
David POV
ketika gue memakirkan mobil, gue melihat keisya bersama seorang pria separuh baya dan gue lihat keisya sedang marah-marah dengan orang itu
Kenapa dengan keisya? Kenapa keisya marah-marah dengan orang itu? Siapakah orang itu? Apa sebenarnya yang terjadi dengannya!
Beberapa menit kemudian gue lihat devan dan tasya menghampiri mereka berdua, dan juga tampak marah-marah kepada keisya, dan gue terkejut melihat keisya menampar tasya, dan devan hendak membalas tapi ia berhasil menangkap tangannya sigap, sepertinya mereka sedang bertengkar dan melihat orang tua itu hanya diam saja, kenapa orang itu kenapa tidak mencegah mereka bertengkar,
beberapa saat devan, tasya itu pergi, dan beberapa saat juga orang itu pergi dengan mobilnya Dan setelah orang itu pergi, gue lihat keisya kesal kepada orang itu dan juga ada kesedihan di matanya, gue pun menghampirinya
"kata orang seorang gadis tidak baik menangis sendiri"
Kata gue, reflek keisya awal menunduk menyembunyikan kesedihannya kini menatap gue
"Lo" kata keisha bangkit dari bangku "ngapain lo disini" jawabnya
"Seharusnya gue tanya ke pada lo kei, kenapa lo nangis?" Ucap gue mengalihkan topik pembicaraan lain
"Nangis, gue nggak nangis"
Reflek membuat gue teringat masa lalu bersama keisya saat kami di pantai, saat ketemu ia pertama kali di pantai, ia sedang menangis, menyembunyikan kesedihan, tapi gue bisa lihat dari mata indahnya itu ada kesedihan dimatanya
"Keisya, keisya, lo seperti dulu yaa, tak pernah mengaku kalau lo itu menangis"
"Terserah lo aja deh"
Ucapnya pergi ke tempat pakiran menuju motornya, dan memacukan kecepatan motornya
"Keis lo mau kemana, ini kan masih jam sekolah"
Keisya tak mempedulikan kata-kata gue, melainkan tetap memacukan kecepatan motornya hendak keluar gerbang sekolah, cepat-cepat gue menuju mobil gue kembali dan mengikuti keisya kemana pun ia pergi, gue takut terjadi sesuatu kepada keisya
Kemana sih lo keis, lo membuat gue khawatir tau gak lo
Beberapa menit mengikuti keisya, gue sampai di sebuah rumah petak dan keisya masuk ke dalam rumah itu, gue pun melihat pintu masuk kalau ada tulisan maskas geng glader
Jadi, ini markas geng glader
gue pun bernafas lega, karna tidak terjadi sesuatu kepada keisya, sekarang gue heran dan juga penasaran apa yang keisya lakukan di markas
Gue mengikuti dari belakang, takut ketahuan, dan gue mengintip dari jendela, mencari tau apa yang ia lakukan, gue lihat keisya sedang meninju samsak tinju dengan dilampisi kain ditangannya, ia meninju samsak sangat kuat, sepertinya ia melampiaskan kemarahannya tadi ke samsak tinju itu,
beberapa menit gue memperhatikan keisya, gue lihat keisya yang sudah mulai kehausan, cepat-cepat gue pergi ke warung terdekat membeli minuman air mineral dan kembali lagi ke maskas. Ketika sampai di ambang pintu gue sedikit ragu-ragu mengetoknya
Kalau gue berikan minuman ini secara langsung reflek keisya akan curiga ke gue, kalau ia tahu gue mengikutinya, dan ia malah menghindar gue lagi! aduh gimana yaa!
