DEVDAS

DEVDAS
Sangat Menyebalkan



Setelah beberapa menit di perjalanan Dev dan Dasya sudah sampai di rumah sakit.


Setelah Dokter memeriksa sistem pencernaan Dev.


"tidak ada yang perlu di khawatir kan tuan Dev hanya mengalami morning sickness, oleh karena itu ia merasa mual" jelas dokter mwmbuat Dasya dan Dev bingung.


"begini tuan dan nyonya saat wanita hamil ia akan mengalami morning sickness bisa di pagi hari atau malam hari tapi selain wanita hamil morning sickness juga bisa di alami oleh calon ayah" dokter menjelaskan nya dengan rinci Dev dan Dasya hanya mendengarkan saja meskipun itu sangat asing untuk mereka dengar.


setelah mendengarkan penjelasan dokter Dev dan Dasya memutuskan untuk pulang. Namun di tengah perjalanan Dev meminta untuk berhenti di supermarket untuk membeli susu coklat dan setelah itu kembali ke apartemen.


.


.


.


Di Apartemen.


Dasya sedang membuat susu coklat yang tadi di beli di supermarker karena Dev merengek seperti anak kecil yang ingin dibuatkan susu.Kemudian membawanya kekamar.


"ini minumlah" Dasya memberikan segelas susu coklat tersebut untuk suaminya.


Dengan cepat Dev mengambil segelas susu itu kemudian meminum nya hingga tak tersisa setetes pun.


"kau seperti tidak pernah meminum susu saja" ucap Dasya saat mwlihat suaminya yang sedang memasukkan jari nya kedalam gelas untuk mengambil sisa sisa coklat yang masih melekat di dalam gelas tersebut.


"aku tidak tau susu coklat akan seenak ini" ucap Dev lalu menjilat bibirnya


"tolong buatkan aku lagi" pinta Dev membuat Dasya melongo


"kau yang benar saja" seru Dasya tak percaya.


"aku menginginkannya lagi,jadi tolong buatkan untukku" ucap Dev dengan wajah memelas nya.


"kenapa aku yang hamil kau yang mengidam, kalau begini aku sendiri yang akan kesusahan" kesal Dasya


"jangan mengeluh,mungkin anak kita lebih menyayangi daddy nya dari pada mommy nya" ucap Dev dengan kekehan seketika sebuah bantal melayang mengenai kepalanya.


"aww,kenapa kau melempar ku?" seru Dev seraya mengusap kepala nya yang sedikit pening


"biarkan saja kau sangat menyebalkan" kesal Dasya


Dev hanya menghela nafas kemudian mendekati istrinya itu.


"ada apa?" tanya Dasya saat melihat Dev yang ingin mendekatinya.


"kenapa, apa aku tidak boleh mendekati istriku?" goda Dev membuat Dasya bungkam.


Dev semakin mendekati Dasya kemudian merengkuh tubuh wanita itu agar masuk ke dalam pelukannya.


"jangan marah marah,nanti baby nya kalo lahir jadi garang seperti mu, apa kau mau?" ucap Dev malah semakin membuat Dasya kesal.


"menyebalkan" gerutu Dasya memukul dada bidang suaminya itu.


.


.


.


Di lain sisi


Tama tengah terlelap di meja kerja nya ,ia tak ingin pulang ke rumah tadi malam membuat nya tertidur di kantor. Hingga suara pintu terbuka namun tak mengusik tidur lelaki itu.


"astaga, apa semalaman dia tidur disini?" Aurel yang baru saja masuk melihat bos nya itu sedang tertidur dengan pulas di meja kerja nya.


Ia menatap wajah Tama yang sudah membuat nya jatuh terlalu dalam hingga ia tak tau cara untuk keluar.Bukan karena tampan ia menyukai lelaki itu karena sikap perhatiannya membuat Aurel luluh.


"seharusnya aku tidak mencintaimu Tam, itu semakin membuat ku merasa sakit" ucap Aurel suara nya menjadi berat, air mata nya memaksa untuk keluar namun dengan kuat ia menahan untuk tidak menangis.


"kau selalu menjaga ku dari lelaki yang ingin menyakitiku, tapi_" isakan itu terdengar Aurel tidak sanggup menahan air mata nya yang sudah di pelupuk yang bersiap membasahi pipinya.


"Tapi kau tidak tau bahwa kau yang selalu menyakitiku bahkan dada ku terasa begitu sesak karena mu" Aurel menangis. Ya wanita mana yang tak menangis saat lelaki yang ia cintai dengan jelas mencintai orang lain.


Aurel menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"apa kau tau aku mengubah penampilanku menjadi tipe wanita yang kau inginkan,saat itu kau mengatakan bahwa kau menyukai wanita yang sederhana,saat itu lah aku mengubah penampilanku agar kau menyukai,tapi apa yang aku lakukan tidak membuatmu jatuh cinta padaku" Aurel menarik nafas nya kemudian mengusap wajah nya yang basah karena air matanya.


"Tapi aku sudah berjanji akan melupakanmu aku akan berusaha meskipun itu cukup mustahil untuk ku"


"hah aku sangat berharap kau mendengarkan apa yang aku katakan" ucap Aurel ia membalik badannya kemudian berjalan keluar.


Setelah sampai di ruangan nya ia langsung duduk di bangku kerjanya bukan untuk bekerja namun ia menopang dagunya dengan tangan kanannya memandang depan dengan tatapan kosong.


"aku malas sekali" ucap Aurel ia memilih untuk meletakkan wajah nya ke atas meja pikiran dan hati nya sangat kacau hari ini.


tiba tiba


"aku tidak menggaji mu untuk bermalas-malasan seperti itu" suara yang tak asing di telinga Aurel dengan cepat wanita itu menegakkan tubuh nya lalu di perhadapkan dengan sosok lelaki yang sudah membuatnya menjadi kacau.


"Tama eh tuan" Aurel terlihat gugup sekarang membuat nya terlihat lucu di mata Tama namun lelaki itu sangat pandai menyembunyikan tawanya.


"cepatlah bekerja atau kau akan lembur hari ini" ancam Tama


"baik tuan" Ucap Aurel pasrah terkadang Tama akan menjadi sosok yang menyebalkan bagi Aurel seperti saat ini lelaki itu tak mengerti suasana hati wanita itu bagaimana mungkin ia berkonsentrasi bekerja sedangkan nama Tama selalu berkeliaran di pikirannya.


Lelaki itu kembali ke ruang kerja nya


Tama duduk di kursi kerja nya seraya memutar-mutar kursi tersebut.


perkataan Aurel tadi pagi masih terngiang di kepalanya, Ya lelaki itu berpura pura tidur saat itu. Ia terbangun saat suara pintu terbuka namun ia tau siapa yang datang karena itu Tama lebih memilih untuk berpura pura tidur ingin melihat apa yang akan dilakukan wanita itu padanya tak di sangka ia akan mengetahui perasaan Aurel bahkan ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah menyakiti sahabat nya itu.


"apa yang harus ku lakukan setelah ini?" gumam Tama perasaan nya menjadi tak menentu.