Dear keisha

Dear keisha
PART 55



"OM WILSON?!"


David, rio, aldo, louis, digo, shiren dan cindy saling lirik lalu menatap terkejut dan tatapan tidak percaya ke arah pria separuh baya yang mengenakan setelan jas resmi ala orang bangsawan dengan seorang wanita separuh baya yang masih terlihat cantik. Yang tidak mereka duga sebelumnya. Sedangkan keisha yang terlihat kebingungan menatap pria separuh baya itu.


Wilson tersenyum lembut. Melangkahkan kakinya mengdekati anaknya dan menarik ke pelukannya


Mereka mendengus geram saat menemukan si biang ulang atas kehadiran om wilson dan istri barunya tiba-tiba. Siapa lagi kalau bukan si Radit, dengan senyum kemenangan diwajahnya. Wilson melepaskan pelukannya lalu mengcangkup wajah anaknya


"sayang, kamu kemana saja selama ini? Kenapa kamu menghilang selama ini? Papa merindukanmu


Keisha terdiam. Menatap bingung pria sebaru paya itu, tanpa sadar ia menipis tangan pria itu dari wajahnya dan melangkah mundur seakan menjaga jarak dengannya


"Anda siapa?"


Wilson tertegun kaget. Mengangkat alisnya bingung


"Anda siapa maksudmu sayang? Kenapa kamu bicara formal kepada papamu sendiri? Apa kamu masih belum memaafkan papamu ini nak?"


Keisha terdiam. Benar-benar tidak mengerti dengan perkataan pria separuh baya itu, lantas ia melirik sahabatnya terlihat memasang wajah sulit ia tebak membuat keisha makin bingung lalu menoleh ke arah pria separuh baya itu lagi


"Papaku? Setahuku papaku berada diluar nageri selama ini, dan saya yakin bukan anda orangnya?" Ucap keisha polos


"Apa maksudmu sayang, aku ini papamu nak. Siapa bilang papa diluar negeri, tidak. Papa tidak kesana. Papa selama ini berada disini mencarimu yang tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Dan kamu jangan bercanda saat ini, papa tidak suka" tegas wilson.


Benar-benar tidak mengerti dengan keadaan keisha saat ini dan membuat ia sedikit terkejut menyadari penampilan anaknya yang terlihat sangat berbeda


"Maaf om, seperti ada belum om ketahui tentang anak om saat ini?"


Akhirnya radit membuka suaranya setelah melihat kebingungan dari keisha dan wilson. Membuat pandangan wilson teralih menatapnya dengan kebingungan


"Apa maksudmu radit?" Tanya wilson


"Om, sebaiknya kita bicarakan di ruangan om saja. Tidak disini"


Wilson terdiam. Lalu pandangan mengedar melihat suasana kantin dan melihat para siswa-siswi yang sudah menjadi pusat perhatian darinya dengan tatapan ingin tahu. Dirinya pun menatap radit lagi lalu mengangguk mengiyakan seakan sadar apa yang dimaksud radit


"Kau benar dit" ucap wilson tersenyum kepada calon minantunya lalu menatap keisha "Keisha, kamu ikut papa. Ada yang papa bicarakan sama kamu"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Entah hal bodoh apa yang keisha lakukan saat ini atau hal yang membuat dirinya makin gila akan kebingungan. Membuat dirinya berakhir di sebuah ruangan dan merasa itu adalah ruangan kepala sekolah dengan gadis itu duduk di sebelah radit yang bersamanya, berhadapan pasangan separuh baya yang menatapnya sulit ia artikan


"jadi apa maksud perkataanmu tadi radit?"


Wilson akhirnya membuka suaranya setelah keheningan dan kecangrungan terjadi


Radit mengdehem pelan  sebelum menjawab perkataan wilson "jadi gini, om. Beberapa hari yang lalu saya menyuruh anak buah mencari informasi tentang apa yang terjadi pada keisha selama ini, dan saya menemukan kalau keisha....." ucap radit terdiam sesaat menatap keisha sendu lalu menghela nafas berat "Kalau keisha yang menghilang itu karna keisha kecelakaan dan sempat dirawat di rumah sakit selama dua minggu dan juga dokter mengatakan kalau keisya amesia"


"Apa?!" Ucap Ardiana dan wilson persamaan terkejut mendengar penjelasan.


"Kamu serius nak, radit. Keisha amesia? Kamu tidak bercandakan?" tanya ardiana tidak percaya. 


"Iya, tante. Saya serius, saya tidak bercanda" ucap radit memasang wajah keseriusannya


Lalu menatap adriana dan wilson bergantian


"Om sama tante bisa liat sendiri perubahan keisha saat ini, keisha terlihat sangat berbeda dari penampilannya yang tidak bisa kita lihat. karna dia melupakan Siapa dirinya sebenarnya! apa yang terjadinya! dan siapa saja orang terdekatnya!"


Ardiana dan wilson terdiam lalu menatap keisha sendu.


"Sayang, benar kamu tidak ingat papamu?" Ucap wilson terdengar sendu. Jujur hatinya sakit mengetahui anaknya kesayangan seperti ini


Keisha terdiam dengan wajah kebingungan ia lalu mengangguk singkat


"Lalu siapa saja kamu ingat sayang?" Tanya wilson penasaran


"Ibuku, jason, dan sahabat-sahabatku" jawab keisha polos


Membuat adriana dan wilson saling pandang seolah bicara dalam tatapan mereka berdua itu. Tak lama wilson pun beralih menatap kezia sendu lalu menatap radit dengan tatapan tegasnya


"Radit, bisakah kamu tinggalkan kami bertiga"


Radit terdiam sesaat. Ia pun mengangguk singkat dan lantas bangkit keluar dari dalam ruangan. Setelah wilson menatap kepergian radit yang menghilang dari balik pintu yang sudah tertutup rapat, dirinya lalu menghela nafas berat lalu menatap anaknya lagi


"Keisya, apakah benar? kalau kamu tidak mengingat papamu sendiri" tanya wilson terdengar sendu


Keisha mengeleng-geleng kepala pertanda tidak ingat


"Jadi kamu, juga tidak mengingatku sebagai mamamu juga" tambah ardiana


Keisha terdiam. Mengangkat alisnya bingung


"Mamaku?" Tanya keisya bingung dan ardiana mengangguk lemak "Setahuku mamaku bukan anda?"


Ardiana tersenyum sidis kepadanya lalu menatap suaminya miris


"Mas, seperti adelia sudah mempengaruhi keisha deh mas. Lihat, keisha tidak mengingat ayah kandungnya sendiri" ucap ardiana kepada wilson


Keisha menatap bingung ardriana. Tak kenapa ada rasa tidak suka atau marah melihat wajah wanita itu, Juga bingung bagaimana wanita itu mengenal adelia, mama kandungnya? Dan kenapa wanita itu seperti menjelekkan mamanya sendiri


"Adelia, benar-benar keterlaluan" cerutu wilson geram


"Apa maksud kalian mengatakan itu?" Tanya keisha terkesan datar dan dingin menatap ardiana dan wilson bergantian "apa kalian mengenal mamaku? Seperti kalian tidak suka kepada mamaku?"


