
saat ini seluruh keluarga Wijaya dan Wilfred berkumpul dikediaman Wilfred. setelah mengetahui apa yang terjadi dengan David dan kekasih nya membuat Arya sedikit syok.
"pah" panggil David seraya menggenggam tangan Amel
"bicaralah sebelum papah menampar wajahmu" ucap Arya dengan cepat Tari menyentuh pundak suaminya itu agar tidak terbawa emosi.
"pah, aku akan menjadi seorang ayah jadi aku tidak bisa menikah dengan Dasya, jika papah ingin mengusirku aku tidak masalah, dan untuk kebaikan papah selama ini maaf aku tidak bisa membalas nya,tapi aku tidak bisa meninggalkan Amel karena aku sangat mencintainya" ucap David ia sudah mempersiapkan diri untuk menanggung akibatnya
"jika kau ingin membalas kebaikan ku selama ini tetap lah berada dirumah ini dan segera lah menikah dengan kekasihmu itu" ucap Arya dengan lantang. David yang mendengarnya langsung memeluk ayah nya itu seraya mengucap kan terima kasih berkali kali.
seisi rumah itu sudah merasa lega karena keputusan Arya yang menurut mereka sangat bijak.
"maafkan aku Gino" ucap Arya lalu memeluk Gino
"tidak masalah pernikahannya kan tiga bulan lagi jadi tidak apa apa jika di batalkan" ucap Gino menepuk bahu Arya membuat seisi rumah tersebut tersenyum bahagia.
"siapa yang mengatakan pernikahannya akan di batalkan" ucap Arya dengan tersenyum lebar membuat semuanya merasa bingung
"aku masih memiliki satu putra" ucap Arya lalu menatap kearah Dev
"maksudmu" tanya Gino
"jika kau mau aku ingin menikahkan putrimu dan putra ku Dev" ucap Arya membuat Dasya begitu terkejut
"yang aku tau Dev tidak memiliki kekasih karena dia sangat dingin kepada wanita" ucap Arya kembali
"semua keputusan aku serahkan kepada Dasya dan Dev saja" ucap Gino
Dasya menatap wajah datar Dev lalu memalingkannya kembali .
"aku" ucap Dasya
"tentu saja kami menyetujuinya" ucap Dev tiba tiba membuat senyum mereka di wajah semua orang. namun tidak dengan Dasya.
"aku merasa senang kita berdua tetap akan menjadi besan" ucap Gino lalu memeluk Arya
"waah aku akan mempunyai teman perempuan dong" ucap Clara yang sedari tadi duduk lalu berdiri menghampiri Amel dan Dasya
"sayang hati hati" ucap Dion ia khawatir kepada istrinya yang tengah berlari
"kita akan terus bercerita nanti" ucap Clara kemudian memeluk Dasya dan Amel membuat ketiga nya seperti teletubis. semua orang oun tertawa dengan tingkah Clara.
.
.
.
.
2 minggu kemudian
hari hari terasa begitu cepat pernikahan David dan Amel pun sudah di laksanakan kan beberapa hari yang lalu kini tinggal pernikahan Dev dan Dasya yang akan dilaksanakan 3 minggu mendatang.
kehamilan Clara sudah menginjak 6 bulan perutnya yang semakin membesar membuatnya terkadang merasa kelelahan.
"sayang aku haus" ucap nya dengan menampilkan wajah memelasnya yang membuat Dion merasa kesal.
"aku mau minum jus jambu" pinta Clara
"selalu saja" umpat Dion dengan menampilkan wajah kesalnya yang membuat Clara tersenyum
"ayolah tersenyum ini kan anakmu yang minta" ucap Clara dengan menarik sudut bibir Dion agar lelaki itu tersenyum.namun tetap saja wajah lelaki itu tetap sama. Clara tersenyum ia tahu cara membujuk suami nya itu. Clara mencium bibir Dion sekilas
"malam nanti aku akan memberimu jatah" ucap Clara
dengan sekejap senyum di wajah David terlihat
"tunggu disini aku akan segera membuatkan nya untuk mu sekalian aku akan membuatkan pabriknya" ucap Dion membalas ciuman istrinya itu lalu berjalan keluar untuk membuatkan jus.
Clara tersenyum saat melihat suaminya yang sangat antusias membuatkan nya jus
"dasar, dibujuk main di ranjang baru senang" ucap Clara lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
.
.
.
Di lain sisi Dasya yang tengah berada di boutique bersama dengan Dev sedang memilih gaun pengantin.
