
Sesampainya, Dasya segera turun dari mobil Dev dan ingin masuk ke dalam rumah nya namun suara Dev menghentikan langkah nya
"Dasya" panggil Dev seraya turun dari mobilnya. Dasya membalikkan badan nya menghadap kearah Dev, melihat lelaki itu berjalan mendekatinnya membuat jantungnya berdetak begitu cepat.
"a ada apa?" tanya nya seraya menormalkan detak jantungnya yang terasa ingin keluar saat melihat Dev semakin dekat kearahnya
"aku ingin meminta maaf soal kejadian di mobil tadi, aku tidak ber_"Dev menghentikan ucapan nya saat Dasya memotongnya
" lupakan saja, ti tidak usah meminta maaf"ucap Dasya merasa gugup mengingat kejadian tadi membuat pipi nya menjadi panas.
"pulanglah, aku masuk dulu" pamit Dasya lalu meninggalkan Dev yang masih berdiri menatapnya
"astaga kenapa dia membahas kejadian tadi, jantungku," Dasya memegang jantungnya yang tidak bisa berdetak dengan normal
"rasanya aku ingin sesak nafas saat berdekatan dengan Dev" gumam Dasya kaki nya terus melangkah memasuki pekarangan rumahnya.
Dev terus menatap punggung Dasya hingga hilang dari pandangannya kemudian masuk kedalam mobil nya.
"kenapa aku jadi gugup seperti ini" gumam Dev seraya meletakkan tangannya ke dada kirinya
"jantung ku berdetak sangat cepat" gumam Dev lalu melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
malam hari,David masuk ke dalam kamar apartemennya, ia baru saja pulang dari rumah sakit.wajah lelah tertampang di wajah tampan nya.
Ia menjatuhkan tubuh nya di kasur seraya menatap kosong langit langit.
"Ya Tuhan, dia hamil" gumam nya dada nya terasa sesak mengingat kejadian dirumah sakit. ia berteriak berharap beban nya hilang bersama suaranya. air mata nya keluar begitu saja.
"aku tidak menyangka dia akan mengkhianati sampai sejauh ini" gumamnya lagi isakan tangis terdengar dari mulutnya.
Dilain sisi Dasya yang sedang duduk berselonjor di tempat tidurnya.
hati nya terasa bimbang ada kegelisahan di wajah nya.
"Ya Tuhan aku melupakan ka David,apa dia baik baik saja" pikirnya
"dasar bodoh ,bagaimana mungkin dia baik baik saja kekasihnya mengkhianati dia semenjak mereka masih bersama, lebih baik aku menghubunginya"ucap Dasya menjawab pertanyaannya sendiri
Dasya mengambil ponselnya lalu mencari nama David dan menghubunginya
" hallo ka David"ucap Dasya ia mendengar suara isakan tangis dari seberang sana
"apa kau baik baik saja?" tanya nya lagi ada sedikit kekhawatiran kepada lelaki itu
"Mmm aku baik baik saja" ucap David suara nya menjadi parau karena menangis
"oh baiklah aku hanya ingin menanyakan keadaanmu saja" ucap Dasya
"Dasya, apa aku boleh memintamu ke apartemenku" tanya David
"terima kasih aku akan mengirim untukmu alamat apartemenku dan passwordnya" ucap David.
"mm baiklah"kemudian mengakhiri sambungan telepon mereka.
Dasya bersiap bersiap untuk menuju ke apartemen David namun sebelum itu ia meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua nya.
sesampainya ia langsung menekan password apartemen milik David lalu melangkah masuk kedalam.
ia mengetuk pintu kamar David, lalu terbuka. terlihat wajah lusuh David dengan mata dan hidungnya yang memerah karena menangis.
David mengajak Dasya untuk masuk ke dalam kamarnya.
keduanya duduk di kasur milik David.
"ka apa kau_" Dasya di kejutkan dengan David yang tidur dengan membantalkan kepalanya di pangkuan Dasya.Keduanya terdiam Dasya membiarkan David dengan posisi tersebut lalu mengusap rambut David berharap lelaki tersebut tenang.
"Dasya apa kau pernah mencintai seseorang?" tanya David membuat Dasya bungkam
"mmm pernah" ucap Dasya dengan ragu
"apa kau pernah sakit hati?" tanya nya lagi membuat Dasya kebingungan untuk menjawabnya
" Kenapa mencintai seseorang bisa sesakit ini"ucap David ia kembali terisak seraya mengeratkan pelukan nya di pinggang Dasya .
Dasya menatap David yang menenggelamkan wajahnya di perut Dasya. Ia menyentuh wajah lelaki itu mengusap air mata yang mengalir keluar dari matanya.
"cinta terkadang memang sakit tetapi jika kita tulus mencintai seseorang akan ada saatnya cinta memberikan kebahagiaan untuk kita" ucap Dasya bijak ia menatap kosong ke arah lain seraya memikir kan seseorang yang saat ini masih mengganggu pikirannya lalu mengalihkan pandangannya ke arah David kembali yang ternyata juga menatap nya.
"kita harus terbiasa dengan rasa sakit itu, karena itu sudah biasa dalam cinta" Dasya masih menatap wajah David begitu juga sebaliknya
"sudah lah jangan menangis lagi, aku tidak ingin memiliki suami yang cengeng" ucap Dasya dengan melepaskan pandangannya membuat David terkékeh lalu mengeratkan kembali pelukan nya ditubuh wanita itu.
"tubuhmu sangat kecil" ucap David membuat wajah Dasya menjadi kesal
"tapi aku nyaman" David kembali bersuara membuat wajah Dasya yang awal nya kesal menjadi merah karena malu.
hening
Keduanya memikirkan perasaan mereka masing masing hingga terdengar suara dengkuran halus. Dasya melihat kearah David yang ternyata sudah terlelap.
"pasti dia lelah karena menangis" gumam Dasya lalu memindahkan tubuh David.
ia menyelimuti tubuh David dengan selimut lalu hendak menjauhkan tubuhnya namun tiba tiba lengan nya ditarik oleh David hingga wajahnya begitu dekat dengan wajah David yang masih terlelap. dengan cepat Dasya menjauhkan tubuh nya dari David.
ia memutuskan untuk pulang lalu melangkah keluar
"aneh, mengapa aku tidak merasakan hal yang sama saat aku berdekatan dengan Dev" gumam Dasya dengan memegang jantungnya yang tidak begitu berdegup kencang.berbeda saat ia dekat dengan Dev ia merasakan Jantung nya yang terasa ingin melompat keluar dari tubuhnya