Keisha terdiam. menyadari nada bicara yang datar dan dingin membuat wilson dan ardiana bertegun kaget.


Wilson menghela nafas kasar lalu manatap anaknya serius


"Sayang, dengarkan papa aku sebenarnya papa kandungmu, wilson. Namaku ada nama panjangmu, keisha adelia wilson. adelia memang mamamu. Dan sekarang sudah menjadi mantan istriku, dan juga wanita di samping aku ini adalah mamamu, istri papa saat ini. Adriana" jelas wilson. Menyentuh pinggang ardiana seolah memamerkan kemesraan mereka


"Apa?" Ucap keisha terkejut dan melihat mereka dengan tatapan tidak percaya "Mamaku adalah mantan istri papa dan wanita ini adalah mama tiriku"


Wilson mengangguk lemah. Sedangkan adriana tersenyum sidis


Keisha hendak membuka mulut berniat mengutarakan beribu pertanyaan lagi. Kenapa itu bisa terjadi? namun nyatanya tertahan karna tiba-tiba kepala berdenyut sakit, dan tiba-tiba bayangan wanita separuh baya yang sedang duduk di jendela dengan tatapan kosong dan seorang anak gadis memperhatikan wanita dengan tatapan sendu mulai mengrasuki otaknya namun bayangan itu tidak begitu jelas. Kepalanya makin sakit saat ia berusaha mengingat orang-orang itu


"Ahh..... kepalaku"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Semua geng glader sudah berdiri kalut di koridor depan ruang kepala sekolah. Rio dan aldo bersandar di tiang, cindy dengan shiren mondar-mondir dengan wajah gelisahnya, louis dengan digo memandang geram ke arah pintu kepala sekolah, sedangkan david duduk disebuah kursi senaya menatap khawatir ke arah pintu. Mereka melakukan itu karna mereka mengkhawatirkan keisha, tidak pedulikan kekosongan jam pelajaran mereka saat ini


"Ahh...sial, kenapa jadi gini sih" ucap digo menarik rambutnya frustasi


"Lo memang tolol, udah tahu ada om wilson. Malah lo biarin" sindir Louis mendengus kesal. Saat keisha dibawa begitu saja oleh wilson dan adriana


"Bagaimana cara gue mencegahnya bodoh!!! lo ga tahu ada siapa disana?" ucap digo membela diri. sadar akan situasi yang tidak memungkinkan untuk mencegah keisha agar tidak pergi. Louis hanya mencibir


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Semua orang yang berdiri atau yang duduk di depan pintu ruangan kepala sekolah langsung menoleh dan terlihat seorang yang bikin bola mata mereka memutar malas


"Tentu saja, nungguin keisha. Apalagi" cibir cindy kesal dan diangguki oleh mereka


"Untuk apa kau nungguin keisha? Kalian mengkhawatirkannya? Aku rasa tidak perlu. Karna sudah aku mengjaganya" ucap radit datar "Jadi, sekarang kalian masuklah ke kelas. Bukankah bel sudah berbunyi 1 jam lalu?"


"Apa bisa menjamin kalau keisha baik-baik saja?" ucap david bangkit dari kursinya melipat tangan di dada menatap radit datar dan tidak peduli dengan perintah "kalau anda tidak tahu tentangnya, lebih baik anda diam saja"


"Apa maksud kau mengatakan itu?" Cibir radit mendengus. Lalu tersenyum miring "kau sudah pasti tahu siapa aku bukan?"


Rahang david mengeras saat mendengar perkataannya. Dirinya hendak protes perkataan namun berdiri, saat pintu ruangan kepala sekolah terbuka dan suasana tegang dan juga cemas saat ardiana keluar dengan wajah khawatirnya


"Radit, tolong tante. Keisha pingsan!!!!" ucap ardiana panik


"APA?!"


mereka semua kaget. langsung menerobos masuk ke dalam ruangan kepala sekolah dan benar keisha pingsan tak berdaya di pinggir sofa


"Jangan lo sentuh keisha pak radit" cegah digo menyingkirkan radit ketika melihatnya mengendong keisha. Membuat radit mengenyit dahinya bingung "karna ini gara-gara anda yang membuat keisha jadi begini. kalau sampai terjadi apa-apa pada keisha? gue akan membunuh Lo"


radit tersenyum sidis


"Apa kau mengancamku?"


"Yaa, karna saya lebih berhak atas keisha" ucap digo berucap tegas senaya tersenyum sidis lalu menarap david mengisyaratkan untuk mengendong keisha membawa pergi dari tempat terkutuk ini. David mengangguk, dengan cepat ia mengendong membawa keluar ruangan diekori oleh yang lain


"kalau sampai terjadi apa-apa pada keisha, saya benar-benar akan menjauhi dari kalian semua" ancam digo sebelum berlalu meninggalkan mereka di ruangan


"Apa maksudmu kata-katamu, hah!!!" Geram radit. Melangkah maju berniat menyusul mereka tapi tertahan karna om wilson menahan membuat dirinya menoleh bingung


"Sudah, radit. Biarkan saja" ucap wilson


"tapi om, keishakan....."


"Om percaya pada mereka dit" potong wilson menepuk pundaknya pelan "nanti, 1 jam lagi kita menyusul"


Wilson dan ardiana berlalu meninggalkan Radit menyengit dahinya bingung, Benar-benar tidak mengerti dengan perkataan wilson.


"Bagaimana bisa om wilson percaya anaknya percaya kepada mereka? Apakah om wilson tahu seperti apa mereka?"  Ucap radit bingung


...♥️♥️♥️♥️♥️...


"bagaimana keadaannya dok?" tanya david khawatir keisha


"Sahabat saya baik-baik sajakan dong?" Tanya cindy khawatir


mereka langsung membawa keisha mereka rumah sakit. Tapi hanya david, cindy, digo dan aldo saja yang ke rumah sakit karna sempat ditegur oleh penjaga sekolah karna tidak diperbolehkan banyak orang keluar dari perkarangan sekolah selama pelajaran berlangsung maka louis, shiren dan rio tetap di sekolah menunggu kabar dari mereka saja


"Keadaan pasien saat ini baik-baik saja, Kemungkinan sebentar lagi akan sadar. Dan juga saya harap ini terakhir, kalau tidak....." ucap dokter yang menangangi keisha saat ini itu terdiam sesaat


"Kalau tidak apa dok?" Tanya david khawatir


"Kalau tidak kemungkinan pasien bisa amesia permanen, dia tidak akan bisa mengingat masa-masa yang dilupakannya"


Setelah mengatakan itu dokter pun pamit mengundurkan diri meninggalkan mereka.


