Dear keisha

Dear keisha
PART 52



Seorang cowok sedang mondar-mandir didepan ruang UGD rumah sakit, rauh wajahnya tampannya tampak sangat khawatir sekali-kalinya melirik ke ruang UGD berharap orang didalam sana baik-baik saja


"Keis, gue harap lo baik-baik saja"


Orang itu adalah hazel sedang mengkhawatirkan keisya yang ada didalam sana yang sedang diperiksa oleh dokter setelah kecelakaan yang menimpahnya. Karna diam-diam hazel mengikuti keisya keluar cafe tadi, ia merasa tidak beres dan khawati dengan keisya hari ini ketika melihat wajahnya sangat pucat seperti orang sakit.


Ketidakberes terjawab setelah melihat keisya tiba-tiba jatuh dari motor dan kepala terbentur di trotoar aspal sehingga menguluarkan darah dari kepalanya itu sukses bikin ia makin panik dan membawa ke rumah sakit terdekat. Dan disinilah ia berdiri Di ruang UGD menunggu dokter ia belum kunjung keluar setelah 1 jam lamanya


Tak lama dokter yang menanggani keisya pun keluar dan hazel pun segera menghampiri dokter itu


"Keluarga pasien"


"saya dok, saya sahabatnya. bagaimana keadaannya?"


"Mari ikut keruangan saya sebentar"


"Baik, dok"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Hazel menarik knop pintu ruang inap hingga pintu itu terbuka menatap nanar melihat seorang gadis tergulai lemas di ranjang dengan kepala dililip perban untuk menutupi luka di kepalanya, cairan infus yang terhubung di pengelangan tangan kanannya serta masker oksigen yang menutupi bibir dan hidungnya


Perlahan ia melangkah kaki ke ranjang keisya, menarik kursi duduk di samping ranjangnya lalu menarik tangannya mengenggam tangannya lembut. Pernyataan dokter terus saja tergiang di kepalanya yang menyatakan keadaan keisya kritis, fisik dan mentalnya lemah, kekurangan asupan gizi, membuat hazel sedikit bernafas lega karna tidak ada luka dalam didalam tubuhnya itu ataupun di kepalanya


Fisik dan mentalnya lemah?


Kekurangan asupan gizi?


Itulah yang tergiang dikepalanya saat ini mengenai keadaan keisya saat ini sangat menyedihkan, beribu pertanyaan ada dibenaknya itu. Ada penyebab ia kekurangan asupan gizi? Apakah ada masalah lagi sehingga ia kehilangan nafsu makan sehingga penyebabnya seperti ini? Apakah gadis itu mempunyai masalah lagi sehingga ia tidak bercerita lagi padanya dan membuat stress?


Sungguh ia kalut dengan semua ini


"Keis, sebenarnya apa yang terjadi pada lo keis? Kenapa lo buat diri lo seperti ini?gue ga suka, gue khawatir" ucap hazel dengan mata yang sudah berkaca-kaca, makin mempererat genggamannya


"Apa karna gue tidak dekat lagi lo lagi? Gue menjauh dari lo akhir-akhir ini? Apa karna lo ada masalah lagi sehingga tidak gue tidak datang bantu masalah Lo itu? Kalau memang iya, maafin gue keis, gue ga bermaksud jauh dari lo. Percaya lah keis,  gue sayang sama lo keis, gue cinta sama lo, gue ga suka lo kayak gini. Gue ada urusan kuliah yang harus gue selesai dan ada hati yang harus perbaiki karna lo sudah menjadi milik orang lain, lo udah terikat dengan orang lain, gue sangat sedih dan terburuk akan hal itu tapi percayalah keis, gue akan selalu berusaha agar perasaan ini hanya sebatas sayang seorang sahabat bukan seorang pria ke wanitanya, dan gue bahagia akan hal itu" ucap hazel mencurahkan isi hatinya selama ini


Tok  tok  tok


Hazel langsung menghapus air mata kesedihannya secara kasar menoleh ke pintu ruang rawat keisya dan melihat suster disana


"Iya, sus, ada apa?"


"Ini saya mau berikan barang-barang pasien"


"Oh, terima kasih"


hazel pun menerima barang-barang  keisya ia sempat ia tinggali ketika kecelakaan terjadi sebelum suster pamit pergi. Hazel pun mengecek apa didalam tasnya ranselnya dan menemukan ponsel, buku, dan baju


Karna penasaran apa yang terjadi keisya saat ini ia membuka ponselnya merasa bisa menemukan hal penasaranya itu. Dan benar saja ia menemukan rasa penasarannya dengan mata terkejut mengenyitkan dahinya bingung apa yang membaca line dan sms yang tidak dibalas dengan puluhan kata maaf dari untuk sahabatnya cindy, shiren, louis, rio, aldo dan digo. Dan juga panggilan telepon tak pernah diangkat


paling banyak adalah david dengan maaf dan kata-kata menggerayangi hati bagi si pembaca membuat hazel makin bingung akan hal ini


"David"


Hazel mendongak kepalanya cepat menatap keisya lalu detik kemudian ia membuang nafas kasar berpikir keisya sudah sadar namun ternyata hanya guraan saja


"Sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka?" Batin hazel bertanya-tanya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Pukul 13.30 siang


Hazel kini sedang duduk bersandar di motor dengan mata sering kali melihat gerbang sekolah dan juga melirik jam tangannya


"Ck, lama banget sih mereka pulang" ucap hazel mulai bosan sudah 1 jam ia menunggu mereka


Setelah seharian penuh ia menunggu keisya sadar dari tidurnya itu hingga sampai sekarang pun ia belum juga tidur karna masih memikirnya dan juga memikirkan apa yang terjadi pada keisha sebenarnya


Ia berencana ingin mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi pada keisya saat ini sehingga ia masuk rumah sakit belum sadar sampai sekarang. Setelah semuanya beres baru ia menjenguk keisya lagi menjaganya dan sebenarnya ia juga berniat menghubungi nyokap keisya bahwa anaknya masuk rumah sakit tapi ia khawatir jika ia tahu tentang keisya saat ini penyakitnya akan kambuh lagi dan hazel tidak ingin terjadi.


termasuk digo terpupunya sendiri karna ia masih penasaran akan hal itu. Dan sampai sekarang pun tidak ada orang yang tahu bahwa keisha masuk rumah sakit hanya dirinya ia tahu


"Huh, akhirnya mereka keluar juga" ucap hazel bernafas lega Mereka


"Hoy, lo semua kesini" teriak hazel memanggil mereka semua


Cindy, louis, shiren, rio, aldo dan  digo saling menoleh bingung menyadari keberadaan hazel sangat jarang mereka temui disekolah


"Eh, lo zel manggil kita? Ngapain?" Tanya digo heran


"Atau lo mau nunggu keisya. sorry kita ga tahu" ucap cindy ketua membuat hazel mengenyitkan dahi heran


"Ga kok, gue mau ngajak kalian ke markas. Ada yang gue bicarakan" ucap hazel serius


"Bicara apa? Kenapa tidak disini?" Tanya louis heran


"Lebih enak kalau bicara dimarkas" jawab hazel lalu matanya menatap mereka satu persatu merasa tidak ada seseorang diantara mereka "Oh yaa, david mana. Kok ga bareng kalian?"


"Dia ga masuk hari ini" jawab rio


"Ga masuk? Kenapa?" Tanya hazel penasaran


"Gue ga tahu kenapa? Memang sih akhir-akhir david absen sekolah karna sesuatu terus tiba-tiba kemaren datang lagi eh sekarang absen lagi" jelas rio


"Sesuatu? Karna apa?"


"Sorry, gue ga mau bahas itu"


Membuat Hazel makin curiga dengan semua ini, ketusnya cindy ketika nyebut keisya? Dan rio tidak mau dengan kenapa dengan david? Sungguh ia mati penasaran saat ini


"Terserahlah, gue mau kalian kumpul dimarkas sekarang juga" tegas hazel lalu melirik rio dengan wajah serius "dan lo ri, hubungi david sekarang juga, suruh dia ke markas ngumpul bareng kita"


Rio hendak protes namun suara ketegasan hazel terdengar lagi


"Dan gue ga mau terima alasan apapun dari dia"


Sesuai dengan perkataan hazel 30 menit yang lalu semuanya sudah berkumpul termasuk juga kevin dan felix juga ada disana tapi ada satu orang yang belum hadir yaitu david


"Rio, lo benar udah hubungi davidkan? Kenapa dia belum datang?" Tanya hazel


"Mana gue tahu. Emang lo mau bicara apa sih? penting banget yaa?" Tanya rio penasaran


"Yaa penting" jawab hazel singkat


"Sorry gue telat"


Semua mata langsung menoleh ia arah suara pintu tampak berdiri david disana. Hazel mengangkat alisnya heran melihat menampilan david yang tampak kacau, rambut yang berantakan, kantong mata di mata teduhnya, badan yang sudah mulai kurus seperti mayat hidup


"Lo, duduklah" suruh hazel


David hanya mengangguk lalu berjalan ke arah rio duduk disofa disebelahnya. Semuanya sudah duduk disofa yang saling berhadapan hanya hazel dan kevin berdiri,


"Oke, gue mau ngumpulkan kalian karna gue mau bicara sesuatu" ucap hazel diam sejenak mengambil nafas dalam-dalam


"Tentang keisya"


Mendadak tiba-tiba suasana mencekram dan tampak mereka tiba-tiba kesal. Terlebih david yang tampak murung seketika dengan tatapan kosongnya


"Kalau lo mau bicara tentangnya. Maaf lo bicara pada orang yang salah" ucap shiren ketus


"Iya, siapa tuh namanya keisya yaa" ucap cindy mendengus seperti orang asing menyebut nama keisya "tak salah dia bukan siapa-siapa kita lagi"


Hazel mendengus kesal mengbuang nafas berat menetralkan suaranya agar ia bicara baik-baik dalam suasana tidak terpancing emosi mendengar perkataan cindy dan shiren menganggap keisya bukan-bukan siapa lagi


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian semua, hah!! kenapa kalian seperti ini sekarang, mendadak kesal dan bicara ketus tentangnya, ada apa sih? Bicara terus terang kepada gue sekarang!!!" Cerutu hazel


"Dia pengkhianat" balas cindy sengit


"Apa maksud kau cin? Siapa pengkianat?" Tanya kevin heran


"Dia sudah bertunangan dan mengkhianati kita semua"


"APA?!"


kevin, hazel dan felix cukup terkejut. Membuat kevin dan hazel saling menatap satu sama lain, menatap seolah mengatakan 'darimana mereka tahu?' lalu menatap mereka dengan tatapan penuh tanya dan bingung


"Lo serius cind? Si idiot udah tunangan? bagaimana bisa?" Tanya felix tidak percaya


"Benarkah? Darimana kalian tahu?" Tanya kevin pura-pura kaget agar menutupi curiga kalau memang ia sudah tahu sebelumnya


"Kenapa? Lo kagetkan?" Ucap cindy tersenyum sinis "sama dengan kita cukup kaget mengetahui fakta itu. kita ga nyangka dia bohongi kita selama ini, 4 minggu tunangan berlangsung. Kita semua kecewa sama dia karna tak bilang kalau dia sudah tunangan"


"Dan gue sepupu sendiri, tinggal


Satu atap dengannya tak dikasih tahu. apa itu tidak keterlaluan namanya? jika sepupu sendiri sudah bertunangan dengan pria lain. Emang selama ini dia menganggap gue apa? Kita keluarga harus saling tahu menahu? Tapi dia tidak sama sekali" protes digo kesal


"Tapi bukankah keisya udah minta maaf kepada lo semua? Dan berusaha menjelaskan kepada kalian?" tanya hazel


"kami ga butuh penjelasannya. lagian dia bukan sahabat kita lagi, ga ada seorang sahabat menyembunyikan sebuah tunangannya sendiri, dan dia cewek sialan itu, tidak menghargai itu?" Ucap cindy tajam


"Dulu memang gue sama shiren  sudah memaafkan keisya karna ia juga menyembunyikan tentang  nyokapnya dan pokap kandungnnya sendiri, keluarga wilson. kita bisa maklumi itu. Tapi sekarang ga, ini sudah keterlaluan sudah 3 kali keisya menyembunyikan rahasianya lagi. Apa gunanya bersahabatan Kalau diantara kita masih ada saling menyembunyinya rahasia satu sama lain, tidak berbagi kepada sahabatnya sendiri. Apa tidak keterlaluan namanya, lebih baik bersahabat kita dengan keisya berhenti sampai disini, ga usah diteruskan lagi, tidak ada gunanya" geram louis menjelaskan


"Memang sejak awal keisya tak pernah menganggap kami sahabatnya, dia selalu menyembunyikan rahasia dari kami. Tak pernah berbagi mengenai masalah besar hanya masalah kecil saja ia berbagi, emang dia pikir apa kami apanya Sih? Suatu barang pelampiasan jika ia kesulitan menghajar saudara tirinya sendiri? Atau seorang budak  yang disuruh menyingkir musuh-musuhnya itu? Dasar pengkhianat" Ucap shiren kesal


"Dan lebih parah gue sepupunya, dengan bodohnya gue ga tahu sepupu sialan sebagai kakak kandung gue sendiri itu mengkhinati prinsip sebuah keluarga dengan saling menghargai satu sama lain, tapi dia sendiri, tidak........"


BRAK


"DIAM KALIAN, SIALAN!!!"


Geram hazel setelah mendobrak meja kasar tepat ditengah-tengah mereka membuat mereka terlonjak kaget. Nafasnya memburu, rahang mengeras dan tangannya mengepal kuat-kuat. Menatap mereka satu-persatu dengan tatapan pembunuh. Sungguh ia tak tahan dengan semua ini, tak tahan mendengar mereka menjelek-jelek dan berkata buruk tentang keisya.


jika keisya berada disini saat itu sudah pasti perkataan sahabatnya yang ia sayangi pasti menyakiti gadis itu, menyakiti hatinya membuat keadaan makin memburuk dan ia tentu saja tidak ingin itu terjadi


"Tutup mulut kalian semua mengenai keisya, mulut laknat itu tak pantas kalian bicarakan tentangnya, kalian....."


"APA!! LO MAU BELAIN DIA, IYA!!!" sertak cindy memotong cerutukan hazel. Ia berdiri menatap hazel dengan tatapan membunuh "kita tersakiti disini zel, kita dikhianati oleh cewek sialan itu"


"Lo...."


"Apa karna lo juga masih belum percaya kalau keisya sudah tunangan dengan pria lain" ucap david tiba-tiba terkesan dingin dari nada bicaranya "karna lo masih mencintainya yaa kan?"


"Apa maksud kata-kata lo itu?" Sertak hazel mendengus tidak suka dengan perkataan david


"tentu saja lo tahu maksud gue. Semuanya tersakiti dan terkhianati. Kenapa lo yang marah?" ucap david tajam menatap hazel datar. Lalu ia menyentuh dada dengan jari telunjuk seolah menyentuh luka yang masih belum terobati "Terlebih gue zel, gue paling tersakiti disini, gue paling terluka disini, gue paling kecewa diantara mereka, gue paling menyedihkan diantara mereka"


Mereka terdiam yang mendengar itu semua ikut merasakan betapa hancurnya david saat ini. Begitupula dengan hazel mendadak terdiam menatap david datar, namun dalam hatinya ia menatap sendu  prihatin perjuangan untuk mendapakan keisya itu sia-sia. Mereka berdua sama-sama terluka dalam hal ini, tidak ada kebahagian bersama orang dicintainya


"Tapi dav, keisyakan sudah minta maaf dan bukankah menjelaskan....."


"Untuk apa penjelasan darinya Zel. Gue ga butuh. ini semua telah terjadi, orang yang harapkan menjadi kebahagian gue nantinya ternyata sudah milik orang lain, dia sudah bertunagan dengan pria lain


Hazel tertawa sumbang


"Jadi semuanya salah keisya gitu, semuanya terjadi salah keisya yang menyakiti lo dan mengkhinati sahabat"


hazel geleng-geleng kepala dan tersenyum sidis


"Tidak dav. ini bukan sepenuhnya bukan salahnya melainkan lo dav, lo brengsek"


BRUGH


hazel yang sempat melayangkan tinju waktu itu (tinju kemurkaan karna kebodohan david tak datang pada saat papa keisya memberi kesempatan untuk menolak pertunangan itu) akhirnya menlayangkan tinjunya ke wajah saat ini david membuat david jatuh tersungkur dilantai membuat mereka terpekik kaget


"Apa yang lo lakukan sialan" ucap rio murka berjalan mendekat ke hazel menarik kerah bajunya tidak terima sahabat digitui, sahabat sangat terpuruk saat ini.


"Jelas-jelas keisya....."


"Apa?! Lo mau salahin keisya juga, hah!!!" Ucap hazel menipiskan tangan rio dari kerah bajunya secara kasar melangkah mundur menatap tajam satu-persatu kepada mereka dan tatapan pembunuh


"Perlu kalian tahu semuanya, pertunangan ini terjadi bukan sepenuhnya salah keisya, melainkan dia" ucap hazel menunjuk geram david masih diam ditempat "karna si brengsek itu dengan terpaksa keisya menerima tunangan sialan itu, tunangan sama sekali tak dia inginkan"


"Dan terserah kalian percaya kata-kata gue atau tidak, yang penting kalian ketahui lagi gue tegaskan pada kalian semua, gue pastikan akan menyesal melakukan ini padanya, benar-benar menyesal, brengsek!!!"


BRAK


setelah menyatakan itu semua hazel langsung berlalu meninggalkan bantingan keras pintu masuk markas diikuti kevin dan felix menyusulnya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


"argh"


"brengsek"


"sialan"


"bodoh!!!!!"


Felix dan kevin geleng-geleng kepala melihat dan mendengar berbagai umpatan hazel di perkarangan rumahnya dengan melempar bola ke ring sebagai pelampiasannya hari ini


"Aku masih belum percaya tentang hal ini bahwa keisya sudah bertunangan, gila!!! Bagaimana bisa sih!!! Aku pikir david orang tapi bukan." cerutu felix


"Tidak ada tidak mungkin didunia ini" ucap kevin


"Tidak mungkin apa maksudmu? Seperti kau tahu sesuatu tentang hal ini?" Ucap felix memejikan matanya curiga


"Ahh...ti-tidak. aku tidak tahu apapun" ucap kevin kegaklapan


"Vin, aku bukan baru mengenal beberapa hari ini vin. Aku sudah mengenalmu sejak kau lahir didunia ini dan juga sepertinya kau tidak kaget tadi mengetahui keisya sudah tunangan, seperti sudah tahu sejak awal" tindas felix


Kevin menghela nafas panjang percuma kalau saja menyembunyikan dari sepupunya itu. Lalu kevin pun menceritakan kepada felix apa yang terjadi kepada keisya selama ini kalau ia memang dia sudah bertunangan dan radit adalah orangnya


"What" ucap felix terkejut setelah kevin menceritakannya "Kau serius vin, radit orangnya. Teman smamu waktu dulu"


Kevin mengangguk mengiyakan menatap lurus teras rumahnya


"kenapa kau tidak ceritakan saja kepada mereka kalau tunangan itu terpaksa? Rencana itu dari tasya saudara tirinya sendiri?"


"Aku mau gitu. Tapi melihat keadaan kacau saat ini, aku ragu menceritakan kepada mereka"


"Lalu apakah keisya masih berusaha membatalkan perjodohan itu meski ia sekarang sudah tunangan saat ini?"


"Soal itu sih aku belum tahu kabarnya? yang jelas david dan keisya sama-sama kacau dan terpuruk saat ini, keisya tidak fokus bekerja, sering ngalamun dan david sering absen akhir-akhir ini. Aku baru sadar akan hal itu"


"Sepertinya aku harus pergi sekarang" ucap felix seraya melihat jam tangan di pengelangan tangannya beranjak menuju mobilnya terpangkir


"Mau kemana" teriak kevin heran


"Apa kau sudah menjadi kakek perlupa sekarang, ini jam berada bodoh. Waktu kita ke cafe" ledek felix jengkel dari dalam mobil lalu menajapkan gasnya berlalu meninggalkanya kevin melongo menatapnya


"Ck, sepupu menyebalkan. bukannya berangkat bareng, eh Malah pergi duluan" ucap kevin Mendengus kesal lalu menatap hazel "eh, kau. Ayo kita pergi ke cafe sekarang"


Hazel menoleh menatap kevin datar


"tidak. Untuk beberapa hari ini aku kayaknya cuti deh" ucap hazel lantang lalu diam sesaat ia menerawang "sepertinya keisya juga ikut cuti"


"Apa-apaan kalian tumben-tumbennan ambil cuti segala? Tidak. Aku tidak mengijikan itu, apalagi kau zel, kau hanya satu-satu chef di cafe itu" protes kevin tidak mengizinkan


"Aku tidak butuh izin darimu. Atau kau tutup dulu cafemu untuk sementara" ucap hazel tanpa dosanya 


"What?! Apa kau bilang!! Cafe ditutup. tidak, apa kau gila hah!!!" protes kevin murka


"apa kau tidak lihat keadaan kariyawanmu sekarang? aku dan keisya akan cuti mulai saat ini, david mungkin masih terpukul. Hanya kau, felix dan digo bekerja, apa kau tidak repot  cuman bertiga doang bekerja. jadi sebaiknya tutup saja untuk sementara waktu"


Kevin terdiam menimbang-nimbang perkataan hazel memang benarnya. cuman bekerja tiga orang itu akan repot nantinya apalagi bertambahan para pelanggannya makin bertambah hari ke hari membuat mereka bertiga akan sulit nanti


"Iya kau benar sih. Tapi bagaimana dengan felix dan digo"


"Kau hubungilah mereka bahwa cafe ditutup untuk sementara" ucap hazel menuju tempat motor lalu menaiki motornya memasang helmnya "Aku pergi dulu, nanti malam aku pulang"


"memang kau mau kemana sih? Aku heran, kau ambil tumben ambil cuti? Kemana?" Tanya kevin penasaran


"Kalau kau ingin tahu, ikutlah denganku"


Kevin melongo lalu mendengus kesal saat hazel berlalu meninggalkannya begitu saja, meninggalkan rasa penasaran kemana dirinya itu. ia pun segera menuju mobilnya pergi menyusul hazel mengikutinya dari belakang


Kevin pun menghubungi felix seraya mengetir mobilnya dan mendapatkan hadiah sumpah jerapah dari felix. Tak lama selama kevin mengikuti hazel, ia mengenyitkan keningnya dalam ketika motor hazel menuju kawasan rumah sakit dan menghentikan motor diparkiran rumahnya sakit, ia ikut menyusul menghentikan mobilnya di samping motor hazel


"Aku pikir kau tidak ikut"


"Terserah. apa yang kau lakukan disini? Siapa yang sakit?"


"Kau simpan dulu pertanyaanmu nanti? semuanya akan terjawab setelah apa yang lihat nanti?"


Kevin memutar bola matanya jerah dan kesal, hazel terus saja membuat makin penasaran. Dan hazel hanya berkekeh pelan mengerjai kevin karna itu suatu hiburnya untuknya


Hazel dan kevin masuk ke dalam  rumah sakit. Selama perjalanan ke ruang inap kevin terus saja berceloteh kesal karna hazel masih saja diam belum kasih tahu siapa yang masuk rumah sakit. Hazel hanya diam tidak menanggapinya, dia larut dalam pikiran yang masih memikirkan keadaan keisya


Saat hazel sampai diruang menarik knop pintu untuk terbuka lebar sukses bikin mata kevin membulat besar seketika, celotehan yang berhenti bergantian dengan diam mematung melihat ranjang inap itu


"I-itu keisya bukan?" Ucap kevin terbata masih belum percaya dengan apa yang ia lihat dan juga ada raut khawatir dari wajahnya itu "jadi ini kau maksud ingin cuti karna kau ingin merawat keisya dan keisya cuti karna ia dirawat saat ini. Bagaimana bisa dia jadi begini?"


"Iya, kemaren malam dia kecelakaan, pas pulang kerja kemaren" ucap hazel santai menarik kursi untuk di samping ranjangnya lalu mengenggam tangannya lembut


"kondisi fisik dan mental lemah. dia mengalami luka kecil akibat kepala terbentur trotoran, dokter juga bilang dia kekurangan gizi"


"APA?!" Ucap kevin terkejut mengetahui keadaan menyedihkan tentangnya lalu mengucap wajahnya kasar "Astaga, menyedihkan sekali kondisinya saat ini"


"Dan itu karna gara-gara mereka" guman hazel tanda sadar mengenggam terlalu erat, kemarahan terbelit dimatanya "Gara-gara mereka keisya menjadi kayak gini. Aku akui keisya memang salah juga karna masih menyembunyikan pertunangannya, tapi dia sudah  berusaha minta maaf dan penjelasannya tapi mereka tidak mau mendengarkannya menyebabkan dia kayak gini, sial. Aku berjanji akan ku buat mereka menyesal, benar-benar menyesal"


Kevin hanya diam tidak terkuting seraya menepuk punggung hazel menenangnya sepupunya itu dan merinding nyeri melihat tangan hazel mengenggam tangan keisya terlalu erat


"Zel tenangkan dirimu, lepaskan tangan keisya. Kau bisa menyakitinya"


Reflek tangan hazel yang pun terlepas menghela nafas berat menetralkan emosinya yang hampir menyakiti orang lain lalu menatap keisya sendu


"Maafkan aku keis" ucap hazel merasa bersalah


"Oh, yaa ngomong-ngomong kok hanya kau disini?"


"Iya, hanya aku dan kau tahu bahwa keisya kecelakaan, yang lain belum ada yang tahu sama sekali karna aku malas memberitahu mereka. soal nyokap keisya, aku juga khawatir jika tahu keisya seperti ini dan wilson tak lah, aku juga malas memberitahunya


"Tapi setidak kau harus memberitahukan kepada keluarga keisha agar mereka tidak khawatir, setidaknya digo atau pun arka yang tinggal serumah sama keisya saat ini"


"Sudahlah vin, aku lelah memikirkan ini semua" keluh hazel bangkit dari kursi berpindah tempat membaring tubuhnya di sofa "aku mau istirahat dulu, aku belum tidur dari kemaren"


Setelah mengatakan itu ia memejapkan mata meletakan satu lengannya tangannya dibkening istirahat sejenak dan tidak memperdulikan tatapan jengkel dari kevin. Kevin pun menolek lagi keisya menatapnya sendu dan penuh khawatiran


BRAK


hazel yang sempat memejapkan mata terpaksa dibuka matanya lagi menatap tajam orang yang menganggu waktu istirahatnya sedangkan kevin terlonjak kaget mendengar dobrak pintu keras


"J-jason"


Hazel dan kevin terblalakan matanya melihat pria bule tampan yang tak mereka berdua duga sudah berdiri di samping ranjang keisya sebelah kanan atau dihadapan kevin duduk.  dengan raut wajah ke panikkan diwajah tampannya


"How is it now? Is she okay?" Tanya jason


Hazel dan kevin tidak menjawab, Melainkan masih melongo menatap orang tak pernah mereka terpikir atau mereka duga hadir di rumah sakit ini. Masih belum percaya apa yang lihat


"Hey, kenapa kalian berdua diam saja? Cepat jawab pertanyaanku, bagaimana keadaan keisya sekarang?" Tanya jason ketus


"Wait, how can you be here? Who's telling you? Are not you in amerika?" Tanya hazel heran


"That is impotant. Quickly tell me my Question?"


hazel dan kevin mendengus kesal. Hazel pun menatap kevin seolah mengatakannya 'apa aku mengatakannya'. kevin hanya mengangkat bahu acuh berjalan santai duduk disofa membuat hazel mendengus jengkel lalu membuang nafas panjang menatap jason yang masih meminta penjelasan


"Keisya........."


...♥️♥️♥️♥️♥️...


1 Minggu kemudian


Seorang guru tampan sedang menerangkan materi pelajaran matematika kepada murid-muridnya dengan wajah senyum tak pernah pudar seolah memberikan aura positif bagi muridnya itu dan tentu saja mereka menerima bersemangat karna diajarkan guru tampan itu


"Oke, baiklah. Sekarang kerjakan latihan halaman 55, kerjakan 1-10, kalau ada yang kalian tidak mengerti kalian boleh tanya saya, mengerti!!!"


"Iya, pak" sorak mereka semua


Radit pun kembali ke mejanya menarik kursi duduk dihadapan mejanya menatap ponsel yang terletak di atas meja tersenyum getir seolah berharap seseorang menghubungi mengembalikan senyum cerahnya tidak dengan senyum paksaan ia perlihatkan kepada semua orang


Tatapan beralih ke bangku kosong diantara murid-murid yang diduduki, bangku kosong itu terletak ponjok dekat jendela di barisan ke dua dari meja paling depan. Sebuah bangku kosong yang telah tidak duduki oleh pemiliknya tersenyum masam menatap bangku itu


"Keisya, kamu dimana? Aku merindukanmu" batin radit


Iya, radit yang lagi merindukan dan mengkhawatirkan tunangannya, keisya. yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, tidak ada orang yang mengetahui dimana keberadaannya gadis itu saat ini bahkan keluarga wilson pun tidak tahu dimana gadis itu dan sempat membuat kondisi jantung wilson dorm karna terlalu memikirkan keberadaan anaknya itu


"Pak"


Seorang menepuk pundak menyadarkan lamunan dari radit


"Eh, iya. Ada apa?" ucap radit keglalapan


"Astaga bapak tanya ada apa? Bapak ngalamun yaa pak, sampai bel berbunyi tidak dengar" ucap daffa sang ketua kelas


"Oh bel sudah bunyi yaa. maafkankan saya" ucap radit merasa bersalah yang telah mengacuhkan murid-murid


"tidak apa-apa pak, bapak pasti mikirin tunangan bapak yaa keisya yang tidak ada kabarnya"ucap daffa berkekeh pelan


"Emang keisya kemana sih pak? Kok ga kelihatan 1 minggu ini?"


"Saya tidak tahu" ucap radit singkat "oh, yaa kamu sudah selesai kerjakan tugasnya"


"Sudah pak ini sudah dikumpulin sama yang lainnya, kami boleh istirahat pak?"


Ucap daffa


"Tentu, kalian boleh istirahat"


Semuanya langsung bersorak senang dan membubar diri keluar dari kelas namun saat ada satu beberapa orang radit memanggilnya


"Louis, cindy, shiren dan aldo kemari kalian" panggil radit memanggil mereka


Mereka saling menoleh bingung dan berjalan menghampiri pak radit


"Ada apa manggil kami?" Tanya aldo heran


"Nanti habis pulang kalian ke ruangan ada yang aku bicarakan pada kalian"


Setelah mengatakan radit itu langsung berlalu begitu saja meninggalkan mereka hendak protes akan perintahnya itu


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Tibalah jam pulang anak sekolah sma. louis, aldo, shiren, cindy dan juga digo berkumpul di ruang radit mereka semua duduk di sofa menatap radit penuh tanya.


Tak lama orang yang radit tunggu juga datang yaitu david dan rio. Sukses bikin mereka bingung akan hadir mereka berdua


"Oke, karna semuanya sudah hadir mari kita bicara" ucap radit dengan wajah serius, bokongnya ia sadar di tepi meja melipat kedua tangannya didepan dada "Saya mau kita ga usah bicara formal, bukan guru kepada muridnya. Bebas bicara apapun itu, Anggaplah kita seumuran saling akrab satu sama lain dan juga berlaku diluar sekolah"


radit mengatakan itu agar lebih nyaman bicaranya dan membuat mereka mengangguk mengiyakan


"Lalu kau mau bicara apa dit?" Tanya aldo santai membuat radit tersenyum


"Tentang keisha"


Mendadak wajah mereka berubah seketika menjadi dingin dan kekesalan. Aura di ruangan radit ikut berubah mengcekram seketika


"Sorry, kita ga....."


"Iya, aku tahu kalau kalian tidak mau bahas itu lagi. Kalian tidak menganggap keisya sebagai sahabat kalian lagi" ucap radit memotong perkataan shiren


"Bukan sahabat tapi MANTAN sahabat" protes cindy menekan kata mantan


"Terserah kalian menganggap dia apa? Yang jelas kalian ketahui ini hanya salah paham" ucap radit


"hah!! Salah paham? Yang benar saja?" Ucap digo tertawa sumbang diikuti oleh yang lainnya


"Digo aku serius, aku tidak bercanda saat ini" ucap radit menunjukan wajah serius


"Dit, kalau kau bilang, ini hanya salah paham atau tidak kami tidak peduli, karna kami terlanjur kecewa dan sakit hati padanya" ucap cindy diangguki oleh yang lainnya


"Yaa. Aku tahu apa kalian rasakan saat ini, kalian semuanya kecewa dan sakit hati kalau keisya sahabat kalian mengrahasiakan pertunangan ini dari kalian. Aku juga sakit hati dan kecewa padanya karna dia masih tidak mau mengakui pertunangan sejak pertunangan ini direncanakan hingga sekarang"


Radit tersenyum getir menunduk menatap kosong lantai. beberapa dari mereka melihat itu terdiam seolah masih belum percaya perkataannya


"Dia sering bicara ketus padaku, ekspresi datar saat aku menatapnya, dia selalu menghindar pada saat aku mendekatinya, dia benar-benar berubah setelah dia tahu aku calon tunangannya. sejujurnya aku sangat merindukan sifatnya dulu, sejak pertama kali bertemu, sebelum dia tahu bahwa aku calon tunangannya. Waktu itu dia tersenyum hangat saat aku menyapanya. dia bicara lembut saat aku mengajaknya bicara, dia selalu membuatku nyaman saat berada didekatnya. sungguh aku merindukan itu semua"


Radit menerawang tersenyum mengingat pertemuan pertama dia bertemu dengan keisya. mereka melihat itu memutar bolanya malas, sedangkan david mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi lalu mendengus kesal mendengarnya


"Apakah sejak kau bertemu dengannya kau sudah menyukainya maksudku sejak kalian berdua pertama kali ketemu waktu ulang tahun keisya waktu itu. Kau percaya cinta pandangan pertama bukan?" Tanya aldo sidis


sukses membuat mereka beralih ke aldo terkejut mendengarnya dan radit juga terkejut mendengar namun sesaat dia tersenyum


"Lo tau tentang mereka berdua al?" Tanya rio kepada aldo heran


"Kalau lo emang tahu, kenapa lo..." ucap cindy hendak protes


"Diamlah, gue ga butuh protesan kalian" ucap aldo sidis lalu menatap radit datar meminta penjelasan tidak peduli sahabat-sahabat melotot ke arahnya


"Yaa. kau benar aldo aku menyukainya sejak pertama kali bertemu, kalau cinta pandangan pertama?" ucap radit diam sesaat sebelum menjawab "Aku tidak tahu apakah ini namanya cinta pandangan pertama atau tidak. Yang jelas tak tahu kenapa saat melihatnya hatiku terbesis melihat senyumannya, dia selalu ada di pikiranku, dan aku selalu ingin datang menemui meski aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun siapa sangka tiba-tiba saja orangtuaku menyuruhnya bertugas di sekolah sini, menjadi guru kalian. Awalnya aku tidak setuju melakukannya karna itu akan repot membagi waktuku dengan sekolah dan perusahaanku, tapi setelah aku tahu kenapa orangtua melakukan aku menjadi semangat melakukannya"


"Cih, ada udang dibalik batu kau rupanya" ledek aldo sidis dan radit hanya merespon menatapnya datar


"Terserah kau menganggap aku apa atau kau memakai istilah apa, so aku tidak peduli" ucap radit cuek "sebenarnya aku juga ingin minta maaf kepada kalian semua"


"Minta maaf?!" Tanya rio heran


"Yaa, aku minta maaf atas kesalahan aku waktu itu. Kesalahan aku membuat kalian bersahabat dengan keisya putus, gara-gara aku kalian jadi kecewa dan membencinya, gara-gara aku dia menjadi sangat terpuruh karna tidak dekat lagi dengan sahabatnya, sungguh aku tidak bermaksud melakukan itu padanya. Aku sangat menyayanginya"


david yang di tatapan juga menatapnya datar dan dingin namun senyum sidis dibibirnya


"Kecemburuan itu menyebabkan aku kehilangan akal, tidak memikirkan resiko apa yang kami dapatkan. Tapi aku akan berusaha memperbaikinya dengan mempersatukan kalian lagi, karna saya tidak ingin kalian seperti ini terhadapnya, maafkanlah dia, dia tidak bermaksud mengrahasiakan ini dari kalian. percayalah, dia sangat menyayangi kalian semua dan juga aku harap kalian ..... kalian menyadari kalau dia sudah bertunangan dengannya dan memiliki batas perdekatannya"


Radit mengatakan kalimat terakhir penuh penekanan seolah menegaskan secara halus kalau keisha itu miliknya tidak boleh disentuh oleh siapapun. David tersenyum sidis menatap datar radit seakan tahu apa maksud perkataannya


"Oh, yaa, sangat mengelikan sekali" ucap david tertawa sumbang sekilas "apa kau yakin dengan semua itu memiliki batas perdekatannya? Bagaimana dengan masalah hati jika hati tidak bisa menerima itu semua, rasa ingin memiliki dan akan memperjuangkan walaupun dia telah menyakiti sekalipun? "


Radit tersenyum miris


"Kalau hati tidak bisa menerima ini semua, ingin memiliki dan memperjuangnnya maka hati itu tetap harus menerima itu semua


Karna ada suatu ikatan yang akan mengikutinya. Jika ada suatu ikatan yang tidak bisa ditolak maka mau tak mau hati harus menerima dengan lapang dada"


Radit tersenyum melihat tangan david sudah mengepal seakan menahan emosinya itu dengan santai ia melangkahkan kakinya mendekat david menepuk pundak santai


"harus rela melupakan hati itu dan belajar mencintainya"


Radit mundur satu langkah melihat david makin menatapnya tajam dan pembunuh


"Oke, aku rasa tidak ada dibicarakan lagi. Aku harap kalian mendengarkan kata-kataku itu dan berpikirlah dewasa" ucap radit lalu


membereskan barang-barangnya lalu berhenti


"Ohh, yaa. Kalian tahu dimana


Keberadaan keisya?" tanya radit khawatir


"Kenapa kau bertanya pada kami? apa karna kau tidak bisa menjaganya?" ucap Rio menyindir Radit


"Bukan begitu. Hanya saja selama 1 minggu ini dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar, aku sudah menghubungi dan pergi kerumahnya untuk mencari keberadaannya namun tak kunjung ditemukan. Aku menjadi khawatir padanya saat ini" guman radit sengaja mengucapkan agar mereka itu tahu karna ia yakin mereka pasti mempunyai sedikit rasa peduli terhadapnya "Sudahlah, jika kalian tidak tahu menahu mengenai itu, tak apa. Aku bisa mengerti. Aku bisa mencarinya sendiri. Aku permisi dulu"


Radit pun pergi berlalu meninggalkan ruangan, meninggalkan mereka yang larut dalam pikiran masing-masing. Tak apa mereka percaya atau tidak kalau ini hanya salah paham yang jelas mereka bingung dengan keadaannya yang jelas perasaan kecewa masih ada


"Guyy, gue juga duluan" pamit david dingin


tak tahu kenapa ia juga khawatir terhadap keisha meski rasa sakit hati dan kekecewaan masih ada terhadapanya karna bagaimana pun juga ia sangat mencintai meski ia sudah berusaha untuk melupakannya dan selalu menghindarinya namun bukannya melupakan perasaannya tak berujung kebahagiaan karna keisyha sudah dimiliki orang lain tapi malah makin mencintainya dan merindukannya


"Sayang, aku duluan kamu kali pulang sendiri yaa. Aku mau nyusul david dulu" pamit rio kepada shiren kekasih setelah mencium kening sekilas lalu berlari menyusul sahabatnya david


Shiren hanya tersenyum mengangguk lalu mengbuang nafas kasar seolah merasa lelah dengan kekacauan semua ini. Lalu menatap louis, cindy, digo dan aldo yang sedang diam larut dalam pikiran mereka masing-masing seolah memikirkan perkataan radit tadi


"Lalu kita harus melakukan apa sekarang?" Tanya shiren


"Tah lah gue masih bingung dengan semua ini? Percaya atau tidak kalau ini semua salah paham" ucap louis bingung


"Yaa, jika salah satu ada pengkhianat menjelaskannya pada kita" ucap cindy menatap tajam seseorang seolah menyindir orang itu


"Apa?!" Tanya aldo datar seakan tahu apa arti tatapan cindy yang ia layangkan


"Ayo ikut gue"


cindy bangkit menyeret aldo kasar keluar dari ruangan radit membawanya dalam kelasnya yang sudah mulai sepi di ikuti louis, shiren dan digo.


"Apain sih lo pegang-pegang tangan gue, kasar banget jadi cewek" sindir aldo mendengus kesal dengan cindy menyeret secara kasar


"Bodo amat, apa peduli dengan tangan lo itu" balas cindy ketus "Jelaskan sekarang?"


"Jelaskan apaan?" Tanya aldo polos


"Ohh, ayolah aldo. Lo jangan mulai lagi deh" ucap shiren dengan sikap aldo yang bertele-tele


"Cepat katakan saja, bodoh!!!" Dengus louis kesal


"Atau lo mau gue hajar dulu baru lo mau cerita renaldo bottier" dengus digo


Aldo memutar bola matanya jerah melihat kemurkaan yang tidak sabaran itu lalu menghela nafas panjang setelahnya


Aldo pun menceritakan kalau sebenarnya dia sudah memang bertemu dengan radit sebelum dia masuk ke sekolah mereka atau dia bertemu dengannya waktu keisya ulang tahun begitupun dengan keisya pertama kali bertemu dengannya, waktu itu dia tidak sengaja mendengar dari orang tua mereka kalau keisya dan radit itu dijodohkan mereka hanya membicarakan kegiatan anak mereka masing-masing dan juga mereka mengenal keisya sebagai anak sulung keluarga wilson bukan keluarga tiri


"Jadi radit mengenal keisya itu sebagai anak ketiga wilson bukan sebagai keluarga tiri mereka?" ucap digo dan aldo mengangguk mengiyakan


"Itu berarti radit tidak tahu siapa orang tua kandung sebenarnya termasuk juga digo sepupunya?" Tanya louis dan aldo diam sejenak lalu ia mengangguk ragu-ragu


"Dulu sih memang iya mereka belum tahu sama sekali. Tapi bukan itu yang gue pikirkan saat ini, tak tahu kenapa gue merasa dibalik pertunangan keisya ada dalang dibalik semua ini?"


"Dalang? Maksud lo al?" Tanya cindy bingung begitupun dengan yang lainnya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


DI RUMAH SAKIT


Sementara diruang inap rumah sakit orang masih sibuk menunggu keisya yang belum kunjung sadar pada masa kritisnya itu. Hazel menatap sendu keisya dengan tangan mengenggam tangannya masih menunggu kesadaran, jason ia duduk disofa bersama kevin yang lagi memakan cemilan. Sekali-kali menawarkan kevin Menawar cemilannya namun jason menolak karna ia kini sibuk fokus memperkutat dengan laptopnya di pangkuannya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang berada jauh di amerika dan kadang-kadang mendapatkan omelan kevin kepadanya


Jason juga sudah bilang kepada kepada mereka hazel dan kevin. kenapa ia berada disini? Siapa yang memberitahunya bahwa keisya kecelakaan? Dan jason bilang yang mendapatkan kabar dari orang suruhan yang selalu mengawasi adik sepupunya itu yang jauh darinya, keisya dan digo. Dia langsung panik dan khawatir mendapatkan kabar bahwa adik sepupu kesayangan


Itu kecelakaan membuat dirinya menyuruh manegernya untuk mengurus keberangkatan dan Langsung terbang indonesia dengan pesawat untuk memastikan keadaannya


selama satu minggu ini ia terus saja di rumah sakit belum pulang ke rumah sekalipun masih khawatirkan keadaannya keisya


Yang belum kunjung sadar. selama ini juga ia bungkam keadaan keisya kepada keluarganya termasuk ibu kandung keisha dan rencana ia memberi tahu setelah keisha sadar nanti karna ia tak ingin membuat mereka khawatir apalagi ibunya sendiri


jason pun sudah mendapatkan kabar dari hazel kenapa keisya bisa kecelakaan? Dan dia bilang kalau keisya jatuh dari motor karna memang kondisi keisya sebelumnya memang terpuruk membuat keisya kehilangan keseimbangan dalam mengendarai dan membuat dirinya terjungkal dengan tubuhnya terbentur di trotoar


Dan jason juga sempat marah setelah hazel menceritakan kalau keadaan terpuruk itu gara-gara ulah sahabatnya, orang dicintai dan juga sepupunya yang sudah pergi meninggalkan, tidak mau mendekatan dan bersahabat dengannya lagi meski ia sudah minta maaf sekalipun. Jason bisa sedikit mengerti itu semua kenapa mereka itu semua karna mereka kecewa dan sakit hati karna keisya merahasiakan pertunangannya itu


Tapi kalau membuat keisya masuk rumah sakit sehingga membuat dirinya kritis tak kunjung menunjukan tanda-tanda kesadarannya. Tidak. Dia tidak bisa mengerti lagi dan marah, tak akan tinggal diam atas itu semuanya dan punya rencana untuk balas dendam kepada mereka termasuk tunangan keisya sendiri


"Jason, vin. Keisya akan sadar"


Hazel tiba-tiba berteriak saat ia merasakan pergerakan tiba-tiba dari mulai bergerak. Membuat mereka berdua menghentikan aktifitas mereka masing-masing


"What? Really?!" Ucap jason segera menghampiri ranjangnya setelah menutup laptop dan menaruhnya di atas sofa


"Kau serius?!" ucap kevin dengan mulut penuh dengan makanan lalu membuang bungkus makanan di kantong sampah di ruang inap dan berjalan menghampiri keisya


"Iya, tadi aku melihat pengerakan kecil dari tangannya" ucap hazel antusias


Kini ranjang keisya di keliling oleh mereka bertiga seraya menunggu kesadarannya. Mereka sama-sama terdiam menunggu melihat mata keisya mengedap-gedap membuka mata perlahan-lahan dan mereka tersenyum senang akhirnya matanya terbuka sepenuhnya


"Hey, sweet. How are you? Kau pasti sekarang lelah karna sering tidur terus Hem?" ucap jason lembut seraya tangan kiri mengelus lembut rambut keisya dan kanan mengenggam tangan keisya. Sungguh hatinya sangat senang sekali akhirnya adik perempuannya kesayangan sadar


"Ka..li..an" ucap keisya terbata-bata masker oksigen masih melekat dibibir dan hidungnya


"Keis, jangan banyak bicara dulu? Kau baru sadar saat ini. pasti tubuh kaku saat ini karna terlalu lama tidak mengerakkan tubuhmu" ucap hazel tersenyum memberi perhatian


"Iya, hazel benar, kau istirahat dulu" tutun kevin


"Dan aku akan menunggu dan menjagamu disini sampai keadaanmu benar-benar pulih" ucap jason menatap keisya lembut


"A..ku di..ma..na? Ka..li..an si..a..pa? Dan... a..ku si..a..pa..?" ucap keisya masih terbata-bata menyadarkan pandangan sekeliling ruangan inapnya seperti orang kebingungan


DEG


hazel, kevin dan jason diam mematung, tubuh mereka sama-sama menegang dan terlonjak kaget mendengar perkataan keisya.


"yaa ampun, keis. Kau jangan mengarang lulocon menyebalkan seperti itu? Ini tidak lucu. Bagaimana kau tidak bisa mengingat kami dan juga dirimu? Yang benar saja?" Ucap kevin tertawa sumbang lalu geleng-geleng kepala setelah


"Iya keis, kau baru sadar saat ini. Aku tahu, kau tak ingin membuat kami khawatir sehingga kau membuat lulocon, sungguh kami tidak ingin bercanda sekarang" ucap hazel mendengus tidak suka


"A..apa.. mak..sud..mu? A..ku be..nar be..nar tidak men..gi...ngat ka...lian? Ke...is? A...pa..kah...itu na..ma..ku?" ucap keisha


"Cukup keis, aku tidak suka dengan kau bertingkah begini. Kami ini sahabatmu, dan dia jason kakak sepupumu" ucap hazel mulai kesal


"Iya, keis. Hentikan sandiwara ini. You dont joke? It's not funny?" Tegas jason mulai kesal juga


Keisya terdiam masih tampak kebingungan. Ia menyentuh pelipisnya yang masih terbalut perban mencoba mengingat siapa mereka sebenarnya? Namun bukannya mengingat tapi malah kepala mendenyut sakit. Sangat sakit sekali.


"Ahhh....kepalaku....aahh...sakit" ucap keisya histeris meringis kesakitan dengan kedua tangan menyentuh kepalanya yang makin sakit membuat mereka


"Sweet, what is wrong with you? Katakan padaku!!! Apa yang sakit!!" Ucap jason panik dan kalut


"Vin, panggil dokter vin" ucap hazel panik kepada kevin dan kevin mengangguk dengan cepat ia keluar memanggil dokter dan suster


Tak lama dokter dan suster pun datang menghampiri hazel dan jason yang masih panik menatap keisya yang masih kesakitan di kepalanya


"Mohon anda semua keluar, biar kami periksa keadaan pasien" suruh suster itu


Mereka bertiga pun keluar dari ruangan keisya menunggu yang diperiksa dokter. Masih dalam keadaan panik di wajah mereka masing-masing berharap-harap cemas kalau keisya pasti baik-baik saja. Tak lama dokter pun keluar dan menghampiri mereka bertiga


"Doc, how is it? Why was she grimacing such dain it the head? His head did not get A cut in the dock" ucap jason kalut bertanya bertubi-tubi kepada dokter itu


"Iya. Dia pasti baik-baik sajakan dok" ucap hazel


"Sebelumnya saya minta maaf. Setelah saya periksa kondisi apa yang dialami pasien ternyata pasien mengalami amesia"


"APA?!"


Jason, hazel dan kevin terkejut, mereka bertiga menelan nafas pahit. Tapi dalam hati jason dan hazel sesak, hati mereka sama-sama sakit sesak karna orang mereka sayangi tidak mengingat mereka lagi


"Amesia? Maksud dokter hilang ingatan gitu? Dia melupakan semuanya dan termasuk dirinya juga" tanya kevin memastikan. Sungguh ia tidak percaya saat ini


"Iya, pasien mengalami amesia saat ini. ada benjolan kecil di dalam kepala akibat benturan keras di kepalanya waktu itu, sehingga ia melupakan semuanya dan juga pasien sendiri"


"TIDAK" ucap hazel membentak dokter itu


"Dokter pasti bohong!!! Ya kan!!! Dia tidak mungkin melupakan semuanya!!! Dokter pasti bercanda!!!"


"zel, tenangkan dirimu. ini rumah sakit" ucap kevin menepuk pundak hazel menenangkannya, ia mengerti perasaan hazel saat ini lalu menatap dokter lagi


"Dok, apakah dia bisa mengingat kita lagi"


"Iya. Pasien bisa mengingat secara perlahan-lahan, tapi jangan terlalu memaksanya mengingat karna akan menyebabkan akan sulit mengingat siapa dirinya dan juga saya sudah membiuskan obat pereda rasa sakitnya, sehingga pasien dalam keadaan tenang sekarang"


"Baik dok, kami akan mengikuti perkataan dokter" ucap kevin dan dokter pun pamit dari hadapan mereka bertiga


Kevin pun menatap sendu jason dan hazel. Jason yang terlihat lagi duduk lemas di kursi ruang tunggu dengan tatapan kosongnya dan begitupun dengan hazel sama-sama kosongnya. ia menghela panjang ia tahu apa di rasakan mereka rasakaan saat ini


"Ahh sialan. Mengapa harus seperti ini!!" Ucap hazel frustasi tanpa sadar air mata menetes mewakili perasaan saat ini. sangat sakit dan sedih mengingat orang dicintainya tidak mengingatnya lagi


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Setelah satu jam lamanya pria tampan bertiga itu menenangkan dirinya akhirnya kembali ke ruangan keisya sekaligus memberi waktu istirahat keisya. Kini mereka bertiga berdiri di ambang pintu menatap keisya sendu yang lagi memejapkan matanya, semua alat sudah terlepas dari tubuhnya hanya tinggal selang infus di pengelangan tangan kanan dan juga perban masih melilit di kepalanya


Mereka bertiga sama menghela nafas kasar sebelum memasuki ruang inapnya pelan-pelan takut terganggu waktu istirahat. Namun baru beberapa lama tiba-tiba keisya sudah membuka matanya dan menatap mereka bingung


"Eh, kau sudah bangun yaa, apa kami menganggu waktu istirahat kau?" Tanya kevin menggaruk tengkuk tidak gatal merasa tidak enak dengannya dan tiba-tiba suasana menjadi cangrung


"Oh, Tidak apa-apa" ucap keisya kaku "oh yaa, kalian itu siapa sebenarnya? Maaf, aku benar-benar tidak mengingat kalian Dan juga diriku?"


"Tidak apa-apa, kami bisa mengerti" jawab kevin tersenyum getir "aku kevin temanmu atau bila dibilang aku juga bosmu tepat kau bekerja, dan kau adalah kariyawanku"


"Kevin? Bekerja? Apakah aku pernah bekerja denganmu sebelumnya?" Tanya keisya polos


Kevin mengangguk dan tersenyum


"Yaa, apakah kau mengingatnya?" tanya kevin penuh harap keisya mengingat sedikit namun hanya mendapatkan gelengan kepala bertanda tidak mengingatnya. Membuat kevin menhela nafas berat "tak apa, perlahan-lahan kau pasti mengingatku"


"Akan aku usaha" ucap keisya tersenyum, lalu tatapannya beralih kepada dua orang asing baginya yang menatap penuh arti "Ohh yaa kalian berdua siapa? apakah aku juga mengenal kalian?"


Hazel tersadar dari tatapannya lalu tersenyum getir kepada keisya "aku hazel, sahabatmu"


"Hazel? Sahabatku?" Ulang keisya bingung


"Iya apakah kau mengingatnya" tanya hazel penuh harap dan keisya hanya geleng-geleng kepala


"Tapi namamu seperti tak asing bagiku? Apakah kita sangat dekat?" Tanya keisya penasaran. Tak tahu kenapa ia merasa tak asing baginya


"Yaa, tapi tidak terlalu dekat sih. Kau dulu sering curhat kepadaku dan aku selalu membantu saat kau kesulitan. kita hampir ketemu setiap hari dan sering menghabiskan waktu bersama" ucap hazel tanpa sadar matanya berkata-kata menatap keisya


Keisya bertegun melihatnya


"Kau menangis? Maafkan aku jika aku menyakitimu"


"Ohh tidak-tidak" ucap hazel geleng-geleng kepala cepat menghapus air matanya kasar


"Aku tidak apa-apa, tenang saja"


"Benarkah? tapi...."


"Sudahlah, kau jangan merasa bersalah begitu. Aku mengerti keadaanmu saat ini, aku berjanji padamu akan membantu mengingat lagi, Bagaimana kau maukan?" tanya hazel tersenyum


"tentu saja, aku sangat senang sekali jika mengingat lagi siapa aku sebenarnya" ucap keisya tersenyum antusias membuat hazel berkekeh pelan


"lalu kau siapa?" Tanya keisya menatap jason bingung


Jason tersenyum getir


"Aku jason, aku kakak sepupumu"


"Jason? kakak sepupuku?" Ucap keisya lalu melirik jason dari ujung rambut sampai ujung kaki "Tapi kau seperti bukan orang indonesia sama sepertiku, warna kulitmu juga berbeda denganku. Warna kulit putih susu berbeda denganku sawo matang"


jason tertawa sumbang


"Hahaha kau benar, aku kakak sepupumu dari amerika. Ibuku orang amerika dan ayahku orang indonesia, Aku lahir di amerika dan tinggal lebih lama disana. Ayahku ini namanya hendri yaitu pamanmu, kakak dari ibumu" jelas jason berbahasa indonesia yang tidak terlalu fasih


"Ohh begitu" ucap keisya menggangguk paham lalu tersenyum terpesona menatap jason "aku tidak menyangka kalau aku punya kakak sepupu tampan sepertimu"


"Tentu saja, aku memang tampan sejak lahir" kekeh jason pelan membuat hazel dan kevin menatapnya sinis


"Lalu namaku siapa? Aku belum tahu siapa aku?" Tanya keisya polos


"Namamu itu keisya adelia...." ucap jason diam sesaat sungguh ia membenci menyebut nama terakhirnya ini "....wilson"


Keisya mengangguk paham Setelah itu mereka percakapan itu mereka pun berbincang ringan berusaha membantu keisya agar bisa mengingat lagi meskipun hasilnya nihil dan sudah berusaha keras


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Setelah makan malam bersama keisya di ruang inap akhirnya mereka keluar ruangannya memberi waktunya untuknya istirahat sekaligus ada yang mereka bicarakan di ruang tunggu


"Ahh, sial. benar-benar kacau, kacau" ucap hazel menarik rambutnya frustasi


"Huh, apa yang kita lakukan sekarang. Keisya amesia saat ini?" ucap kevin mendengus kesal dengan keadaan


"I have a plan?!" jawab jason tersenyum membuat kevin dan hazel mendongok menatapnya penuh tanya


"Apa?" Tanya kevin


"I will bring my keisha to amerika" ucap jason santai memasukkan kedua tangan disaku celana jeansnya


"WHAT?!" Ucap hazel dan kevin terkejut


"NO" ucap hazel geleng-geleng kepala pertanda tidak setuju "Apa kau gila!! Hah!! Bagaimana bisa kau membawanya disaat dia hilang ingatan seperti ini? tidak. aku tidak akan setuju akan hal itu"


"it is true hazel said. If you bring it that problem win be difficuif later" ucap kevin mendengus kesal


"Itu akan menjadi kesempatan baik untukku, lagipula sahabat keisha dan juga david sudah menjauhinya, untuk apa dia disini jadi lebih baik aku bawa saja membawanya ke amerika bersamaku. my dad is waiting for him too" ucap jason tegas


"No. I will not let that happen" ucap hazel tak mau kalah "apa kau mencoba memisahkan keisha dengan ibunya kandungnya sendiri jika kau membawanya begitu? Apalagi dia pasti tidak mengingat ibu kandungnya juga"


"Aku tidak sejahat itu bodoh!!" Ucap jason mendengus kesal "Tentu saja aku membawa tante adelia ikut bersamaku juga, dan juga aku tidak akan membiarkan keisha melupakan ibu kandungnya sendiri"


"Nak kalau itu pikiranmu. mengapa harus membawa keisya segala? biarkan saja dia disini. Apalagi dia masih sekolah sebentar lagi lulus, kalau kau membawanya amerika lalu bagaimana dengan pendidikannya?" Ucap kevin masih berusaha keras agar jason tidak membawa keisha ke amerika


"Aku bisa menyesekolahkan dia disana dan mencari sekolah terbaik disana dibandingkan disini. Aku juga...."


"Tidak. Jason, tidak aku tetap setuju dengan hal itu" tegas hazel "Apa kau sudah bilang tante adelia mengenai ini? Pasti belum bukan? bukankah dulu keisya pernah berjanji padamu kalau dia akan ke amerika setelah lulus nanti dan bersekolah disana. Kalau kau tiba-tiba membawa amerika sekarang ini dan tiba-tiba dia mengingat janji itu lagi sudah dipastikan keisya pasti akan marah besar karna kau melarang janjinya, kau pasti tahu adik sepupu itu bukan?"


Sukses bikin jason terdiam mendengar perkataan penuh penekanan darinya. ia menunduk bingung saat ini. jujur ia ingin membawa keisya secepatnya dari sini, dia tidak tahan lagi melihat dan mendengar keluarga tiri keisya terus saja membuatnya hidupnya menderita, sahabatnya dan orang dicintainya sudah mulai membencinya saat ini akan membuatnya makin menderita lagi. Lebih baik ia tinggal bersamanya di amerika hidup bahagia bersama keluarganya dan juga ibu kandungnya sendiri


Sungguh ia bingung akan hal ini


"oke, kalau itu keinginan kalian berdua, aku tak akan membawa keisya ke amerika sekarang ini" ucap jason pasrah membuat mereka berdua membuang nafas lega


"Tapi kalian harus menjaga, melindungi dan membuatnya bahagia meskipun dia amesia saat ini karna aku tidak akan selamanya berada disini. Kalau tidak aku akan tetap membawanya ke amerika bagaimana pun caranya" ucap jason memberi peringatan kepada mereka berdua


"Cih, tanpa kau menyuruh kami, aku akan tetap menjaga dan melindunginya" ledek hazel mendengus


"Yaa, jelas. Itu karna kau mencintainya" balas jason sengit


Sukses bikin hazel melotot ke arahnya sedangkan kevin menahan tawanya


"tunggu sebentar aku mau mengangkat telepon dulu" ucap jason cepat ketika hazel protes kepadanya karna merasakan ponselnya bergetar disaku celananya lalu mengangkatnya


"Hello....what?....oke, siapkan semuanya jangan sampai ketinggalan satupun, mengerti!!!" Tegas jason setelah mematikan sambungan teleponnya seolah perilaku bos menyuruh anak buahnya.


Lalu menatap kevin dan hazel yang lagi menatapnya penasaran


"I have other plans?" Ucap jason menyeringai


"Apa maksudmu?!"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Beberapa hari kemudian keadaan keisya mulai pulih, dia sudah bisa keluar dari rumah sakit dan melakukan aktifitas kembali lagi. Mengingat keisya hilang ingatan saat ini membuat dirinya melupakan jati dirinya sendiri, dia menjadi seorang gadis polos dan pendiam. Tidak seperti dulu lagi


Jason dan kevin pun membawa keisya ke sebuah apartemen yang sudah disiapkan jason untuk dia tinggali sementara waktu. Ia mempunyai rencana untuk menjauhi keisya dari sahabatnya dan juga digo sepupu yang tinggal serumah dengannya dengan alasan balas dendam kepada mereka semua


Jason sempat singgah kerumahnya untuk mengambil barang-barang keisya yang berada di kamarnya lalu dipindahkan ke kamar apartemennya itu agar mempermudahkan untuk mengingat kembali. arka sempat kaget akan kehadiran jason tiba-tiba berada dikamar keisya karna dia tidak bilang kau ia sudah berada di indonesia dan jason hanya bilang kalau ia ada urusan mendadak disini, mengabarkan kalau keisya untuk tinggal bersamanya dulu dan juga berkata kalau dia baik-baik saja karna arka sempat mengkhawatir keisya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama satu minggu lebih ini.


Arka sempat marah kepada jason karna tidak mengabarkan kalau keisya masuk rumah sakit karna kecelakaan dan sedih mengetahui keisya hilang ingatan dan punya rencana akan menjenguk keisya nanti karna saat ini ia disibukan urusan kuliah yang akan kelar sebentar lagi. Jason juga menyuruh arka bungkam tentang keisya saat ini kepada sahabat keisya dan sepupunya sendiri tanpa mengatakan alasan yang tepat


"So, this is your apertment, come in" suruh jason membuka pintu apartemen dan membawa keisya bersamanya dan juga kevin



Keisya mengangguk melangkah kakinya masuk ke apartemen manimalis itu lalu mengedarkan Pandangan mengeliling setiap sudut ruangannya yang terasa asing


"Ini apartemenku? Tapi kenapa aku merasa asing yaa" tanya keisya penasaran


"Itu karna ingatanmu belum pulih betul, sehingga kau melupakan tempat tinggal sendiri. Yaa kan vin?" saut jason cepat menyenggol lengan kevin


"Ohh, i...ya" ucap kevin cepat


"Maafkan kami berdua keis, berbohong padamu" batin kevin dan jason


"Come on in. I'II show you, your room upstairs" tutun jason membawa keisya sebuah ruangan kamarnya yang berada lantai atas


di apertemen ini memiliki 2 lantai. Lantai pertama terdapat ruang tamu, ruang tengah, dapur serta ruang makan yang sudah berisi perabot manimalis lengkap disana yang sudah jason siapkan sejak awal. Sementara dilantai dua terdapat 2 buah kamar, kamar utama dan kamar tamu.


"Ini kamarku?" Tanya keisya setelah jason membuka pintu kamar


jason mengangguk tersenyum. Keisya pun melangkah kakinya masuk ke kamarnya lalu duduk ujung ranjang mengedarkan pandang menyelusuli tiap-tiap sudut kamarnya itu yang terasa tidak asing baginya, jason memang mengubah kamar itu menjadi kamarnya sama persis seperti kamar di rumah sebenarnya, hanya ukuran ranjang dan lemari pakaian yang ubah sedikit menjadi lebih besar dari sebelumnya


Tatapan keisya terpaku pada figuran foto yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur, ia menghampiri figuran foto itu lalu menganggamnya. ia melihat seorang seperti dirinya sedang berpelukan dengan seorang wanita separuh baya yang tersenyum hangat padanya seolah memajarkan kebahagiaan di wajah kedua orang itu.


Tak tahu kenapa keisya merasa familiar menatap wanita itu hatinya menghangat seketika


"Dia siapa?" Tanya keisya polos menunjuk figuran foto itu kepada jason yang dari tadi memperhatikannya


Jason tersenyum


"itu ibu kandungmu, adelia. Tante aku juga" jawab jason


"Oh begitu yaa" ucap keisya mengangguk "lalu dia dimana? Kenapa sejak aku di rumah sakit ibuku tidak menjengukku?"


"Ibumu sebenarnya tidak tahu kalau kau masuk rumah sakit karna takut bikin dia khawatir. Tapi kau tenang saja aku akan memberitahu hari ini dan kau bertemu dengannya hari ini"


"Benarkah?" Ucap keisya antusias. Jason menggangguk mantap "aku tidak sabar bertemu dengan ibuku sendiri"


Jason berkekeh pelan


"Ohh yaa, ayahku dimana? Kenapa tidak ada fotonya terpancang disini? Kenapa hanya ibuku saja? Apa ayahku sudah meninggal sehingga fotonya tidak terpancang disini?" Tanya keisya penasaran ingin tahu siapa orang tuanya. Sukses bikin raut wajah jason berubah seketika


"mati saja kau sana jason" maki jason mengeram


"Keis, bisakah kau tidak menanyakan ayahmu dulu kepadaku?" tanya jason terdengar dingin


"Kenapa?" Tanya keisya polos sekaligus penasaran


"tunggu sebentar, aku mau mengangkat telepon dulu" ucap jason mengalihkan topik pembicaraan keluar dari kamar senaya menempelkan ponselnya ke telinganya. Diam-diam ia bernafas lega karna itu


Sedangkan keisya menatap pintu kamar yang ditutup jason dengan tatapan bingungnya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Jason kini sedang berdiri menunggu di depan pintu utama lobby gedung apartemen dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Sekali-kali ia tersenyum pada saat ada beberapa orang gadis berlalu ilalang didepan, menatapnya dengan tatapan terpesona dan ia hanya membalas senyuman mautnya setelahnya geleng-geleng kepala berpekik mendengar teriak histeris dari wanita itu akan senyumannya itu


"aunty" sapa jason tersenyum kepada wanita separuh payah datang menghampirinya dengan pria muda ia kenal seraya mengenteng tas besar di tangan pria muda itu


"Aunty. How are you? Bagaimana perjalanan kalian, lancar?" Ucap jason memeluk sekilas auntynya itu


"Allhamdulilah baik, perjalanan tadi lancar. kamu kapan sampai disini? Kok tidak bilang?" Ucap aunty itu yang tak lain adalah


mamanya keisha, adelia.


Jason berkekeh pelan


"I'm sorry, aku ada urusan mendadak disini" jawab jason lalu melirik pria itu yang tak lain adalah hazel "ohh yaa, zel. Kau bawa masuk aja barang-barang auntyku di dalam. Aku mau ke cafe dulu sama aunty ada yang aku bicarakan atau kau mau ikut dengan kami?"


"Tidak usah, lagian kalian bicarakan penting. Aku masuk duluan aja" saut hazel lalu menatap mamanya keisha sopan "Tan, barang bawaan tante aku bawa ke dalam yaa?"


"Tapi apa ga repot zel" ucap mamanya keisha tidak enak


"Ga, pa-pa kok tan. lagian tante sudah aku anggap ibuku sendiri" ucap hazel tersenyum sopan kepadanya membuat jason mendengus mencibir


"Kau, ada-ada saja zel" ucap mama keisya berkekeh pelan "yaa sudah, tante sama jason pergi dulu. Kamu ga pa-pa kan sendiri masuk kedalam


"Gak pa-pa kok tan"


Hazel pun pamit masuk ke dalam gedung apartemen karna rencananya ibu keisya akan tinggal bersama keisha dan juga jason untuk sementara waktu agar ingatan keisya terhadap ibunya cepat pulih, Cepat teringat.


bagaimana pun seorang anak tidak boleh melupakan ibu kandung sendiri dalam kondisi apapun itu


Tak lama jason dan nyokap keisya masuk ke dalam gedung menuju lift akan membawa mereka ke lantai 12. Tempat di mana apartemen keisya berada, selama di perjalanan mereka berdua mengobrol ringan tentang menanyakan kabar masing-masing


Langkah jason berhenti pada saat sampai di depan pintu apartemen keisya. Sempat Jason kaget lalu menghela ludah pahit mendengar perkataan auntynya yang telah mengetahui tentang anaknya dan sahabatnya itu yang diceritakan oleh hazel ketika perjalanan ke jakarta.


sukses bikin raut kesedihan muncul diwajah auntynya. kesedihan seorang ibu kepada seorang anak satu-satunya yang paling ia sayangi yang kini melupakan dirinya itu dan semuanya


"Shitt, awass kau zel" batin jason mengerutu kesal karna hazel telah membocornya karna jujur ia tak ingin melihat aunty itu bersedih


Jason hanya tersenyum getir memeluk auntynya itu menenangkannya dan berjanji kepadanya akan membuat keisya mengingat ibunya kandung sendiri dan juga kenangan-kenangan bersama ibunya itu.


Setelah tenang. Jason pun melepas pelukannya beralih menekan layar password pintu apartemen, tak lama ia pintu apartemen terbuka dan jason pun mempersilakan masuk auntynya itu


Adelia tersenyum getir. Melihat seorang gadis yang paling ia sayangi sedang asik berbincang dan sekali-kali tertawa bersama dua orang pria yang tak asing baginya di sofa ruang tengah, kevin dan hazel.


"Keisha" panggil adelia pelan


keisya menoleh, Ikuti oleh kevin dan hazel setelahnya. Diam sesaat. Keisya Menatap bingung seorang wanita paruh baya yang menyapanya merasa familiar baginya


"apakah kamu ibu kandungku?" Tanya keisya polos


hati adelia berkeramuk antara sedih dan kecewa. Namun perlahan yang mengukir senyuman hangat yang selalu diberikan anaknya kesayangannya itu


"Tentu" ucap adelia tersenyum hangat merentangkan kedua tangannya seolah menyuruh anak datang ke pelukannya


"apakah kau tak ingin memeluk mamamu ini keis?"


Keisya tersenyum seraya mengangguk cepat lalu bangkit dari sofa berlari di pelukannya, Memeluknya erat. Tanpa sadar keisya mengucapkan sebuah kata membuat hati adelia berdesih kaget dan terharu


"aku merindukan mama"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


BEBERAPA HARI KEMUDIAN


Seorang gadis berjalan gontai menuju koridor sekolahnya, kepalanya sering menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang kebingungan. Samar-samar ia mendengar beberapa para siswa-siswa mengosip tentang dirinya itu


"Itu keisya yaa. Iya kemana aja tuh anak selama dua minggu?"


"Iya, mentang-mentang nyokapnya punya sekolah. Dia seenak keluar-masuk, apa-apain nih"


"Iya, tidak adill!!!"


"tapi tunggu!!! kok menampilan beda yaa, hahaha"


"Iya cupu banget!!! Hahaha!!!"


"Hahaha"


Yaa. gadis itu keisya yang sudah kembali sekolah, kembali lagi melakukan aktifitas seperti biasanya, belajar di jenjang pendidikan.


Ia makin bingung dan heran saat orang-orang mengejek penampilan yang sekarang ini, penampilan yang sangat beda saat ini. rambut panjang yang dulu dibawah bahu kini dipotong pendek dibatas bahu, rambut dulu sedikit bergelombang ke bawah kini disisir lurus. Dan paling berbeda penampilannya saat ini adalah ia mengenakan kacamata tebal di mata. Sangat berbeda penampilannya saat ini, serta memakai baju seragam dan rok seragamnya seperti biasanya


namun sikap juga berubah saat ini yang dulu galak dan datar kini penuh dengan kepolosan seperti dia baru lahir didunia. Keisha benar-benar tidak tahu siapa dirinya saat ini


Keisya masih dalam kebingungan mencari kelasnya, kata jason membatu dia bilang kalau dia dikelas biologi 3-A, dana sekarang ia tidak tahu kelas itu dimana karna dibilang sekolah ini cukup luas sehingga ia sulit mencari kelasnya


Karna yang masih kebingungan. Ia pun menghampiri seorang cowok yang memunggungi sedang mengobrol bersama dua orang cowok lainnya. Ia menepuk punggung pelan hendak bertanya


"Permisi"


Cowok itu berbalik. Terdiam dan kaget menatap keisya


"Keisha?!"