
Bellanca tampak berpikir, jika Andri itu tampan, tinggi proporsional, cerdas, selalu membantunya di saat ia susah. Jika dilihat-lihat cukup ideal jadi pasangan. "Apa aku menyukai Andri? Mana mungkin? Tapi, Papa apa akan setuju, jika aku bersama Andri." Bellanca bermonolog sambil mengacak-acak rambutnya.
Satu tahun terakhir Bellanca sering sekali di desak untuk menikah oleh sang papa, Bellanca sangat tertekan. Tiba-tiba Randi masuk ke ruangan Bellanca dengan tergesa-gesa. "Bisa enggak? Kalo masuk ruangan atasan yang sopan dikit, Ran," ucap Bellanca sinis.
"Kakak ke mana aja sih tadi? Mama nelpon tahu, Papa, Kak, Papa," ucap Randi dengan gemetar.
"Papa kenapa? Ngomong yang jelas. Jangan buat Kakak penasaran," ucap Bellanca yang panik sambil memegang kedua lengan Randi.
"Papa, jatuh sakit di Korea, Kak. Kita harus ke sana untuk menjenguk keadaan, Papa." Randi berjalan ke arah Bellanca lalu memeluknya dengan erat. Kaki Bellanca terasa lemas, setelah mendengar perkataan Randi.
Andri yang tak sengaja mendengar pun terkejut, tepat sekali dengan kedatangan Andri. "Dri, tolong carikan saya tiket pesawat, belikan tiga, kamu ikut saya," ucap Bellanca. Andri hanya mengangguk.
Andri dengan sengaja menukar tiketnya dengan Randi agar bisa duduk berdua dengan Bellanca. Randi pun tak merasa curiga dengan kelakuan Andri, yang sengaja menukar tiket pesawat. Mereka bertiga duduk dengan tenang di kursi masing-masing.
"Nona, jika Nona lelah istirahat saja, Nona, bisa bersandar di bahu saya," tawar Andri penuh hati-hati.
Randi yang berada di tempat lain masih mengumpat, jika ia mendapatkan kelas ekonomi sedangkan Bellanca dan Andri kelas bisnis. Andri mengatakan, jika tiket pesawat kelas bisnis sisa 2 saja. Seharusnya Randi duduk dikelas bisnis karena takut sang kakak marah-marah tidak jelas dia memilih duduk di kelas ekonomi.
Bersandar di bahu Andri sangat membuatku nyaman. Dan jantung ini tak berhenti berdebar-debar membuatku bahagia, batin Bellanca, membuat pipinya merona merah muda jika mengingat kejadian saat ini bukan mimpi.
Sampai di Korea di sebuah rumah sakit Bellanca menangis dengan memeluk Riana. "Ma, keadaan Papa bagaimana?" ucap Bellanca sangat cemas. Randi ikut memeluk Bellanca dan Riana.
"Papa, terkena serangan jantung, Sayang. Jangan khawatir, Papamu pasti sembuh. Kalian istirahat dulu saja di rumah dulu. Biarkan Mama yang jaga Papa di sini," ucap Riana penuh ketenangan.
"Enggak Ma, Bellanca mau nungguin Papa di sini, Mama saja yang pulang istirahat. Mama pasti capek beberapa hari ini tidak istirahat," tegas Bellanca.
Akhirnya Riana luluh dengan perintah Bellanca, dan beristirahat dengan Randi pulang ke rumah. Andri dengan setia tetep menjaga Bellanca dan menemaninya saat-saat seperti ini. "Nona, saya bawakan sesuatu. Nona makan dulu, Nona sudah tidak makan dari kemarin. Nanti Nona sakit jika tidak makan," titah Andri.
Bellanca melihat ketulusan Andri bergegas memakannya. Tiba-tiba Ferdinan terbangun dari tidurnya Bellanca menaruh makanannya dan berlari menghampiri sang papa. "Papa," panggil Bellanca sambil memeluknya dan meneteskan air matanya.
"Papa, baik-baik saja Bellanca, jangan khawatir," ucap Ferdinan dengan wajahnya yang datar. Ferdinan menghapus air mata sang puteri.
"Umur Papa tidak tahu mau sampai kapan, Bellanca. Papa punya permintaan sebelum Papa tiada," ucap Ferdinan dengan tegas.
"Papa ngomong apa sih! Papa akan selalu sehat." Bellanca menciumi tangan sang papa.
"Menikahlah Nak, dengan pria yang kamu cintai. Papa akan setuju dengan pilihanmu. Jika dia benar-benar mencintaimu," ucap Ferdinan penuh permohonan.
"Papa benar-benar tidak akan menjodohkanku dengan Andrew?" tanya Bellanca, masih tidak percaya dengan ucapan Ferdinan.
"Carilah pria yang bisa mencintaimu dengan tulus, yang bisa menerimamu apa adanya. Andrew bukan pria baik, Papa sudah mencari informasi tentang dia. Informan Papa mengatakan, jika Andrew sudah sering gonta-ganti perempuan," ucap Ferdinan sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Bellanca langsung berpikir jika Ferdinan terkena serangan jantung karena mengetahui kebejatan Andrew. Hatinya terasa sakit melihat kejadian ini. Pa, akanku pastikan Andrew, akan merasakan lebih sakit dari pada ini, batin Bellanca.
"Pa, beri aku waktu kurang dari 6 bulan, aku pasti akan menikah. Dengan siapa aku menikah nanti Papa akan tahu." Bellanca menggenggam tangan Ferdinan untuk menyakinkan sang papa.
"Oke, Papa akan tunggu kabar baik darimu, Nak, jangan lama-lama di Korea Bell, biar Mama dan Randi jagain papa di sini. Kamu urus perusahaan di Indonesia segeralah pulang." Ferdinan tersenyum melihat sang puteri. Menurut Ferdinan, Bellanca tetap puteri kecilnya.
Bellanca hanya mengangguk. Bellanca pergi pulang ke rumahnya yang berada di Korea. Bellanca bersandar di ranjangnya, Bellanca merenungi nasibnya melihat sang papa sakit, ia berpikir harus cepatnya menikah. Bellanca yang frustasi dengan keadaan lalu mengacak-acak rambutnya. "Argh," desahnya begitu keras.
Andri mendengarkan suara Bellanca dari dalam kamar. Andri langsung menghampiri Bellanca. "Apakah Nona baik-baik saja?" tanya Andri berdiri di dekat Bellanca memastikan Nona-nya baik-baik saja.
"Saya butuh waktu sendiri, Dri. Lusa kita pulang tidak mungkin perusahaan menunggu kita lebih lama lagi." Bellanca menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Andri menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Bellanca.
***
Beberapa hari kemudian, Riana menghantarkan Bellanca ke bandara dia peluk sang puteri. "Sayang, di Jakarta jaga kesehatan ya, Nak. Andri tolong jaga Bellanca ya. Saya khawatir jika tidak ada mengingatkannya dia suka lupa." Riana membelai rambut Bellanca.
"Iya tuh, Kak, jaga Macan Betina kasih tahu, suruh tenang, jangan suka marah-marah, enggak jelas gitu. Nanti para pria pada kabur." Randi mengejek Bellanca.
Sentilan mendarat di kening Randi amat sangat keras. "Bisa-bisanya kamu! Jaga Mama, Papa di sini dengan baik, kamu harus pulang jika Papa sudah sembuh. Kamu belum jadi Kakak siksa malah pergi," ucap Bellanca dengan terkekeh sambil memeluk sang adik.
"Sakit, Kak!" Mengusap-usap keningnya, lalu Randi membalas pelukan Bellanca.
"Nona mau saya carikan informasi tentang Tuan Reyno? Jika Tuan Reyno mencintai Nona, bisa menerima kekurangan Nona tidak masalah." Andri merasa sesak mendengarkan pertanyaan Bellanca. Jika kata anak zaman now! Sakit tapi tidak berdarah.
Kenapa Andri bicara seperti itu? Apa dia tidak menyukaiku? Padahal aku hanya mengetes di saja, kenapa rasanya sakit seperti ini, Bellanca langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Tolong carikan informasi tentang Reyno secepatnya," ucap Bellanca dengan tegas.
Bellanca dan Andri berada di bandara berjalan berdampingan. Dari jauh Bellanca melihat Reyno melambaikan tangan. "Capek ya? Sini koper kamu aku bawain," pinta Reyno.
"Terima kasih Rey, memang kamu enggak capek juga? 'kan kamu pulang kerja juga." Bellanca memberikan kopernya.
Andri melihat Bellanca bersama Reyno hatinya terasa terbakar tanpa sadar tangannya mengepal. "Nona saya pulang terlebih dahulu," pamit Andri.
"Kamu pulang bareng kita aja, Dri?" tawar Bellanca.
"Tidak, Nona terima kasih." Andri menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Andri berjalan penuh amarah. "Apa ini yang dinamakan cemburu? Tidak mungkin, tidak-tidak!" Andri bermonolog.
***
Andri yang berada di apartemen, lalu ia menekan tombol untuk membuka lift. Datanglah monica menyapanya. "Kamu dari mana, Dri? Aku beberapa hari tidak melihatmu, aku sangat merindukanmu," ucap Monica mencoba bersandar di bahu Andri. Malah penolakan yang didapatnya.
"Nggak enak dilihat orang, geser sedikit sana! Dari mana saya pergi bukan urusanmu." Andri pergi, karena merasa risih.
Monica mengikuti Andri sampai pintu apartemennya."Kamu itu ngapain ngikut mulu?! saya mau istirahat monica!" Andri menatap tajam monica.
"Aku mampir bentar yah? Jangan galak-galak dong, Dri," ucap Monica dengan manja.Bukannya Andri menyuruh monica masuk ke dalam apartemen, malah ia menutup pintu dengan cepat. Melihat perlakuan Andri Monica hanya bisa menghentakkan kakinya.
***
Bellanca memandangi Reyno dengan kagum. "Aku tahu, aku tampan Bellanca." Reyno menggoda.
Dengan tersipu malu pipinya yang memerah Bellanca memutar pandangan keluar jendela mobil.
"Siapa yang liatin kamu Rey," ucap Bellanca penuh penekanan.
Kalo kamu enggak tampan mana mungkin bisa jadi selebritas, gerutu Bellanca di dalam hatinya.
Gelak tawa Reyno memenuhi seisi ruang mobil. "Iya deh iya, kamu sudah makan, Bell?" tanya Reyno.
Bellanca hanya menggelengkan kepala, tanpa menjawab. Tiba-tiba Reyno membelokkan mobil di tempat rumah makan sederhana di pinggir jalan yang ramai pengunjung. Bellanca sedikit canggung, ingin keluar dari mobil Reyno.
"Ramai orang, Rey? Kamu yakin, nggak bakal malu dilihatin orang banyak kaya gitu? Kamu artis, jika nanti masuk infotainment gimana?" Bellanca penuh kebingungan apa yang dipikirkan Reyno.
"Jika ditanya wartawan ya dijawab saja 'lah, Bell. Kenapa pusing? Kenapa kamu malu," jawab Reyno santai.
Bellanca hanya tercengang mendengar pernyataan Reyno. "Kamu yakin Rey? enggak bakal timbul masalah," ucap Bellanca mencoba menyakinkan Reyno
Stay tune terus guys ❤❤❤
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu