
Setelah mendonor kan darah nya Raga dengan setia menunggu wanita itu di ruang rawat.
ia duduk di sofa yang telah disediakan ditemani makanan ringan yang sempat ia beli.
"astaga, aku lupa menghubungi Dev,pasti aku akan dibunuhnya nanti karena membuatnya menunggu"Raga dengan cepat mengambil ponsel dibalik celananya lalu menghubungi Dev
"apa kau ingin kubunuh aku sudah lama menunggumu"suara Dev menggelegar dari seberang sana membuat Raga menjauhkan ponsel dari telinganya.
"maafkan aku Dev aku tidak bisa bertemu dengan mu sekarang ada sesuatu yang harus ku kerjakan"ucap Raga berharap sahabatnya itu akan mengerti
"akan ku bunuh kau jika aku bertemu dengan mu"ancam Dev lalu memutuskan sambungan telepon dengan sepihak
"hah aku membangunkan singa yang sedang tidur"ucap Raga karena telah membuat Dev marah. Raga kemudian memperhatikan wanita yang sedang terbaring di hospital bed.
"kenapa wanita itu belum juga sadar?"Raga kemudian berjalan mendekati wanita tersebut.terlihat wajah cantik dengan mata yang bulat dan bibir yang tipis membuat Raga terpesona saat melihatnya
"wanita ini cantik juga"ucap nya tangannya bergerak kearah rambut wanita tersebut namun ia urung kan karena suara ponsel yang berdering.
ia mengambil ponselnya namun tidak ada yang menelpon kemudian ia melihat ponsel di atas meja yang ia yakini adalah ponsel wanita itu.
"My Boss" ucap raga saat membaca nama yang tertera di layar ponsel itu lalu menekan ikon berwarna hijau
"hallo Aurel kau kemana saja kenapa kau tak mengangkat telpon ku"ucap lelaki dari seberang sana yang tak lain adalah Tama
"hallo"ucap Raga kemudian kembali terdiam
"Aurel kenapa suaramu berubah menjadi suara laki laki"ucap Tama yang membuat Raga kesal
"saya memang laki laki"ketus Raga. Tama yang mendengar suara lelaki tersebut heran .
"siapa kau kenapa ponsel Aurel ada padamu?"tanya Tama
"saya Raga pemilik ponsel ini sedang dirawat di rumah sakit"ucap Raga
"apa? rumah sakit?"ucap Tama terkejut
"ia tadi dia mengalami kecalakaan"ucap Raga.
"rumah sakit mana ? saya akan kesana"ucap Tama. Raga pun memberi alamat rumah sakit lalu memutuskan sambungan telepon nya
"apakah dia kekasihnya?"ucap Raga kemudian meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempat asalnya
"air"Raga dikejutkan dengan suara seseorang yang meminta air lalu ia menatap wanita tadi yang ternyata sudah sadarkan diri dengan cepat ia memberikan segelas air dan membantu wanita itu minum
"kau sudah baikan?"tanya Raga seraya menatap wanita yang ia ketahui nama nya adalah Aurel
"hmm, siapa kau?"tanya Aurel dengan memegang kepala nya yang terasa sakit
"perkenalkan namaku Raga aku menemukanmu tadi pingsan dimobil karena menabrak pohon"jelas Raga. Aurel hanya diam.
"terima kasih"ucap Aurel pada Raga
"tidak masalah bukan kah manusia diciptakan untuk tolong menolong"ucap Raga bijak yang membuat wanita tersebut tersenyum
seorang dokter masuk lalu memeriksa keadaan Aurel
"keadaan pasien baik baik saja karena pendonoran darah dengan cepat jika tadi terlambat maka akan berbahaya bagi nyawa pasien"ucap dokter tersebut membuat Aurel terkejut
"ia nona tuan ini yang telah mendonorkan darah nya untuk anda"?dokter tersebut menunjuk kearah Raga yang hanya terkekeh dan menggaruk tekuknya yang tak gatal
"baiklah nona silahkan istirahat jangan terlalu banyak bergerak karena cedera dikepala anda bekum sembuh sepenuhnya"jelas dokter yang hanya dibalas anggukan oleh Fasya
"saya permisi"pamit dokter lalu beranjak keluar
melihat Aurel yang ingin mengubah posisi nya membuat Raga segera menghampiri wanita itu dan membantunya
"kau jangan terlalu banyak bergerak,kau tidak mendengar kata dokter"ucap Raga menatap Aurel
"aku ingin mengambil ponsel ku"ucap Aurel seraya menunjuk ponselnya yang berada diatas meja. Raga kemudian mengambil ponsel tersebut dan memberikannya kepada Aurel.
Disaat bersamaan seseorang masuk kedalam ruangan tersebut
"Tama"ucap Aurel yang melihat Tama masuk kedalam ruangan tersebut dan menatap nya dengan tajam lalu berjalan menghampirinya .
"kenapa kau begitu bodoh hah, kenapa kau tak bisa berhati hati saat menyetir"bentak Tama tanpa melepaskan tatapannya
"bahkan dia tidak menanyakan bagaimana keadaanku"batin Aurel membalas tatapan tajam Tama lalu memalingkan nya kearah lain
"kau"tunjuk Aurel pada Raga membuat lelaki tersebut mendekatinya
"siapa namamu"tanya Aurel
"nama ku Raga"ucap Raga dengan tersenyum
"Raga terima kasih sudah mendonorkan darah untukku"ucap Aurel dengan tersenyum membuat wanita tersebut semakin cantik meski dengan wajah yang terlihat pucat.
"tidak masalah"ucap Raga lalu menatap Tama seakan tau yang dimaksud lelaki itu
"hmm lebih baik saya permisi agar kalian berdua lebih nyaman mengobrol nya"ucap Raga hendak berjalan keluar namun di hentikan oleh Aurel
"Raga kau disini saja temani aku"ucap Aurel membuat Raga terkejut namun setelah itu mengangguk meerima permintaan Aurel
"kau pergilah"tunjuk Aurel pada Tama membuat lelaki tersebut membulatkan matanya tak percaya
"kau mengusirku?"tanya nya yang hanya dibalas anggukan oleh Aurel
Tama hanya menarik nafas panjang
"baiklah kau istirahat saja biar urusan kantor aku saja yang mengurus nya"ucap Tama lalu mengusap rambut Aurel membuat wanita tersebut termenung.
Tama berlalu pergi meninggalkan Raga dan Aurel di dalam ruangan tersebut.
Aurel memegang kepalanya yang terasa berdenyut
"apa kepala mu masih sakit?"tanya Raga
"tidak,kau pergilah juga aku ingin sendiri"ucap Aurel
Raga hanya diam lalu mengiyakannya
"baiklah aku akan kemari lagi besok"ucap Raga lalu pergi namun sebelum itu ia menengok kembali melihat kearah Aurel yang sedang melamun
"wanita memang aneh"batinnya lalu pergi