BETWEEN THE LINE'S OF DESTINY

BETWEEN THE LINE'S OF DESTINY
Niat



PUKUL 20.08


Raina masih duduk diatas kursi kayu itu,ia mengalungkan tangan nya dikedua lutut kaki yang ditekuk nya,kepala nya tertunduk rupanya ia tertidur.


KRUCUK,,KRUCUKK,,.


(suara perut).


"Emhh,,,,".dengus raina perlahan ia mengerjap ngerjapkan mata nya,dan melihat kesekeliling.


Aku berharap semua ini hanya mimpi,tapi saat aku bangun,semuanya masih terlihat sama.


Batin raina.


"Aww,, badan ku sakit semuaa,aku juga lemah,huhh aku baru ingat aku kan belum makan apapun dari kemarin".Ujar raina,ia melihat tangan dan kaki nya yang masih memar,rasanya sakit dan juga perih.


Raina mendongakkan kepala nya untuk melihat jam,ia tak sadar jika sekarang sudah malam,perlahan ia menginjakkan kaki nya kelantai dan mencoba berdiri,saat berdiri pandangan nya seakan membayang,kaki nya sangat lemah,namun raina berusaha untuk tetap berjalan menuju pintu dengan langkah perlahan ia mendekati pintu.


"Nyonyaa,,alicee,buka.,aku mohon buka pintu nya,,,,nyonyaa,,alicee,,,".Ujar raina lemah seraya menggedor gedor pintu,tidak ada sahutan sama sekali ,namun raina tetap memanggil amara dan alicia seraya menggedor gedor pintu nya.


Tetap tidak ada sahutan,tiba tiba pandangan raina menjadi buram,tubuh nya benar benar lemah,lalu raina memilih untuk duduk dan menyenderkan tubuh nya dibalik pintu.


"Kepalakuu,,huhh,,seseorang tolongg,,kepalaku sangat pusinggg,,tolonggg,awwww perut ku juga sakitt,,aku laparr,,nyonya alice tolongg bukakan pintu nya, aku benar benar tidak kuatt,,tolongg".Ujar raina lirih tangan nya kembali menggedor gedor pintu.


Kenapa tidak ada yang mendengarku sama sekali,,aku tidak kuatt,aku bisa mati kelaparan disini,yaa tuhan kehidupan apa yang sedang aku jalani sekarang,tubuh ku rasa nya sakitt sekali, aku juga sangat lemah,disini terasa pengapp dan menyesakkan,mereka mengurung ku seharian tanpa memberikan makan ataupun minum,jika aku memang sudah tidak diinginkan kenapa kau tidak merenggut nyawa kuu sajaa ,ambil nyawa ku ya tuhan,aku benar benar tidak kuatt.


Batin raina.


Ia hanya bisa menangisi kondisi nya saat ini tanpa bisa melakukan apapun, sekujur tubuh nya terasa sangat sakit karena cambukkan yang diberikan oleh amara,belum lagi


tubuh nya yang terasa panas dingin karena menahan dingin nya air hujan yang mengguyur tubuh nya semalaman tanpa makan atau minum sedikitpun.


-


Sementara di Cafe X.


"Apa ibu tidak bercanda?".Tanya alicia seraya membulatkan mata nya.


"Kapan ibu bercanda untuk urusan seperti ini,,sayang,,, ibu sangat muakk jika harus menghadapi kondisi ini terus menerus,menurut ibu ini sudah waktu nya untuk ibu mengakhiri segala nya".Ujar amara.


"Hmm entahlah bu,tapi aku fikir penderitaan yang dialami raina itu belum sebanding dengan sakit hati ibu".Ujar alicia.


"Yahh belum tapi akan sebanding,kau tau alicia terkadang menonton itu lebih mengasyikan daripada memperagakan nya,hhhh ibu tidak ingin mengeluarkan lebih banyak lagi energi,cukup dengan melihat nya menderita tanpa harus ibu yang menyiksa nya".Ujar amara seraya tersenyum licik.


"Yahh terserah ibu saja,apapun keputusan ibu aku akan selalu mendukung nya,dan setelah aku pikir pikir ini cukup menarikk juga ,haha".Ujar alicia seraya tertawa yang menyimpan suatu makna.


"Bukan cukup menarik,tapi sangat menarikk".Ujar amara.


***


Dirumah erik tampak suasana hangat dari keluarga erik yang tengah berkumpul di televisi,tiba tiba erik mengingat raina,ingatan nya tentang raina masih mengganjal dibenak nya.


"Hayoo melamunn".Ujar ibu erik.


"Ibu ini ,,,aku tidak melamun,hanya merenung saja".Ujar erik


"Hmm,,terserah mu saja,oh ya bagaimana kabar raina,ibu sudah lama tidak melihat nya,biasa nya kan dia selalu berbincang dengan mu walaupun cuma sebentar saja".Tanya ibu erik.


"Aku juga tidak tau bu,akhir akhir ini dia juga tidak berbicara dengan ku,mungkin ibu tiri nya yang kejam itu,membuat nya selalu sibuk dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habis nya".Ujar erik.


"Hmm ibu tadi sempat melihat alicia dan ibu nya pergi,mungkin sekitar 30 menit yang lalu".Ujar ibu erik


"Ibu yakin??".Tanya erik.


"Kalau ibu tidak yakin ibu tidak akan berbicara kepada mu".Ujar ibu erik.


