali ke ruang tamu dan disana terlihat Dion dan Clara yang sedang bermesraan.


"apa aku harus menjadi pengganggu" gumam Dasya


"ka Dasya kemarilah" panggil Clara saat melihat wanita itu.


"kenapa kau keluar?" tanya Dion dengan mengulum senyum.


"aku ingin pulang" jawab Dasya


"kenapa? apa Dion terlalu kasar?" tanya Dion lalu tersenyum lebar.


"aku tidak tau apa maksud mu, dan jangan tersenyum menyebalkan seperti itu, aku akan merobek mulut mu nanti" kesal Dasya seraya tangannya bergerak seakan benar benar ingin merobek mulut lelaki itu.


"kenapa kau jadi sangat galak seperti itu, aku hanya bercanda" ucap Dion lalu tertawa lepas saat melihat wajah Dasya yang memerah.


"kak, kenapa kau jadi ingin pulang, apa ka Dev jahat padamu?" tanya Clara


"tidak, bukan begitu" elak Dasya


"padahal aku ingin mengajak ka Dasya untuk pergi ke mall karena baju ku semuanya kekecilan" ucap Clara. Dasya sedikit berpikir.


"baiklah ayo, aku juga ingin berbelanja" seru Dasya membuat Clara menjadi girang.


"aku akan bersiap" Clara langsung memasuki kamarnya untuk bersiap siap.


"Sya bagaimana hubungan mu dengan Dev?" tanya Dion yang masih tak bergeming dari tempatnya.


"mmm aku rasa baik baik saja" jawab Dasya


"aku mengenal Dion dari dulu Sya, dia sangat dingin dan tak tersentuh, lalu bagaimana kalian menikah tanpa cinta?" Ucap Dion seketika Dasya bungkam memikirkan setiap perkataan sahabat nya itu.


"biar waktu yang menentukannya, aku menerima perjodohan ini karena aku menyayangi orang tua ku" ucap Dasya


"apa kau mencintai Dev?" tanya Dion, Dasya hanya Diam tak ingin menjawab.


"Ka Dasya ayo" tiba tiba Clara datang dan Dasya mensyukuri itu.


"oh ayoo" seru Dasya


Dipojok sana Dev berdiri mendengarkan obrolan Dion dan Dasya. Ia memikirkan perasaannya.


"Dev kau tidak ikut?" tanya Dion , Dev berjalan melewati mereka membuat ketiga nya bingung.


"apa kita berangkat besok?" ucap Dev seketika mereka langsung kembali ceria dan memasuki mobil.


.


.


.


Sesampainya,mereka memasuki pusat pembelanjaan terbesar di kota.


mereka memburu barang-barang brandit.


Hingga mereka puas dan memutuskan untuk pulang.


"sudah selesai ayo kita pulang" ucap Dion lalu menggandeng lengan istrinya.


"sebentar, sepertinya ponsel ku ketinggalan" ucap Dasya seraya memeriksa tas nya.


"kenapa kau ceroboh sekali, menyusahkan saja" ucap Dev membuat Dasya mendengus kesal.


"aku akan mencarinya di tempat tadi" ucap Dasya lalu beranjak pergi.


"sayang, aku akan mencari minum untukmu dulu" ucap Dion saat melihat istri nya kelelahan.


"aku akan ikut" ucap Dev lalu keduanya pergi.


beberapa menit Clara merasa bosan.


"mereka lama sekali" ucap Clara seketika ia melihat Dasya berjalan mendekat.


"kenapa kau sendiri?" tanya Dasya


"Dion dan Dev sedang membeli minum, ayo kita duluan saja" aja Clara kedua nya pun berjalan hendak melewati eskalator. Tiba-tiba kaki Dasya tersandung dan tak sengaja mendorong Clara hingga terjatuh.saat bersamaan Dion dan Dev yang baru saja datang langsung terkejut.


"Clara" teriak Dasya


"Clara" teriak Dev dan Dion bersamaan kedua nya berlari ke arah Clara yang sudah berlumuran darah.


"Clara bangun" Dasya menepuk pipi Clara sambil menangis


"Clara" Dion langsung mengambil alih Istrinya


"sayang kau baik baik saja?" panik Dion


"Dion anakku" Clara memegang perutnya terlihat darah segar mengalir di kaki nya.


"astaga Tuhan" Dion langsung menggendong Istrinya dan membawa nya ke rumah sakit.


Dasya yang masih syok tak bergeming dari tempat nya airmata nya terus mengalir.


"apa yang kau lakukan hah" bentak Dev hingga suaranya menggelegar.Tangis Dasya memecah.


"Dev aku_" Dasya menangis hingga suara nya tak mampu ia keluarkan ia berjalan kearah Dev namun lelaki itu meninggalkan nya begitu saja.


"Ya Tuhan apa yang aku lakukan" isak Dasya ia melihat Darah milik Clara melekat di tangannya.


Sedangkan disisi lain.


"bagaimana apa kau sudah melaksanakan tugas mu?" tanya seorang lelaki kepada wanita di hadapannya.


"tenang saja kau bisa melihatnya nanti" ucap wanita itu hingga keduanya tertawa.