"permisisi, tuan dan nona silahkan masuk" ucap salah satu pelayan
keduanya pun mengikuti wanita itu menuju ruang gaun pengantin
"aku bingung harus memilih yang mana" ucap Dasya ia melihat gaun gaun itu semua nya sangat indah namun tidak ada satu pun yang membuatnya tertarik.
"bagaimana kau sudah menemukan gaunmu?" Dev tiba tiba datang mengejutkannya
"kau ini suka sekali mengagetkan ku" kesal Dasya
"aku tidak mengagetkan mu kau nya saja yang terkejut" bantah Dev
Dasya hanya mendengus kesal berdebat dengan lelaki seperti Dev tidak akan ada habis nya
"kenapa bengong cepat pilih gaun mu" ucap Dev dengan cepat Dasya mencari gaun miliknya
"sudah yang ini saja, aku akan mencobanya dulu" ucap Dasya lalu melangkah ke ruang ganti.
beberapa menit Dasya keluar dengan dibalut oleh gaun pengantin.
Dev memalingkan wajah nya menatap kearah Dasya yang sedang memutar mutar kan badannya. seketika matanya membulat saat melihat gaun yang Wanita itu kenakan dengan bagian punggung yang terbuka dan belahan dada nya yang terlihat kshsjwnka.
"a-apa yang kau kenakan?" tanya Dev begitu terkejut
"apa kau tak melihatnya aku sedang memakai gaun pengantin, aku rasa ini cocok untuk ku" ucap Dasya dengan melihat patulan dirinya dari cermin yang besar.
tiba tiba pelayan laki laki datang untuk memberikan kemeja pengantinnya.
dengan cepat Dev memeluk Dasya dari belakang untuk menutupi bagian punggung wanita itu.
"Dev apa yang kau lakukan?" tanya Dasya seraya melepaskan pelukannya namun Dev semakin mengeratkannya
"Diamlah" seru Dev
"permisi tuan ini kemeja anda" ucap Pelayan itu
"letakkan saja di situ" pinta Dev seraya menunjuk arah sofa kemudian pelayan itu meletakkan kemeja itu.
"kenapa kau masih berdiri di situ cepat keluar" kesal Dev saat melihat lelaki itu masih berdiri menatap Dasya dari pantulan cermin. Dev memindahkan tangannya untuk menutupi tubuh bagian depan Dasya.
"ma-maaf tuan permisi" pelayan itu pun melangkah pergi
"Dev kau memegang" Dasya menggantungkan kalimatnya karena merasa malu
"ada ap" Dev menghentikan ucapan nya saat melihat tangannya menyentuh bagian dada Dasya lalu melepaskannya
"ma-maaf aku tidak sengaja" Dev menjauhkan dirinya
"kau ingin menikah atau ingin menggoda lelaki?" bentak Dev
"tentu saja menikah" ucap Dasya polos Dev mengusap wajahnya lalu menuntun Dasya ke ruang ganti
"cepat ganti gaun mu cari yang lain saja, jangan memilih gaun jelek itu kau bisa membuatku gila" bentak Dev lalu menutup tirai ruang tersebut.
"siaal" umpat Dev seraya mengusap keringat di dahinya
"kenapa ruangan nya jadi panas begini, apa AC nya mati" tanya Dev ia mengibaskan lengannya merasa kepanasan
"Dev" panggil Dasya di balik tirai
"ada apa lagi?" kesal Dev
"pelayan nya sedang tidak ada, aku kesusahan melepas gaun ini" ucap Dasya. Dev berdecak lalu masuk kedalam ruang ganti menyusul Dasya.
"kemarilah aku akan membantumu" ucap Dev ia membuka setiap tali yang terikat bebas dipunggung Dasya.
"Dev kenapa kau berkeringat bukan kah disini ruang ber-AC?" tanya Dasya
"diamlah, ini semua karena mu" ucap Dev namun Dasya tak mengerti maksudnya
" apa salah ku"gumam Dasya
"kenapa tali ini tidak ada habis habis nya" umpat Dev namun dapat di dengar oleh Dasya
"bisa tidak?" tanya Dasya
"diamlah" seru Dev hingga tali terakhir terlepas hingga gaun tersebut merosot begitu saja kebawah
"Dev berbaliik" teriak Dasya saat melihat tubuh nya yang bersisa Bra dan celana dalam saja.
"sial" umpat Dev lalu keluar dari ruang ganti tersebut
"lama lama aku bisa gila" ucap Dev dengan kesal ia kembali mengusap keringatnya yang bercucuran
"sial panas sekali, akan ku bakar tempat tak berguna ini" Dev tak habis habisnya merutuki tempat tersebut.