Dear keisha

Dear keisha
PART 31



Beberapa tiga pria tampan melangkah memasuki ruang kerja seseorang, melangkah dengan hati tidak karuan tak jelas, mereka melangkah menemui seseorang untuk mengubah lagi dengan keputusanya itu, mereka tidak terima gadis yang tidak sepenuh bersalah itu menderita,


Dia tengah memandang kami balik koran saat tiga pria masuk setelah menutup pintu


"Tumben kalian kompak menemuiku, ada apa!" Ucap pria tua menatap kami


"Ada yang ingin kubicarakan paman" ucap hazel berdiri tengah kevin dan felix


"Paman harap tidak mengenai gadis itu" ucap papa kevin


"Ini memang tentang gadis itu ayah" kali ini felix bicara


"Kan aku sudah bilang, aku tetap dengan keputusanku dia sipecat dan harus ganti rugi, tidak akan menerimanya lagi, walapun kalian melakukan apapun demi gadis itu" ucapnya tegas


"Ayah" ucap kevin mulai emosi "ayah tak berhak memecat kariyawanku tanpa mencari tahu apa sebenarnya terjadi, cafe itu punya kami jadi kami tidak terima jika ayah memecat dia"


"Kevin"


"Ayah, dia selalu bekerja mematuhi peraturan dicafe kami, dia juga tak pernah membuat onar dicafe kami, justru dia memberi keberuntungan pagi kami, selalu membuat cafe kami rame karna kegigihan, semangat, kesopanan, keramahan senyumannya dalam bekerja, jadi ayah tak berhak memecat dia tanpa alasan ia jelas"


"Alasan yang tidak jelas apa maksud kamu vin" ucap papa kevin tidak terima "yang jelas ada sanksi yang mengatakan kalau dia membuat onar dicafe dengan menonjok seseorang yang tidak bersalah yang membuat cafe jadi hancur karna keonaran dia"


Mereka bertiga mengepalkan tangannya tidak terima keisya dihina


"Paman, yang jelas orang mengatakan itu tidaklah benar, pada saat kejadian itu dia tidak ada, maka mungkin paman bisa menyimpulkan kalau dia melihat kalau keisya membuat cafe berantakan dari awal" ucap hazel geram


"Terus kalian ada bukti kalau dia tidak bersalah?, tidak kan! Jadi sebaiknya kalian jangan membelanya lagi" ucapnya


"Ayah"


"Udah lah vin, papa udah muak kalian membela gadis itu, jadi sebaiknya kalian keluar dari ruanganku" ucap papa kevin tegas


"Ayah"


"Kevin"


"Ok, terserah" ucap hazel gerah lalu ia keluar disusul kevin dan felix


Hazel pun keluar ruangan kerja papa kevin dengan tangannya mengepal dengan begitu kuatnya, kemarahan pada papa kevin sudah sampai pada puncaknya


Braakk


Akhirnya sebuah pintu tah kamar siapa yang menjadi sasaran tinjunya, sasaran panglampiasan kemarahan, marah kepada pada papa kevin dan juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa jaga emosinya waktu itu dan membuat kevin dan felix menolek kaget


"Sial" cerutu hazel


"Sudahlah zel, percuma kau melampiaskan kemarahan papa pintu itu, tak akan mengubah keputusan paman yang keras kepala itu" ucap felix


"Yah, dikatakan felix benar, tak perlu kau menglampiaskannya, mau tak mau kita terima aja keputusan papa" ucap kevin pasrah


"Tapi, aku sudah janji padanya,  untuk bekerja kembali bareng kita lagi, aku tak mungkin terima gitu aja, aku harus berusaha lebih keras lagi, bahkan aku rela melakukan apapun agar ia bekerja bareng kita lagi" ucap hazel mengingat berjuangan keisya untuk bekerja demi keluaganya, mana mungkin ia biarkan keisya sedih karna ia tidak bekerja


"Percuma zel, tak kan berhasil" ucap felix yang sudah duduk disofa ruang keluaga tak dari kapan


Belum sempat hazel membalas, tiba-tiba bel rumah mewah kevin berbunyi, membuat mereka saling lirik, karna mereka lagi malas menanggapi tamunya


"Biar aku yang membukakan pintu" ucap kevin melangkah menuju ruang tamu


Hening


"Keisha"


