
"Nggak usah macem-macem Om." Melirik dengan tajam.
"Aaaaa, sakit Re." Randi sambil memegangi kakinya.
"Ya tuhan wanita ini kenapa berubah drastis si. Tadinya kan lemah lembut lama-lama kaya kak Bellanca gitu." batin Randi berbidik ngeri
"Buruan Om!" teriak Renita.
"I-iya-iya." sahut Randi tersadar dari lamunannya.
Memasuki ruang utama mansion Randi melihat foto Renita kecil dengan kedua orang tuanya. Randi mengambil ponselnya langsung memfoto foto Renita dengan orang tuanya.
"Duduk." perintah Renita.
"Ya ampun dingin banget kaya es." batin Randi dengan cengo.
"Om duduk." ulang Renita lagi.
"Iya sayang." ujar Randi dengan lembut.
"Nggak pakek sayang-sayang ya. Renita aja. Makan ini." Renita mulai geram.
Para pelayan melihat tingkah Renita sedikit galak sangat kaget. Renita menurut mereka itu sabar dan dapat mengontrol emosinya. Apa lagi saat Renita tersenyum membuat orang melihat terasa gemas.
"Galak banget si." sungut Randi.
"Nggak usah protes. Abis makan pulang sana." perintah Renita.
"Jadi aku nggak dimaafin nih?" tanya Randi dengan lembut.
"Nanti saya pikir-pikir dulu." sahut Renita.
Randi selesai makan langsung berdiri berjalan keluar.
Kenapa pergi padahal aku masih kangen. Pikir Renita.
Randi masuk kembali membawa paperbag dan memberikan kepada Renita. Renita tertengun melihat Randi masuk kembali ke dalam masion lagi.
"Ini titipan dari kak Bellanca." Randi tersenyum semanis mungkin.
"Ala mak, senyumnya buat aku nggak kuat tahan semua ini." batin Renita.
"Makasih. Tarok aja di meja." lugas Renita.
Randi mendekati Renita,"Aku pulang ya."
"Pulang aja sana! lagian juga nggak ada yang nyuruh ke sini kan."
Randi menghembuskan napasnya dengan kasar. Langsung menyondongkan badannya ke arah Renita. Cup, Randi mencium kening Renita .
"Aku pulang ya sayang." Randi membelai pipi Renita.
Renita hanya mematung melihat tindakan Randi wajahnya tanpa ekspresi. Randi sudah menghilang dari pandangan Renita. Renita menarik napasnya dalam-dalam.
"Ternyata akting itu memang sulit ya." gumam Renita.
Flashback
Di saat Renita ingin pergi jogging di depan pintu utama ponselnya bergetar.
"Siapa lagi si yang telepon ganggu aja." gerutu Renita."Oh my god kak Bellanca. Ku kira siapa." Renita tersenyum.
Renita mengangkat telepon dari Bellanca."Halo kak. Kakak kangen aku ya." goda Renita.
"Kamu kapan pulang sayang? kamu nggak kasian sama calon ponakan kamu?" tanya Bellanca.
Renita menggaruk tengkuknya tidak gatal binggung mau menjawab apa.
"Halo Re." panggil Bellanca.
"I-ya kak." sahut Renita.
"Kenapa diem aja? binggung ya? sebenarnya kakak bukan mau ikut campur urusan kamu sama Randi. Tapi kakak harus jelasin ke kamu soal kejadian kemarin." ujar Bellanca disebrang telepon.
"Nggak usah di bahas kak. Aku sudah lupa." lugas Renita tak ingin membahasnya lagi.
"Sayang tolong percaya kakak. Sonya hanya menjebak Randi berpura-pura jauh. Nanti kakak kirimin Videonya. Satu lagi kakak punya permintaan." ujar Bellanca.
"Apa kak?" Renita tampak penasaran.
"Nanti Randi menemui diri mu. Tolong lah berpura-pura tidak tau. Jika kakak sudah memberitahu mu. Sekali-kali isengin dia Re. Biar kamu tau. Randi benar-benar cinta sama kamu nggak." Bellanca terkekeh.
Renita tanpa sandar tersenyum licik ingin mengerjai Randi. Renita tampak senang ternyata Randi tidak berbuat aneh-aneh dengan Sonya.