Gue taruh dilantai aja deh
gue pun taruh minuman itu di lantai, gue mengetok pintu beberapa kali dan cepat-cepat bersembunyi lagi di balik tembok, dan gue lihat reaksinya, pintu markas pun terbuka, tampak keisya mencari orang yg mengetuk tadi, dan sadar ada minuman di lantai ia mengambil di lantai, langsung meminumnya
gue senang akhirnya meminuman yang gue beli diminum oleh keisya, walaupun tidak secara langsung memberinya
Gue kembali mengintip ke jendela setelah keisya masuk ke markas lagi, dan memperhatikan keisya lagi dan gue lihat keisya sudah mulai capek, ia pun tidur di sofa gue cepat-cepat pergi ke mobil mengambil sesuatu yaitu selimut tebal biar ia tidak kedinginan, dan lekas kembali ke markas dan menyelimutinya,
Gue duduk di sofa dan menatap wajahnya dan menjaganya
Keis ternyata lo cantik kalau lagi tidur bantin gue
Membuat gue senyam-senyum sendiri menatapnya, memandang wajahnya yang cantik, dan mengelus-elus rambutnya yang halus,
2 JAM KEMUDIAN
Gue masih memandang wajah cantiknya itu, gue tak peduli berapa lama gue memandangnya, sampai gue sadar ada sebuah bunyi deruman motor yang datang markas, sepertinya sahabat keisya deh, cepat- cepat gue keluar dan bersembunyi lagi
Ternyata benar itu adalah itu sahabat keisya louis, shiren dan digo, yang sedang membangunkan keisya dan bicara kepada keisya dan gue menguping pembicaraan mereka
Yang gue dengar kalau keisya juga menyembunyikan kesedihan atau masalah itu dari sahabatnya itu, dan keisya memulai ceritakan tentang masalahnya itu,
Gue dengar kalau mama itu keisya sakit, papanya pergi meninggalkannya, dan menikah dengan wanita lain yang juga adalah mamanya devan dan tasya, sebab ia bermusuhan dengan devan dan tasya, dan juga gue mendengar kalau keisya kini sedang bekerja dicafe,
Reflek membuat gue ikut sedih dan tidak menyangka kalau dibalik sifat galaknya, sifat cueknya, sifat tatapan dinginnya ada kesedihan dan penderitaan di matanya, ingin rasanya memeluknya erat-erat dan menghapus air mata
Tak bisakah kamu mempercayai aku keis, bersandar di pelukan aku, tak bisa kan kau ceritakan tentang masalah mu itu kepada ku keis, ingin rasanya menanggung semuanya bersamamu, tapi kenapa kamu lebih memilih menanggung sendiri, tidak bersama sahabat mu dan juga tidak bersamaku
dan gue tidak menyangka kalau orang gue sayangi, orang yang gue cintai, orang yang bikin gue bahagia, orang yang bikin hari-hari gue berwarna kini menderita dan gue berjanji kepada diri gue sendiri kalau
Gue akan membuat kamu bahagia keis, gue akan mengembalikan senyuman di wajahmu, gue akan mengembalikan keceriaan di wajahmu, dan akan selalu bersamamu dalam suka-duka, selalu menjaga dan menlindungi, walaupun kau sudah berubah padaku keis
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Author POV
"Jadi, selama ini mama lo tidak minum obat keis," ucap shiren yang sudah berada di depan kamar mama keisha, karna shiren dan louis ingin melihat mama keisha yang sedang sakit, dan juga digo
"Iya"
"Emang, lo nggak berusaha gitu, supaya mama lo minum obat" ucap loius
"gue sudah berusaha louis, tapi tetap aja nggak mau, dan malah__" ucap keisha berhenti mengingat mamanya menamparnya kemarin
"Malah apa keis?" ucap shiren
"Malah lo ditamparkan" ucap digo kelihatan jengkel, Keisha melotot ke arahnya
"APA"
"Iya, kemarin pas keisya beri obat ke mama, pas pulang dari tambal bal, mamanya tidak minum malah tampar keisya," ucap digo
"yaa ampun keis, parahkah sakit mama lo keis! Sampai mama lo tampar lo segala" ucap shiren
"Dan lo,"ucap louis menunjuk ke arah keisha kelihatan jengkel "tidak bicara pada kita kalau lo ditampar"
"Yaa, gue nggak mau kalian khawatir dalam masalah gue ini"
"Bagaimana kita nggak khawatir keis, kita kan sahabat lo keis, setia dalam keadaan apapun suka maupun duka"
"Iya harus gimana, lagi"
"Oke, biar gue dan shiren beri obatnya, siapa tau mama lo mau minum obat sama kita" ucap loius
"Kayaknya itu sia-sia deh"
"Iya, yang dikatakan keisya benar, keisya aja anaknya sendiri yang berikan tak mau minum obat, apa lagi kalian" ucap digo
"Coba aja dulu digo" ucap shiren menghentangkan tangannya "mana obatnya"
keisha pun memberikan obat pada shiren, lalu shiren dan louis masuk ke kamar mama, sedangkan keisha dan digo tunggu di ruang makan,
"Bagaimana hasilnya?"
Loius dan shiren hanya geleng-geleng kepala
"Tuh kan tebakkan gue benar"ucap digo kelihatan jengkel
"Maafin gue yaa keis, gue dan shiren nggak bisa bantu lo" ucap louis menepuk bahu keisha pelan
"Nggak apa-apa kok guyy" ucap keisha berusaha tenang
"Dan lo keis" ucap digo menunjuk Keisha
"lo nggak kerja?"
"Astaga, gue lupa" ucap keisha menjidat keningnya sendiri, dan kenapa keisha bisa lupa gini yaa
"Keis kondisi mama lo gini, lo masih kerja" ucap shiren
"Yaa, mau gimana lagi, itu yg bisa gue lakukan selama mama gue sakit, harus mencari uang demi keluarga gue, nggak mungkinkan gue terus menjaga mama gue terus, sedangkan setiap hari gue harus sekolah, harus makan, harus beli obat, harus beli ini-itukan,
"Iya juga sih, tapi siapa yang jaga mama lo?"ucap shiren
"kalian tenang aja, ada kok mama digo, yang selalu setia menjaga mama gue, yaa kan digo"
"Yup" ucap digo
"Yaa sudah gue pergi dulu yaa," ucap keisha mengambil helm disofa dan pergi
"Keis, kita boleh nggak ke tempat kerja lo" ucap louis
keisha pun berhenti diambang pintu, dan menjawab pertanyaan
"Boleh, tapi kalian datang malam saja, karna saat itu gue sudah selesai kerja" ucap keisha berusaha tersenyum
"OK"
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"lo pikir, lo bisa lari setelah lo menonjok perut gue hah, pembalasan pasti datang, lo tak takut ada hukum karma" ucap felix berbisik menyebalkan
Manusia yang satu ini muncul dibalik pintu saat Keisha sampai dicafe, dan ternyata dia menunggunya disana, hazel sama kevin tak tahu mengenai rencana gilanya ini, dan keisha menjadi korban. ia pun berkelahi dengan Felix dan saat ini ia kalah pertama kalinya, karna kondisi badan keisha yang sekarang kurang baik, karna kecapekan
"Cukup sampai disitu, aku ini penjunjung tinggi wanita, felix"ucap kevin muncul, dia memegang kuas yang catnya masih basah
"Kalau kau tak hentikan, akan ku pastikan kalau wajahmu akan berubah warna"
"Tapi dia mulai duluan, menonjok gue"
"Ya, ya, whatever" kevin memutar matanya, tidak peduli
Felix mendengus dan akhirnya hentikan berkelahi, dia mendelik jengkel pada keisha, keisha dilindung dibelakang punggung kevin, matanya seakan bisa membunuhnya dalam sekejap, dia menghela nafas dan berbalik pergi
"Mau kemana?" ucap kevin
"Mengecat"
"Nggak, nggak perlu, biar aku sama hazel saja,"ucap kevin mengambil tasnya yang besar "Kau sama keisha aku kasih tugas luar" kali ini mengeluarkan lembaran-lembaran iklan banyak sekali
keisha melotot, APA?
"Aku sama siapa" felix mengerutkan dahinya, ternyata bukan hanya keisha yang salah
pendengaran
"Kau dan keisha, keisha dan kau" kevin mengulang dengan nada sabar, dia meletakkan lembaran itu ke tangan felix "nah, tempelkan selebaran ini ditempat yang banyak orangnya, dan aku mau semua selebaran ini habis pada hari ini juga dan kuharap akan ada hasilnya besok"
"Aku bisa melakukan sendiri" ucap felix
"Kerja sama tim sangat perlu, lagipula, tak ada lagi yang bisa dikerjakan keisya disini"ucap kevin melipat tangan, felix tak bisa membantahnya lagi "aku minta kali ini jangan ada berantem disana"
"Ayo, keis" ucap felix mengerek keisha
keisha sungguh tak sudi, benar-benar tak sudi kerja sama felix, ia pun terpaksa harus bersabar menghadapi orang seperti dia
"Pasang iklan yang benar dong, masa miring begini?"ucap felix.
Dia menempelkan poster didahi Keisha yang dia tarik dari tembok dan baru saja keisha
tempeli, ke dahi kembali
"pake otak, dong, mana ada yang mau __ apa? Mau marah?"
keisha menyingkirkan poster dari dahinya sendiri. lantas membuatnya darah mendidih seketika
"Jangan tempel poster di dahi gue"
"Bukankah ideku bagus? Dengar begitu orang bisa lihat apa manusia berwajah poster, dengan begitu cafe kita jadi laris, kau pasti langsung jadi barang langka," tukasnya sinis
Dia benar-benar membuat keisha kesal! keisha pun mengepalkan tangannya kuat-kuat Senaya berusaha menahan emosinya
sabar keis, sabar keis
"Oi, keisya"
"Apa?" Kata keisha ketus
"Bawa poster kemari, babu"
Aaargh! Cowok itu memang memang masalah besar
keisha pun berjalan mengikuti felix, saat keisha terus berjalan dan tidak sengaja ia dan seorang laki-laki bertabrakan, ia hampir terjatuh dan cepat-cepat laki-laki menangkap dirinya, mata kami bertemu
Dan ternyata laki-laki itu adalah david
"Ehemmm" ucap felix berdehem keras. sengaja menyadar keisha dan david
"Em, sorry keis" ucap david
"Nggak apa-apa"
"Lo, siapa?" ucap felix
"Gue__" ucap david terpotong
"Ayo, fel kita pergi dari sini" ucap keisha mengajak felix pergi dari hadapan david,