Terdengar suara kevin dari ruang tamu membuat hazel dan felix saling lirik dan dengan cepat hazel berlari menghampiri nama yang tersebut kevin


Dan ia bisa keisya berdiri didepan kevin dengan tersenyum, dengan cepat hazel menyingkir kevin berdiri didepan dan memeluk keisya sehingga keisya jadi kaget tiba-tiba mendapatkan dari hazel


Pelukan ia rindukan, pelukan ia sudah lama nantikan, pelukan ia dia cari selama ini


"Yaa ampun zel, baru beberapa hari gue ngilang, lo langsung peluk gue, segitu kangen lo ke gue" ucap keisha berkekeh pelan


Hazel langsung melepaskan pelukannya dan menjidat kepala keisya saking kesalnya


"Aww, sakit bego" ucap keisya mengelus kepalanya


"Gimana kalau rasa sakit hati gue, lo ngilang gitu aja, tanpa memberi kabar ke kami, tanpa membawa apapun, liat badan lo jadi kurus gini" ucap hazel melihat badan keisya yang sudah mulai kurus


"Kan gue udah bilang gue mau nenangkan diri dulu, mau sendiri dulu, tanpa gangguan orang lain"


"Iya nenangkan diri" jawab kevin melipat tangan didada "tapi kau tidak bawa apa-apa untuk nenangkan diri, bahkan uang untuk makan pasti kau tidak bawa kan, liat badan kau kurus kerempeng gitu, dan itu bikin kita semua khawatir"


"Iya maaf-maaf gue bikin kalian khawatir, dan sekarang lo bisa liat gue baik-baik aja kan" ucap keisha tersenyum lembut "oh yaa gimana?"


"Gimana apanya!" Tanya felix


"Gimana, kalian udah bisa bunjuk papa kevin untuk terima gue kerja lagi"


Membuat kevin, hazel, dan felix saling lirik, wajah mereka yang awalnya senang karna keisya kembali berubah menjadi wajah sedih, diam seribu bahasa, keisya melihat itu langsung mengerti


"Kok kalian diam, gue ga diterima yaa!" ucap keisha tertawa musam "yaa udah biar gue aja yang bunjuk papamu bos"


belum sempat keisya melangkah secara sigap felix berdiri didepan menghalangi jalannya


"Percuma saja kau membunjuknya, kami keluargannya aja ga bisa, apalagi kau" tunjuk felix


"Fel, gue kan belum coba, siapa tau gue membunjuknya dia mau menerima gue kembali, jadi izinkan gue ketemu paman lo"


"keis, sebaiknya jangan keis, aku hanya tidak ingin kau nantinya dihina olehnya, aku tak mau kau sakit hati lagi" ucap hazel menatap tajam kevin, dan kevin cuek saja


"Bos, fel, zel gue mohon sama kalian" ucap keisya menatap mereka gantian "izinkan gue ketemu papa lo bos, gue pengen kerja bareng kalian lagi, pengen membantu nyokap gue, gue juga ga mau kalian kasih harapan ke gue, biar gue usaha sendiri, jadi please, gue mohon, bantu gue"


keisya merangkum kedua tangan didepan dada. Mereka saling lirik lagi dan beberapa lama mereka menyetujui permintaan keisya, keisya pun masuk ke ruang kerja papa kevin


"Apa yang kamu lakukan disini! Belum cukup kamu menghancurkan cafe saya, dan mau menhancurkan rumah saya juga, hah!" Ucap papa kevin menatap keisya tajam


"Om, maksud saya datang kesini mau minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang saya lakukan dan saya berjanji akan ganti rugi sebuahnya dan juga....." keisya menarik nafas dalam-dalam ada takut dihati "saya mohon tolong terima saya kembali om"


Papa kevin tersenyum miring


"Setelah kau lakukan cafe saya berantakan, saya mau memaafkan kamu semudah itu? Itu ga sama sekali, saya tak kan terima kamu bekerja lagi dicafe saya, ngerti"


"Saya mohon sama om, terima saya kembali, saya butuh pekerjaan ini, saya sangat ingin bekerja bareng kevin, hazel, felix yang sudah saya agap keluarga saya sendiri, karna hati saya sudah menyetu dicafe om, dimana saya mengenal arti kerja keras dalam hidup bahkan saya rela melakukan apapun agar om terima saya bekerja, jadi saya mohon sama om, saya mohon"


Papa kevin pun menyelidiki wajah gadis itu, mencari kebohongan dimatanya, tapi ia tidak menemukan, melainkan ketulusan dari mata gadis itu


"Apakah benar yang kau katakan itu?" tanya papa kevin dengan cepat keisya mengangguk cepat "ok, kalau gitu, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku agar aku bisa mempercayaimu"


Keisya mengangguk dan keisya mengutuk dirinya


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Hazel kini sedang mondar-mandir didepan jendela ruang keluarganya, lalu ia menatap lama luar jendelanya, melihat seorang keisya masih berdiri diluar rumah


Ia bahkan memberi keisha makan dan minum agar ia bisa mengisi perutnya, tapi ia tolak mentah-mentah, dan juga menyuruhnya duduk tapi ia tidak melakukan, ia tetap berdiri


"Keis, udah dong keis, berhenti melakukan ini" ucap hazel cemas yang sudah berdiri dihadapan keisya "aku tak mau kau sakit dan juga kecapekan karna terlalu lama berdiri"


"Ga, gue akan tetap berdiri disini sampai gue terima kerja bareng kalian lagi" ucap keisha


"Iya, tapi ga gini juga caranya keis" ucap Hazel menatap keisya


Keisya menatapnya jerah


"zel, sebaiknya kau masuk kedalam, dan jangan membunjuk gue untuk menghentikan semua ini, kalau ga gue ga akan mau berteman sama lo lagi" ancam keisya yang sudah kesal dari tadi hazel membunjuknya untuk tidak menurutinya


Merasa terancam, hazel pun mau tak mau menuruti keisya dan masuk kerumahnya kembali


Hari pun menjelang malam, cuaca malam kini berganti dengan cuaca hujan yang sangat deras, membuat hati hazel menjadi tidak tenang, ia masih melihat dari jendela rumahnya keisya masih berdiri di depan rumahnya, pakaiannya pun basah sudah basah kuyuk karna air hujan, hazel pun sempat keluar rumah menawari payung tapi ia dicegah pamannya,


Besok paginya keisya masih setia berdiri didepan rumahnya walaupun badannya sudah mulai lemas, letih, kepala udah mulai pusing, wajah udah mulai pucat,


Tapi beberapa detik kemudian senyumnnya mengembang melihat papa kevin keluar dari rumah, ketika keisya hendak menghampirinya ia sudah masuk dalam mobilnya terlebih dahulu meninggalkan keisya yang masih berdiri


Beberapa detik kemudian ia pingsan tapi secara sigap ada seseorang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh kemudian semuanya menjadi gelap


...❤️❤️❤️❤️❤️...


"Bagaimana keadaannya fel?" Tanya hazel kepada felix yang sedang memeriksa kondisi keisya yang lagi pingsan ditempat tidurnya, karna felix merupakan anak kedokteran


"Dia cuman deman doang kok tak perlu khawatir" ucap felix setelah selesai memeriksa keadaan keisha


"Dia memang keras kepala" ucap kevin "liat dia jadi sakit begini"


"itu kan gara-gara ayahmu kevin" ucap hazel menatap kevin tajam, kevin hanya membuang muka


"Ntah lah aku heran sama dia, rela membahayakan dirinya demi kerja bareng kita lagi" ucap felix


"Oh yaa, zel, kau sudah hubungi digo belum? Kalau keisya ada di rumah kita sekarang"tanya kevin


"Belum" jawab hazel "nanti aku hubungi dia jika keisya sudah membaik"


"Yaa udah aku sama felix keluar dulu" ucap kevin menepuk bahu hazel "rawat dia baik-baik"


"Tanpa kau suruh, aku akan tetap jaga dia" ucap hazel


Kevin dan felix hanya tertawa geli setelah meninggalkan mereka berdua


Setelah mereka pergi, hazel pun duduk ditepi ranjang, tangannya terulur mengenggam tangannya, mengusap kepala lembut


"Dingin....." lirik keisya mengigil, hazel sungguh tak tega melihat keisya tidak perdaya seperti ini,


hazel pun keluar dari kamarnya, mencari obat, setelah mendapatkannya hazel kembali lagi ke kamarnya


"Minum obat dulu keis" ucap hazel menopang badan keisya, membantunya meminum obat, setelah berhasil ia kembali membaringkannya, lalu ia menarik selimut keisya sampai ke dadanya kemudian mengusap lembut kepala keisya


"Dingin.... dingin...."


Hazel berkesiap dengan suara keisya yang masih mengigil dari sela tidurnya, hazel melihat pendingin kamarnya mati, jendela kamar juga tertutup


Tanpa pikir panjang hazel merangkak naik ke ranjangnya yang sama dengan keisya, berbaring disamping keisya yang miring menyanga kepala dengan tangan. Hazel menyibak selimut keisya agar tubuhnya ikut masuk ke dalam selimut tersebut, hawa panas langsung merasuki tubuhnya, keisya meringis ke arah hazel mencari kehangatan dari tubuh hazel


Keisya menempelkan wajahnya ke dada bidang hazel yang terbalut kaos lengan pendek semakin dekat, hazel pun mengerat pelukannya, memberi kehangatan, pada tubuh keisya yang terasa panas saat bersentuhan dengan kulit sehatnya, lalu menutup mata sejenak


Tubuh keisya bergerak-gerak sehingga renkuhan tangan hazel sedikit merengang, kini punggung keisya menempel dengan dada hazel yang hangat


Begitu merasa dekapannya bergerak, hazel membuka matanya perlahan, dilihatnya tubuh keisya kini membelakanginya, diletakkan di pinggang keisya dan menarik mundur selimut agar tubuhnya keduanya semakin dekat lalu hazel kembali memejankan matanya


David....


Deg


Hati hazel terasa remuk sekejap, kalau keisya mengigau nama david


Hazel pun membuka matanya begitu mendengar suara lirik keisya yang sedang mengigau


Keis, tak bisakan kau menyebut namaku ketika kau sakit seperti ini? Tak bisakah kau menaruh hatimu kepadaku? Agar aku tidak merasakan sakit hati seperti ini BATIN HAZEL


Walaupun hatinya sakit, hazel menepuk pelan pundak keisya agar gadis itu tenang, diusapnya rambut keisya yang basah karna  keringat dan menyelipkan dibawah telinga, telapak tangan hazel diletakkan ke keningnya, mengecek apakah deman keisya sudah rega atau belum, ternyata sudah jauh lebih baik


Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan adanya meneleponnya, hazel pun turun dari ranjang mengangkat si penelepon itu yang ternyata adalah digo


"hey, lo dimana sekarang? Dimana keisya? Bagaimana keadaannya? Mengapa ia ada  dirumah lo? Apa yang ia lakukan dirumah lo?" Digo setengah teriak diseberang sehingga membuat hazel terpaksa harus menjauhkan telinga dari telepon


"eh, kau kalau tanya satu-satu dong, pusing kepala gue mendengar teriakan kau"


"Iya maaf-maaf habisnya gue khawatir dengan dia"


"Oh, btw kau tau darimana keisya ada denganku?"


"Dari bos, gimana keadaannya!"


"Dia sakit"


"Apa!" Teriaknya lagi


"eh, kau bisa berhenti teriak ga sih? Atau perlu aku tutup nih"


"Iya maafin gue sekali lagi yah, abisnya gue khawatir, terus apa demannya mendingan? Atau gue ke sana"


"Tak perlu" hazel sambil melirik keisya yang mangigau nama david sialan itu "dia sudah mulai membaik kok, nanti gue antar ke rumah lo"


"Ok, gue tunggu, gue serahkan keisya ke lo, rawat dan jaga dia baik-baik,


"Tanpa kau suruh aku akan tetapi menjaga dan merawat dia"


"Ahahaha, gue tau maksud lo?" Terdengar suara digo tertawa mengejek "btw gimana apa keisya diterima kerja kembali!"


"Belum ada kepastian? kita liat aja nanti, kalau keisya masih tidak terima aku akan mengundurkan diri cafe itu


"Hah, lo keluar juga? kalau lo keluar, tinggal, gue, felix, dan kevin dong yang kerja disana, kan repot zel, ditambah lagi lo kan kokinya, bisa-bisa kevin marah besar jika lo keluar"


"Yaa harus gimana lagi? gue ga mau kerja kalau ga ada keisya"


"Oh, gue jadi terharu"


"Jangan lebay"


"Ahahaha, yaa udah gue tutup dulu, sekali lagi jaga dia baik-baik jangan sampai kabur lagi, kalau sampai kabur lagi habis lo sama gue"


"Iya bawel" ucapnya memutuskan sambungan telepon