Flashback selesai
Di mansion Randi dengan wajah yang muram masuk ke dalam.
"Gagal?" tanya Bellanca sambil terkekeh."Aduh pa, Kayanya papa gausah punya anak laki-laki saja. Cuma masalah kaya gini aja nggak bisa menyelesaikan masalah." sidir Bellanca.
"Sepertinya papa harus memikirkan lagi. Atau papa harus adopsi anak lagi." sahut Ferdinan tanpa melihat Randi fokus dengan ponselnya.
"His, kalian." ujar Randi dengan geram.
Bellanca merentangkan tangannya saat Randi berjalan. Randi langsung memeluk Bellanca."Kakak." ucap Randi pelan.
Bellanca hampir saja tertawa melihat sang adik gelisah seperti ini. Karena ulahnya Randi tambah menderita tapi menurut Bellanca sangat mengemaskan jika mengerjai sang adik. Riana dan Ferdinan hanya bisa diam melihat ke usilan Bellanca.
Bellanca menggandeng tangan Randi membawa ke kamarnya.
"Ran, jangan sedih dong. Bentar lagi pernikahan kakak lo. Kakak sedih tau liat kamu kaya gini." Bellanca mengusah bahu sang adik.
"Aku nggak semangat kak. Udah sana kakak keluar kamar aku." Randi mendorong tubuh Bellanca secara perlahan.
"Sialan malah diusir gue." gerutu Bellanca.
"Bellanca." panggil Riana.
Bellanca membalikkan badannya,"eh mama."
"Kamu kerjain apa lagi Randi. Sampai-sampai kusut itu muka." selidik Riana.
"Aku cuma meminta Renita berkerja sama aja ma. Cuma itu aja. Nggak lebih kok."
"Untuk apa sayang?" Riana penasaran.
"Ya sekali-sekali ma. Ngerjain Randi biar bisa menghargai wanita gitu aja kok." Bellanca meringis.
"Dasar kamu. Nggak kasian sama adik mu. Udah ah mama mau ke kamar." Riana pergi meninggalkan Bellanca.
Bellanca masuk ke dalam kamarnya,"ih mama nggak seru." gerutu Bellanca.
Bellanca bersandar di ranjangnya sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
"Sayang, maafin mama. Kamu hadir karena kesalahan mama." ujar Bellanca.
Ya tuhan, kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian dimana aku meniduri Andri. Memohon-mohon penuh ketidak sabaran. Pengalaman pertama yang mengasikkan. Pikir Bellanca sambil senyum-senyum sendiri.
******
Di pagi hari biasanya Bellanca mual muntah parah kali ini berbeda. Rasanya Bellanca merasakan tubuhnya sangat segar seperti ponsel habis charger. Bellanca senyum-senyum sendiri didepan kaca westafel. Tiba-tiba terdengar suara Riana berteriak.
"Sayang, buruan kita harus ke hotel. Mama tunggu dibawah ya. Jangan lama-lama."
"Iya ma. Sebentar lagi." sahut Bellanca.
Bellanca bersiap-siap ke hotel untuk pernikahannya hari ini. Yang membuatnya bahagia lupa akan mualnya. Bellanca keluar kamar mandi dengan wajah berseri tak sabar bertemu sang suami siapa lagi kalau bukan Andri. Yang sebentar lagi akan meminangnya membuat jantungnya tak beraturan.
Dilobi hotel Andri tak sengaja melihat Monica berbicara dengan seseorang. Andri akhirnya mengikuti monica masuk ke dalam tangga darurat kelantai 2. Andri mendengarkan percakapan Monica dengan orang tersebut.
"Kamu jangan sampai gagal ya. Kamu culik saja penghulunya hilangkan cincin pernikahannya. Kita harus kacaukan pernikahan mereka aku tidak rela jika Andri bahagia bersama Bellanca."
"Siap Nona. Saya akan laksanakan tugasnya."
"Bagus. Rasanya aku ingin membunuh bayi dikandungan Bellanca. Atau membunuh keduanya." ujar Monica tertawa sinis.
Bersambung......
Agaknya Monica mulai gila guys,
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu