
Saat ini Dasya sudah berbaring di tempat tidur yang sama dengan Dev.Dimana Dev begitu memaksanya agar tidak tudur dilantai.susunan bantal terbaris rapi di tengah-tengah keduanya.
"kau jangan sampai melewati batas" ancam Dasya ia menatap Dev yang belum terlelap.
"kau pikir aku akan melakukan apa?"tanya Dev tanpa menatap wanita itu " melihat mu saja sudah membuatku tidak berselera"Dasya begitu kesal karena penuturan Dev
"lalu bagaimana seleranya,apakah wanita seperti girl band korea?" pikir Dasya lalu memaksa memejamkan mata nya yang masih belum terasa ngantuk.sedangkan lelaki disampingnya sudah berada di alam mimpi.
Dasya menengok ke arah Dev yang tertidur lalu menatap ke arah sepatu Dev yang masih belum terlepas dari kakinya.
"sepatu nya saja belum sempat ia lepas" gumam Dasya lalu beranjak dari tidurnya. ia melepas sepatu yang masih melekat di kaki Dev dan menaruh nya di pojok kamar dan kembali ke tempat tidur merebahkan tubuh nya dan menutup kedua matanya.
Dev yang saat itu sudah terlelap membuka kedua matanya menatap ke arah Dasya yang sudah memejam kan matanya. Ada senyum yang terukir di wajah lelaki itu.ia mengubah posisi tubuh nya agar lebih leluasa memandang wajah Dasya.
"apa kau tau, aku mati-matian menahan untuk tidak menciummu" gumam Dev sertai senyuman.memandang wajah Dasya saat ini membuat nya ingin mencium bibir wanita yang berada di hadapan nya.Ia mendekatkan wajah nya menuju bibir manis Dasya dan mencium nya sekilas.
"sial" umpat nya lalu merebah kan tubuh nya kembali
"kau harus menahan nya Dev sebelum kalian menikah" Dev berbicara pada dirinya sendiri seraya menahan tubuh nya yang ingin meminta lebih.
"aku juga tidak akan melakukannya jika dia tidak menginginkannya" gumam Dev. Hati nya masih risau akan perasaan nya.
Dev menepis semua pikirannya biarlah waktu yang akan menyatukan mereka.
.
.
.
keesokan hari nya,Dion, Clara, Dasya dan Dev sedang menikmati sarapan mereka sebelum melakukan aktivitas mereka masing masing.
"bagaimana tidur kalian?" tanya Clara seraya tersenyum wanita itu ingin tau bagaimana malam kakak lelaki nya yang dingin itu saat tidur bersama wanita.
Dasya dan Dev hanya saling menatap lalu melepaskannya dan memasukkan makanan kedalam mulut mereka.
"Dasya, apa kakak melakukan sesuatu pada mu tadi malam?" tanya Clara membuat Dasya tersedak makanannya.
"tidak ada" ucap Dasya lalu menatap Dev yang bersikap biasa saja di sampingnya
"meskipun aku bermimpi Dev mencium ku tadi malam" batin Dasya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.
"apa Kak Dev mencium mu?" tanya Clara sontak membuat Dev terkejut kini giliran lelaki itu yang tersedak makanannya.
"apa yang kau bicarakan? cepat habis kan makanan mu atau aku akan memasukkan semua makanan itu ke dalam mulut mu yang cerewet itu" seru Dev membuat Clara menatap Dion seolah ia mengadu akan kelakuan Kakak nya pada suaminya itu.
"Dev jika kau tidak melakukan sesuatu kau harus bersikap biasa saja kenapa kau jadi marah" ucap Dion dengan senyum yang membuat Dev ingin merobek mulut lelaki itu.
"Diam lah Aku akan memotong mu seperti ini jika kau berbicara lagi" seru Dev seraya memotong roti di piring nya dengan pisau di tangannya. Membuat Dion sedikit takut dan kembali memakan makanan nya.
Sarapan pagi mereka begitu menegangkan seperti berada di wahana hantu saja. tidak ada satu pun yang berbicara karena takut Dev akan menyemprot mereka dengan kata kata yang tajam.
seusai sarapan mereka semua kembali keruang tamu dengan Clara yang duduk di pangkuan Dion.mereka kembali berbincang dengan di sertai canda yang di bua oleh Clara.
"berhubung ini hari minggu ayo kita berlibur ke wahana pasti seru" ajak Clara dengan girang
"Sayang kau sedang hamil besar ke tempat wahana pasti sangat berbahaya" seru Dion seraya mengusap wajah istrinya yang cemberut karena penolakannya.
"lebih baik kau diam di rumah saja ya" ucap Dion lembut. Clara mengangguk pasrah padahal dia ingin sekali berlibur keluar rumah karena ia merasa suntuk karena berada di dalam rumah seharian.
"Dion benar Clara, kau harus menjaga kandungan jangan terlalu lelah" ucap Dasya
"tapi aku sangat bosan berada di rumah seharian" Clara menundukan wajahnya.
"kau kan bisa mengajak Dion mengobrol atau bermain di rumah" ucap Dev yang ikut berbicara.
Clara semakin menundukkan kepala nya merasa kecewa semua nya selalu mengkhawatirkannya begitu berlebihan.
Dasya yang menyadari Clara yang terlihat kecewa tersenyum.
"bagaimana jika kita berbelanja keperluan bayi saja" seru Dasya sontak membuat Clara yang menunduk mendongakkan kepalanya
"tinggal dirumah terus pasti sangat membosankan" ucap Dasya.
"Kak Dasya benar sekali aku sangat bosan dirumah,dan sudah lama aku tidak pergi jalan jalan" seru Clara ia menatap Dion berharap lelaki itu mengizinkannya.
"mmm tidak buruk,tapi kami tidak tau bayi kami laki-laki atau perempuan" ucap Dion
"kita hanya akan membeli sekedarnya saja seperti tempat tidur bayi dan melihat Desain kamar bayi untuk anak kalian nanti" seru Dasya dengan girang. Clara yang mendengar ide cemerlang Dasya begitu senang.
"itu pemikiran yang bagus" seru Clara dengan senyum yang merekah
"baiklah kita akan pergi berbelanja hari ini, tapi ingat kau tidak boleh terlalu lelah" ucap Dion seraya menatap istrinya itu. Clara hanya mengangguk bahagia.
"Ya sudah ayo kita bersiap" ucap Dion menuntun istrinya kekamar untuk bersiap-siap.
Dasya yang menatap kedua pasangan tersebut tersenyum senang.
"kenapa" tanya Dasya heran saat Dev menatapnya.
"kau begitu senang seperti berbelanja keperluan bayi mu saja" ucap Dev membuat Dasya bungkam.
Dasya sangat menyukai hal yang berbau bayi makanya dia begitu senang untuk berbelanja keperluan bayi Clara dan Dion.
Dasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"itu karena aku menyukai bayi" ucap Dasya pelan namun masih dapat di dengar oleh Dev
"kalau membuatnya, apa kau menyukainya juga?" tanya Dev kini wajah nya tersenyum jahil.
"a-apa maksud mu?" Dasya begitu gugup hingga berbicara pun terbata-bata saat Dev semakin mendekatkan wajah nya.
"eheemm" suara deheman dari Dion membuat kedua nya terkejut dan menjauhkan tubuh mereka. Dasya dan Dev begitu malu hingga membuat wajah mereka menjadi merah.
"cepatlah menikah, sepertinya Dev sudah tidak sabar lagi" ledek Dion lalu tertawa disusul oleh Clara yang berdiri di samping nya.
Namun tawa mereka terhenti saat melihat tatapan membunuh dari Dev.
"kami sudah siap, ayo kita berangkat" seru Dion mengalihkan topik pembicaraan sebelum Dev menghajar nya.
.
.
.
.
sesampainya,mereka langsung berjalan ke arah perlengkapan bayi.Dasya dan Clara begitu senang saat memilih ayunan untuk calon bayi Dion dan Clara.
"aku tidak sabar melihat anakmu tidur di ayunan ini" seru Dasya lalu tersenyum lebar diikuti oleh Clara yang juga bahagia menantikan bayi nya lahir nanti.
Tatapan Dev terus mengarah pada Dasya yang asyik memilih perlengkapan bayi sesekali ia selipkan senyuman melihat tingkah Dasya yang menurutnya sangat menggemaskan.
setelah selesai berbelanja Mereka berempat kembali ke dalam mobil mereka untuk pulang.
"Dion aku lapar sekali ayo kita makan di restoran" ajak Clara. semua nya pun setuju dan menuju restoran untuk makan.
kini mereka sudah berada di meja yang telah di sediakan kemudian memesan makanan untuk mereka.
"apa kau lelah?" tanya Dion khawatir saat melihat Clara yang tiba tiba memegang perut nya..
"tidak, ku rasa bayi ku ikut senang karena tadi dia menendang perut ku" ucap Clara
"benarkah?" seru Dion lalu mendekatkan tangannya ke arah perut Clara seolah ingin merasakan tendangan calon bayi mereka
"kau benar dia menendang" seru Dion dengan bahagia.
Dasya dan Dev yang menatap kedua pasangan itu hanya diam.
"Clara sangat beruntung" batin Dasya hingga makanan yang mereka pesan sudah datang mereka pun mulai memakan makanan mereka.
Namun tiba-tiba Dasya dikejutkan karena seseorang memanggilnya.
"Dasya" suara lelaki terdengar memanggil namanya membuat mata mereka menuju kearah suara itu.
"Tama" seru Dasya ia berdiri menghampiri lelaki itu dan perempuan disamping nya yang ia yakini adalah Aurel.
"kau disini, dengan siapa?" tanya Tama
"bersama mereka" tunjuk Clara kearah meja yang mereka tempati.
"boleh kami bergabung?" tanya Tama
"tentu saja, ayo" ajak Dasya.
Tama dan Aurel duduk di meja bersama mereka namun Tama mendapati tatapan tajam dari lelaki di depannya yang tak lain adalah Dev. Namun ia mengacuhkannya lalu kembali berbicara pada Dasya.
Melihat Dasya yang asyik berbicara dengan Tama tanpa menyentuh sedikit pun makanan di depan nya Dev merasa kesal lalu mengambil makanan milik Dasya dan memakannya.
"Dev itu kan milikku kenapa kau memakannya" kesal Dasya saat melihat Dev memakan makanan nya
"salah sendiri kau tidak memakannya" ucap Dev seraya memakan makanan tersebut dengan lahap.
"menyebalkan" umpat Dasya
"Tama klien kita sudah menunggu" ucap Aurel membuka suara nya karena sejak tadi ia hanya diam menatap Tama yang begitu bahagia bertemu dengan Dasya.
"kita tunda saja dulu" ucap Tama tanpa sadar membuat tatapan tajam Dev menuju kearahnya.
"siapa lelaki ini?" gumam Dev merasa kesal ingin rasanya ia melempar lelaki itu ke luar dari restoran itu.