"Ahh, sialan. Kenapa harus jadi gini sih?" ucap digo menarik rambutnya frustasi. Dengan kasar ia duduk di kursi


"Tapi gimana tante adelia, tante adelia harus tahukan?" Tanya david


"Lo benar, Biar gue sama cindy jemput tante adelia untuk kasih tahu dia" saran aldo diangguki oleh cindy


"Yaa udah gue sama digo masuk dulu ke dalam. Kalian berhati-hatilah" ucap david sebelum berlalu masuk ke ruang inap keisha bersama digo


Cindy dan aldo mengangguk lalu mereka juga berlalu meninggalkan depan ruang inap keisha. Namun ketika sampai di lobby depan rumah sakit tiba-tiba cindy melihat seseorang yang tidak asing baginya


"Eh do, itu bukan radit sama om wilson yaa?" Tanya cindy menunjuk ke arah parkiran


"Hah!! Mana!!" Ucap aldo mengikuti arah tunjuk cindy dan matanya melotot setelah menemukan mereka


"Seperti kita harus mencegah mereka deh, do" ucap cindy


"Iya lo benar, ayo kita balik"


Dengan cepat cindy dan aldo Bergegas menuju ruang inap keisha. David dan digo yang berada di dalam ruangan keisha mengenyitkan dahinya heran saat melihat cindy dan aldo kembali dan mengunci pintunya


"Kalian ngapain kesini lagi?" Tanya david heran dari arah samping ranjang keisha yang masih belum sadar


"Lo tahu ga, diluar ada om wilson, ardiana sama radit" ucap cindy dengan nafas ngos-ngosan karna habis berlarian


"Ngapain juga mereka kesini lagi? Ga cukup apa bikin keisha kayak gini" ucap digo jengkel


TOK   TOK   TOK


"itu pasti mereka digo?" ucap david mendengar pintu ruang inap keisha diketuk


"Yaa sudah. Kalian bertiga disini saja, jagain keisha. Biar gue sendiri hadapin mereka" perintah digo


Mereka mengangguk setuju. digo pun keluar dan aldo mengunci pintu agar mereka tidak menerobos ke dalam jika digo tidak bisa menangangi mereka terdengar suara keributan diluar dan membuat keisha juga sadar dari pingsan


"Akhirnya lo sadar juga keis" ucap david tersenyum lega dirinya duduk di kursi di samping ranjang keisha dan mengenggam tangannya lembut


Keisha terdiam dan mengangguk singkat seraya menyentuh pelipis yang sedikit sakit


"Apa kepala lo masih sakit? Lo baik-baik sajakan?" Tanya aldo duduk disisi ranjang keisha lalu mengenggam tangannya


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya keisha mengangkat alisnya heran saat melihat aldo mengenggam tangan kirinya dan david mengenggam tangan kanannya


"Apa?" Tanya aldo polos


"Eh, tangan lo itu" ucap david memukul tangan aldo


"Apaan sih lo" ucap aldo jengkel seraya mengusap tangan akibat pukulan david "lo biasa aja kali, keisha itu bukan milik lo" sindirnya


Cindy memutar bola matanya malas saat melihat perdebatan antara david dengan aldo yang tak ada habisnya. Sedangkan keisha mengangkat alisnya bingung melihat mereka terus saja berdebat karna dirinya dan dirinya makin bingung saat mendengar suara ribut di ruang inapnya


"Diluar ada siapa? Kok ada suara ribut?" Tanya keisha heran


"Itu....." ucap cindy berniat mengelak namun berhenti ketika mendengar teriakkan


"KEISHA, BUKA PINTUNYA SAYANG!!!! INI PAPA, WILSON. PAPA INGIN BERTEMU DENGANMU!!!"


"KEIS, AKU TUNANGANMU, RADIT. APAKAH KAU BAIK-BAIK SAJA, AKU MENGKHAWATIRKANMU!!!!"


Semua teriak radit dan om wilson serta dobrakan pintu yang berusaha terbuka membuat  david, aldo serta cindy melotot ke arah pintu dan berharap cemas dalam hati


"Keisha jangan dengarkan kata mereka keis?" Ucap aldo memegang pundak keisha saat melihat dia turun dari ranjang yang sepertinya ingin menemui mereka "mereka itu bohong, lo jangan mudah percaya begitu"


"Iya, keis. Lo disini saja. Keadaan lo belum pulih" ucap david berusaha mencegahnya


"Apa yang sebenarnya terjadi ini?" Ucap keisha memecingkan matanya curiga dan merasa ada hal disembunyi mereka darinya "katakan sejujurnya padaku, siapa mereka sebenarnya?"


"keisha lo jangan......"


"Katakan sejujurnya padaku. jika kalian menganggapku sahabat kalian?" ancam keisha


Sukses bikin mereka bungkam. Mereka Menatap lurus keisha


"iya keis, mereka benar. Pria yang bernama wilson itu pokap kandung lo dan juga....." ucap david berhenti sesaat karna dadanya sesak mengatakan ini "Dan juga radit itu tunangan lo sendiri"


"Apa?" Ucap keisha terkejut mengetahui itu


"David, lo jangan bertindak bodoh deh" protes cindy jengkel


"Iya, nih. Lo jangan mempeburuk situasi" protes aldo menatap david tidak percaya


David hanya merespon dengan geleng-geleng kepala pertanda ia tidak ingin menyembunyikan semua ini lagi


"Lo bertunangan dengan radit karna dijodohkan oleh pokapnya lo sendiri, om wilson. Tapi sebenarnya lo menolak perjodohan ini karna tidak Mencintai tunangan lo melainkan pria lain dan lo sebenarnya masih ingin berusaha pembatalan perjodohan ini karna lo sudah berjanji kepada pria yang lo cintai itu akan selalu bersamanya"


"Lalu siapa pria itu?" Tanya keisha menatap david


David tersenyum getir


"Pria itu di depan lo sendiri keis"


Keisha bertegur, Menatap orang didepan tidak percaya. Dan tak tahu kenapa ada hati yang sesak disana


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Semenjak kejadian itu. Keisha pun mulai berdekatan dengan radit yang berstatus tunangan sendiri. Sedangkan david tentu saja tak akan menyerah dan bertindak bodoh begitu saja, dirinya tetap mendekat dan meluluhkan hati keisha diam-diam. Bagaimana pun juga ia tak akan melepaskan keisha begitu saja kepada pria lain


Keisha memang awalnya tidak percaya tapi dengan sikap radit yang terus mengejarnya atau menunjukkan kalau memang tunangannya, perlahan keisha mulai percaya. Dirinya juga sempat marah dan bersedih kepada mamanya kandung sendiri karna tidak bilang bahwa papanya sudah berpaling dengan wanita lain dan juga mempunyai saudara tiri.


Sedangkan sahabat keisha lainnya terutama digo sempat juga marah kepada david dengan mudahnya bilang itu semua padahal mereka sudah berusaha memyembunyikannya, tapi david memiliki alasan yang baik kenapa ia mengungkapkan itu semua.


Seperti saat ini. semua siswa-siswi sedang berkumpul di area lapangan sedang mendengarkan pengarahan dari ibuk kepala sekolah tentang kemping hari ini


"Yaa elah kapan ceramah nih berhenti gerah gue?" protes digo


"Lo ga boleh gitu, ceramah itu baik lo untuk kita" saut rio


"Ceramah memang baik tapi orang yang memberinya ceramah najis deh ri" ucap digo jengkel


Rio hanya berkekeh pelan mengerti apa maksud digo. Ia mereka semua lagi mendengar pengarahan dari si ardiana sang kepala sekolah di sekolah ini, diantara siswi-siswa memang menghormati sang kepala sekolah karna mereka mengenal sang kepala sekolah orang yang tegas, Galak, dan juga disiplin dan pemilik sekolah terbesar ini, bagi siapapun melanggar aturan atau melawan perintah jangan harap kalian akan hidup tenang di sekolah ini. tapi lain dengan geng glader ogah-ogahan atau tidak takut dengan apapun karna mengingat siapa ardiana sebenarnya


Rio mengangkat alis saat pandangan beralih kepada david yang terdiam memandang lurus ke depan seolah tidak mendengarkan apa yang didengar disekitarnya melainkan fokus pada suatu hal, dengan penasaran ia mengalihkan pandangan ke arah dituju david dan mendengus saat menemukan radit sedang mengobrol dan tertawa lepas


Bersama keisha yang berada tak jauh dari mereka


"Udah lo jangan perhatikan mereka terus, lo bakal sakit hati nantinya" tegur rio


"Apakah keisha sudah melupakan gue ri" guman david lirik masih menatap kosong ke depan


"Lo ngomong apaan sih dav?" Ucap rio jengkel "lo kan tahu keisha apa amesia. memang dia sudah melupakan kita semua termasuk lo juga, tapi dengan hati dav. gue yakin pasti suatu saat keisha pasti kembali lagi pada lo dav"


"Pasti kembali saat keisha sudah menjadi milik orang lain, gitu maksud lo?" Ucap david sinis


"Dav, bukan gitu maksud gue. Gue....."


"Sudahlah ri, gue ga mau bahas itu lagi"


Rio hanya menelan nafas berat menatap david yang sudah berlalu masuk ke dalam bus dengan tatapan sendu. Tak lama ia pun masuk ke dalam bus yang sama dengan david dan duduk bersama kekasihnya sendiri


david menatap sekeliling bus dan menemukan hampir semua tempat duduk sudah berisi. Ia tersenyum kecut saat menemukan keisha lagi duduk seorang diri sedang asik tertawa sendiri dengan ponselnya, dengan pasti ia melangkahkan kakinya menuju tempat keisha berada


"Hai, keis" sapa david membuat keisha menoleh menatapnya bingung "boleh gue duduk disini, di samping lo. Ditempat lain penuh"


keisha terdiam sekilas dengan pandangan mengedar ke sekeliling bus dan tak lama tersenyum mengangguk


"Boleh, silakan"


David tersenyum senang lalu berjalan didepan keisha dan duduk disampingnya alias didekat jendela


"Lo tadi lihat apaan sih, kok tertawa senang gitu" ucap david mengawali pembicaraannya yang terasa begitu canggung


"Ga ada apa-apa kok dav"


"Alah keis, lo jangan sungkan begitu ke gue. Ceritakan saja,  ada apa? Kita sahabat bukan?" Bujuk david penasaran


"Oke, aku akan ceritakan" ucap keisha tersenyum membuat david ikut tersenyum karnanya "Aku itu senang banget sama tunanganku"


Sukses bikin raut wajah david berubah draktis, hatinya sakit. Ia mengdehem pelan tersenyum pahit kepadanya


"ohh yaa, memang apa yang dia lakukan?"


"Dia itu mengirim aku cerita yang bikin aku ketawa, Emm...sungguh dia orangnya lucu banget"


"terus orangnya gimana lagi keis?" Ucap david mencoba untuk bersikap tenang


"Emm..... orang gimana yaa" ucap keisha senyum-senyam sendiri  "Orang si asik, menyenangkan, bikin aku nyaman dan merasa terlindungi"


"Ohh gitu yaa" lirik david terdengar sendu dan keisha hanya mengangguk singkat


"Apakah kau mencintainya keis?"


Keisha menatap david lama sebelum menjawab


"Aku....." ucap keisha berhenti pertepatan dengan bunyi dering ponselnya. Ia langsung melihat dan terlihat senang mengangkatnya "sorry dav, aku mau akan telepon dari tunanganku dulu"


David hanya mengangguk singkat dan menatap keluar jendela dengan tatapan kosong saat bus sudah mulai berjalan seolah tidak mau mendengar kata-kata romantis keisha kepada tunangannya itu karna itu menyakitkan buatnya jika ia mendengarkan


"Apakah kau benar-benar melupakan aku keis dan tak bisakah aku ada dihatimu lagi" Ucap david sendu


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tepi hutan terlindung tempat dilaksanakan kemping itu. Siswa-siswi pun turun dari bus melakukan perjalanan dengan berjalan kaki dengan pemandangan hutan terlindung dan air sungai yang jernih


Tak lama mereka akhirnya sampai pada suatu tempat yang aman dan nyaman untuk mendirikan tenda. Mereka pun memasang tenda dengan tenda perempuan sedikit jauh dengan tenda para lelaki


"Sal, bantu aku dong. kita harus bekerja sama membangun tenda ini bukan?" keluh keisha kepada salsa yang merupakan tempat satu tenda yang sedang duduk manis disalah satu kursi lipat


"Iya nih, kita harus kerja sama dong, inikan tempat lo juga" cerutu dewi yang merupakan teman satu tendanya juga


Salsa hanya memandang keisha


Dengan dewi malas sekilas  dan masih enggan membantu mereka ia malah asik memainkan ponselnya sendiri membuat dewi menatapnya geram dan keisha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah


"Ada apa nih keis? Kok ribut-ribut" ucap cindy tiba-tiba datang dan bertanya keisha


"Tahu tuh cin, itu nenek lampir itu tak mau bantu kita membangun tenda ini. Padahalkan inikan tempatnya juga" cerutu dewi menatap salsa sidis


"Benar itu keis?" Ucap cindy memastikan


"Ga pa-pa kok cin. Mungkin salsa lagi kecapean aja, makanya dia tak mau membantu kita" ucap keisha tersenyum membuat dewi menatapnya tidak percaya.


"Kau sangat baik sekali keisha" ucap cindy  tersenyum namun keisha tahu apa arti senyuman itu. Ia hanya merespon dengan mengangkat bahunya tidak peduli. Lalu cindy menatap salsa sidis


"eh lo?" Panggilnya


"Apa?" Ketus salsa


"Bantu mereka kali, ini kan punya lo juga. Apa lo mau gue hancuri muka busuk lo itu" cerutu cindy


"Bodo" ucap salsa cuek


Membuat Cindy menatapnya geram namun tiba-tiba ia tersenyum jahil saat menemukan sesuatu di atas tanah yaitu hewan yang berbentuk seperti dan berbulu. Dengan cepat ia mengambil ulat bulu itu dengan kayu kecil yang ada digenggamnya. langsung melemparnya ke arah salsa dan


Tepat mengenai kaki.


1....


2.....


3....


"AHHH!!!! ULAT BULU!!!!" Jerit salsa melompat-lompat ketakutan membuat semua orang menatapnya


"Hahahaha rasain tuh" ucap cindy dengan tawanya begitu pun dengan yang lainnya ikut tertawa bersamanya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Digo dan louis  mengerutu kesal saat nama mereka ada di salah satu kelompok yang ada geng power, begitu pula dengan david juga kesal saat namanya ada di kelompok tasya padahal ia berharap ada keisha di kelompoknya, Namun malah khawatir saat mengetahui keisha satu kelompok dengan devan.


"Gue rasa ini akan ada peperangan deh bukan kerja sama antar kelompok" cerutu digo kesal


"Iya, nih. Gue merasa ada peperangan sebentar lagi" ucap louis sidis


"Udahlah, kalian jangan gitu. Terima sajalah kelompok kalian itu" ledek aldo


"DIAM LO!!!!"


...♥️♥️♥️♥️♥️...


David mencamtunkan kedua tangannya untuk menampung air sungai yang jernih agar membasahi wajahnya. dirinya terdiam sejenak menikmati sesansi air jernih yang terasa segar di wajahnya dan sekilas menyejukkan hatinya


Ia terdiam melamun. Mendudukkan dirinya di bebatuan pinggir dan menatap kosong air sungai. Ia menunduk larut dalam pemikirannya


bagaimana caranya mengrebut keisha lagi?


bagaimana caranya membatalkan pertunangan keisha?


Apakah hatinya bakal siap jika keisha akan menjadi milik orang lain? Bukan untuk dirinya?


Ia menghela nafas berat saat sadar ada saja penghalang untuk melakukan semua itu siapa lagi kalan bukan TASYA dan RADIT. Tasya yang terus saja menempel kepadanya dimana saat ada kesempatan dan radit terus saja menganggu saat ia ingin bersama keisha


"David!!! David!!!"


David mendongak, menghentikan lamunannya menatap shiren berlari ke arahnya dengan wajah pucat basi


"Ada apa?"


"Keisha menghilang?"


"Apa!!!" Uvap david terkejut berdiri dari bebatuan


"Lo serius"


"Iya keisha menghilang. Dan juga de......eh!!! David tunggu!!!"


Belum selesai shiren mengucapkan perkataan david langsung berlari memasuki area hutan namun berhenti ketika melihat radit juga ikut berlari ke arah hutan dengan wajah paniknya


"Mau kemana kau dav?" Tanya radit


"Mau cari keisha. apa lagi?" Ketus david


"Tidak. Berhenti disitu" ucap radir tegas


David berhenti melangkah dan langsung menatap radit dengan tatapan pembunuh


"Aku tahu kau mau kemana? Kau pasti mencari tunanganku bukan? Tidak perlu. Karna aku yang akan mencarinya bersama suruhanku. Jadi kau cari devan bersama yang lain karna dia juga menghilanglah. Paham" tegas radit lalu berlalu


David makin mengepalkan tangannya. menatap kepergian radit dengan tatapan pembunuhnya lalu tak lama ia tersenyum kecut


"Memang kau pikir aku akan menuruti perintahmu Raditya yinjie? Tentu saja tidak semudah itu" guman david tersenyum licik


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Seorang gadis sedang bersandar di balik pohon besar lebih tepatnya di tengah hutan, dirinya memeluk tubuhnya dengan mata selalu menoleh ke kanan dan kiri dengan perasaan takut. Ia berusaha mengusir rasa takut itu dengan pikiran positif dari kepalanya namun nyatanya semua itu hanya hayalan belaka


"Keis, kamu ga boleh kayak gini. kamu harus berani, yah. Harus berani"


Gadis itu adalah keisha sendiri yang berusaha melawan rasa takutnya sendiri. Dan juga kelelahan saat ia mencari jalan keluar akibat tersesat atau berpisah dengan anggota kelompoknya saat jelajah siang berlangsung


Dengan langkah pasti ia berjalan memasuki hutan kembali. Ia berusaha menemukan tempat kemahnya kembali sebelum malam tiba, Namun beberapa meter melangkah ia berhenti semua suara tak asing baginya


"Tolong!!!! Tolong!!!! Tolong!!!"


Keisha kalut mencari asal suara itu berada dan menemukan suara ia berasal dari arah lubang yang tidak terlalu besar


"hey, siapa disana?" Teriak keisha dan orang yang merespon tidak terdengar jelas olehnya  "ap....ahhh"


Belum sempat keisha menyelesaikan perkataan tanpa sengaja ia mengijak tanah yang basah sehingga membuat jatuh terpeleset ke bawah


"Lo"


Keisha mendongak saat ia menyapu siku yang terkena kotoran tanah dan matanya membulat membesar saat tahu siapa yang orang memanggilnya


"Devan"


"Apa yang lo lakukan disini? Hah!!!" ketus devan


"Aku terpelenset. Tak sengaja menginjak tanah ia basah"


"Dasar bodoh" bentak devan mendengus lalu mendorong keisha menjauh "sana lo jauh-jauh dari gue"


Keisha menringis, merasakan benturan tubuhnya dengan dinding tanah yang lumayan sempit baginya bahwa jarak mereka hanya dua jengkal. Dirinya juga sempat ragu kenapa devan, saudara tirinya itu begitu membencinya padahal dirinya tidak membuat masalah dengannya. Namun ia ingat kalau sahabat pernah bilang kalau devan dan tasya adalah musuhnya buyutannya yang selalu mencari masalah padanya Tapi melihatnya seperti itu ia mulai mempercayainya


"Apa lo lihat-lihat?" Dengus devan kesal saat keisha terus saja memperhatikannya


"Kenapa kau membenciku?" Ucap keisha polos


Devan terdiam sekilas menatap lurus keisha lalu tak lama senyuman sidis terungkir dibibirnya


"Lo benar-benar amesia?"


Keisha mengangguk polos membuat devan menyeringat jahat


"Gue benci lo karna lo saudara tiri gue. Merebut cinta kasih sayang pokap dari gue, pokap selalu lebih memilih lo daripada gue dan adik gue, tasya. dan gue tambah membenci lo karna lo merebut cinta cowok di taksir tasya sendiri" ucap devan berapi-rapi


"Siapa?" Tanya keisha polos. Dirinya bingung dengan maksud kalau dirinya yang merebut pria yang ditaksir tasya


"Lo tahu siapa orang keis?" Ucap devan sidis


Membuat keisha makin bingung mendengar perkataannya. Siapa dimaksud pria yang dimaksud devan? setahunya dia tak pernah merebut pacar orang karna ia mengingat dirinya sudah punya tunangan. Atau tunangan itu yang dicintai tasya?


Tapi selama ini ia melihat sudut pandang tasya kepada tunangannya itu radit, seperti biasa tidak ada pandangan berbeda yang ia lihat? Bahkan mereka saja jarang ketemu. Lalu siapa yang dimaksud devan sebenarnya?


"Dev, sebaiknya kita harus keluar dari sini. Karna aku tidak mau terjebak disini" ucap keisha mengalihkan topik lain karna yang lebih penting saat ini adalah mereka harus keluar hari dalam sumur ini sebelum malam tiba


"Ya iyalah, gue harus pergi karna gue tak mau terjebak disini apalagi sama lo" ucap devan sidis


Keisha terdiam enggan menanggapi tanggapan devan yang membenci. Kepalanya mendongak ke atas dan teriak minta tolong agar orang bisa mendengarnya namun nyatanya hanya kesunyian yang terdengar


"Berisik" ucap devan terganggu dengan teriakan keisha yang menulikan telinganya "bercuma lo teriak tak ada sautannya, bodoh"


"Ya, usahalah dev, apa kau mau kita disini terus"


"Tidak"


"Nah gitu kau tahu" ucap keisha terdiam sejenak. Dirinya berpikir "Bagaimana kita kerja sama?"


"Kerja sama? Maksud lo?"


"Iya, kerja sama, Emm seperti ini... bagaimana kalau lo gendong gue, manjat ke pundak lo. Terus gue sampai ke atas, gue akan bantu lo naik juga. Nak sumur ini tidak terlalu tinggi bukan?"


Devan melongo mendengar penjelasan keisha lalu mengeleng-geleng kepala cepat


"Tidak"


Keisha memutar bola matanya malas "ayolah dev, apa kau mau kita terjebak disini terus"


"Tentu saja tidak. aku hanya tidak sudi jika lo menyentuh gue. ngerti"


Terjadilah berdebatan antara keisha dan devan yang tak kunjung mendapatkan persetujuan devan untuk mengijak pundaknya demi agar mereka sampai ke atas. Tapi mau tak mau devan akhirnya ogah-ogahan menyetujui keinginan keisha


"Ahh.... akhirnya kita keluar juga" ucap keisha bernafas lega akhirnya dirinya dan devan keluar dari dalam sumur walau suasana malam sudah tiba


"Ahh...kaki gue" teriak devan menringis kesakitan dipengelangan kakinya


"Kaki kau kenapa?" Tanya keisya polos


"Pake tanya lagi lo. Ini gara-gara lo tahu" ucap devan ketus


"Hah?" Tanya keisha bingung


"Iya, tadi ketika Kalau ga suruh gue kayak gini. Mungkin kaki ga tambah sakit kayak gini"


"Yaa, udah sini aku obati" ucap keisha berniat menyentuh luka pengelangan kaki devan yang tertutup dengan kaus kaki namun.....


"jangan sentuh-sentuh gue" ucap devan menipiskan tangan keisha dari kakinya secara kasar


"Tapi dev. Aku pengen lihat seberapa luka kaki kau itu. Parah atau tidak, Biar aku obati" ucap keisha berbasi keras


"Gue bilang tidak" bentak devan kesal. Ia pun berniat berdiri tapi....


"Devan!!!!"


Dengan singap keisha memeluk tangan devan agar dia tidak jatuh dan mata mereka saling ketemu. Tapi lain dengan devan yang terpaku ketika melihat mata coklat yang tak tahu kenapa terkunci dan begitu indah


"Hah? Indah!!!" Ucap devan terkejut namun dia sadar akan suatu hal


1.....


2.....


3.....


"Apa yang lo lakukan hah!!!" Bentak devan mendorong keisha menjauh dan membuat keisha terjatuh


Keisha mendengus


"Yaa ampun dev, aku cuman mau bantu kamu aja kok. Kamu pasti ga bisa jalan bukan? karna kakimu lagi sakit, sini aku bantu" ucap keisha kasihan melihat devan yang menringis kesakitan bahkan berdiri saja tidak mampu


"Tidak usah" ucap devan berbasi keras tidak mau dibantu mencoba melangkah kakinya walau kakinya makin sakit


Keisha hanya terdiam mengikuti devan dari belakang. Sekali yang meringis melihat devan berjalan pincang sambil menahan rasa sakit dikakinya.


"ehh tunggu..... disini jalan menuju perkemahan dimana yaa?" Guman devan 


"Jangan bilang kalau kita tersesat dev?" ucap keisha lilung. Kepala menoleh ke kanan dan kiri merasa kalau mereka berdiri tempat yang sama sebelum


"Gue ga bicara dengan lo" ketus devan sidis. Lalu kepalanya linglung ke kanan dan ke kiri


"Kok jalan ini lagi yaa?"


"Iya. Kok sama seperti tadi yaa"


Devan mendengus lalu memilih menduduki dirinya dan bersandar di bawah batang pohon yang cukup besar lalu mengerakkan otot-otot yang sedikit kaku


"Lalu apa kita lakukan disini? Ga jalan lagi?" Tanya keisha polos mendekati dirinya dan duduk di samping devan


"Apa lo ga lihat ini sudah malam? Mau jalan sampai kapanpun bakal ga nemu tuh tenda mereka apalagi jalan dihutan seperti ini. Ogah, gue capek!!!" Celotek devan mendengus dan menatap tajam keisha yang berada didekatnya "dan satu lagi, sudah berapa kali gue bilang, hah!!! jangan dekat-dekat gue!!!"


Keisha mendengus lalu mengeser duduk dari devan, satu meter. Tak lama kesunyian dan keheningan terjadi diantara mereka, mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing


"Ehh... daripada lo duduk diam disitu. Mendingan lo cari kayu bakar sana. Gue kedinginan nih" suruh devan


"Kenapa harus aku? kenapa ga kau....." ucap keisha terdiam sekilas mendapat plototan di devan "Iya, iya. aku cari"


Keisha pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menyelusuri hutan ditengah malam mencari kayu meninggalkan devan dengan senyum kemenangan. Tak lama keisha pun kembali dengan beberapa renteng kayu di kedua tangannya dan mengletakan di hadapan devan


"Dev ini aku sudah da....." ucap keisha menoleh dan berhenti saat menemukan devan terlelap "Yaaa, dia tidur lagi"


Keisha berdecak dan geleng-geleng kepala lebih memilih melakukan sendiri. Ia menyatukan ujung kayu dengan kayu yang lainnya setelah itu ia mengambil dua buah batu untuk menyalakan api, keisha tersenyum senang akhirnya api berhasil ia nyalakan


setelah semua beres ia pun melangkahkan kakinya mendekati devan yang masih terlelap. Ia tersenyum tipis memperhatikan wajah devan, jujur ia sangat menyukai melihatnya begitu tenang dan polos saat tertidur seperti ini daripada melihatnya dengan wajah galak dan judesnya itu


Lalu pandangan keisha teralih ke arah kaki dengan yang masih terikat sepatu. Dengan hati-hati ia membuka sepatu devan berniat mengobati secara diam-diam, kalau tidak mungkin lukanya makin parah nantinya.


Keisha mengringis saat melihat luka di kaki devan cukup parah, ada pecak kebiruan di pengelangan kakinya itu. Ia pun bangkit kembali untuk mencari Daun obat-obatan di tengah hutan. Tak tahu kenapa rasa takut sendirian di tengah hutan malam ini pun hilang sekejap saat bersama devan tadi, melainkan ada rasa tantangan baru untuknya


Setelah menemukan daunan obat-obatan, keisha pun menghaluskannya lalu ia tempelkan kepada luka devan dengan hati-hati agar tidak membuat devan terbangun nantinya. Ia tersenyum senang akhirnya daun-daunan itu menutupi luka kaki devan agar membuat kakinya tidak sakit lagi nantinya


Keisha menguap lebar saat merasakan rasa kantuk mulai merusukinya. tak lama ia pun tertidue bersandar di pundak devan


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Kedua mata devan mengedap-gedap pelan saat sinar matahari menganggu tidur nyenyaknya dan berdecak saat merasakan bagian pundaknya terasa berat. Matanya membulat tak percaya saat melihat seseorang disampingnya


"Astagaa!!! Ini anak ngapain tidur dipundak gue sih?"


Cerutu devan kesal, dengan kasar ia menyingkirkan kepala keisha dari pundaknya ke batang pohong dan mengusap pundak jijik seolah menghilangkan kuman yang menempel disana pundak, ia mengenyit saat pandangan teralih dari keisha yang masih terlelap ke kaki


"Ini apaan nih?"


Tangannya tergulur untuk menyentuh daunan halus ia menempel dikakinya lalu didekatkan ke hidung untuk mencium baunya. Dan dahinya mengenyit saat mencium bau yang sangat aneh menurutnya


"Ini pasti kerjaan, cewek sialan ini!!!!"


Cerutu devan mendengus dan dengan jijiknya ia bersihkan daunnya dari kakinya dan memasang sepatunya lagi. Dirinya berdiri tegak mengerakkan otot-ototnya yang kaku lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati udara yang begitu sejuk menurutnya


Devan terdiam sesaat, saat merasakan pengelangan kakinya yang seharusnya sakit saat ia bangun tidur. Tapi justru tidak ada rasa sakit sama sekali melainkan ada rasa ngilu dan nyeri dikakinya itu


"Aneh, kenapa kaki gue ga sakit lagi yaa!!!" Guman devan heran "Ahh.... mungkin hari ini keberuntungan buat gue. Daripada hari kemaren bersama cewek sialan itu"


Devan melirik sidis ke arah keisha yang masih terlelap. Dengan santainya melangkahkan kakinya berniat untuk meninggalkan keisha ditengah hutan seperti ini namun baru beberapa langkah yang melirik keisha lama sibuk dengan pikiran lalu mengeleng-geleng kepala melanjutkan langkahnya lagi tapi.....


"Ahhh.....dev. kalau lo mau ninggali tuh cewek!!! Yaa tinggalin aja jangan-jangan nunda-nunda"


devan frustasi antara bertengkaran hati dan otaknya. Otaknya yang memerintakannya untuk meninggalkan keisha seperti dan hatinya memerintakkan untuk membangunkan keisha lalu pergi bersamanya.


"Ahhh....sudahlah"


Dengan langkah pasti, ia mendekati keisha lagi, Terdiam menatap keisha lama dan terlarut dalam pikirannya. Jujur ia sangat bingung apa yang dilakukannya sekarang. Bukankah ia sangat membenci keisha dan ingin membuatnya selalu menderita? Tapi kenapa sekarang......? Ahh sudahlah


"Hoy!!! Bangun, bangun lo!!!"


Dengan kasar devan menendang-nendang kaki keisha pelan untuk membangunnya. Dan terlihat keisha mengilat kemudian mengendap matanya perlahan lalu tersenyum lembut padanya dan membuat devan aķan terpaku senyumannya itu


"Kau sudah bangun dev?"


Suara serak khas bangun tidur keisha mengadarkan devan dari terpakuan lalu menunjukan wajah datarnya


"Apaan sih lo? Cepat bangun lalu kita pergi dari tempat ini sekarang" ketusnya devan


"Iya, iya. Bawel" cibir keisha kesal


Keisha pun bangkit lalu mengedarkan otot-otot yang kaku lalu tersenyum tipis menikmati sejuknya udara ditengah hutan seperti ini


"Ya elah pake berdiri disana lagi lo? cepetan!!!!"


Keisha mendengus mendengar teriakan devan yang meminta segera bergegas. Dengan cepat keisha berlari menyusul devan dan sejajar langkah dengannya


"Ngomong-ngomong kaki lo sudah ga pa-pakan? Sudah tidak sakit lagikan?" Tanya keisha mengawali pembicaraan mereka


"Apa peduli lo soal kaki gue?" Ucap devan sidis lalu mendorong keisha agar menjauh darinya membuat keisha tersendak kaget "sudah berapa kali gue bilang ke lo? Jangan dekat-dekat gue!!!"


Keisha menatap devan tidak percaya. Ia pikir devan akan mengucapkan perkataan terima kasih setelah mengobati kakinya itu tapi malah apa yang ia dapatkan perlakuan kasar dan judesnya itu


"Apa lo lihat-lihat? Jalanlah lebih dahulu?" Ketus devan


Keisha mendengus mulai melangkah kakinya lagi meninggalkan devan yang terdiam dibelakang. Sedangkan devan mulai melangkah kakinya mengikuti keisha dan menatap punggung keisha lama lalu geleng-geleng kepala


"Astaga!!! Dev. Apa yang terjadi pada lo sebenarnya?" Guman devan frustasi


Setelah devan dan keisha menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya akhirnya mereka dapat menemukan perkemahan mereka. Membuat mereka kompak tersenyum lega


"Keisha"


"Devan"


Sebuah suara membuat mereka berdua sama-sama menoleh. Terlihat seorang pria berjalan cepat mendekati mereka dengan wajah kacau di ikuti beberapa orang yang mereka kenal mengikorinya


Radit berhenti didepan keisha lantas memeluknya


"Syurkurlah kau baik-baik saja keis?" Ucap radit penuh kelegahan lalu melepas pelukannya "kamu darimana saja kemaren? Kenapa bisa kamu  menghilang? Kau baik-baik sajakan? Tidak ada yang terlukankan? Sungguh aku menyalahkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu keis?"


Keisha tersenyum mendengar celotehan dari tunangan yang begitu mencemaskannya


"Kamu bisa lihat sendiri aku bukan? Aku baik-baik saja"


Radit tersenyum lalu memeluk keisha kembali, memeluknya begitu erat seolah tidak akan keisha menghilang darinya.


"keisha"


sebuah teriakan membuat radit


Dan keisha melepaskan pelukan mereka lalu mengalihkan padangan mereka. Keisha sedikit terkejut saat cindy dan shiren tiba-tiba datang bersama sahabat yang lainnya dan langsung berhamburan di pelukannya


"Lo kemana saja kemaren malam keis, gue khawatir" ucap cindy melepaskan pelukannya bersama shiren lalu tersenyum kelegaan


"Ini nih, lo kemana saja kemaren? Kenapa lo bisa menghilang? Lo ga pa-pakan. Lo baik-baik sajakan?" Celotek shiren


"Iya nih lo bikin kita semua khawatir" keluh louis


Keisha tersenyum mendengarnya "aku ga pa-pa kok, Aku baik-baik saja. Kalian bisa lihat sendiri bukan kalau aku bisa sampai dengan selamat? Dan maaf membuat kalian khawatir" ucap keisha penuh penyelesalan


"lain kali lo ga boleh menghilang lagi. Lo tahu ga gue sampai ga bisa tidur di tenda tahu, gara-gara mikirin lo kemaren malam


Yang tak kunjung ketemu?" Celeteok cindy


"Iya, iya aku minta maaf" ucap keisha tulus


"Tapi lo ga di apa-apain kan sama si curut itu? Lokan sama-sama menghilang berdua?" ucap digo santai sambil mengyindir seseorang


"Ohoho digo. Lo mau mengibarkan perang?" ucap devan mendengus kesal seakan tahu siapa yang dimaksudnya


"sorry. Kita ga berminat sekarang" bela louis sidis


Devan hanya mendengus kesal lalu berlalu pergi meninggalkan moment yang menurutnya memuakkan itu. Lalu langkah berhenti sesaat, saat menemukan seorang pria yang seharusnya ada di antara mereka malah memilih menjauh dari mereka dengan tatapan sulit diartikan. Devan tersenyum miring seakan tahu kepada siapa tatapan itu tertuju dan malah mengabaikannya melanjutkan langkahnya lagi untuk mencari teman-temannya


...♥️♥️♥️♥️♥️...


Seorang pria sedang menatap kosong dirinya di pantulan permukaan air danau yang sangat jernih ditengah hutan terlindung. Dari tatapan itu tersirat kesedihan dan keputusasaan yang apa yang dialami selama hidupnya


Pria itu david, yang sudah mulai putus asa dan menyerah dalam mengejar cintanya. Beberapa waktu lalu ada sedikit kelegaan dihatinya saat melihat keisha  baik-baik saja yang sempat membuat dirinya tidak bisa tenang dan cemas karna terus memikirnya diluar sana


Namun nyatanya rasa cemasnya itu terbayar dengan hati yang menghayat sakit yang lebih dalam lagi saat melihat orang dicintainya berpelukan dengan pria lain dengan tatapan penuh sayang, untuk sekian kalinya membuat hatinya makin sakit lagi


Dirinya tak pernah lupa kalau keisha melakukan itu semua dalam keadaan amesia, lupa ingatan.Tapi sampai kapan ia harus begini? Disaat dia selalu ingin memperjuangkan cintanya, ada-ada saja halangan-halangan yang menimpahnya, Justru membuat hatinya lebih sakit lebih dalam. Tapi Apakah ia akan membiarkan keisha benar-benar pergi meninggalkannya?


"apa yang dipikirkan seorang david wiliam ditengah danau seperti ini?"


David sadar dari lamunannya saat mendengar sebuah suara yang berasal dari arah belakang punggungnya itu. Ia mendesah pelan seakan tahu siapa pemilik suara itu tanpa yang melirik orangnya


"Aku tidak ingin bicara dengan siapapun hari ini? Aku ingin sendirian saat ini. Jadi pergilah!!!"


Tasya hanya tersenyum menanggapi pengusiran halus dari david dan malah berjalan mendekati david, berdiri disamping david


"Apakah kau segitu membenci gue dav? Sehingga mendengar suaraku saja, kau langsung mengusirku seperti ini?"


"Kau sudah tahu itu"


Tasya mendesah pelan lalu melipat tangan di dada dan menatap kosong air danau


"Apakah lo tidak bisa berpindah hati ke wanita lain dav?" lirik tasya "padahal kita sama-sama terluka saat ini?"


David langsung menoleh cepat ke arahnya dengan kerutan dahi mendengarnya "apa maksud kau sya?"


Tasya tersenyum akhirnya david menoleh


"kau pasti sudah tahu maksud gue dav?" Ucap tasya tersenyum lembut kepadanya "kita sama terluka saat ini. Kau terluka saat melihat wanita yang kau dicintai bersama pria lain. Begitupun denganku, hatiku sakit saat melihatmu bersama wanita lain. Jadi tak bisakah kita bersama saja dav? Untuk menyembuhkan luka itu dan digantikan kebahagian dalam diri kita dav?"


David langsung membuang muka lalu menghela nafas kasar Dan menatap tasya kembali dengan tajam dan datar


"Kau pasti...."


"Iya, aku tahu jawabannya?" Potong tasya cepat. lalu menatap david dengan tatapan terluka "kau pasti menolakku lagikan?"


"kau sudah tahu itu sya?" Ucap david dingin dan menatap tasya datar "jadi berhenti mengejarku. Biarpun aku terluka sekalipun aku belum tentu mau denganmu sya. Karna cinta itu bukan paksaan dan cinta itu pasti akan menemukan kepada siapa hati terikat"


david lalu terdiam sesaat. Lalu senyuman lembut untuk pertama kalinya kepada tasya bagaipun juga ia bersyukur kalau masih ada wanita yang masih mencintainya saat ini meski dirinya selalu menolaknya. Dirinya tentu saja mempunyai hati nurani, meskipun tasya sering kali membuat wanita yang dicintai itu menderita. Dan ditambah lagi jika dirinyalah yang makin menderita


"Sya, aku bukan pria yang baik untuk kau kejar terus sampai saat ini. Aku bukan pria tulus untuk membalas perasaanmu kepadaku. Jadi berhentilah mengejarku sya? Jika kau tidak ingin membuat dirimu terluka lebih dalam lagi. Aku yakin dibalik sikap kejammu kepada saudara tirimu sendiri, keisha. Ataupun kepada semua orang. Pasti ada disisi di hatimu yang baik dan berhati lembut. jika itu terjadi, kau pasti akan menemukan pria baik yang mencintaimu dengan tulus, aku jamin itu"


David lalu tersenyum lembut kepada tasya dan menepuk pundaknya pelan sebelum berlalu meninggalkan tasya yang sepertinya terpaku akan ucapannya


"Tapi apakah jika aku berubah? Apakah kau ingin menemaniku untuk melewati perubahan itu?"


Sontak David menghentikan langkahnya mendengar pernyataan tasya kepada. Lantas ia menoleh dan kerutan didahinya, Bingung dengan perkataannya


"apa maksudmu tasya?"


Tasya tersenyum tulus mendengar pertanyaan david. Lalu mendekatinya


"Aku akan berubah menjadi perempuan seperti yang kau inginkan? Jika kau memberikanku kesempatan"


"Sya, bukan itu maksudku" bantah david "aku ingin kau berubah demi dirimu sendiri bukan karnaku?"


"Iya, aku tahu dav" ucap tasya tulus "aku hanya ingin kau menjadi innovasiku agar aku menjadi lebih baik lagi. Bagaimanapun juga berubah itu sulit bagiku dav?"


David mengerutkan dahinya dalam tampak berpikir keras lalu menghela nafas kasar dan menatap diam tasya seperti menunggu jawabannya


"Aku......"