Artinya raina sendiri saat ini,apa aku menemui nya saja,aku hanya ingin memastikan kondisi nya,yaa sebaiknya aku menemui nya sementara tidak ada ibu tiri nya yang kejam itu,aku harus menemui raina perasaan ku dari kemarin tidak enak,setidaknya aku lega jika sudah tau kondisi nya.


Batin erik, lalu ia bergegas pergi meninggalkan ruang keluarga tanpa sadar ibu nya yang bertanya.


Dasar kelakuan anak mudaa.


Batin ibu erik.


***


"Gotcha,,,eihhh,,,,pintu nya tidak terkunci??".Gumam erik saat tak sengaja menubruk pintu samping,lalu perlahan ia membuka pintu nya dan melihat kondisi didalam.


"Permisii,,rainaa,,,rainaaa??".Ujar erik setengah berbisik,lalu dengan langkah hati hati ia mulai masuk kedalam,kondisi didalam rumah sangat hening,dan gelap karena lampu dimatikan,erik berjalan seraya meraba raba benda disekitar nya.


"Huhh jika bukan karena raina aku tidak akan menjadi penyusup dirumah orang,,sekarang apa beda nya aku dengan maling yang diam diam menyelinap masuk rumah orang,dann dimana diaa?,apa dia dihukum lagi didalam gudang?".Batin erik,lalu ia coba melangkah menuju gudang,setelah sampai disana erik mencoba memanggil raina,tapi tidak ada jawaban apapun,lalu erik melangkah menjauhi gudang.


BRUKK!!!


"Aww,,,kakii kuuu!".Pekik erik karena kaki nya yang tak sengaja terbentur sudut tangga.


Tok,,tokk,,tok, tokk,tokkk,tokk,,,,tolong,,,tlongg


Samar samar erik mendengar suara itu,lalu erik memastikan ada nya suara itu,dan benar suara yang sama terdengar kembali,lalu erik mencoba mengikuti arah sumber suara yang berada diatas.


Erik sampai didepan pintu suatu ruangan,suara itu makin terdengar jelas .


"Rainaa??,,raina apa kau didalam??".Ujar erik seraya mengetuk balik pintu nya.


Raina yang berada dibalik pintu tersentak mendengar suara yang familiar bagi nya,,,.


"Erikk??,,".Gumam nya.


"Rainaa,,kau didalam??,ini akuu erik".Ujar erik yang membuat raina makin terkejut.


"Erikk??,kau disini??".Sahut raina lirih dari dalam.


"Yaaa,ini aku,apa kau baik baik saja??,,".Tanya erik.


"Erikk tolong bukakan pintu nya,,ibu amara mengurung ku disini,aku benar benar tidak kuat,seluruh tubuh ku terasa sakitt".Ujar raina yang menyender dibalik pintu dengan wajah yang sudah sangat pucat.


"Apa kau tau dimana letak kunci nya??,,".Tanya erik dengan nada cemas.


"Tidakk,aku tidak tau dimana".Ujar raina lirih.


"Sebentarr,,tunggu sebentarr".Ujar erik dan dengan segera ia mencari kunci pintu di lemari yang ada disekitar situ,tidak ada kunci apapun erik hanya menemukan obeng tanpa pikir panjang ia segera mengarahkan obeng itu ke lubang kunci pada pintu.


Walau susah tapi erik berhasil memutar kan sedikit obeng itu ke lubang kunci.


"Raina menjauhlah dari pintu,aku akan mendobrak nya".Ujar erik.


Raina perlahan menjauhkan diri nya dari pintu dengan menyeret tubuh nya menuju tembok samping dan menyandarkan tubuh nya kesana.


"Sudahh,,".Ujar nya lirih.


BRAKKK!!


(pintu didobrak erik).


"Rainaa!!,,".Ujar erik tersentak saat melihat kondisi raina kala itu,tubuh nya penuh luka memar bahkan dibibir nya ada luka lecet,ditambah raina yang terkulai lemah,serta wajahnya pucat.


"Kau kenapa??,, apa mereka menyiksa muu lagi??,,ahh sudah lah ayo keluar dari sini".Ujar erik lalu ia memopong tubuh raina dan membawa nya keluar kamar yang terlihat seperti kapal pecah itu.


Erik mendudukkan raina di depan tembok yang menghadap ke balkon rumah.


"Erik,,,perut ku sakitt,,tubuh ku juga sakittt".Ujar raina lirih.


"Tunggu sebentarr,,aku akan segera kembali".Ujar erik kemudian ia segera menuruni tangga entah kemana dia pergi tapi tak berselang lama erik kembali membawa kotak p3k,baskom kecil yang berisi air hangat,dan juga handuk kecil.


"Sini biar aku obati luka mu,,,".Ujar erik dengan hati ia mengobati luka pada tangan dan kaki raina.


"Aku tidak menyangka mereka sejahat inii ,,apa yang mereka lakukan ini sudah keterlaluan,dengan kondisi mu yang seperti ini tega sekali mengurung mu disebuah gudang,,raina kau tidak bisa terus terusan seperti ini,kau harus pergi dari sinii".Ujar erik seraya mengobati luka raina.


Andai semudah itu aku juga akan pergi dari sini erikk.


Batin raina,ia sudah tidak punya tenaga untuk berbicara banyak pada erik.


-BERSAMBUNG