DEVDAS

DEVDAS
Jika untuk Mu



Dari luar terlihat Raga Andre dan Alex hendak memasuki ruang rawat Dasya namun Alex menghentikan langkah nya.


"Ada apa Al?" tanya Andre


"sekretaris ku menelpon aku akan menyusul nanti" jawab Alex lalu mengangkat teleponnya.


Raga dan Andre memasuki ruang rawat Dasya dan terlihat Dasya dan Dev sedang berpelukan.


"ehem,tolong hargai kami" ejek Raga membuat kedua sejoli itu melepas pelukannya nya.


"kenapa kalian kemari?" tanya Dev dengan wajah datar nya


"kenapa?kami hanya ingin melihat Dasya saja" ucap Raga seraya menaikkan turunkan kedua alisnya menatap Dasya.


"jangan menatap istriku seperti itu, akan ku keluarkan matamu dari tempatnya nanti" ancam Dev,dengan cepat Raga mengalihkan tatapannya.


"kau sangat over sekali" gerutu Raga.


"aku tidak menyangka kau yang akan menikah dengan Dasya, yang ku tahu Dasya tunangan ka David" ucap Andre


"jangan banyak bicara atau kalian akan ku usir dari sini" ancam Dev membuat kedua sahabatnya itu menciut.


"kenapa kau sensi sekali Dev" ejek Raga lalu keduanya tertawa.Dev hanya menghela nafas melihat kelakuan sahabat nya itu.


"Dimana Alex,apa dia tidak ikut bersama kalian?" tanya Dev saat melihat sahabat nya yang satu itu tidak terlihat.


"dia sedang menerima telepon, kau kan tau dia sedang berada di atas awan sekarang, banyak para pengusaha besar ingin bekerja sama dengannya" ucap Andre. Dev hanya mengangguk kemudian menatap istrinya.


"apa kepala mu masih sakit?" tanya Dev


"tidak, Dev aku ingin pulang" rengek Dasya manja


"baiklah aku akan menemui dokter terlebih dahulu" ucap Dev


"kalian jaga Dasya sebentar aku ingin menemui dokter" perintah Dev. Raga dan Andre hanya mengangguk.


"aku tinggal sebentar" pamit Dev. Dasya hanya mengangguk seraya tersenyum.


Dev pun berjalan keluar dan bertemu dengan wanita yang bersama Alex di Kafe tadi.Dev memalingkan wajah nya tak suka.


“Kau memang sangat menarik Dev"gumam Ketrin dengan tersenyum licik.


.


.


.


Dev dan Dasya sudah berada di Apartemen miliknya dengan cepat ia keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Dasya.


Wanita itu tersenyum melihat Dev yang begitu perhatian.


"kau tak perlu seperti ini Dev" ucap Dasya dengan memegang lengan suaminya itu.


"Tidak masalah jika untuk mu" ucap Dev lalu menampilkan senyumnya membuat Pipi Dasya merona.


"ayo masuk" ajak Dev lalu menuntun istrinya itu untuk masuk.


.


.


.


Raga kembali ke kantor nya namun ia menghentikan langkahnya.


"aku sudah lama tidak bertemu dengan Aurel" gumamnya dengan tersenyum.lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.


"hai apa kau sedang sibuk"


"...."


"apa kita bisa bertemu?"


"...."


"...."


Raga memutuskan sambungan teleponnya


"Yes" seru Raga dengan girang. Ia kembali masuk ke dalam mobilnya untuk menjemput wanita yang sidah membuatnya berbunga.


.


.


.


.


Aurel hendak keluar dari kantor nya bersamaan dengan Tama yang keluar dari ruangan nya.


"Kau mau kemana?" tanya Tama namun wanita itu mengacuhkannya.


"masih banyak pekerjaan kau tidak boleh kemana mana" ucap Tama membuat wanita itu menghentikan langkahnya.


"maaf Tuan sekarang sedang jam istirahat" ucap Aurel dengan formal membuat Tama mendelik heran.


"permisi tuan" pamit Aurel.Tama menatap Aurel yang berjalan menjauh.


"ada apa dengannya?" gumam Tama lalu berjalan keluar hendak menuju kafe.


.


.


.


"hai maaf membuat mu menunggu" ucap Aurel


"tidak masalah,aku juga baru sampai" ucap Raga lalu keduanya memesan kopi untuk menemani obrolan mereka.


"lama tidak bertemu, Bagaimana kabarmu?" tanya Raga


"kabar ku mmmm baik" ucap Aurel sedikit berpikir.


"kenapa ragu?" tanya Raga "kau sedang ada masalah?" tanya nya lagi


"tidak ada" jawab Aurel


"kapan kau kembali dari Jepang?" tanya Raga


"beberapa hari yang lalu, maaf tidak mengabari mu, pekerjaan ku banyak sekali" ucap Aurel.


"tidak masalah,yang penting aku bisa bertemu dengan mu hari ini" seru Raga lalu keduanya tertawa.


Sedangkan di pojok kafe terlihat seorang lelaki yang sedang mengawasi keduanya.


"Dia terlihat bahagia saat bersama lelaki itu,kenapa dengan ku" gumam nya saat merasakan sedikit nyeri di dadanya.


.


.


.


.


.


Kau akan merasakan kehilangan saat Dia sudah mulai berubah


[Mntlya]